
Malam sudah berganti pagi, Ariani bangun terlambat sepertinya karena semalam ia tidak tidur dengan baik.
"Selamat pagi." Ariani tengah membuat nasi goreng untuk sarapan. Meskipun terlambat bangun tetapi masalah bangun pagi ia selalu yang pertama dibanding Indah.
"Selamat pagi Ariani, pagi yang indah. Seperti namaku, iyakan?" Indah membuka gorden, cahaya matahari menembus kaca jendela hingga menyilaukan. Ariani menanggapi ucapan selamat pagi Indah dengan senyum tipis sambil mengaduk masakan.
"Apa semalam tidurmu nyenyak?" Indah menghampiri dan berdiri disampingnya.
"Iya." Ariani menjawab singkat, makanan sudah siap lalu ia memberikan sepiring nasi goreng buatannya kepada Indah. Mereka makan sarapan di ruangan depan sambil menyalakan televisi.
"Ada apa dengan matamu?" Indah menunjuk mata Ariani yang terlihat sembab.
"Ini..." Ariani membeku meraba kelopak matanya.
"Jujur saja Ariani, apa yang mengganjal hatimu sampai kau menangis semalaman."
"Jadi kau mendengarnya?" Ariani terkejut ternyata Indah mendengar tangisannya semalam, padahal ia sudah menutup mulut dan mengecilkan suara agar Indah tak mendengarnya.
"Iya, sampai kau tertidur karena lelah menangis."
"Maaf." Ariani menaruh piring sarapannya dengan ekspresi wajahnya yang mulai berubah sedih.
"Semalam kami bertengkar." Pandangan Ariani kosong membuka kembali bayangan kejadian semalam.
"Kau bertengkar dengan kekasihmu." Ariani melirik Indah, ternyata Indah pintar menebak.
"Indah, bagaimana meyakinkannya untuk percaya padaku, aku bersalah sudah membuatnya marah."
"Marah?" Kening Indah mengkerut.
"Dirga mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu, salah satu kakinya patah. Pada saat itu hubungan kita merenggang dan hilang komunikasi, saat aku kembali bertemu dengannya kita mencoba untuk memulai hubungan ini. Aku menyayanginya, aku ingin berada di sampingnya sampai ia benar-benar pulih. Tetapi ia salah mengerti dengan ucapanku saat..." Ucapan Ariani tertahan, ia sedikit malu mengatakannya.
"Saat apa?" Indah pun ikut berhenti mengunyah, terlihat di mulutnya penuh dengan makanan.
"Dia ingin menemui ibu, Dirga mengajakku menikah." Ariani mengadu jarinya.
"Uhuk...uhuk... Menikah?" Indah membulatkan matanya dengan sempurna lalu ia terbatuk tersedak, Ariani membantunya mengambilkan minum.
"Kau tahu bagaimana latar belakang keluargaku, kita jelas jauh berbeda. Saat itu aku bilang malu dengan keadaanku, padahal aku mengatakannya dengan suara pelan dan nyaris tidak terdengar tetapi ternyata dia mendengarnya. Sayangnya Dirga menanggapi ucapanku dengan arti berbeda, dia pikir aku tidak tulus mencintainya. Lalu dia pergi dan tidak ingin mendengarku." Ariani masih terbayang ekspresi wajah Dirga saat tidak suka, tatapannya yang hangat seketika berubah saat marah.
"Aku hanya ingin meminta waktu sampai ia benar-benar sembuh, apa aku salah?"
"Lebih baik kau bicara dalam hati daripada membuat tersinggung yang mendengar."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Minta maaf saja Ariani, harusnya kau mengerti kalau dia mencintaimu berarti dia akan menerima segala kekuranganmu." Ariani menganggukkan kepala kepala, menurutnya ucapan Indah ada benarnya.
...
__ADS_1
''Aku harus menjelaskannya.'' Ariani menggenggam ponsel, dilihatnya kotak pesan masuk yang terlihat kosong. Dirga belum mengirimkan pesan sejak malam itu, jangankan mengirim pesan meneleponnya pun tidak dan itu membuat Ariani semakin yakin kalau Dirga sedang marah padanya.
Di waktu istirahat ia bergantian dengan teman kerjanya beristirahat di ruangan yang dijadikan tempat istirahat dan juga loker, Ariani duduk termenung di kursi mengumpulkan keberanian membujuk kekasihnya yang sedang marah.
Tut...tut...tut... Panggilan pertama ditolak dan terus Ariani mencoba menghubungi Dirga, hingga percobaan yang kelima akhirnya panggilannya dijawab.
''Dirga, kamu sedang apa? Apa aku mengganggu.'' Ariani bicara sedikit terbata berusaha menormalkan degup jantungnya.
''Hemm.'' Jawaban Dirga yang irit dan tak pasti. Ariani memejamkan matanya sudah menebak jawaban Dirga pasti akan seperti ini.
''Aku akan menemuimu setelah pulang, apa kau ingin memakan sesuatu? Aku akan belikan.'' Ariani mencoba meluluhkan Dirga dengan mengiming-iminginya sesuatu.
Hening, cukup lama Dirga diam dan Ariani dengan sabar menunggu jawaban.
''Ariani, lebih baik kau tidak perlu datang.'' Suara Dirga dingin.
Deg... Wajah Ariani mulai pias, Dirga tidak ingin bertemu dengannya. Air mata sudah menggenang di bola matanya.
''Tapi aku ingin menjelaskan ucapan ku semalam, tolong dengarkan aku.'' Ariani sudah terlihat gusar dengan menggigiti kukunya.
''Mungkin benar yang kau katakan, sepertinya aku tidak sabaran.'' Dirga mengakui kesabarannya yang setipis tisu yang dibagi dua.
''Bukan seperti itu maksudku, dengarkan aku...''
Dan lagi Dirga memotong ucapan Ariani.
''Sudahlah, aku ada urusan. Jaga dirimu baik-baik.''
''Kenapa ditutup, aku belum selesai.'' Ariani menggenggam ponsel di dadanya.
Kau keliru Dirga, tidak bisakah kau beri aku kesempatan menjelaskan.
Ariani menangis menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia menangis sendirian di ruangan itu.
Lain hati lain pikiran meskipun dua jiwa satu rasa namun pikiran tidak akan pernah sama. Masalah biasa terjadi dalam sebuah hubungan, dan kini sedang menerpa mereka berdua. Hubungan mereka sedang di uji dengan kesalahpahaman, Dirga yang meledak-ledak seakan hilang kepercayaan diri karena ucapan Ariani, sedangkan Ariani merasa kalah menghadapi arogan nya sikap Dirga.
....
Indah terlihat melamun.
"Sekaya apa kekasihnya?" Indah yang sedang berada di tempat kerjanya memikirkan kembali obrolan yang ia dan Ariani bicarakan tadi pagi.
"Saat bercerita tentang kekasihnya, mengapa pikiranku tertuju pada pak William ya?" Rangkaian peristiwa demi peristiwa yang Ariani ceritakan sepertinya sama, hampir mirip dengan apa yang dialami oleh bosnya.
Siapa Dirga kekasih Ariani? Atau jangan-jangan kekasih Ariani itu sebenarnya William Dirga? Tapi apakah mungkin?
Indah menengok kearah ruangan Dirga yang tertutup, Dirga masih belum bisa bekerja karena sedang dalam masa pemulihan. Apa ini sebuah kebetulan atau tebakannya selama ini benar?
"Sepertinya tidak, tuan William kan sudah punya kekasih. Wanita angkuh dan sombong itu." Indah mengira Bella adalah kekasih Dirga, karena Bella sering datang mengunjungi Dirga. Tetapi akhir-akhir ini ia sudah tidak pernah melihat Bella datang.
__ADS_1
"Mungkin saja ini hanya kebetulan." Indah terhanyut dengan pikirannya sampai ia tidak mendengar ada yang memanggilnya.
"Indah... Indah... " Bian memanggilnya hingga berkali-kali.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" Indah terkesiap.
"Saya ada perlu keluar, tolong siapkan ini." Bian memberikan secarik kertas data pembelian.
"Baik pak."
"Bagus, layani pembeli dengan baik. Karena sepertinya saya akan lama kembali." Indah menganggukkan kepala lalu setelah Bian pergi Indah menjalankan apa yang ditugaskan Bian padanya.
"Kasihan pak Bian, dia pasti sangat sibuk." Salah satu teman Indah membantu mengerjakan tugas Indah.
"Iya, dia harus menghandle dua perusahaan sekaligus. Kapan ya pak William bisa kembali."
"Iya, aku juga rindu. Meskipun galak tapi kalau dilihat-lihat pak William itu tampan ya." Teman Indah berkelakar.
"Huu... Kau ini, kalau sampai pak William tahu bisa-bisa kau akan di pecat hari itu juga." Indah mencebikkan bibirnya mendengar celetukan temannya itu, ia menggelengkan melihat tingkah temannya.
Bian tiba di sebuah rumah sakit.
"Apa yang terjadi bang?" Bian menemui Tama, Tama menceritakan kejadian pada Bian.
Pagi itu saat Galih dan Maya menuju pulang didalam perjalanan Galih merasakan sakit di dadanya lalu pingsan, maya yang terlihat panik langsung meminta supir untuk segera menuju rumah sakit.
"Lalu bagaimana dengan Dirga?" Bian dan Tama berada di ruangan Tama setelah melihat keadaan Galih yang masih belum sadarkan diri, Maya setia duduk di samping menemaninya.
"Dirga sudah tahu hal ini. Nanti sore tolong kau bawa dia kemari." Tama menepuk pundak Bian.
"Baik bang."
Kasihan sekali anak itu.
Bian merasa prihatin dengan apa yang sedang menimpa Dirga.
Malam harinya Ariani memenuhi keinginannya menemui Dirga, kini ia sudah berada di depan rumah Dirga. Seperti biasa yang ia lihat rumah itu dalam keadaan sepi meskipun lampu dalam rumah terlihat menyala.
"Dirga, apa kau di dalam?" Ariani sedikit berteriak didepan pintu gerbang.
"Tolong buka pintunya." Ariani menggedor kunci gembok, namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Harusnya tidak seperti ini kau memperlakukan ku." Ariani berjalan menelusuri trotoar, ia memutuskan pergi setelah tidak ada jawaban dari Dirga. Ariani berhenti lalu duduk di halte sambil menunggu bis, ia memutuskan pulang.
"Tega sekali kau mendiamkan aku seperti ini. Apa kau tidak punya perasaan? Seharusnya kau memberiku kesempatan untuk bicara." Air mata mulai mengalir di pipi Ariani.
"Kau, sangat pemarah. Hiks..." Ariani mengusap air matanya. Ia berpikir apakah hubungannya dengan Dirga akan berakhir? Ia menangis lagi dengan menatap langit malam.
Ariani terlarut dengan kesedihannya hingga sebuah mobil berhenti di depannya.
__ADS_1
"Ariani." Seseorang keluar dari dalam mobil, Ariani melebarkan matanya dengan ekspresi wajah terkejut.
Bersambung....