Melupakanmu

Melupakanmu
Mati Rasa


__ADS_3

Sebuah momen langka yang tak dinyana semua orang yang ada di meja pengunjung itu, seorang Dirga tiba-tiba memberi pernyataan bahwa ia dan Bella telah berpacaran. Sekaligus menjawab penantian panjang Bella, wanita yang sudah lama mengejar cintanya. Keputusan Dirga yang mendadak itu tentu membuat teman-temannya terkejut tidak terkecuali Bella yang seperti mendapat durian runtuh karena akhirnya cintanya berbalas. Namun disaat hati Bella yang sedang berbahagia karena diakui Dirga sebagai kekasihnya, berbanding terbalik dengan hati Dara yang sedikit kecewa. Nampaknya ia tidak senang mendengar kabar tersebut, namun ia berusaha menutupinya dengan memberikan selamat.


"Oh, kalau begitu ku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Terutama kau, Bella." Dara memberikan selamat dengan raut wajah kecut, sebenarnya Dara lebih setuju melihat Dirga bersama Ariani karena ia tahu siapa Bella yang sebenarnya, perangai baik dan buruk Bella dibelakang ia sudah mengetahuinya. Diam-diam Bian memperhatikannya, ia dapat membaca ekspresi Dara terhadap Bella karena di waktu yang bersamaan pandangannya tengah mengarah kearah Dara. Bian merasa hubungan Dara dan Bella sepertinya sedang tidak akur, terlihat seperti ada perang dingin diantara kedua teman wanita nya.


Dirga dan Bella kini sedang berada di pelataran parkir cafe, Dirga yang akan mengantar Bella kembali ke tempat kerjanya. Sedangkan Bian terpaksa harus pasrah pulang dengan naik taksi. Saat ingin membuka pintu mobil, tiba-tiba Bella berjalan ke arah Dirga lalu mendekatinya. Dirga yang masih berdiri di samping mobil hanya diam berdiri dengan tubuh tegapnya, mereka berdiri berhadapan.


"Dirga, jujur saat ini aku sangat bahagia, aku merasa ini seperti mimpi. Tidak pernah kuduga, tiba-tiba kau mengatakan kalau kita pacaran. Apa aku tidak salah dengar? Kamu tidak bercanda kan?" Bella mengungkapkan keraguan dalam hatinya, apakah Dirga sungguh-sungguh? Ia menatap lekat mata tajam Dirga, Dirga membalas tatapannya sekilas lalu mengedarkan pandangan nya ke sembarang arah.


"Bukankah ini yang kau inginkan? Berkencan denganku. Kau mengejar ku sedari dulu kan? Lalu apa yang membuatmu tidak percaya padaku?" Dengan masih memandang ke arah lain Dirga sedikit sombong menegaskan Bella bahwa ini saatnya aku mengabulkan keinginanmu, lalu apa yang membuatmu ragu?


"Tapi, apa ini tidak terlalu cepat?" Bella merasa keputusan Dirga terbilang buru-buru.


"Apa kau keberatan dengan keputusan ku?" Dirga menatap Bella dengan sedikit mengancam, mulai menunjukkan wajah tidak senang mendengar ucapan Bella, tatapannya seolah berbicara kalau kau ragu aku akan menarik kembali ucapan ku. Buru-buru Bella menggelengkan kepala menyangkal keraguan nya. Sebelum Dirga berubah pikiran lalu memutuskan hubungan mereka.


"Tidak. Emm...ah, sudah lupakan. Aku percaya padamu. Kau memilihku menjadi kekasih mu itu sudah cukup membuatku bahagia." Maksud Bella disini ia ingin mendengar langsung Dirga menyatakan isi hati yang sesungguhnya padanya, minimal kata 'Aku mencintaimu' atau sejenisnya. Namun tanpa diduga Dirga langsung memproklamirkan diri hubungan nya dengan Bella, tanpa ada acara pernyataan cinta. Membuat dirinya bertanya tanya apakah Dirga benar-benar sudah mencintainya?


"Terimakasih." Bella memajukan tubuhnya lebih dekat, lalu tanpa aba-aba ia memeluk Dirga di pelataran parkir cafe itu.


Setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya kaupun takluk padaku, Dirga. Ternyata ada untungnya aku menyingkirkan wanita kampung itu. Kini kau menjadi milikku, hanya milikku.

__ADS_1


Seringai licik muncul dari bibir Bella yang sudah merasa menang telah mendapatkan Dirga. Bella memeluk Dirga yang hanya dibalas dengan satu tangannya yang ia letakkan di bahu Bella. Tanpa mereka sadari ada pengunjung cafe yang berjalan melewati area parkir lalu menyaksikan mereka yang sedang berpelukan. Ryan dam Tomi yang baru sampai berjalan melewati mobil Dirga yang terparkir.


Dirga...?


Ryan sedikit terkejut melihat Dirga berpelukan dengan seorang wanita, tapi bukan Ariani. Sedangkan Dirga tidak mengetahui keberadaan Ryan dan Tomi yang melewatinya, ia sedang bergelut dengan hati dan pikirannya. Ryan dan Tomi melirik sepasang kekasih yang berpelukan itu sekilas lalu mereka masuk kedalam cafe.


"Apa kau melihatnya barusan? Si Pengangguran itu bersama seorang gadis." Tomi membahas apa yang mereka lihat di tempat parkir. Tomi menyebut Dirga 'Pengangguran' teringat peristiwa diluar toko sepatu milik Dirga hari itu.


"Mungkin dia kekasihnya." Ryan menimpali ucapan Tomi. Hubungan Ryan dan Tomi sudah membaik setelah Tomi meminta maaf karena ia menjadi dalang pertengkaran Ariani dan Elma di taman malam itu, katanya ia menyesal telah ikut campur menggagalkan rencana Ryan. Ryan menerima permintaan maaf Tomi atas dasar hubungan pertemanan mereka yang sudah terjalin sejak masih sekolah, dengan catatan ini yang terakhir kali Tomi mencampuri urusannya. Tomi hanya mengiyakan, didalam hatinya siapa yang tahu? apa yang sedang ia rencanakan?


Dan seiring berjalannya waktu, Dirga melewati hari-harinya dengan Bella disampingnya, Bella tidak pernah absen menemaninya diberbagai kesempatan. Di setiap waktu luangnya Bella terlihat hadir menemani Dirga, ia selalu menempel padanya hingga teman-teman Dirga menjulukinya ratu bucin. Dirga sebenarnya merasa risih dengan kehadiran Bella yang selalu datang mengganggu waktu kebersamaannya bersama teman-temannya. Dan Bella seperti mendikte hidupnya untuk mengikuti semua yang ia mau seperti mengantar jemput, pergi nonton, jalan-jalan, belanja serta makan bersama yang harus Dirga turuti. Bahkan ketika Dirga sedang berkumpul bersama teman-temannya untuk berolahraga saja Bella selalu hadir dan itu cukup mengganggu privasinya, dimana Dirga berada Bella selalu ada. Benar-benar hidup Dirga tidak sebebas dulu.


"Sayang, ini aku bawa jus jeruk kesukaanmu. Diminum ya, aku yang buat loh." Bella langsung duduk di samping Dirga memberikan minuman buatannya. Dirga meminumnya, Bella terus memerhatikan cara Dirga ketika minum. Matanya tak berkedip terpana melihat leher Dirga saat meneguk jus jeruk buatannya, sungguh seksi dan semakin bertambah dengan keringat yang membasahi tubuh Dirga yang habis bermain basket.


"Bagaimana? Enakkan?" Tanya Bella membanggakan diri, Dirga hanya mengangguk.


''Dirga, apa kau ada waktu siang ini?" Lalu seperti biasanya Bella mengeluarkan jurus manjanya. Dirga sudah bisa menebak Bella pasti ingin ia menemaninya pergi.


"Kemana?"

__ADS_1


Apalagi yang kau inginkan? aku sudah mencoba menuruti kemauan mu.


Dirga menggerutu dalam hati, padahal hampir setiap hari Bella meminta Dirga untuk menemaninya kemanapun. Dirga sudah mulai habis kesabaran, sebenarnya Bella menganggapnya kekasih atau supirnya?


''Aku ingin membeli beberapa barang, kau mau kan menemaniku? Mau ya.'' Bella sedikit memaksa.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama." Dirga menghela nafas mencoba sabar menuruti kemauan Bella.


Dan pada siang harinya mereka pun pergi ke sebuah mall besar di kota itu, Dirga menemani Bella meskipun sebenarnya ia terpaksa. Bella melingkarkan tangan di lengan Dirga sepanjang jalan saat mengelilingi mall. Dirga membiarkan Bella yang terus menempel padanya, lengket seperti permen karet. Seperti sudah mati rasa Dirga menjalani hubungan ini tanpa cinta, hingga saat ini belum tumbuh rasa cintanya untuk Bella. Entah berapa lama ia akan bertahan menjalani hubungan ini.


Setelah meladeni Bella berbelanja mereka menuju restoran yang ada didalam mall. Saat sedang memesan makanan pandangan Dirga mengarah pada sepasang kekasih yang sedang berjalan masuk kedalam restoran yang sama dengannya. Dan orang yang ia lihat adalah Ryan bersama Elma yang kebetulan sedang ingin menyantap makan siang di sana.


Ryan...? Dia masih bersama kekasihnya?


Tangannya mengepal melihat Ryan dari kejauhan, dalam hatinya bertanya tanya mengapa Ryan pergi bersama Elma? Kenapa tidak dengan Ariani? Dulu ia sudah menyangka Ariani pergi meninggalkannya demi hidup bahagia bersama Ryan, tapi kenyataan yang ia lihat sekarang tidak sesuai dengan gambarannya, Ryan masih menjalani hubungan dengan Elma. Lalu dimana Ariani sekarang? Disaat itu dada Dirga bergemuruh, isi kepalanya dipenuhi semua tentang Ariani. Tanpa melihat Bella yang duduk disampingnya, Dirga pergi meninggalkan Bella yang masih melihat buku menu memilih makanan.


"Aku harus pergi, kau bisa kan pulang sendiri?" Dirga berdiri dan terlihat tergesa-gesa.


"Memangnya kau mau kemana?" Bella mendongak, tangannya memegang tangan Dirga menahannya pergi.

__ADS_1


"Aku ada urusan." Dirga melerai genggaman tangan Bella lalu keluar restoran meninggalkan Bella sendiri.


__ADS_2