Melupakanmu

Melupakanmu
Ariani Sakit


__ADS_3

Pagi harinya Dirga sedang berada di dapur membuat teh hangat dan sandwich untuk sarapan, Dirga sudah terbiasa dengan rutinitas pagi dengan membuat sarapan sendiri terkadang Ia memilih sarapan diluar jika Ia tidak sempat. Namun, pagi ini ia tidak hanya membuatkan sarapan untuknya saja tapi ia membuatkan sarapan untuk Ariani yang sekarang berada dirumahnya. Dirga melongok ke pintu kamar Ariani yang masih tertutup.


"Pintunya masih tertutup. Apa dia belum bangun?" Dirga yang sudah selesai menyiapkan sarapan. Dirga mengetuk pintu namun tidak ada sahutan.


"Ariani, kau sudah bangun? Ayo kita makan." Tidak ada jawaban dari dalam. Dirga merasa khawatir kemudian ia membuka pintu kamar itu dengan menutup matanya menghindari kejadian semalam terulang lagi, namun tidak ada suara Ariani yang berteriak. Dirga lalu membuka matanya perlahan dan melihat Ariani masih tertidur kemudian ia mendekati tempat tidurnya. Ia melihat Ariani yang memakai baju miliknya yang terlihat kebesaran di badan Ariani, Dirga tersenyum.


"Hei, bangun. ayo kita makan, aku sudah membuatkan sarapan." Dirga dengan suara lembutnya membangunkan Ariani, Ariani mengerjapkan mata perlahan melihat Dirga membangunkannya.


"Hemm... " Suara terdengar serak dan lemah. Dirga memerhatikan wajah Ariani yang nampak pucat lalu ia menempelkan punggung tangannya ke kening Ariani.


Panas sekali, apa ia demam.


"Kau demam. Ayo makanlah dulu." Dirga kemudian keluar dan kembali ke kamar Ariani dengan membawa nampan berisi makanan, Dirga membantu Ariani duduk.


"Habiskan. lalu minun obatnya , setelah itu istirahat kembali." Dirga menyuruh Ariani untuk makan dan Ariani menurut meskipun enggan untuk bangun karena tubuhnya yang lemas.


Dirga sudah bersiap akan pergi untuk bekerja, sebelum pergi ia ke kamar Ariani terlebih dahulu untuk melihat keadaannya. Dirga mendapati Ariani yang sedang berdiri dengan tangan berpegang pada ranjang agar tidak jatuh.


"Kau mau kemana?" Dirga memegang tangan Ariani dan membantu Ariani untuk duduk kembali.


"Aku ingin pergi bekerja." Dirga memutar bola matanya dan memijit pelipis nya.


"Kau sedang sakit, beristirahatlah. Aku akan menghubungi atasan mu." Dirga akan menghubungi Dara yang merupakan teman sekaligus bos Ariani.


"Tetapi... " Ariani belum sempat bicara namun Dirga meletakkan telunjuk nya di bibirnya, Ariani tercekat menatap wajahnya. Sorot mata tajam milik Dirga dan bibirnya yang tak pernah menampakkan senyum.

__ADS_1


"Diamlah, kau tidak perlu memikirkan masalah pekerjaan mu, aku akan menghubungi Dara bahwa kau izin tidak bekerja hari ini, yang perlu kau lakukan sekarang adalah istirahat. Dan lagi, jangan kabur. Tetap disini, jangan coba keluar sampai aku kembali." Ucapan terakhir Dirga yang sedikit mengancam.


Aku baru saja memikirkan untuk pergi dari sini, apakah dia bisa membaca pikiran orang lain?


Ariani membeku, mengapa Dirga seperti sudah tahu dengan apa yang ada dipikirannya. Ariani menganggukkan kepalanya, membantah mencari alasan pun tidak akan membuat Dirga menarik kata - katanya. Ia tidak ingin membuat lelaki didepannya ini semakin banyak bicara. Dirga pun pergi dari rumahnya, Ariani melihat kepergiannya dari jendela. Di perjalanan Dirga menelepon Dara menyampaikan bahwa Ariani tidak masuk kerja, namun nampaknya itu membuat Dara menjadi curiga, apakah mereka sudah saling kenal? kapan? dimana? ia penasaran dengan apa yang terjadi antara Dirga dan Ariani.


"Ada hubungan apa antara mereka? sejak kapan mereka saling kenal? sepertinya dugaan ku benar bahwa Dirga yang memberikan sepatu pada Ariani dan mengantarnya bekerja hari itu." Dara masih mengingat saat dirinya melihat mobil Dirga meninggalkan cafenya, ia duduk di kursi kebesaran nya mengetuk meja ingin memecah sebuah teka teki.


"Hah,mengapa aku menjadi kepo dengan urusan orang lain?" Dara pun kembali dengan prinsip nya yang tidak ingin mencampuri urusan orang lain, ia pun melanjutkan pekerjaan nya.


Ryan yang berada di kantor sedang tidak fokus dengan pekerjaan nya, matanya menghadap layar namun pikirannya entah kemana. Ia teringat ucapan Tomi semalam bahwa Ariani sudah menyukainya sejak lama, Ryan pun tidak mengerti sejak itu Ariani selalu ada dalam pikirannya. Padahal sebelumya ia tidak pernah memikirkan keberadaan gadis itu.


"Pandai sekali ia menyembunyikan perasaannya hingga aku tidak mengetahuinya, Bahkan aku mendengarnya dari orang lain." Ryan tersenyum kecut, apakah benar yang dikatakan Tomi bahwa dia adalah lelaki bodoh dan tidak peka.


"Jika memang dia benar - benar menyukaiku mengapa dia tidak menyatakannya padaku?" Ryan yang menyesal karena terlambat mengetahui kenyataan.


Siang hari itu Dirga yang sedang bersama Bian keluar dari ruangan nya hendak pergi mencari makan siang tiba-tiba Dirga berhenti, ia teringat sesuatu.


Apa dia sudah makan? dia pasti sudah lapar.


Dirga menepuk jidatnya, ia meninggalkan Ariani seorang diri dirumahnya.


"Aku tidak jadi ikut, kau pergi sendiri saja. Aku ada urusan mendadak." Dirga membatalkan acara makannya bersama Bian.


"Urusan apa? apakah begitu penting?" Dirga berhenti dan membalikkan badan menatap Bian.

__ADS_1


"Iya, sangat penting." Jawab Dirga singkat.


"Baiklah." Bian menghela nafas karena tidak jadi ditraktir makan oleh Dirga. Setelah Dirga pergi, Bian menghampiri Indah ingin memberitahukan sesuatu masalah pekerjaan namun ia melihat wajah Indah yang nampak murung.


"Indah, ada apa denganmu? Kau baik - baik saja?" Bian yang dikenal ramah oleh pegawainya itu bertanya,melihat wajah Indah yang terlihat ada masalah,


"Tidak pak, aku baik - baik saja. Aku hanya memikirkan keberadaan temanku, dia tidak pulang semalam. Aku menghawatirkan nya, aku takut terjadi apa - apa padanya." Indah menghawatirkan keberadaan Ariani yang tidak pulang semalam.


"Apa kau sudah menghubungi teman - temannya?" Bian bertanya apakah Indah sudah menghubungi teman temannya itu, namun dijawab gelengan kepala Indah.


" Dia tidak membawa ponsel. Dia baru beberapa minggu disini." Indah yang semakin terlihat sedih. Tidak lama kemudian datanglah Reno ke dalam toko sepatu itu, Reno yang baru saja pulang dari tugasnya di luar kota ingin bertemu dengan teman - temannya. Reno menghampiri Bian dan Indah


"Bian, dimana Dirga? Ayo kita makan bersama." Reno berbicara dengan sedikit melirik Indah yang menunduk memikirkan masalahnya.


"Dirga tidak ada, ayo kita pergi." Bian merangkul Reno dan membawanya keluar.


"Baiklah, nanti sore nanti kita ke rumahnya.Sudah lama kita tidak berkumpul." Bian hanya menganggukkan kepalanya.


Di rumah Dirga, Ariani berada di kamar memegang perutnya yang sudah lapar.


"Aku lapar, ini sudah hampir sore dan dia belum juga pulang." Ariani kemudian pergi kearah dapur, ia melihat dapur rumah Dirga dengan perabotan lengkap dan tertata, ia membuka tudung saji. Lalu ia memakan roti dan selai yang ada di meja makan itu. Ariani haus dan membuka kulkas, ia tidak menemukan air namun ia melihat ada sebuah botol kaca berisi air berwarna seperti teh. Ariani kemudian mengambil botol itu dan menuangkannya kedalam gelas.


"Ini air teh kah? Rasanya aneh sekali."


...----------------...

__ADS_1


Episode ini agak panjang....ヾ(^-^)ノ


Hai... readers, mohon support nya untuk author, klik vote dan like 👍 ya... Author sangat berterima kasih dengan kebaikan readers sudah mau membaca karyaku... 💜


__ADS_2