Melupakanmu

Melupakanmu
Tertangkap Basah


__ADS_3

Dirga tersudut seperti sedang menjadi terdakwa yang disidang, empat mata yang sedang menatapnya penuh selidik meminta penjelasan darinya. Mata Dirga melirik satu per satu temannya sambil memikirkan jawaban apa yang tepat.


"Dirga, siapa gadis itu? Kau membawa wanita ke rumahmu?" Bian sudah tidak sabar akhirnya dia bertanya pada Dirga yang bergeming.


"Kau sudah tertangkap basah Dirga, kau ingin menyembunyikannya dari kita.Terlambat, kita sudah mengetahuinya." Dirga merasa seperti seorang lelaki pengecut yang suka bermain dengan wanita padahal dia dikenal dingin oleh temannya karena ia belum pernah mendekati seorang gadis apalagi membawa wanita ke rumahnya.


"Baiklah aku akan jujur pada kalian sekarang, jadi ku mohon kalian percaya dengan penjelasan ku." Dirga menutup matanya lalu menghela nafas, ia mulai menjelaskan perihal mengapa Ariani bisa berada dirumahnya.


"Semalam aku melihat gadis itu pingsan di jalan, saat itu hujan turun dengan deras. Aku ingin mengantarnya pulang tapi aku tidak tau tempat tinggalnya lalu akhirnya aku bawa dia ke rumahku. Setelah ini aku akan mengantarnya pulang. Sudah itu saja." Dirga yang hanya menjelaskan secara singkat dengan alasan klise, ia bercerita mengenai pertemuannya dengan Ariani yang seolah mereka belum saling mengenal kepada teman-temannya. Reno dan Bian sedikit menerima penjelasannya, tapi masih banyak yang ingin mereka dengar.


Tiba-tiba Ariani muncul dari arah dapur akan masuk kembali ke kamarnya, ia terkaget dengan kedatangan tamu Dirga yang otomatis membuat tiga lelaki didepannya melihat kearah nya. Reno dan Bian dengan pikirannya masing-masing melihat penampilan Ariani dari atas sampai bawah memakai baju milik Dirga yang kebesaran di badannya dan wajahnya yang agak pucat, Ariani menarik sedikit senyumnya ke arah mereka. Lalu Dirga menghampirinya.


"Masuklah, jangan keluar kamar sebelum aku memanggilmu." Dirga dengan suara pelan menyuruhnya masuk ke kamar, Ariani pun melihat ke arah kedua teman Dirga sebentar kemudian ia kembali masuk ke kamarnya. Bian melihat sesuatu dileher Ariani, tanda merah bekas kecupan Dirga.


Apa itu? Apakah Dirga yang melakukannya?


"Ka..." Reno yang hendak berbicara pada Dirga namun tangannya di cekal oleh Bian, ia mengerti maksudnya dan tidak jadi berbicara.


"Baiklah, lebih baik kita pulang saja, Ayo Ren." Bian mengedipkan matanya pada Reno, mengajak Reno untuk pergi.


"Ayo.. Dirga, kita pergi dulu. Jangan lupa nanti malam kita kumpul di tempat biasa." Reno dan Bian akhirnya keluar dari rumah Dirga.


"Baiklah, aku akan datang." Dirga merasa lega akhirnya teman - temannya pergi tidak berlama-lama di rumahnya dan ia tidak sampai dicecar berbagai pertanyaan oleh temannya. Dirga menuju kamar Ariani, ia mengetuk pintu lalu Ariani membuka pintunya. Sejenak mereka saling tatap, Dirga sedikit malu menatap Ariani tapi yang di tatap terlihat biasa saja.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan saat aku tidak ada? " Dirga melipat tangannya di dadanya, ia mencoba mengulik rangkaian ingatan Ariani.


"Aku hanya diam dikamar hingga waktu menjelang sore. Aku kelaparan lalu ke dapur mencari sesuatu yang bisa aku makan." Dirga masih ingin mendengar ceritanya.


"Lalu, setelah itu apa yang kau lakukan?" Dirga yang kemudian berkacak pinggang seperti mengintimidasi Ariani.


"Aku merasa haus lalu mengambil minum, tapi tidak ada air putih didalam kulkas. Kemudian aku minum air teh yang ada di botol itu tapi rasanya aneh sekali menurutku." Dirga mendengar pernyataan Ariani pun tertawa, membuat Ariani terkesima melihatnya karena ini pertama kalinya ia melihat Dirga tertawa.


"Pfth... Hahaha... Air teh? Kau bilang itu air teh? Kau tidak tahu ya, kau itu mabuk setelah minum air itu, Ariani. Yang kau minum itu adalah B*r, hingga membuatmu mabuk dan kau sudah membuat kamar menjadi berantakan." Dirga yang sudah berganti dengan mode dinginnya. Ariani masih tidak ingat dengan apa yang sudah dilakukannya, apakah benar ia mabuk. Seingatnya ia tertidur dan mimpi indah setelah minum air itu.


"Apa kau mengingat sesuatu?" Dirga menatap Ariani dengan tatapan tajamnya, apakah ia mengingat kejadian itu? Ariani masih dengan kebingungannya, ia tidak mengingat kejadian apapun.


"Aku tidak ingat, yang aku ingat hanya bermimpi bertemu... " Ariani menutup mulutnya tidak melanjutkan kata katanya, ia malu menceritakannya pada Dirga tentang mimpinya yang bertemu dengan Ryan lalu mereka berciuman. Dirga yang sudah tahu apa yang ada dipikiran Ariani yang sedang memikirkan Ryan ia mengepalkan tangannya.


"Cukup, lebih baik kau bersiap untuk pulang. Ini." Dirga memberikan paper bag pada Ariani tanpa memandang nya, Ariani menerima dan melihat isinya.


"Pakailah, aku akan mengantarmu." Dirga menatap Ariani yang terlihat gembira mendapat hadiah darinya.


"Baik, Tuan. Aku akan memakainya." Ariani menatap Dirga, lalu ia membenarkan rambutnya dan menyelipkannya dibelakang telinga. Dirga membulatkan matanya melihat ada tanda merah dileher Ariani karena ulahnya.


Apa? tanda merah itu, Dirga ternyata kau sangat mesum.


Dirga tiba-tiba gelagapan, ia memalingkan pandangannya ke arah yang lain.

__ADS_1


"Baiklah, kau bersiaplah. Aku akan menunggumu." Dirga kemudian langsung pergi tanpa menunggu jawaban Ariani.


Reno dan Bian berada di mobil, mereka terpaksa menunda acara temu kangen kepulangan Reno di rumah Dirga, sebenarnya mereka masih menyimpan beberapa pertanyaan untuk Dirga.


"Kau lihat tadi gadis itu, apa kau pernah melihatnya sebelumnya?" Reno yang sedang mengemudi memecah keheningan di dalam mobil.


"Aku tidak tahu, sepertinya dia orang yang baru ditemuinya." Bian mencoba berpikir jernih.


"Tapi mengapa gadis itu memakai pakaiannya?Sepertinya temanku itu sudah ada kemajuan, ia membawa wanita itu ke rumahnya lalu menghabiskan malam bersama. Hahaha..." Reno dengan sedikit bercanda menyimpulkan bayangan yang ada di otak nya.


"Kau jangan sembarangan bicara, Dirga tidak mungkin melakukannya. Aku tahu siapa dia dan kau pun tahu itu kan?" Bian berusaha membuang fikiran jelek tentang Dirga, karena yang mereka tahu Dirga tidak pernah dekat dengan seorang gadis, Dirga hanya menghabiskan waktu luangnya bersama teman-temannya. Reno menganggukkan kepalanya sependapat dengan Bian. Namun, Bian masih memikirkan bekas tanda merah di leher Ariani.


.


.


.


maaf jika ada typo..


Hai..ini karya pertamaku...


mohon berkomentar dengan bijak... 🙏

__ADS_1


pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..


Terima kasih... 🙏


__ADS_2