Melupakanmu

Melupakanmu
Kegalauan Hati


__ADS_3

Ariani melihat pantulan dirinya di depan cermin, ia sekarang berada di loker sedang menata kembali pakaian dan rambutnya yang berantakan.


Jauhi Dirga, kau tidak selevel dengannya.


Ucapan Bella masih terngiang di telinganya. Ariani menyadari dirinya dan Dirga berbeda dari segi manapun. Meskipun Ariani belum tahu latar belakang kehidupan Dirga seperti apa, tapi ia bisa tahu dengan apa yang Dirga punya. Bagaikan bumi dan langit mereka sangat jauh berbeda bila dibandingkan. Meskipun bukanlah keinginannya mendapat kehidupan yang seperti ini, Ariani tidak ingin menyesali nasibnya. Ia hanya menjalani takdir yang diberikan sang Pencipta. Mungkin saat ini sepertinya ia sedang berada di tempat yang salah, sehingga ada orang yang merendahkan nya.


"Mungkin benar yang dikatakan Bella, aku hanya seorang gadis desa yang miskin. Tidak seharusnya aku dekat dengan Dirga." Ariani tersenyum getir memandang dirinya yang hanya seorang pelayan cafe, lagi-lagi perbedaan derajat dipertaruhkan. Sebenarnya tidak sepenuhnya salah Ariani karena bisa mengenal dan dekat dengan Dirga, jalan takdir pun berperan hingga mereka bisa sedekat ini. Ariani pergi meninggalkan loker, saat ia berjalan keluar melanjutkan pekerjaan tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia mendapatkan pesan dari Ryan.


Ariani, aku masih menunggu jawabanmu. Kuharap kau segera memberikan keputusanmu.


Ariani menggigit bibir bawahnya, mengapa masalah datang di waktu yang bersamaan?


Baiklah, temui aku nanti malam setelah aku pulang bekerja. (Ariani)


Aku akan menjemputmu, tunggu aku. (Ryan)


Di tempat lain Ryan yang sedang berada di restoran menyantap makan siangnya bersama Tomi, ia bertukar pesan dengan Ariani. Wajahnya dihiasi senyum yang dari tadi terukir di bibirnya, Tomi memperhatikan ekspresi wajah Ryan yang nampak sumringah.

__ADS_1


"Sepertinya kau bahagia sekali. Kau sedang chat dengan siapa?" Tomi mencari tahu apa yang menyebabkan temannya tersenyum.


"Rahasia." Ryan menyembunyikannya dari Tomi, ia tidak ingin Tomi mengetahui rencananya, Ryan pergi mencuci tangan meninggalkan ponselnya yang ditaruh di meja. Sehingga ada pesan masuk dari Ariani, layar ponsel Ryan menyala. Tomi membaca pesan singkat yang dikirim Ariani kepada Ryan.


"Ada apa dengan mereka? Apa mereka sedang membuat janji?" Kening Tomi berkerut, ia merasa ada yang berbeda. Sepertinya Ryan merahasiakan sesuatu darinya dan ini ada hubungannya dengan Ariani. Tomi mengepalkan tangannya, ia harus bertindak.


"Baiklah, kita lihat. Aku akan mencari tahu sendiri rahasia apa yang sedang kau sembunyikan." Tomi tersenyum miring, ia pun punya rencana sendiri untuk mengetahui apa yang disembunyikan Ryan.


Sedangkan di sebuah Mall ternama di kota B, Indah mengisi waktu liburnya. Melepas penat sekaligus mencuci mata setelah sekian lama tidak mengambil libur kerja. Di Samping itu Indah juga tidak sekedar cuci mata melainkan untuk membeli barang keperluannya di Mall. Indah ingin membeli jam tangan karena jam tangan miliknya sudah rusak, ia berada di toko jam tangan yang ada di dalam Mall itu. Indah sedang memilih jam tangan yang akan dibeli nya, tanpa disadari Reno pun berada ditempat yang sama, mereka berdiri bersebelahan.


"Yang ini harganya berapa mba?" Indah menunjuk barang pilihannya dan menanyakan harga pada karyawan toko, Reno melirik Indah yang berdiri disampingnya. Indah pun menengok kearah Reno tetapi ia melihat Reno dengan tatapan yang biasa saja seperti orang asing yang belum pernah bertemu, kemudian ia kembali menunduk melihat etalase. Berbeda dengan Indah, Reno mengenal wajah Indah.


Reno menajamkan ingatannya.


Iya benar, aku masih ingat dia yang bersama Bian waktu itu.


"Yang ini harganya xxx " pegawai toko memberitahu harga jam tangan pilihan Indah, Indah mundur sebentar lalu mengambil dompet dan melihat isi dan menghitungnya, diam-diam Reno memperhatikannya.

__ADS_1


"Sepertinya uangku tidak cukup. Lain kali saja deh." Suara Indah lirih, nyaris tak terdengar tetapi Reno yang di samping Indah masih mendengar gerutunya.


"Baik mba, terimakasih." Suara Indah pelan kepada pegawai toko itu, Indah hanya numpang tanya harga jam saja, lalu ia pun kemudian pergi meninggalkan toko, tidak jadi membeli jam tangan. Reno memperhatikan punggung Indah yang menjauh dari pandangan, ia tersenyum. Kemudian Reno memilih jam tangan pilihan Indah dan membelinya.


....................


Dirga kini sedang duduk menghadap sebuah gundukan tanah yang terdapat rumput hijau yang lebat nan rapi yang terawat terdapat bunga warna-warni yang baru saja ia taburkan, tangannya memegang sebuah batu nisan, pandangan mata menatap pada batu nisan bertuliskan nama dari seorang wanita yang melahirkannya yang telah mendahului pergi menghadap sang pencipta. Langit sore yang berselimut awan mendung menambah suasana sunyi area makam yang nampak gelap nan sepi seperti hatinya yang kesepian. Dalam diam Dirga mengingat kembali kenangan yang ia lalui bersama mendiang ibunya meskipun hanya sebentar ia merasakan kasih sayang seorang Ibu, namun kenangan indah masih terlihat jelas dimatanya. Sesekali ia mengusap wajahnya, menghapus kegelisahan menahan rindu yang menyesakkan.


"Ibu, aku datang." Dirga tersenyum mengusap batu nisan menyapa ibunya, berbicara seolah ibunya bisa mendengarnya.


"Maafkan aku, Bu. Aku belum bisa memenuhi permintaan mu. Hingga sekarang aku belum bisa menerimanya." Dirga mengingat pesan ibunya sebelum pergi, ibunya meminta Dirga untuk menerima wanita lain untuk menggantikan dirinya menjadi ibu sambung Dirga jika ia pergi. Tetapi Dirga menolak, saat itu ia masih anak-anak dan belum bisa berpikir terlalu jauh. Dirga terpengaruh dengan ucapan teman temannya cerita tentang kasih sayang seorang ibu tiri yang tidak akan tulus menyayanginya. Dan sejak saat itu, Dirga yang kecewa dan marah pada ayahnya yang memilih menikah dengan wanita lain dan meninggalkannya saat ibunya tiada, Dirga merasa terpuruk dan merasa tersisih hingga ia tidak pernah ingin tahu kabar ayahnya bahkan tidak ingin menemuinya, ia memilih tinggal bersama keluarga Tama. Hatinya yang kecewa membuatnya tidak percaya akan cinta, ia merasa kecewa dan mati rasa. Mungkin trauma kehilangan orang yang disayangi membuat hatinya dingin sulit untuk didekati wanita, hingga ia mengabaikan perasaan para wanita yang berusaha mendekatinya.


"Tiba-tiba ayah memintaku untuk menikah. Yang benar saja, aku bahkan masih terlalu muda untuk membangun sebuah keluarga bahkan belum ada wanita yang bisa menyentuh hatiku." Dirga mengadu di makam ibunya mengenai keinginan ayahnya kepada Dirga untuk segera menikah. Terlintas di bayangannya sosok Ariani, seorang gadis yang bisa mencairkan hatinya yang beku. Jantung Dirga berdebar, ia tersenyum mengingat wajah ayu Ariani yang mengalihkan dunia nya.


"Kecuali dia, aku menyukainya. Sayangnya, dia menyukai orang lain." Dirga mencengkram tanah dan menggenggam rumput di tangannya. Rasa ingin memiliki namun ia tidak bisa memiliki hatinya, Dirga tidak tahu perasaan Ariani padanya. Yang ia tahu Ariani meminta waktu untuk bisa melupakan Ryan dan Dirga menghargai keputusannya. Dirga tidak tahu sebenarnya Ariani menunggunya mengungkapkan perasaan nya, bagi Dirga ia merasa sudah menyatakan perasaannya saat ia mencium Ariani dan meminta Ariani melupakan Ryan saat di rumahnya.


Tidak, saat ini yang harus aku lakukan adalah menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


Dirga segera mengalihkan pikirannya dari masalah hatinya, ia kembali ke tujuan awal menyambangi makam ibunya.


"Tama bilang ayah sakit dan dirawat, sepertinya sudah saatnya aku menemui beliau. Jangan khawatirkan aku, aku tidak akan berbuat macam-macam yang membuat ibu kecewa padaku." Dirga pergi meninggalkan makam setelah memanjatkan do'a untuk ibunya. Dirga selalu seperti itu, setiap datang ke makam ibunya ia selalu mencurahkan isi hatinya meskipun ia berbicara sendiri dan terlihat seperti orang tidak waras. Dirga merasa lega setelah mengungkapkan isi hatinya di pusara ibunya.


__ADS_2