Melupakanmu

Melupakanmu
Pertemuan Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Pagi itu di sebuah rumah besar, seorang pemuda masih berbaring di tempat tidurnya, ia menutup matanya tetapi sebenarnya ia tidak tidur. Dia baru beberapa jam sampai setelah melakukan perjalanan jauh ke luar kota. Ya, Dirga saat ini sudah berada di kediaman ayahnya, ia dan Tama baru beberapa jam sampai di kota tempat tinggal ayah Dirga.


"Ayo bangun." Tama yang sudah terlihat segar, sudah mandi dan rapi membangunkan Dirga yang masih rebahan di tempat tidur yang empuk. Tidak ada jawaban dari mulut Dirga, ia masih asik meringkuk memeluk guling.


"Haish... anak ini. Sebenarnya kau ini kenapa? Kau berbeda semenjak dari halte itu. Ada apa sih?" Tama yang terlihat kesal melihat perubahan Dirga setelah menemui Ariani.


"Tidak ada, aku hanya lelah saja." Masih berada di posisinya, Dirga menjawab pertanyaan Tama dengan nada malas.


"Ayo cepat mandi, setelah itu kita pergi temui om dan tante."


"Hemm..." Tama kemudian berlalu keluar kamar, Dirga mengangkat kepalanya dengan pandangan mengikuti Tama yang pergi keluar kamarnya. Kemudian ia duduk, tatapannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Entahlah, hanya dia yang tahu perasaannya saat ini.


Dirga berjalan menuruni tangga, ia sudah terlihat segar dan tampan. Tama menunggunya duduk dimeja makan, kemudian mereka makan sarapan yang sudah disediakan pelayan. Ayah Dirga bernama Galih, ia adalah seorang pengusaha yang sukses di kotanya, ia tinggal bersama istrinya yang tak lain adalah Ibu sambung Dirga. Meskipun sudah lama menikah mereka tidak memiliki anak, jadi Dirga merupakan anak satu-satunya di keluarga itu.


Saat ini Dirga dan Tama sudah berada di sebuah rumah sakit yang berada di kota itu, Dirga akan menemui ayahnya yang sedang dirawat di rumah sakit. Saat mereka berjalan menuju kamar rawat inap, Dirga seketika menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" Tama yang melihat raut wajah Dirga berubah, ia dapat melihat ketegangan dari wajah Dirga. Tentu saja, sudah bertahun-tahun Dirga tidak berjumpa dengan ayah kandungnya karena menuruti egonya, dan akhirnya hari ini dengan memantapkan hatinya iapun menemui ayahnya, sebelum terlambat.


Mereka sampai di sebuah kamar VIP, Dirga mengedarkan pandangan nya, matanya langsung tertuju pada seorang pria paruh baya yang sedang berbaring di ranjang pasien, ada rasa perih yang menyayat hatinya. Melihat ayah yang sudah sekian lama tidak ia jumpai terbaring lemah. Mata Dirga terasa panas dan muncul bulir air mata menumpuk di bola matanya, jujur dalam lubuk hatinya sebenarnya Dirga sangat merindukan orang tuanya namun Dirga memendamnya.


"Selamat pagi. Om, tante." Tama menyapa penghuni kamar, terlihat seorang wanita duduk membelakangi Tama dan Dirga di samping tempat tidur ayah Dirga. Namanya Maya, dia istri Galih, ia sedang mengupas buah untuk Galih. Mendengar suara Tama yang menyapa, mereka kompak menengok kearah suara.

__ADS_1


"Tama." Maya melihat kedatangan Tama, matanya beralih melihat pemuda yang datang bersama Tama.


Sayang, Dirga datang.


Maya membisikkan sesuatu ditelinga Galih lalu di susul Galih beralih melihat Dirga yang berdiri di sebelah Tama.


"Dirga, apa itu kau? Anakku." Galih memanggil Dirga dengan suara bergetar, ia tidak dapat membendung air matanya menahan rindu yang mendalam kepada anak satu-satunya itu. Dirga berjalan perlahan menghampiri Galih, Maya lalu berdiri dan bergeser memberikan ruang untuk Dirga. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Dirga, hatinya berdesir, air mata jatuh di pipinya namun segera diusap nya, bibir Dirga bergetar ia berusaha menahan gejolak hatinya, dengan susah payah ia menahan sakit di tenggorokannya karena menahan tangis, kalau tidak malu mungkin ia sudah menangis se jadinya. Tetapi sebagai lelaki tangguh Dirga tidak melakukannya.


"Ayah." Terdengar isak dari mulut Dirga. Satu kata yang sudah lama tidak didengar Galih dari Dirga akhirnya ia mendengarnya kembali, Dirga memanggilnya ayah. Galih pun bangkit dan duduk seolah ia tidak merasakan sakitnya, ia langsung menghambur memeluk Dirga. Pertemuan ini penuh haru dan emosional, hingga Tama dan Maya pun tak terasa meneteskan air mata mereka merasa terharu melihat pemandangan ini.


"Maafkan ayah nak. Ayah sudah jahat padamu." Penyesalan Galih yang telah menelantarkan anaknya. Ia memeluk Dirga dengan erat, meluapkan kerinduannya yang membuncah.


"Bagaimana kabar Papa dan Mamamu?" Tama dan Maya sedang berada di kafetaria rumah sakit.


"Kabar baik Tan. Oya, Mama menitipkan sesuatu untuk Om dan tante. Biasa, kue buatan Mama."


"Benarkah, terimakasih sudah mau repot-repot bawa oleh-oleh untuk kami. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Tante dengar kamu baru menyelesaikan tugas ya?" Meskipun jauh tetapi komunikasi di keluarga itu berjalan lancar.


"Iya, Tan. Tama sudah selesai dan sudah mulai bekerja kembali tapi hari ini Tama sudah minta cuti lagi, untung dibolehin. Hehe..." Tama yang pintar mencairkan suasana hati membuat Bu Maya tersenyum.


"Kamu dari dulu memang tidak berubah, selalu ada untuk Dirga. Tante jadi iri." Terlihat raut wajah Bu Maya yang terlihat sedih namun ia menutupi dengan senyumnya, merasa putus asa karena ia belum bisa mengambil hati Dirga agar mau menerimanya sebagai pengganti ibunya.

__ADS_1


"Tante jangan sedih, Aku yakin suatu saat nanti Dirga akan menerima tante. Cepat atau lambat Dirga akan tahu kebenarannya, apa perlu Tama menceritakan keadaan yang sebenarnya?" Tama mencoba menghibur Bu Maya, ia tahu cerita di masa lalu. Sebenarnya dulu ia sempat ingin menceritakannya pada Dirga, Tapi melihat sifat Dirga yang keras mengurungkan Tama untuk membongkar rahasia itu karena akan percuma, Dirga tidak akan mendengarkan nya.


"Tidak, jangan sekarang. Tante tidak ingin merusak suasana hatinya. Biarkan Dirga dan ayahnya menikmati hubungan mereka yang sudah membaik. Untuk saat ini, melihat mereka berdamai itu sudah cukup membuat tante bahagia." Tama merasa ucapan Maya ada benarnya, saat ini biarkan Dirga dan ayahnya melepas kerinduan sebagai ayah dan anak.


Sementara itu di kamar rawat inap tempat Galih dirawat Dirga bercengkrama bersama ayahnya, ini adalah momen paling berharga yang ia rasakan dalam hidupnya, Dirga yang dulu menutup diri kini mencoba berdamai dengan masa lalu. Ternyata bahagia itu mudah, ya sekarang hatinya merasa bahagia mendapatkan kembali ayahnya.


Kenapa tidak sedari dulu aku memaafkannya?Bodoh.


Dirga mengakui kebodohan nya, ia menyesali sikapnya di masa lalu, seandainya ia tidak menuruti ego nya mungkin tidak akan seperti ini keadaan nya? Terlambat? Tidak juga. Baginya yang terpenting adalah menemukan kembali kebahagiaan yang dulu hilang, ayahnya menerima kehadiran nya dengan tangan terbuka..


"Kau sudah besar. Kau tinggi ya, dulu saat masih kecil tinggi mu segini." Galih mengangkat tangannya mengira-ngira tinggi badan Dirga saat masih kecil.


"Kan aku diberi makan." Dirga menimpali perkataan ayahnya.


"Hahaha, kau benar. Paman dan bibimu sudah merawatmu dengan baik. Hingga kau tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Ayah sangat berterimakasih pada mereka." Dirga menanggapi perkataan ayahnya dengan senyum. Setelah itu Galih menatap Dirga dengan raut wajah yang berbeda, ada pengharapan di sorot matanya.


"Dirga, jika ayah meminta sesuatu darimu, apakah kau akan mengabulkannya?" Air muka Dirga berubah, ia bisa menangkap ucapan Galih yang membahas hal yang dulu pernah disampaikan pamannya bahwa Galih menginginkan Dirga untuk segera menikah.


"Apa?" Dirga pura pura tidak tahu.


"Kau pasti sudah mendengarnya dari pamanmu, ayah ingin kamu menikah. Ayah tidak tahu berapa lama lagi hidup di dunia ini, sebelum aku pergi... Aku ingin melihatmu menikah. Kau mau mengabulkan keinginan ku?" Dirga terdiam, ia bingung harus menjawab apa? Dia akan menikah dengan siapa? Kekasih saja tidak punya.

__ADS_1


__ADS_2