
Dirga melihat Ariani yang sudah jauh meninggalkan nya, Ia merasa puas dan senang setelah ia bisa melihat ekspresi wajah bahagia Ariani. Hatinya berdesir setelah membuat orang yang selalu ada dalam pikirannya itu bahagia karena selama perjumpaan nya dengan Ariani ia selalu melihat Ariani dalam kondisi terpuruk. Ia melihat sepatu usang yang Ariani pakai saat ia menculiknya, Dirga pun menyadari bahwa Ariani yang merupakan korban jambret. Maka dari itu ia berinisiatif untuk memberikan sesuatu yang bisa dipakai Ariani.
"Akhirnya aku bisa melihat senyuman itu." Dirga mengingat terakhir melihat senyuman tulus Ariani ketika di desa saat ia dan Tama sedang olahraga pagi, ia melihat senyum tulus Ariani saat menyapa tama. Selebihnya mungkin senyuman untuk menutupi kesedihannya atau pura - pura bahagia.
Lalu Dirga pun menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat, dari arah belakang ada mobil milik Dara yang berbelok masuk ke area Cafe dan Dara pun melihat mobil Dirga yang meninggalkan cafe nya.
"Itukan mobilnya Dirga? apa yang dilakukannya disini?" Dara bertanya dengan dirinya sendiri setelah kepergian Dirga, tetapi ia pun kemudian masuk kedalam untuk bekerja, tak ingin ambil pusing dengan apa yang bukan urusannya.
Ariani berada di dalam ruang loker karyawan cafe, ia sedang melihat pantulan dirinya di depan cermin yang ada di loker itu. Senyumnya terkembang tatkala melihat kaki indahnya yang memakai sepatu baru, ia sangat senang menerima hadiah pemberian Dirga. Ariani bukanlah gadis yang jaim (Jaga Image) tetapi bukan juga gadis yang gampangan, ia menerima hadiah dari Dirga bukan hanya karena ia sedang membutuhkan nya tetapi melihat Dirga yang selama ini merupakan orang yang sudah dikenalnya dan selalu menolongnya disaat yang tepat.
"Sepatunya bagus, sepertinya ini sepatu mahal. Tidak seperti punyaku yang dibeli di pasar. Cantik sekali, Dirga baik sekali... " Ariani bercermin menggerakkan kakinya dengan mulut yang terus berbicara memuji sepatu barunya, layak nya gadis pada umumnya yang mendapat hadiah dan menyukai hadiah itu hingga senangnya minta ampun. Kemudian Ariani keluar loker dan memulai pekerjaannya.
Seperti biasa Ariani dan teman kerjanya bekerja bersama membersihkan dan membereskan meja tamu sebelum cafe dibuka, salah satu temannya melihat ada yang berbeda dengan kaki Ariani yang memakai sepatu baru.
"Ciye... Sepatu baru ya..? Sepatumu bagus sekali Ariani." Salah seorang teman memujinya.
"Wah... bagus sekali sepatumu, bukankah kau belum gajian? kau bisa membeli sepatu mahal itu?" Teman yang satunya lagi merasa ingin tahu dari mana Ariani mendapatkan sepatu itu.
"Iya, sepatu lamaku sudah rusak. Sepatu ini pemberian dari seseorang." Semua temannya yang mendengar penjelasan Ariani itu serempak membulatkan mulutnya, Dara yang berada disitu hanya mendengar percakapan karyawannya, ia kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya.
...----------------...
__ADS_1
Malam harinya kini Ariani sudah berada di dalam Bis menuju pulang ke kontrakan nya, hari ini ia tidak terlambat pulang dan tidak tertinggal bis.
"Coba kalau setiap harinya selalu seperti ini, hidupku pasti akan terasa nyaman." Ariani berharap semua berjalan sesuai keinginannya, ia tak lupa membawa hadiahnya. Ia memeluk paper bag itu layaknya barang berharga yang harus ia jaga, tidak boleh hilang.
Ariani pun sampai di kontrakannya dan membuka pintu akan masuk ternyata pintunya tidak dikunci, itu menandakan Indah ada didalam.
"Aku pulang.'' Ariani masuk kedalam dan melihat Indah sedang menonton televisi sambil mengemil, ia lalu melewati Indah dan masuk ke kamar. Indah melihat Ariani menenteng sebuah paper bag yang sepertinya ia kenal membuntuti nya.
" Ariani, ini milik siapa?" Indah mulai penasaran dengan paper bag yang dibawa Ariani.
"Milikku, pemberian seseorang." Ariani langsung berbaring di kasur busanya, meluruskan tulangnya.
"Kau diberi sepatu ini? baik sekali orang itu. Tunggu dulu, kok ini seperti..." Indah tidak melanjutkan kata - katanya, ia memperhatikan logo yang ada di paper bag itu seperti toko sepatu tempatnya bekerja.
"Tidak ada, tidak ada apa-apa." Indah kembali mengambil kesimpulannya sendiri.
Ini kan logo toko sepatu milik pak William Dirga, tempatku bekerja. Sepatu ini pun sama persis dengan yang dipilihnya kemarin. Apa mungkin dia yang memberi sepatu pada Ariani? Tidak, mungkin saja orang lain yang membeli di toko itu dan memberikan nya pada Ariani.
Indah masih mengingat ingat kemarin dirinya diminta Dirga untuk membungkus sepatu yang sudah dipilih Dirga, entah buat siapa.
Flashback on
__ADS_1
Di toko sepatu milik Dirga, indah yang bekerja sedang mengecek stok sepatu. Tiba-tiba Dirga datang dan melihat lihat stand sepatu wanita.
"Indah, tolong bungkus yang ini dan ini." Dirga menyuruh Indah untuk membungkus dua pasang sepatu pilihannya.Tetapi setelah beberapa langkah Dirga kembali menghampiri Indah.
"Oya, berapa nomor sepatumu?" Dirga bertanya ukuran sepatu yang dipakai Indah dan Indah pun menjawabnya.
"Baiklah, bungkus semuanya dengan ukuran sepatumu." Dirga meminta Indah membungkus sepatu sesuai ukuran kakinya karena tinggi Ariani dan Indah sama.
Flashback off
...****************...
Author ingin tanya kira - kira Ariani pantasnya sama Ryan atau Dirga ya? 🙄🤭
.
.
.
Hai... readers, mohon support nya untuk author, klik vote dan like 👍 ya... Author sangat berterima kasih dengan kebaikan readers sudah mau membaca karya pertamaku.
__ADS_1
Silahkan kirim komentar yang membangun untuk author agar bisa lebih baik lagi dalam menulis dan berkarya.
Terimakasih 💜