
Dara duduk di kursi kerjanya ia menggigit pulpen sedang memikirkan sesuatu, sebenarnya ia menunggu kedatangan Ariani tapi belum juga kembali.
"Ariani belum kembali, sepertinya Dirga memang menyukainya. Dirga membiarkan Ariani datang ke rumahnya, Bella saja tidak pernah ia biarkan datang walau hanya sampai didepan gerbang rumahnya." Dara masih ingat ia pernah menemani Bella memberi kejutan untuk Dirga, mereka datang ke rumahnya sengaja tidak memberi tahunya, namun apa yang terjadi? Dirga mengabaikan Bella dengan tidak membukakan pintu gerbang dan menyuruhnya pulang mengusirnya lewat telepon, dengan sifat Dirga yang dingin seperti itu membuat Bella semakin menyukainya hingga saat ini. Dara tertawa mengingat kejadian masa lalu, betapa gigihnya Bella ingin menaklukkan hati Dirga.
"Sekarang Bella memiliki saingan, sedangkan wanita saingannya itu bekerja padaku. Aku harus mendukung siapa?" Dara bingung harus mendukung Dirga bersanding dengan Bella atau Ariani, ia tidak ingin memusingkan itu. Yang ia pikirkan sekarang bagaimana jika nanti Bella tahu kebenaran bahwa Dirga menyukai Ariani. Ia takut Bella tidak akan menerimanya.
Dara mengambil ponselnya di tas, ia mengetikkan pesan untuk Ariani. Ariani yang masih di rumah Dirga yang sedang suap suapan bersama Dirga membaca pesan di ponselnya.
"Ariani, kau tidak perlu buru-buru kembali ke cafe, Dirga sedang sakit, kasihan dia tinggal sendiri di rumah nya. Ini permintaanku, tolong rawat dia. Terimakasih :) "
Kurang lebih seperti itu isi pesan Dara untuk Ariani. Sepertinya Dara sudah pindah haluan, ia ingin mendukung hubungan Dirga dengan Ariani meskipun Bella adalah teman baiknya. Ia ingin melihat Dirga bahagia dengan wanita pilihannya karena Dirga juga temannya, rumit memang.
"Aku akan meminta hadiah padanya, karena aku sudah memberi jalan padanya untuk dekat dengan Ariani." Dara menepuk tangannya karena rencananya berhasil dengan mengirim Ariani ke rumah Dirga, ia ingin meminta hadiah pada Dirga.
Ariani dan Dirga sudah menghabiskan makan siang mereka, Ariani membawa piring kotor ke dapur lalu mencucinya. Kemudian ia kembali ke ruang tengah membawa air minum untuk Dirga meminum obat.
"Sekarang waktunya minum obat." Ariani memberikan gelas dan kepada Dirga, Dirga menurut dengan perintah Ariani. Setelah minum obat ia kemudian berbaring di sofa.
"Sebaiknya istirahat dikamar saja, nanti badanmu sakit." Ariani meminta Dirga untuk beristirahat dikamar.
"Tidak, aku mau tidur disni saja." Ariani hanya menggelengkan kepala menanggapi sifat keras kepala Dirga.
"Apa kau ingin kembali ke cafe?" Ariani ingin sekali kembali ke cafe,tapi ia ingat pesan Dara yang memintanya untuk merawat Dirga.
__ADS_1
"Tidak, beristirahatlah." Hanya itu yang diucapkannya, ia ingin Dirga istirahat agar cepat pulih. Dirga sudah mulai mengantuk, mungkin efek obat sudah bekerja. Ia mulai memejamkan matanya dan tertidur di sofa. Ariani mengambil selimut dikamar lantai bawah lalu menyelimuti Dirga. Dipandanginya wajah lelaki itu, wajah yang terlihat teduh saat sedang terlelap mengalahkan kerasnya sikap yang dimilikinya.
Kau terlihat lebih tampan saat tertidur seperti ini.
Ariani tersenyum mengingat sikap Dirga saat memintanya untuk menyuapi makan, ternyata di balik sifat kerasnya masih ada sisi kekanakan dalam dirinya. Ariani memerhatikan garis wajah Dirga, ia mengakui ketampanannya namun sayangnya tertutupi oleh sifat kerasnya yang tidak mau mengalah. Kemudian ia duduk dibawah mendekati Dirga lalu meletakkan punggung tangannya di kening Dirga.
"Syukurlah, panasnya sudah mulai turun." Ia berbicara pelan merasa lega suhu tubuh Dirga sudah mulai turun. Ariani tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya, sebenarnya ia ingin kembali ke cafe tetapi memang dia harus menuruti perintah atasannya. Untuk mengisi waktunya Ariani membereskan rumah Dirga mulai dari menyapu, mengepel, lalu menaruh bunga mawar putih kedalam vas bunga agar tidak semakin layu.
Setelah semua sudah selesai Ariani ke dapur, ia ingin memasak makanan untuk Dirga. Sebelum ke dapur Ariani kembali menghampiri pria yang sedang tertidur itu, ia memerhatikan wajahnya tanpa rasa bosan, Ariani melihat ada bulu mata jatuh di pipi Dirga. Dengan pelan Ariani mengambilnya, ia tidak ingin Dirga merasa terusik. Pandangan Ariani turun ke bibir Dirga, ia menjadi teringat saat Dirga tiba-tiba menciumnya semalam. Wajahnya memerah, ia baru merasakan ciuman dari seorang pria, bisa dibilang itu adalah ciuman pertamanya saat dalam keadaan sadar, karena saat ia mabuk Ariani mengira itu terjadi hanya dalam mimpinya.
Bibir ini yang mengambil ciuman pertamaku
Jari telunjuk Ariani menyentuh bibir Dirga, Ariani tidak menyadari sebenarnya Dirga sudah bangun tetapi ia masih memejamkan mata pura-pura tidur. Seperti terdorong Ariani mendekatkan wajahnya mendekat ke telinga Dirga.
Apa yang sedang dilakukannya?
Ariani ingin tahu kehidupan Dirga lebih dalam, namun ia masih enggan menanyakannya. Sejauh ini ia nyaman dengan hubungan pertemanan mereka, tetapi dengan segala perlakuan baik Dirga padanya membuat dirinya terbawa perasaan dan tumbuh benih cinta dihatinya.
Ariani meniup bulu mata Dirga membuat Dirga mengerjapkan kelopak matanya, merasa terusik Dirga akhirnya membuka matanya dan Ariani terlonjak kaget melihat Dirga yang tiba-tiba bangun.
"Dirga, kau sudah bangun?" Ariani mundur kebelakang menjauh dari wajah Dirga.
"Kau sedang apa? Mengganggu tidurku?" Dirga bersikap seperti tidak mengetahui apa-apa.
__ADS_1
"Aku, aku tadi melihat ada bulu mata jatuh di pipimu. Jadi aku mengambilnya. Maaf kalau tidurmu terganggu." Ariani gugup mencari alasan.
"Begitu ya? Apa ada lagi?" Dirga menunggu jawaban namun Ariani hanya diam. Dirga berdiri membuat Ariani mundur, ia memegang dagu Ariani mengangkat wajahnya.
"Apa masih ada bulu mata di pipiku?" Seketika Ariani menatap Dirga, ia menggelengkan kepalanya. Sorot mata Ariani tertuju pada mata Dirga yang sedari tadi menatapnya, pandangan mereka bertemu. Dalam diam hati keduanya bergemuruh, Dirga menyusuri bibir Ariani dengan ibu jarinya, membalas perbuatan Ariani saat ia sedang tidur. Ariani memejamkan matanya, dadanya bergemuruh, nafasnya naik turun terasa sesak.
Ada apa ini?
"Dirga,, aku ingin ke dapur." Ariani mundur setelah tersadar, ia kemudian pergi meninggalkan Dirga yang tersenyum melihat reaksi Ariani seperti itu.
Ariani berada di dapur sedang memotong sayur, ia sesekali mengintip dirga yang sedang duduk menonton televisi di ruang tengah. Pikirannya melayang mengingat kejadian tadi, Ariani merasa lemah saat Dirga memperlakukan nya dengan lembut. Ariani terlarut dalam lamunannya tanpa sadar ia mengiris jari tangannya.
"Aww... " Dirga langsung menuju dapur mendengar suara Ariani yang kesakitan.
"Kau kenapa?" Ariani memegangi jarinya yang tersayat. Dirga melihat darah ditangan Ariani.
"Kau terluka" Dirga meraih tangan Ariani yang terluka lalu menghisap jari ke mulutnya, Ariani berdebar dibuatnya tapi ia merasakan sakit saat itu hingga ia hanya bisa meringis .
"Lukanya dalam, mengapa kau tidak hati-hati?" Dirga melihat goresan pisau yang cukup dalam dijari Ariani.
"Maaf." Suara Ariani lirih.
"Ada darah di bibir mu." Ariani mengusap darah yang menempel di bibir Dirga, Dirga memegang kedua tangan Ariani membuat Ariani membeku, ia menatap nanar Ariani yang juga menatapnya, tanpa aba-aba Dirga mencium bibir Ariani membagi sisa darah yang masih menempel di bibirnya. Dirga, seolah tahu Ariani tidak akan menolak nya, Ariani memejamkan mata menerima ciuman itu. Mereka berciuman seperti sudah sama-sama mempunyai rasa saling memiliki.
__ADS_1