
Suara gemuruh yang menemani mendung sore itu menggambarkan suasana hati yang dirasakan Dirga saat ini. Gemercik air yang turun dari shower menjadi lagu galau bersamaan dengan suasana hatinya, Dirga kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Dirga yang mematung berada di kamar mandinya membasahi kepalanya dibawah shower berharap ingatan itu hilang bersama air yang mengaliri tubuhnya.
"Sial! " Dirga memukul tangannya ke tembok.
"Beraninya dia mencuri ciumanku." Dirga yang merasa geram karena Ariani sudah mengambil ciuman pertamanya, lebih parah lagi ia membayangkan lelaki lain saat mencium Dirga. Dirga memegang bibirnya dan mengusapnya.
"Mengapa aku bisa terbawa suasana hingga aku mempercayainya? Seolah dia sungguh-sungguh menyatakan perasaannya padaku. Aku bahkan belum mengenalnya lebih dalam, tapi mengapa aku bisa terjebak dengan situasi ini." Dirga marah dengan dirinya sendiri yang percaya begitu saja dengan ucapan Ariani yang sedang mabuk, ia sadar bahwa Ia belum mengenal lebih jauh kehidupan Ariani dan mungkin saja dia hanya orang lewat bagi Ariani karena Dirga adalah orang baru dalam kehidupannya. Dirga yang baru mengetahui fakta bahwa ternyata Ariani sudah memiliki pria yang mengisi hatinya berpikir kembali apakah ia akan memperjuangkan cintanya atau merelakan Ariani bersama pria yang di cintai nya.
"Tadi dia menyebut nama Ryan. Apakah lelaki yang disukainya bernama Ryan?" Dirga yang sedang duduk sofa kamarnya yang sudah memakai pakaian lengkap, ia memegang gelas kemudian mencekram kuat gelasnya.
Dirga turun kebawah hendak menuju dapur namun ia melirik kamar Ariani, lalu ia ke kamar Ariani mengintip tidak ada suara apapun pertanda Ariani belum bangun, ia pun masuk. Dirga melihat gadis itu tertidur meringkuk di atas kasur tanpa berselimut, ia melihat sekeliling kamar yang masih berantakan. Dirga mengambil selimut yang tercecer di lantai lalu menyelimuti tubuh Ariani. Dipandangi nya wajah cantik itu, dilihatnya lagi bibir merah jambu milik Ariani yang sudah mencuri ciuman pertama nya. Dirga tersenyum, meskipun sebenarnya ia kecewa dan kesal pada Ariani namun hatinya tidak dapat membencinya. Hatinya berdesir mengingat ciuman panas yang dilakukan mereka saat itu.
"Kau sudah mencuri nya, maka kau harus memilikinya. " Dirga mengetuk pipi Ariani dengan telunjuknya lalu tangannya beralih ke bibirnya mengusap merasai kembali bibir yang lembut itu.
"Tidak akan kubiarkan bibir ini menempel dengan bibir yang lain selain aku." Dirga menginginkan Ariani, ia sudah terjebak dengan cintanya maka dia bertekad untuk memiliki gadis yang sudah mencuri ciumannya.
Kak Ryan... Kak Ryan...
Telinga Dirga masih mendengungkan suara Ariani yang memanggil Ryan, ia menggertak kan rahangnya, wajahnya memerah. Dirga mundur kebelakang dan mengepalkan tangannya lalu memukulnya ke tembok.
__ADS_1
"Kau harus melupakannya, lupakan pria itu. Lihat aku, aku akan membuatmu melupakannya." Dirga berbicara pada Ariani yang masih memejamkan mata lalu pergi keluar kamar Ariani. Dirga yang sekarang berada di dapur sedang menata barang belanjaannya yang sudah dibelinya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, sepertinya ada tamu yang datang.
"Siapa yang datang, sepertinya aku tidak ada janji." Dirga menghentikan kegiatannya, lalu meninggalkan dapur untuk membuka pintu melihat siapa yang datang. Setelah pintu itu terbuka, Dirga membulatkan bola matanya, jantungnya serasa ingin loncat melihat siapa yang datang kerumahnya.
"Halo, Bro...!" Reno yang datang bersama Bian mengejutkan Dirga yang mematung dengan wajahnya yang sudah terlihat panik.
"Kalian... mengapa datang kemari tidak megabariku terlebih dulu." Dirga yang sudah dalam mode terkejut berbicara dengan gelagapan
Sial, mengapa mereka harus datang sekarang.
Dirga yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya, bagaimana jika nanti teman temannya tahu Ariani sedang dirumahnya?
"Dirga, ada apa denganmu? apa kau ada masalah?" Bian yang melihat raut wajah Dirga yang lain dari biasanya, seperti memikirkan sesuatu.
Jangan sampai gadis itu terbangun sebelum mereka pergi, aku harus mencari alasan mengusir mereka dari sini.
"Tidak, tidak ada. Sebenarnya aku sedang ada urusan dan akan pergi. Apa kalian akan ikut bersamaku?" Dirga mencari alasan untuk mengelabui temannya agar mereka bisa keluar dari rumahnya. Reno dan Bian saling melirik menimbang ajakan Dirga.
"Baiklah, ayo kita pergi. Tapi setelah itu kita pergi ke tempat biasa." Reno menyetujui ajakan Dirga asalkan setelah Dirga menyelesaikan urusannya mereka pergi ke tempat nongkrong mereka. Bian yang juga setuju menganggukkan kepalanya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ia melihat ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ada sepasang sepatu perempuan di lantai bawah kursi, ia pun menuju kursi itu
__ADS_1
"Dirga, ini sepatu siapa? Ini punya perempuan kan?" Bian bertanya pada Dirga menunjuk sepatu itu, tidak mungkin kan Dirga yang memakainya.
"Itu, itu..." Dirga yang sudah seperti tertangkap basah lidahnya seperti sulit digerakkan, ia tidak bisa menjelaskan alasan pada temannya. Bian dan Reno saling melirik mengapa ada sepatu perempuan di rumah Dirga, bukankah Dirga tinggal sendirian dirumahnya? Disaat keheningan terjadi diantara Dirga dan teman-temannya, pintu kamar berbunyi dan ada seseorang yang keluar dari kamar. Ariani yang sudah terbangun keluar kamar menuju dapur, ia meninggalkan Dirga yang mematung ketahuan temannya dan dua orang temannya yang lebih terkejut lagi dengan keberadaannya di rumah Dirga. Bian dan Reno yang tadinya sama-sama menengok ke arah Ariani kini berbalik menengok ke arah Dirga, meminta penjelasan.
.
.
.
maaf jika ada typo..
Hai..ini karya pertamaku...
mohon berkomentar dengan bijak... 🙏
pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..
Terima kasih... 🙏
__ADS_1