
Hari semakin malam, Dirga duduk menyendiri di sofa kamarnya. Sepi melandanya yang menunggu kekasih tak kunjung datang, ditambah lagi Ayah dan Mamanya pergi keluar ada urusan, katanya akan pulang tapi jika urusannya belum selesai kemungkinan mereka tidak pulang. Sendiri sebenarnya bukan hal sulit karena ia sudah terbiasa hidup sendiri, akan tetapi ia tidak bisa sabar menunggu jika diberi janji.
"Kemana dia?" Dirga masih menunggu Ariani yang belum ada kepastian, ia mencoba menelepon Ariani namun jawaban diseberang 'nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi...'
"Argh..!" Dirga membanting ponsel ke kasur karena kesal.
"Menyebalkan.'' Dirga geram, ia sudah rindu ingin bertemu dengan kekasihnya. Begitulah jika sedang jatuh cinta, sehari tak bertemu saja sudah rindu.
"Ya ampun ponselku mati." Sementara Ariani baru menyadari handphonenya mati.
Dirga mondar-mandir menyeret kakinya dengan tongkat, hingga merasa lelah akhirnya ia duduk.
Tok...tok...tok.
"Tuan Dirga, saya mau izin pulang. Apa tuan membutuhkan sesuatu?" Asisten rumah tangga yang dikirim keluarga Tama untuk mengurus rumah Dirga sudah menyelesaikan pekerjaannya dan meminta izin pulang. Dirga membuka pintu meskipun ia harus berjalan perlahan.
"Bibi pulang saja, saya juga mau istirahat."
"Baik tuan, kalau begitu saya pamit. Selamat malam." Dirga menganggukkan kepala saat bi Imah pamit.
Dirga berbaring di atas kasur lalu membuang nafas kasar, pandangan matanya ke atas menatap langit-langit kamar.
"Mungkin dia tidak datang." Dirga memukul kasur, ia sudah lelah menanti.
"Selalu saja begitu. Kita baru saja meresmikan hubungan tapi untuk membalas pesanku saja tidak. Apa sebegitu berat?" Timbul rasa kecewa dalam hatinya karena Ariani lagi-lagi menghilang tanpa kabar.
Ariani meminta abang ojek menambah kecepatan, setelah sampai Ariani meminta ojeknya berhenti di depan sebuah rumah. Lalu memberikan uang ongkos ojeknya.
''Sepi, apa benar Dirga sudah pulang?" Dari luar Ariani melihat keadaan rumah Dirga yang nampak sepi hanya ada sebuah mobil terparkir yang ia kenal, mobil milik Dirga. Saat ingin masuk tiba-tiba pintu gerbang itu terbuka.
"Nona siapa?" Bi Imah keluar berpapasan dengan Ariani yang ingin masuk.
"Saya Ariani, ingin bertemu Dirga. Dirga nya ada?"
Bi Imah melihat Ariani dari atas sampai bawah, berpikir apa mungkin wanita di depannya ini teman Dirga?
"Nona temannya ya?" Bi Imah menebak-nebak.
"Iya saya temannya." Ariani mengiyakan saja, ia cukup tahu diri tidak ingin mengaku-ngaku didepan orang lain.
"Nona masuk saja, tuan Dirga ada didalam. Pintunya tidak di kunci. Saya permisi ya... " Bi Imah terlihat buru-buru karena suaminya sudah datang menjemputnya pakai motor.
"Tapi... " Ariani tidak melanjutkan ucapannya karena bi Imah keburu pergi.
"Terimakasih Bu." Ariani berterimakasih pada bi Imah meskipun orangnya sudah pergi.
__ADS_1
Ariani memasuki pelataran rumah yang pernah ia datangi, ia membuka pintu dan tidak dikunci.
"Apa tidak takut ada pencuri." Ariani menggelengkan kepala.
"Sepi sekali." Suaranya berbisik, setelah ia masuk ruang tamu dan nampak kosong, mana keluarga Dirga? Apa tidak ada anggota keluarga yang menemaninya? Kemudian ia mengendap masuk kedalam ruang tengah dan melihat salah satu pintu kamar sedikit terbuka, ia memberanikan diri lancang mengintip kedalam kamar. Ariani menemukan sosok pria sedang berbaring di tempat tidur.
...
Dirga yang sedang melamun dikagetkan dengan suara wanita yang memanggilnya.
"Dirga."
Dirga langsung bangun saat mendengar suara yang ia kenal memanggil namanya.
Ariani.
Ariani berdiri ditengah pintu kamar diam mematung. Sejenak Dirga diam masih dengan perasaan kesal, namun melihat Ariani tersenyum tulus amarahnya seakan memudar.
"Ku pikir kau tidak akan datang." Dirga dengan suara datar masih merajuk.
"Aku sudah janji kan. Aku tidak akan mengingkari." Bertemu Dirga sejenak Ariani melupakan kejadian memalukan pagi itu, menurutnya Dirga seperti bayi yang bisa menghilangkan rasa lelah dan sedihnya.
Aku tidak ingin kepercayaan mu padaku hilang, hanya kamu yang mau menerimaku.
Dirga tersenyum samar mendengar jawaban Ariani.
"Jangan dong..." Ariani menangkup kedua tangannya di depan dada.
"Kemari." Dirga menepuk kasur meminta Ariani duduk di sampingnya. Ariani berjalan perlahan mengikuti perintah Dirga, ia sedikit canggung duduk disamping lelaki yang kini menjadi kekasihnya.
"Maaf aku terlambat, kamu pasti lama menunggu.'' Ariani menunduk, ia tidak berani menatap lawan bicara.
"Aku tidak masalah kau terlambat atau tidak datang sekalipun, tapi tolong berkabar lah." Dirga mengungkapkan kekurangan Ariani yang sebenarnya, Ariani selalu membuatnya overthinking.
"Ponselku mati." Ariani menunjukkan ponselnya yang benar-benar mati pada Dirga. Dirga mengelus pucuk kepala Ariani, percaya dengan kejujurannya. Ariani teringat sesuatu lalu mengambil sesuatu di tasnya.
"Ini." Ariani memberikan coklat bulat yang diberi bosnya saat pulang, menurutnya cokelat bisa membuat mood menjadi baik. Dirga hanya diam lalu melipat kedua tangan di dadanya.
"Anggap saja ini bentuk permintaan maaf ku." Ariani pikir Dirga belum memaafkannya.
"Cuma ada satu?" Dirga tidak yakin Ariani ingin memberikan cokelat itu padanya, bukankah Ariani sangat menyukai cokelat.
"Untukmu." Cokelat itu berpindah ke tangan Dirga.
"Benar tidak mau?" Dirga meyakinkan.
__ADS_1
"Tidak." Ariani munafik, padahal ia juga ingin memakan cokelat itu tapi cuma ada satu. Dirga tertawa dalam hati melihat Ariani menggigit bibirnya seperti tergiur ingin memakan cokelat juga.
"Ayo makan." Dirga memberi sisa cokelat yang ia gigit untuk dimakan Ariani.
"Tapi... " Ariani sebenarnya pengen, tapi ia harus tetap harus bersikap jaim.
"Itu air liur di lap dulu ." Mendengar ucapan Dirga sontak Ariani memegang mulutnya memastikan tidak ada iler yang keluar.
Tidak ada.
"Hahaha..." Dirga terbahak lalu memasukkan cokelat kedalam mulut Ariani dan memakan lelehan cokelat di jarinya.
"Iihh...kau mengerjai ku!" Ariani kesal Dirga menjahilinya, tetapi ia juga merasa lega melihat Dirga tertawa berarti ia berhasil meredam kemarahan nya.
"Manisnya..." Dirga mengacak-acak rambut Ariani.
"Kamu jahil banget." Ariani mencubit kecil pinggang Dirga. Dan terjadilah saling menggelitik pinggang, mereka tertawa saling membalas kejahilan. Sampai akhirnya Dirga memegang kuat kedua tangan Ariani sampai Ariani terdorong terbaring di kasur dengan kedua tangan di samping kepala yang masih ditahan Dirga.
Kini posisi Ariani berbaring dan Dirga duduk disampingnya dengan masih menahan tangan Ariani. Seketika gelak tawa keduanya terhenti dan berganti dengan netra mereka yang mengunci, nafas mereka terengah-engah karena lelah tertawa. Dirga menatap Ariani, terlihat jelas bulu mata lentik Ariani dihiasi air mata mengambang di bola matanya yang keluar karena tertawa geli. Pandangan itu beralih ke bibir merah alami Ariani yang seksi, membuatnya ingin merasainya. Jantung Dirga berdetak cepat seperti habis lari maraton, darahnya mendidih hingga ia merasakan panas di tubuhnya.
Dirga melepaskan jeratannya setelah mendengar bunyi pesan masuk dan membacanya, kemudian ia bangkit berdiri berjalan keluar.
"Mau kemana?" Ariani membuntuti Dirga dari belakang.
"Mencari udara segar, disini panas." Itu hanya alasan, padahal Dirga menghindari sesuatu terjadi pada dirinya dan Ariani. Ia tidak bisa mengendalikan hasr*tnya jika didekat Ariani. Apalagi ia baru saja mendapatkan pesan dari Ayahnya bahwa mereka tidak pulang dan akan menginap di hotel, ini tidak baik pikirnya.
Dirga dan Ariani duduk di ruang keluarga, Dirga menyalakan televisi. Entah acara apa yang di tonton yang penting ada suara di ruangan itu.
"Ambilkan air dingin." Ariani merasa aneh dengan permintaan Dirga, malam-malam minum air dingin. Tetapi ia tetap mengambilkannya.
Jedderr!! Suara petir disusul listrik yang tiba-tiba mati membuat ruangan menjadi gelap, Ariani mencari lilin dengan petunjuk Dirga. Seluruh ruangan nampak gelap gulita hanya ada cahaya lilin di ruangan tengah, Ariani menaruh lilin di atas meja kemudian ia duduk di samping Dirga.
Hening, tidak ada suara yang di ruangan itu, yang ada suara rintik gerimis yang berubah menjadi hujan. Ariani berniat mencairkan suasana dengan sebuah pertanyaan.
"Sepi sekali, dimana keluargamu yang lain?."
Mendengar pertanyaan itu Dirga berhenti meneguk air, kemudian ia tersenyum smirk.
Kau baru menyadarinya?
"Tidak ada, disini hanya ada kita ber-dua." Jawaban dengan penuh penekanan, Dirga melirik tajam Ariani dengan sorot mata tak terbaca.
Mengapa dia menatapku seperti itu?
Ariani sedikit takut Dirga menatapnya dengan tatapan yang tak biasa, ia kemudian menggeser duduknya namun belum sempat bergerak pundaknya ditahan oleh Dirga.
__ADS_1
"Mau kemana?" Suara Dirga mulai parau, Ariani merinding dibuatnya mendengar suara Dirga yang berbeda. Ia tidak bisa berpindah sedikitpun karena tenaga Dirga sangat kuat.
Bersambung....