
Disaat Dirga yang tengah sesak menahan kerinduannya pada Ariani, akankah hal yang sama dirasakan Ariani di seberang sana? Mungkinkah Ariani merindukan Dirga, pemuda kota yang belum lama ini masuk dalam kehidupannya. Ariani yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di kota dan memilih bekerja di desa setelah kepergian Kirani, banyak pertimbangan yang ia pikirkan dalam mengambil keputusannya, kepergian Kirani yang menyusul ayahnya kini hanya telah menyisakan ia dan ibunya di dalam keluarga kecil itu. Meskipun sebenarnya Ariani masih memiliki saudara dari keluarga ibunya, tetapi tempat tinggal mereka berjauhan dengan desa Ariani. Ariani merasa tidak tega jika harus meninggalkan ibunya hidup sendirian, rasa trauma muncul dalam dirinya, ia takut hal yang tidak diinginkan terjadi menimpanya jika seandainya ia kembali ke kota dan meninggalkan ibunya sendiri. Kepergian Kirani yang mendadak membuat Ariani memiliki rasa takut kehilangan yang berlebihan akan ditinggalkan orang-orang tersayang, ia tidak ingin melewatkan masa masa kebersamaan dengan ibunya. Ibu Ani sebenarnya tidak keberatan jika seandainya Ariani ingin melanjutkan pekerjaannya di kota, ia tidak memaksa Ariani untuk tetap tinggal bersamanya karena Ibu Ani umurnya yang belum terlalu tua masih mampu untuk bekerja meskipun hanya serabutan yang penting bisa mencukupi kebutuhan hidup.
"Nak, ibu tidak keberatan jika kamu ingin menyusul Indah bekerja di kota lagi, ibu tidak apa-apa disini." Ibu Ani tidak ingin menghalangi Ariani dalam menentukan tujuannya,
''Ariani mengerti Bu, tapi untuk saat ini Ariani masih belum memikirkannya, sekarang sepertinya Ariani kerja disini saja dulu, menemani ibu." Ariani memeluk ibunya, seperti tidak ingin kehilangan lagi, bersikukuh ingin bekerja di desa saja dengan alasan ingin menemani ibunya dan menata hatinya yang masih berduka, akan tetapi sebenarnya Ariani punya alasan lain yang ia tutupi dan ibunya tidak perlu tahu.
''Baiklah jika itu sudah menjadi pilihanmu. Ibu mendukung semua keputusan mu." Bu Ani mengelus lembut kepala Ariani, bukan tanpa alasan bu Ani membolehkan Ariani untuk kembali ke kota, di samping perbedaan gaji yang didapat di kota lebih besar daripada kerja di desa, bu Ani juga ingin Ariani memperluas pengalaman dan pertemanan selama bekerja di kota, syukur syukur nanti ariani menemukan jodohnya. Itulah secercah harapan bu Ani untuk anak satu-satunya sekarang.
Menjalani kehidupannya kembali di desa, Ariani kini bekerja di sebuah peternakan ayam petelur yang terletak di kampung sebelah dan tempatnya jauh dari pemukiman, sudah empat bulan ia menjalani pekerjaan ini. Mengapa Ariani memilih bekerja di tempat yang pastinya kotor dan bau itu, tidak adakah pekerjaan yang lebih baik? Bukan tanpa sebab Ariani memilih pekerjaan ini, ia tidak punya pilihan lain, sebenarnya Ariani ingin membuka warung kopi seperti dulu tapi keterbatasan modal membuat ia mengurungkan rencananya, dan sebagai batu loncatannya ia mencari informasi pekerjaan lewat temannya, tetapi kebanyakan pekerjaan itu berada di daerah pasar, sementara pasar adalah tempat yang ingin ia hindari karena di sana ada toko agen milik keluarga Ryan dan sudah pasti cepat atau lambat ia nanti akan bertemu Ryan jika ia mengambil pekerjaan di pasar. Sedangkan yang Ariani ingin lakukan adalah menghindari bertemu dengan Ryan, cinta pertama yang sudah mengecewakannya. Jadi, ia lebih memilih bekerja di tempat ternak ayam petelur di desa sebelah.
Setiap pagi Ariani berangkat menggunakan sepedanya, waktu yang ia tempuh sekitar 20 menit dari rumahnya. Ditempat kerjanya Ariani bertugas mengambil telur di kandang dan memberikan makan ayam, sudah bisa dibayangkan Ariani harus menahan mual karena bau kandang yang tidak sedap dengan aneka kotoran ayam yang menempel. Tidak sama pada saat ia bekerja di cafe tempatnya bersih dan higienis, Ariani pun dituntut berpenampilan rapi dengan memakai sepatu pantofel sedangkan disni ia memakai sepatu booth karet dan masker tidak memikirkan penampilannya sama sekali. Tapi Ariani berusaha menjalani pekerjaan nya dengan suka terima yang penting ia tidak minta-minta, meskipun upah yang ia dapat tidak seberapa dibandingkan saat ia bekerja di cafe. Ariani tetap mensyukuri nya, itu ia lakukan demi menyambung hidup.
Disaat waktu istirahat nya, Ariani melepas lelah sambil berkirim kabar dengan Indah, ia sudah membeli handphone second dengan harga murah dari hasil keringatnya bekerja di ternak ayam, tidak apa-apa membeli barang bekas yang penting masih bisa berguna.
__ADS_1
Ariani, kapan kamu akan kesini?
Indah yang sedang sibuk di toko tempat kerjanya meluangkan waktu membalas pesan Ariani.
''Hemm... sebenarnya aku ingin, tapi entahlah aku masih ragu kapan aku akan kembali.'' (Ariani)
Kau ragu atau kau takut bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan itu? Ariani ingatlah, kau yang menentukan kebahagiaan mu, jika kamu terus melihat kebelakang, kau tidak akan pernah tahu apa yang sedang menantimu didepan. (Indah)
Tentu, kau harus kembali ke kota. Aku sepi tidak ada teman disini. Jika kau berubah pikiran cepat hubungi aku ya. (Indah)
Ariani tersenyum membaca pesan Indah yang merindukannya kembali bekerja di kota bersama, Indah merasa kesepian ketiadaan Ariani yang memutuskan menetap di desa. Sebenarnya ia juga mulai betah bekerja di kota, tapi semenjak peristiwa menyakitkan itu membuatnya enggan kembali.
''Ucapan indah ada benarnya. Mengapa aku harus bersembunyi?" Ariani menggenggam ponsel dengan kedua tangannya, memikirkan kembali perkataan Indah untuk dirinya yang tidak perlu melihat kebelakang meratapi kisah cinta yang tidak sesuai harapannya.
__ADS_1
''Apa aku akan selamanya bekerja disini? Selama ini telingaku sudah cukup kebal dengan hinaan orang mengenai pekerjaanku." Ia sering mendengar perkataan tidak enak dari orang-orang mengenai pekerjaan nya. Banyak yang beranggapan pekerjaan itu tidak cocok untuknya.
''Memangnya mengapa dengan pekerjaan ku? Bukankah semua pekerjaan sama saja yang penting mendapatkan uang kan? Lalu apa hak mereka merendahkan pekerjaan ku." Ariani tidak habis pikir dengan tanggapan sinis orang sekitar yang bermulut pedas, yang ia pikirkan sekarang yang penting bekerja lalu mendapat upah yang halal.
Dan di waktu sore hari Ariani yang pulang dari bekerja, tidak seperti biasanya hari ini Ariani pulang kerja lebih cepat. Oleh karena itu Ariani menyempatkan diri berkunjung ke suatu tempat, ia berhenti di sebuah danau yang dulu menjadi tempat rekreasi bersama Kirani mengisi liburan mereka yang murah meriah. Di sini ia mengenang kebersamaan bersama sang adik.
"Hah..." Ariani membuang nafas menghempas kerinduan pada sang adik, ia menatap dalam danau yang tenang dan sepi, cahaya matahari yang terhalang pohon terlihat indah terpantul di atas air danau yang jernih. Ariani berdiri di dekat danau merentangkan tangan, kemudian menutup matanya menikmati udara sore itu.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan Ariani?" Ariani mulai merasa bimbang dengan semua yang ia lakukan.
''Untuk siapa kau melakukan semua ini?" Ia mengambil batu kecil lalu ia lempar ke danau.
''Siapa yang kau takuti hingga kau memilih bersembunyi seperti ini? Lalu jika suatu saat kau bertemu dengannya apakah kau akan tetap lari menghindarinya?" Ariani tersenyum getir meratapi hidupnya. Mengapa dirinya seakan takut menghadapi kenyataan pahit? Sikap Ryan yang mengecewakan nya telah mengubah dirinya menjadi merasa kecil dihadapannya, kejadian di masa lalu benar-benar membunuh kepercayaan dirinya. Hinaan - hinaan dari mulut Bella dan Elma masih terngiang di telinganya membuatnya memilih mengasingkan diri.
__ADS_1