Melupakanmu

Melupakanmu
Dirga Akan Menyatakan Cinta


__ADS_3

Rindu ini sungguh menyesakkan, sampai kapan aku menahannya?


Dirga sudah tidak sabar ingin segera pulang, setelah ia harus bersabar menunggu beberapa hari berada di luar kota untuk bertemu dan menemani ayahnya yang di rawat, semakin hari kondisi kesehatan pak Galih sudah terlihat membaik dan kini sudah diperbolehkan pulang. Dirga merasa lega dengan kemajuan kesehatan ayahnya yang membaik, hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kota B dengan alasan banyak pekerjaan yang ia tinggalkan selama ia pergi. Bukan hanya itu Dirga juga sudah sangat merindukan Ariani, ia ingin bertemu dan meluruskan masalah di antara mereka. Meskipun sampai saat ini Ariani masih sulit dihubungi, Dirga menerka mungkin Ariani sedang tidak ingin diganggu.


"Sedikit lagi. Aku akan menyatakan semuanya padamu. Tunggu aku." Dirga berbisik didalam hatinya, ia menopang pipinya dengan jari, sikunya ia sandarkan di jendela mobil. Pandangan menatap kearah luar jendela tapi pikirannya tertuju pada Ariani, gadis yang memenuhi ruang hatinya. Saat ini Dirga yang ditemani Tama tengah berada didalam mobil melaju keluar bandara menuju pulang, mereka dijemput oleh supir. Senyum terkembang dari bibir Dirga, ia sedang membayangkan ekspresi Ariani nanti. Sebuah ide muncul dari pikirannya, ia berencana memberi kejutan untuk Ariani.


"Dirga, apa kau tidak ingin mencoba ide yang ku bicarakan tempo hari?" Tama membuyarkan lamunannya, Tama ingin Dirga memikirkan kembali idenya matang-matang.


"Tidak." Dirga melirik sekilas lalu menjawabnya tegas tanpa keraguan.


"Apa salahnya mencoba? Aku yakin kau tidak akan menyesal, karena wanita yang akan aku kenalkan padamu itu semua sesuai kriteria mu. Kau tinggal pilih saja." Tama ingin mengenalkan teman-teman wanitanya kepada Dirga yang ia pikir masuk kedalam kriteria wanita idaman baik dari segi fisik, pendidikan dan juga karir.


Kriteria? Apa aku pernah menceritakan tipe wanita idamanku padamu?


"Tidak perlu, memang nya mereka barang dagangan yang harus aku pilih sesuka hati. Aku yang menentukan masa depanku." Tama hanya bisa menghela nafas karena idenya ditolak lagi, terserah kau sajalah. Pikirnya. Padahal maksud Tama hanya ingin membantu mencarikan wanita yang cocok dijadikan pendamping untuk sepupunya itu.


Dan waktu tak terasa sudah menunjukkan sore hari, Dirga yang baru saja tiba di rumahnya karena sebelumya ia mampir ke rumah Tama terlebih dahulu bertemu dengan orang tua Tama sekaligus beristirahat sejenak sambil bertukar cerita mengenai banyak hal bersama paman dan bibinya.


"Apakah jalan hidupku harus seperti ini?" Dirga merebahkan tubuhnya di atas kasur, mata indahnya menatap lurus langit-langit kamarnya. Ia tidak menyangka menghadapi pilihan hidup yang cukup rumit, karena keinginan ayahnya yang mendesak nya untuk segera menikah. Ingin sekali ia menutup telinganya rapat saat keluarga Tama menawarkan diri mengenalkannya dengan anak perempuan dari beberapa relasinya. Dirga mengakui ini merupakan tantangan baginya, sebuah harapan orang tua yang ia sendiri yang harus mewujudkannya. Apakah ia bisa memenuhi keinginan ayahnya itu dalam waktu dekat atau mungkin akan butuh waktu lama untuk dapat merealisasikannya.

__ADS_1


Selama ini bisa dihitung dengan jari wanita yang tengah ada di dekatnya. Bella yang sudah lama menunggu bertahun-tahun menanti Dirga untuk membalas cintanya, namun sepertinya Dirga tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, sikap Dirga yang selalu dingin dan terkesan tidak peduli kepada Bella harusnya itu bisa membuat Bella tahu diri dan balik kanan berhenti mengejarnya. Namun Dirga menunjukkan perlakuan yang berbeda saat gadis bernama Ariani yang tidak sengaja datang dalam kehidupannya, gadis desa yang sederhana dan apa adanya. Wanita yang baru ia kenal beberapa waktu lalu namun telah mampu membuat Dirga menengok kearahnya. Dengan segala kepolosan dan kelembutan hatinya, Ariani telah mencairkan hati Dirga yang dingin seperti es. Ariani telah mengubah dunianya, Dirga yang keras kepala perlahan dapat meninggalkan sifat buruknya itu. Seperti pawang yang bisa menjinakkan, kehadiran Ariani mengubah warna hidupnya.


Dirga berdiri di depan cermin, ia sedang bersiap pergi menemui Ariani. Dengan wajah yang tampan ditambah penampilannya yang cool bisa membuat para wanita terpesona memandangnya.


"Apa yang harus aku katakan padanya, rasanya canggung sekali." Dirga melihat pantulan dirinya di cermin, memegang dadanya yang berdebar kencang, ia merasa gugup memikirkan apa yang akan ia katakan jika nanti bertemu dengan Ariani.


"Mengatakan cinta saja aku belum pernah melakukannya." Dirga memijit pangkal hidungnya, ia tahu sebagai seorang lelaki ia harus berani dan kuat. Berani menyatakan perasaan dan harus kuat saat menerima jawaban yang tidak sesuai harapan, tapi itu menjadi sebuah kekhawatiran untuknya. Apakah Ariani akan membalas cintanya? Sedangkan yang ia tahu Ariani menyukai pria lain.


Dengan segenap keberanian, Dirga pergi menuju cafe tempat kerja Ariani. Dirga sudah berhenti di tempat parkir, ia masih berada didalam mobil menetralkan degup jantung yang berdetak kencang seperti habis lari maraton. Ia melihat jam tangan sebentar lagi menunjukkan jam pulang kerja Ariani, pandanganya berpindah kearah kursi samping mobil, ada sebuah buket bunga mawar merah yang indah tergeletak di sana. Itu untuk Ariani.


"Huffh... kenapa tanganku berkeringat? jadi begini ya rasanya ingin menyatakan cinta. Heh.. " Dirga tersenyum menertawai dirinya yang gugup ingin menyatakan perasaan kepada gadis pujaannya.


"Kemana dia? Apa dia tidak bekerja?" Dirga sudah cukup lama menunggu, menelponnya pun percuma karena ponsel Ariani tidak pernah aktif semenjak kejadian di halte itu. Dirga menatap buket bunga mawar di tangannya, rasa kecewa sudah mulai merasuki hatinya. Tiba-tiba bunyi klakson mobil mengejutkannya sampai Dirga tersentak.


"Dirga, kau sedang apa disini?" Kepala Dara melongok keluar dari jendela mobilnya, melihat temannya datang di cafenya yang sudah tutup. Dirga langsung menyembunyikan buket mawar dibelakang punggungnya, namun Dara sudah terlanjur melihat tetapi Dara berpura-pura tidak tahu saja.


"Ku dengar kau pergi ke luar kota, kapan kau datang?" Ucap dara basa-basi saja, sebenarnya ia tahu maksud kedatangan Dirga di cafe nya.


"Kemarin." Bohong Dirga, ia malu bila berkata jujur karena nanti akan terlihat sekali ia merindukan Ariani. Dara hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Kemana dia." Dirga menghentikan langkah Dara saat ia ingin kembali ke mobilnya.


"Siapa?" Jantung Dara sudah degdegan, ia takut Dirga akan menanyakan Ariani.


"Ariani."


Aku harus bilang apa?


"Aaa... Ariani?" Dara mengetuk keningnya pura-pura mengingat.


"Oh, yang pernah mengirim makanan ke rumah mu ya?" Dirga hanya menganggukkan kepala, menunggu Dara bicara.


"Dia sudah tidak bekerja disini." Deg... jantung Dirga seakan berhenti sekejap mendengarnya, Dirga tak percaya apa yang Dara katakan.


"Apa yang kau katakan itu benar? Kenapa dia berhenti?" Nada suara Dirga yang datar berbanding terbalik dengan isi hatinya yang kini sedang naik turun bagai rollercoaster.


"Maaf Dirga, aku tidak tahu dengan jelas alasan Ariani berhenti bekerja. Karena dia hanya mengabari ku lewat telepon." Dara tidak berani bicara banyak, ia sudah terlanjur janji pada Ariani untuk menutup mulutnya. Dara melihat ekspresi wajah Dirga yang menautkan alisnya, ia tidak tega harus membohongi temannya itu. Sebenarnya Dara tahu alasan Ariani berhenti bekerja di cafenya, untuk sementara Ariani ingin menata hidupnya setelah kepergian adiknya. Ia ingin menemani ibunya di desa dan mungkin bisa jadi Ariani tidak akan kembali ke kota.


......................

__ADS_1


__ADS_2