Melupakanmu

Melupakanmu
Maafkan Aku Belum Bisa Menemuimu


__ADS_3

Malam ini Ariani berencana pergi ke pasar malam yang ada di lapangan balai desa, menghilangkan bosan sekaligus mencari hiburan untuk dirinya yang kesepian. Ariani pergi ke pasar malam sendirian dengan menggunakan sepedanya. Di dalam perjalanannya menuju lapangan desa, Ariani teringat adiknya yang telah pergi.


"Sekarang tidak ada yang menemani kakak ke pasar malam, dulu kamu sangat senang jika ada pasar malam disini." Ariani mengenang kembali kebahagiaan kecil yang ia rasakan dengan Kirani, adiknya memang suka jika ada pasar malam yang biasanya diadakan satu tahun sekali di desanya. Ariani pasti mengajak adiknya rekreasi sederhana di pasar malam itu, menaiki wahana permainan seperti kincir angin, perahu kora-kora dan juga membeli jajanan.


Sesampainya di sana Ariani melihat suasana pasar malam yang ramai, banyak pemuda-pemudi serta masyarakat yang membawa serta keluarganya memenuhi pasar malam menikmati wahana permainan. Ada yang sekedar berbelanja di warung tenda dadakan, bahkan ada juga yang hanya sekedar cuci mata seperti yang di lakukan Ariani sekarang. Langkahnya menyusuri setiap sudut pasar malam, tidak ada yang tahu didalam keramaian itu hati Ariani merasa sepi, orang yang selalu menemaninya kini sudah tiada kini Ariani hanya datang seorang diri. Ariani memang tidak memiliki banyak teman, bisa dibilang teman terdekatnya hanyalah Indah. Bukannya ia tidak mau berteman tetapi kebanyakan orang disini memilih milih teman dari status sosialnya, karena Ariani bukanlah berasal dari kalangan berada jadi Ariani tersisihkan dari lingkungan pergaulan mereka.


Setelah dirasa cukup merefresh pikiran karena tidak ada yang menarik perhatiannya akhirnya Ariani memutuskan untuk pulang, di saat Ariani hendak mengambil sepedanya diparkiran ada dua orang gadis seusianya berjalan melewatinya, salah satu dari mereka bersuara.


"Eh, apa kau mencium bau sesuatu?" Gadis yang berbicara itu menutup hidungnya.


"Iya, aku juga merasa ada bau yang tidak sedap." Salah satu dari mereka menimpali ucapan temannya tadi. Ariani terdiam, melirik mereka sekilas lalu ia mencium wangi bajunya karena merasa sedang dibicarakan oleh dua orang itu.


"Ah, aku tahu ini seperti bau kandang ayam." Mereka mulai mengeluarkan kata hinaannya. Ariani masih diam tak merespon apapun, membiarkan mereka mengatai nya


"Oh, disini ternyata ada Ariani si gadis kandang ayam, Hahaha." Dan setelah mendengar hinaan itu Ariani mengeratkan pegangan tangan pada setir nya. Ariani tahu mereka yang telah menghinanya adalah teman-teman Elma, yang merupakan geng orang-orang berada di desanya.


"Hei, setidaknya pakailah parfum yang wangi agar bau kandang ayam di tubuhmu tersamarkan." Mereka masih belum puas menghina Ariani, telinga Ariani terasa panas menahan segala hinaan teman-teman Elma.


Mereka menyebalkan sekali.


"Berhenti mengganggu ku, kalian belum pernah merasakan hidup seperti yang aku jalani kan?Sebelum itu terjadi berhentilah menghinaku."


"Cih, aku tidak menghinamu. Hanya saja aku merasa terganggu saat kau ada di dekat ku, kau bau Ariani. Hahaha." Mereka menertawakan Ariani, jahat sekali mereka menghina Ariani karena ia bekerja di peternakan ayam.


"Sini aku semprotkan parfum, biar wangi." Salah satu dari mereka mengeluarkan parfum lalu menyemprotkannya ke baju Ariani, Ariani merasa kesal dengan perlakuan mereka. Tak tinggal diam, Ariani membalas perlakuan mereka padanya. Ia mengambil parfum mahal itu lalu menyemprotkan ke seluruh badannya sampai parfum itu habis.


"Sialan! Kau menghabiskan semuanya."

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya kau risih mencium bau badanku. Terimakasih ya, berkat parfum mu aku menjadi wangi." Ariani nyengir lalu meninggalkan teman-teman Elma yang melongo melihat keberaniannya.


"Hufth... Begitu saja sombong. Apa yang mereka banggakan dengan meminta uang orang tua mereka?" Ariani merutuki perlakuan teman-teman Elma yang hanya bisa membanggakan harta orang tua mereka.


Ada sesuatu yang mengiris hatinya, hidup di desa tenyata tidak jauh beda dengan di kota. Meskipun hidup di desa Ariani masih mendapatkan perundungan dari orang-orang yang tidak menyukainya.


"Dihina orang yang dikenal ternyata lebih menyakitkan dari hinaan orang tak dikenal." Ariani merasa sakit hati dengan perlakuan teman-teman Elma, Ariani menahan tangisnya.


"Tuhan, aku bersyukur. Maafkan jika aku pernah mengeluh." Ariani tidak ingin mengkhianati semua yang ia terima. Ariani menatap kosong layar televisi yang sedang ia tonton, kini ia sudah berada dirumahnya.


"Ada apa nak?" Bu Ani memperhatikan wajah Ariani yang terlihat murung.


"Tidak ada Bu, Ariani tadi habis nonton film sedih." Ariani tersadar lalu beranjak masuk ke kamarnya.


Apa ibu akan mengizinkanku?


"Bu, apa boleh Ariani bekerja di kota lagi?" Ibu Ani menatap Ariani sebentar lalu mengelus lembut kepala Ariani.


"Pergilah nak, ibu tidak pernah melarang mu. Yang penting kamu bisa jaga diri di sana." Mendengar jawaban ibunya yang menyejukkan hati, mata Ariani berbinar.


"Terimakasih Bu, Ariani janji akan rajin mengirim kabar sama ibu." Ariani memeluk bu Ani, ia lega sudah mengantongi izin ibunya untuk kembali bekerja di kota. Kemudian ia akan menelepon Indah meminta bantuannya untuk mencarikan pekerjaan.


......................


Dirga menatap dalam danau yang biasa ia datangi bersama Ariani, ia duduk di bangku favorit Ariani. Setelah membalaskan perbuatan Ryan, Dirga berhenti di taman kota ini.


"Arghhhh!!" Dirga berteriak lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Merasa frustasi dengan keadaan hatinya yang kacau. Ia tidak peduli dengan reaksi pengunjung taman yang menengok kearahnya terkaget dengan suara teriakannya.

__ADS_1


"Kamu ada di mana?"


"Kemana lagi aku harus mencari mu?" Dirga menunduk, ia mengenang perjumpaan nya dengan Ariani saat di desa.


"Bisa-bisanya aku menyukai gadis desa sepertimu." Dirga tersenyum getir, tak pernah menyangka bisa mencintai seseorang sedalam ini. Apa yang dimiliki Ariani hingga ia bisa sangat menyukainya?


Dirga tidak tahu ada sepasang mata yang mengawasinya dibalik pohon besar dibelakang bangkunya, pria itu menguping semua perkataan Dirga.


"Apa aku harus ke desa untuk menemui mu? Tapi aku tidak tahu alamat rumahmu." Dirga sudah mencari Ariani ke penjuru kota namun tak ditemuinya, terbesit dalam pikirannya pergi ke desa Ariani, tapi ia tidak tahu akan alamat rumahnya.


Ting! ingatannya yang tajam membuka jalan keluar, Dirga mengingat sesuatu.


"Warung kopi, iya warung kopi. Itu pasti milik keluarganya." Dirga ingat ia pernah mengunjungi warung kopi milik Ariani di pasar. Tanpa pikir panjang Dirga bergegas pergi menuju mobilnya, ia tidak menyadari pemilik mata itu mengikutinya.


"Tunggu aku, aku akan menjemputmu. Setelah itu ayo kita menikah." Dirga menyetir mobilnya dengan perasaan senang karena telah mendapatkan jalan keluar dari kebuntuannya selama ini. Setelah sekian lama ia mencari Ariani di kota, kini ia akan menemui Ariani di desa.


Dirga melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi hingga pada saat di perbatasan kota menuju desa ada sebuah mobil yang menyalip lalu mengganggu geraknya, Dirga merasa terusik.


"Apa yang kau lakukan bodoh!" Dirga memaki pengendara mobil yang mengganggunya. Dirga sudah mengalah membiarkan mobil itu mendahuluinya namun ternyata mobil itu masih menghalangi laju mobil Dirga, orang yang ada didalamnya tersenyum jahat.


"Ayo bermain dengan ku." Pengendara itu memancing emosi Dirga dengan saling kejar mengejar seperti sedang balapan.


"Br*ngs*k! Minggir kau sialan!" Dirga membunyikan klakson berkali-kali tapi mobil di depannya tak menggubris, kejar mengejar tak terhindarkan hingga saat Dirga ingin menyalip ada sebuah mobil dari arah berlawanan dengan lampu yang menyilaukan pandangan hingga Dirga membanting setir menghindari kendaraannya beradu dengan mobil didepannya, namun naas mobil Dirga yang keluar jalur menabrak sebuah pohon hingga membuat mobil itu berhenti dan mengeluarkan asap. Darah keluar dari kepalanya yang membentur setir.


"Ariani... Ariani..." Suara Dirga lirih memanggil nama Ariani, masih setengah sadar mencoba keluar membuka pintu mobilnya.


"Ariani, maafkan aku belum bisa menemui mu sekarang." Dirga tak kuasa menarik tubuhnya keluar karena rasa sakit di kepalanya dengan darah yang masih mengalir, pandangan Dirga mulai buram dan Dirga pun menutup matanya. Orang-orang sekitar yang melihat kejadian itu menolongnya membawanya ke rumah sakit. Di balik peristiwa itu, orang didalam mobil yang telah membuat Dirga celaka ia tertawa.

__ADS_1


"Inilah balasan atas kesombongan mu. Sejauh mana kau pergi menemui Ariani, maka aku akan menghalangimu." Tomi orang yang telah membuat Dirga kecelakaan, ia menghalangi rencana Dirga menuju desa Ariani. Tomi membuntuti Dirga sejak di taman lalu ia mengikutinya hingga mencoba mencelakai Dirga agar tidak dapat menemui Ariani.


__ADS_2