
Hujan mengguyur desa malam ini, Ariani berada di dalam kamarnya bersiap untuk tidur. Ia melihat pantulan wajahnya di depan cermin setelah memakai baju hangat karena cuaca malam yang dingin karena hujan yang disertai angin. Ariani menyisir rambutnya, ditengah aktivitas otaknya mengingat pembicaraannya dengan Tomi di danau sore itu.
''Belum menikah saja sudah berani merendahkan ku, bagaimana kalau aku menjadi istrinya nanti? Bisa-bisa aku diinjak-injak seperti keset kaki.'' Ariani menyayangkan sikap Tomi saat menyatakan keinginannya untuk menikahinya namun penyampaiannya terkesan menghina latar belakang kehidupan Ariani, tidak ada halus halusnya menawarkan cinta pada Ariani yang ada hanya membanggakan diri.
Ariani sendiri bingung, sebenarnya Tomi mengajaknya menikah itu atas dasar apa?
''Dia mengajak menikah tetapi dia tidak menunjukkan kalau dia mencintaiku, yang ada dia hanya terus membanggakan diri dan menghina pekerjaan ku.'' Ariani merasa kesal dengan Tomi yang sudah dua kali melamarnya tapi tidak pernah menunjukkan kesungguhannya tanpa menunjukkan rasa cintanya untuk Ariani, kepeduliannya seolah hanya untuk menjelekkan kekurangan Ariani. Dengan sikap Tomi yang seperti itu tentu membuat Ariani semakin yakin untuk menolak lamarannya, walaupun entah dengan siapa ia akan menikah nantinya.
''Dimana mana pria harus menunjukkan perhatian nya demi meluluhkan hati wanitanya kan.'' Ariani menepuk jidatnya mengingat tingkah konyol Tomi yang aneh, lain dari yang lain. Ariani mulai menata tempat tidur dan membersihkan kasurnya dengan masih menggerutu perlakuan Tomi padanya.
''Tomi bilang dia bertemu Dirga bersama seorang wanita. Apa wanita itu Bella?'' Ariani menyebut Tomi tidak dengan panggilan kakak karena dia sedang sendirian. Ia berbaring di tempat tidurnya, memiringkan tubuhnya menghadap kanan lalu menyelipkan tangan dibawah bantal. Terlintas Ariani memikirkan Dirga yang tiba-tiba dibahas Tomi, seperti sudah lama sekali rasanya ia tidak mendengar kabar pria kota yang hadir dalam kehidupannya. Ariani membayangkan kenangannya bersama Dirga, banyak kenangan indah yang mereka ukir bersama namun dalam sekejap Ariani sendiri yang telah menghancurkannya. Karena ia yang memilih pergi menjauh demi mengalah untuk cinta yang lebih dulu datang kepada Dirga, yaitu Bella. Dan kini Bella sudah mendapatkan apa yang ia mau, Ariani tidak tahu dirinya harus senang atau sedih mendengar kabar ini.
''Ah... Kalaupun iya mereka sudah jadian itu bagus kan. Harusnya aku lega karena Dirga baik-baik saja dan bahagia di sana.'' Hening, seketika Ariani memikirkan perkataan Tomi yang mengatakan bahwa Dirga tidak menyukainya, disitu Ariani merasa ada yang menyayat hatinya.
''Mungkin benar ucapan Tomi, sepertinya Dirga tidak benar-benar menyukaiku, kalau pun ia benar menyukaiku harusnya dia datang menjemput ku disini.'' Merasa dikecewakan karena Dirga tidak memikirkan nya, spontan Ariani berseloroh menginginkan Dirga datang menjemputnya.
Dia yang sudah mencuri ciuman ku.
Ariani membayangkan kembali peristiwa saat Dirga menciumnya di taman dan juga dirumahnya, tapi yang paling berkesan menurutnya saat melakukannya di dapur karena jantung Ariani berpacu cepat dibuatnya. Seketika wajah Ariani memerah.
Astaga... Ariani menggelengkan kepalanya membuang pikiran mesum yang tiba-tiba muncul dari otaknya.
''Astaga Ariani, mengapa kau bisa berpikiran seperti itu? Apa yang kau harapkan? Mungkin saja dia sudah melupakanmu.'' Ia kembali kedalam kesadarannya.
__ADS_1
''Lihatlah siapa dirimu, kau bukan apa-apa dibanding wanita di samping Dirga saat ini, kau ini hanya wanita kampung dan miskin. Sedangkan Bella, dia wanita kota yang cantik dan modern, dia sederajat dengan Dirga. Dan kau hanya seorang gadis kandang ayam.'' Ariani tahu tempatnya. Ia sadar, ia bukan itik buruk rupa yang akan berubah menjadi angsa seperti dalam cerita dongeng.
Setelah mendengar berita Ryan yang akan menikah dan Dirga yang sudah bersama Bella membuat Ariani berpikir sepertinya situasi sudah dikatakan aman untuk dirinya kembali bekerja di kota.
''Mereka sudah bahagia menjalani hidupnya masing-masing.'' Ariani mengeratkan pelukan guling nya.
''Ini saatnya aku menjemput kebahagiaanku, aku akan mencari pekerjaan lain di kota. Ya, aku akan kembali ke kota.'' Ariani berbalik badan dengan posisi terlentang, pandangannya melihat langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu.
''Semoga saja Indah mau mencarikan pekerjaan untukku.'' Dan Ariani menarik selimutnya lalu tidur.
Sementara di tempat lain Dirga yang semakin kacau melewati harinya karena belum menemukan Ariani, ia menghabiskan waktunya di tempat hiburan malam dengan meneguk minuman beralkohol. Semua ini ia lakukan berharap dapat menghilangkan kerinduannya pada Ariani. Dirga yang ditemani Bian yang setia menemaninya telah sampai di rumahnya, Bian yang mengantar pulang merangkul Dirga membantunya berjalan karena ia sudah mabuk berat, tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya.
''Kau menyebalkan sekali. Sebenarnya apa yang terjadi padamu hingga kau merusak tubuhmu seperti ini?'' Bian merasa kesal sendiri melihat sahabatnya berulah lagi, melakukan kebiasaan buruk seperti dulu. Ia tahu bila Dirga sedang berada dalam suasana hati yang buruk, pasti melampiaskannya dengan meminum minuman keras.
Bian melempar Dirga di kasur, ia membawa Dirga bukan di kamarnya yang di lantai atas melainkan kamar yg pernah di tempati Ariani saat Ariani sakit.
''Ariani, kamu dimana?'' Dirga meracau tak sadar menyebut nama Ariani, wanita yang ia rindukan.
''Apa aku tidak salah dengar? Dirga menyebut nama Ariani? pelayan cafe itu?'' Pelan suara Bian menajamkan pendengarannya, barusan ia mendengar Dirga menyebut nama Ariani.
''Ariani, gadis desa. Cepatlah kembali padaku.'' Dan lagi-lagi Dirga memanggil nama Ariani. Membuat Bian berpikir keras, Mengapa bukan Bella yang Dirga sebut? Bukankah Bella kekasihnya, lalu untuk apa Dirga menjalani hubungannya bersama Bella kalau sampai saat ini ia masih menyebut nama Ariani, berarti selama ini dugaannya benar.
''Ku kira kau memang sudah membuka hatimu untuk Bella, tapi ternyata dugaan ku benar, kau menyukai gadis itu dan kau menerima Bella untuk menjadi kekasihmu untuk mencoba berpaling dari Ariani, iya kan? Ayo ngaku.'' Bian mendorong Dirga yang meringkuk tidur di kasur, ia mengajak ngobrol orang yang sedang mabuk berat.
__ADS_1
''Sepertinya aku harus mencari tahu.'' Bian mengusap dagunya merasa tergerak ingin membantu menyelesaikan permasalahan hati Dirga yang rumit, meskipun Dirga diam menyimpan rapat isi hatinya tetapi sebagai teman yang peka Bian dapat membacanya, dari perilaku Dirga yang berubah serta emosi Dirga yang meledak ledak. Dan saat Dirga yang mabuk seperti ini menjadi bukti bahwa hati Dirga tidak sedang baik-baik saja.
Dan dimalam yang larut dimana semua orang sudah berada di alam mimpinya, tidak terkecuali dengan Ariani yang juga tertidur lelap. Ariani berada di alam mimpinya berada di sebuah taman sedang duduk sendirian di bangku taman berwarna hitam, tiba-tiba datang seseorang menghampirinya.
''Lama menunggu ya?'' Seorang pria berperawakan tinggi gagah nan tampan berdiri di samping. Ariani menoleh melihat siapa yang datang padanya dan ternyata Dirga yang datang menemuinya.
''Tidak.'' Ariani bahagia melihat kehadiran Dirga dengan mengembangkan senyum di bibirnya. Sesaat mata mereka saling membalas pandangan dengan binar cinta didalamnya, kemudian Dirga meraih tangan Ariani lalu membawa Ariani pergi. Mereka jalan-jalan dan bermain di sekitar taman, layaknya sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu bersama di taman itu. Dirga tidak pernah melepaskan genggaman tangannya, hingga akhirnya mereka akan pulang dan menuju tempat parkiran. Di sana Ariani melihat penjual eskrim yang ada diseberang jalan.
''Dirga, aku ingin eskrim." Ariani menunjuk jari telunjuknya kearah penjual eskrim.
''Baiklah, biar aku belikan. Kau diam disini, tunggu aku kembali.'' Dirga mencolek hidung Ariani.
''Umm... '' Ariani menganggukkan kepala menurutinya lalu Dirga pun pergi membelikan eskrim yang Ariani inginkan, Ariani menunggunya ditempat, ia dapat melihat Dirga dari seberang membeli eskrim hingga sampailah saat Dirga membawa eskrim di tangannya. Tapi ketika Dirga berjalan menghampiri Ariani tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah dibelakang melaju kencang, Ariani membulatkan mata melihat mobil itu akan menabrak Dirga.
''Dirga awas!'' Ariani berteriak mencoba memberitahu Dirga untuk minggir namun terlambat mobil itu terus melaju hingga menabrak Dirga sampai terpental bersama eskrim yang ia bawa.
''Tidak!!'' Ariani histeris lalu terbangun dari tidurnya. Nafas Ariani tersengal karena mendapatkan mimpi buruk, Ariani cepat mengambil air minum yang ada di meja.
''Dirga? Mengapa dia ada dalam mimpiku?'' Ariani mengatur detak jantungnya yang berdetak cepat, ia juga mengelap peluh di kening nya akibat mimpinya barusan.
''Tuhan, jagalah dia. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.'' Ariani merasa khawatir dan takut dengan mimpinya seolah nyata, dilihatnya jam dinding masih menunjukkan pukul dua malam.
''Hiks... Dirga. Apa kau baik-baik saja di sana?'' Ariani menangisi lelaki yang pernah ia tunggu pernyataan cintanya.
__ADS_1