Melupakanmu

Melupakanmu
Patah Hati


__ADS_3

Dirga menendang ban mobil lalu memukul atap mobilnya, Dirga menumpahkan kekesalannya karena Ariani kabur meninggalkan nya. Sudah beberapa kali ia menelepon Ariani tapi tidak diangkat panggilannya oleh gadis itu, Dirga merasa geram menggenggam kuat ponselnya.


"Harusnya aku bisa lebih bersabar. Pelan-pelan saja Dirga, tapi kini kau menghancurkan semuanya." Dirga membuang nafasnya dengan kasar, menyesali perbuatannya yang telah membuat Ariani pergi.


"Aku tidak ingin kehilangan dia, jangan pergi. Tolong kembalilah." Dirga menyandarkan tubuhnya di mobil, hatinya merasa galau. Ia sudah jatuh kedalam jurang cinta yang dalam, ia tidak ingin kehilangan Ariani. Dirga kemudian masuk kedalam mobilnya ia melihat bunga mawar putih pemberiannya yang tergeletak di kursi yang diduduki Ariani, ia mengingat saat-saat wajah Ariani yang tersenyum memegang bunga pemberiannya, dengan mudahnya ia melupakan kesedihan nya saat menghirup bunga mawar itu seketika kembali ceria.


"Apa tidak ada sedikitpun namaku di hatimu?" Dirga menghirup wangi bunga mawar putih Ariani yang tertinggal, lalu ia pun pergi melajukan mobilnya meninggalkan taman.


Ariani terus berlari meninggalkan taman hingga ia hampir sampai di kontrakannya, jarak taman dan kontrakannya tidak terlalu jauh. Ariani berhenti di bawah pohon yang ada dipinggir jalan raya, ia bersandar kemudian tubuhnya merosot duduk dibawah pohon itu.


"Mengapa, mengapa ini terjadi padaku? Aku sudah tidak punya harga diri lagi di hadapannya. Aku sangat malu, mengapa aku bisa ceroboh seperti ini." Nafas Ariani terengah-engah setelah berlari tanpa henti, ia merasa malu setelah mengetahui kejadian sebenarnya. Rasanya ia ingin menggali lubang dan bersembunyi di sana.


"Aku malu bila bertemu dengannya. Bagaimana jika dia nanti mencariku?" Ariani menutup wajahnya dengan tangan, ia bertekad ingin menghindari Dirga.


"Apa yang harus aku lakukan jika ia datang ke cafe besok? Aku harus mencari alasan untuk menyelamatkan diri, dia pasti marah karena aku kabur meninggalkannya." Ia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, Dirga pasti akan mencarinya meminta pertanggungjawaban karena Ariani lari meninggalkannya. Ariani sudah tahu sifat Dirga seperti apa, karena pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya. Ariani bergegas pergi melanjutkan perjalanan pulang sampai kontrakannya.


Brak!!


"Ariani, ada apa denganmu?" Indah terkaget mendengar suara pintu yang di tutup kasar, ia melihat Ariani yang terengah-engah.


"Kau nampak kelelahan, apa kau habis lari?" Ariani masih diam mengatur nafasnya dan melihat keluar jendela.


"Kau habis melihat hantu?" Indah tak patah arang mempertanyakan keadaan Ariani meskipun tidak mendapat jawaban, lalu Indah berinisiatif memberikan air putih dan Ariani meminumnya.


"Tidak apa-apa, aku tadi berlari karena sepertinya akan turun hujan jadi aku lari bergegas pulang." Ariani mencari alasan sekenanya, namun tidak lama suara petir menyambar membuat Ariani tersentak kaget, hujan pun turun dengan deras.

__ADS_1


"Oh, begitu. Lalu bagaimana dengan kencanmu?Apa dia menyatakan cinta padamu? Hem..?" Indah yang terlalu ingin tahu masalah pribadi Ariani.


"Tidak, tadi kita hanya jalan-jalan saja. Dia menemaniku membeli handphone." Ariani menunjukkan ponsel barunya pada Indah.


"Wah, aku ikut senang akhirnya kau bisa membeli ponsel dari hasil keringatmu. Tadi ibumu menelepon menanyakan mu tapi kau belum pulang." Indah menepuk pundak Ariani, bangga padanya.


"Iya, nanti aku akan menelepon ibu." Ariani berlalu menuju kamar mandi membersihkan diri, ia memikirkan Dirga di sela aktifitasnya.


"Apa dia sudah pulang? atau jangan-jangan dia menungguku di taman sampai pagi?" Ariani terkaget lagi saat suara petir menggelegar.


"Tidak mungkin, dia tidak segila itu."


Sementara Dirga berada dijalan depan gang kontrakan Ariani, ia berdiri mematung di samping mobilnya dengan pandangan tertuju pada bangunan kontrakan Ariani yang terlihat dari kejauhan. Guyuran air hujan dan suara petir yang bersahutan menjadi teman dalam kesendiriannya, hingga beberapa saat ia akhirnya masuk kedalam mobil dengan pakaian yang sudah basah kuyup kemudian meninggalkan tempat itu.


"Dirga... Dirga... apa kau didalam?" Bian datang ke rumah Dirga pagi-pagi.


"Pintunya tidak dikunci, ceroboh sekali anak itu." Bian masuk ke dalam rumah Dirga yang tidak terkunci, ia melihat rumah yang masih terlihat sepi menandakan Dirga belum bangun.


"Ck... anak ini, lihat matahari sudah bersinar dengan terangnya tetapi kau masih bisa tidur. Memang matamu tidak silau?" Bian menggerutu membangunkan Dirga yang masih memejamkan mata.


"Ayo bangun, nanti siang kita ada janji bertemu dengan customer." Bian mencoba membangunkan Dirga.


"Badanmu panas sekali. Kau sakit Dirga, kau demam. Aku akan memanggil dokter kemari." Bian memegang tangan dan kening Dirga terasa panas lalu ia mengeluarkan ponselnya.


"Tidak perlu, aku tidak mau. Kau urus saja pekerjaan kita, aku mau istirahat." Dirga bergumam, Bian kembali memasukkan ponsel ke kantong celananya.

__ADS_1


"Baiklah, masalah pekerjaan biar aku yang atasi. Kau istirahat saja." Bian keluar kamar Dirga berinisiatif menelpon Tama untuk meminta resep obat untuk Dirga lalu ia pergi ke apotek dan membeli makan sarapan untuk Dirga.


"Ayo, makan lalu minum obatnya." Dirga bangun dengan malas menuruti perintah Bian, tapi ia memakan sarapan nya sampai habis.


"Kau istirahat saja, aku pergi dulu. Jaga dirimu."Bian memang sahabat yang baik.


" Hemm... " Dirga melanjutkan tidurnya, Bian menggelengkan kepalanya merasa iba dengan kehidupan yang Dirga jalani, hidup menyendiri tumbuh dengan keluarga pamannya tanpa hadirnya orang tua sejak ia kecil. Bian yang sudah berteman dengannya sejak SMA sudah tahu sifat Dirga dan ia memahami karakter sahabat nya itu.


Bian melihat sebuah kaos milik Dirga yang tergeletak di kasur, itu pernah dipakai Ariani.


"Biarkan, biarkan dia disitu." Dirga melarang Bian saat ingin mengambil baju itu yang akan dicuci, tetapi Dirga menegurnya untuk membiarkannya tergeletak. Bian mengalah saja kemudian keluar kamar Dirga, lagi ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Bian melihat buket mawar putih yang hampir layu diatas meja ruang tengah.


.


.


.maaf jika ada typo..


Hai..ini karya pertamaku...


mohon berkomentar dengan bijak... 🙏


pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..


Terima kasih... 🙏

__ADS_1


__ADS_2