Melupakanmu

Melupakanmu
Saling Memberikan Kenyamanan


__ADS_3

Setiap kejadian ada waktunya, setiap musibah ada akhirnya, setiap masalah ada penyelesaiannya. Seperti yang Ariani alami saat ini, akhirnya kini ia bisa tersenyum, ujian demi ujian yang begitu runyam kini sudah terlewati. Hari ini akan menjadi awal Ariani menjalani kehidupan yang damai bersama Dirga sebagai suami istri setelah semalam mereka menyelesaikan permasalahan mereka.


Bibirnya terus menyunggingkan senyuman, Ariani yang sedang membuat sarapan menampilkan aura bahagia di wajahnya.


"Akhirnya selesai." Ariani menepuk tangannya sekali telah menyelesaikan pekerjaannya dan menyimpan hasil karyanya di meja makan, sesekali Ariani menguap menahan kantuk, ia tidak tidur lagi sesaat setelah berbaikan dengan Dirga karena hari sudah masuk pagi hari dan sudah menjadi kebiasaannya bangun awal menyiapkan sarapan dan membereskan rumah.


"Dirga sudah bangun belum ya?" Jam masih menunjukkan pukul enam langit masih terlihat remang-remang, udara terasa sejuk sisa hujan deras semalam membuat udara pagi itu dingin ditambah cahaya matahari yang mengintip malu-malu tertutup awan. Ariani ke kamar untuk melihat keadaan Dirga, dibukanya pintu secara perlahan dan ia melihat Dirga masih di atas tempat tidurnya yang empuk tampak tertidur nyenyak, tidak ada niatan Ariani mengganggu tidur Dirga ia hanya memeriksa suhu tubuh Dirga.


"Syukurlah, panasnya sudah turun." Ariani mengelus lembut rambut Dirga.


"Ada apa?" Dirga mengagetkan Ariani dengan suara khas bangun tidur masih dengan mata terpejam.


"Ayo bangun, lalu kita makan. Semalam kau tidak makan kan?"


"Aku masih ngantuk." Dirga belum beranjak, ia memeluk erat guling nya.


"Kalau begitu, aku bawa makanannya kesini ya."


"Hemm..." Dirga sebenarnya lapar tetapi ia masih ingin tidur, mungkin karena efek sakit atau bisa jadi ia kurang istirahat kemarin.


Perasaan aku yang kehujanan tapi kenapa kamu yang sakit?


Ariani tergelitik ingin meledek Dirga, padahal kemarin sore ia pulang dengan keadaan basah kuyup terkena hujan tapi mengapa bisa Dirga yang sakit. Sebenarnya ia tahu mengapa Dirga bisa sakit, itu karena bertengkar dengannya.


"Ada apa?" Melihat Ariani menggeleng dengan mengulum senyum Dirga merasa penasaran dengan apa yang sedang Ariani pikirkan.


"Tidak ada, aku senang melihat mu makan terlihat berselera. Apa enak?" Dirga tersenyum, sepertinya Ariani ingin dipuji. Dirga tak menjawab, ia hanya menunjuk piring meminta Ariani menyendok nya lagi, Ariani tersenyum kecut sedikit memanyunkan bibirnya lalu menyuapi Dirga makan. Ariani tidak keberatan dengan sikap manja Dirga justru dengan senang hati ia melakukannya demi memanjakan suaminya. Entah mungkin karena ia memang suka dan sudah terbiasa seperti sedang merawat Kirani. Dirga pun menjadi lembut dan penurut, ia menghabiskan makanan yang Ariani berikan sampai habis.

__ADS_1


"Ini minum obatnya lalu istirahat." Setelah meminum obat Dirga meraih tangan Ariani lalu mengecupnya, Ariani bingung.


"Terimakasih, sudah membuatkan makanan yang lezat." Dirga memuji masakan Ariani, Ariani tersenyum lebar melihat tingkah laku Dirga yang tiba-tiba memujinya.


"Semoga lekas sembuh." Ariani membalas mengecup tangan Dirga balik, kemudian ia bangun ingin menaruh nampan namun sebelum itu Dirga menarik tangannya hingga Ariani kembali terduduk.


"Temani aku." Dirga menepuk tempat tidur disebelahnya yang kosong.


"Tapi... " Ariani mematung.


Ini masih pagi. Ariani sudah berpikiran macam-macam.


"Kemari." Dirga menepuk kasurnya lagi. Ariani tidak bisa menolak, baru saja ia dan Dirga berbaikan ia tidak mungkin merusak suasana hati Dirga. Lagipula apa susahnya Dirga hanya memintanya duduk disampingnya dan menemaninya, Ariani merangkak naik ke tempat tidur.


Ariani sudah duduk satu ranjang bersama Dirga, mereka duduk bersampingan menyandar tempat tidur. Ariani membeku, ia sedikit tegang duduk bersama Dirga di ranjang yang sama. Dirga melirik Ariani lalu meraih tangannya.


Sudah tahu nanya.


"Ti- tidak." Ariani terbata, ia terpaksa berbohong menutupi hatinya. Kalau hatinya bisa berteriak mungkin ia sudah kabur.


Dirga mau apa sih?!


Ariani menundukkan wajahnya sambil mencubit cubit kain roknya, ia malu Dirga terus menatapnya membuatnya ingin melarikan diri saja.


Duh... Mengapa dadaku semakin berdebar. Dirga, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan. Jantung ku hampir meledak tahu.


"Lihat aku." Dirga mengangkat wajah Ariani menghadapnya dengan telunjuknya hingga mereka saling menatap. Tubuh Dirga kemudian melorot berbaring dengan terus menatap Ariani. Ariani hanya diam melihat apa yang Dirga lakukan.

__ADS_1


Dulu sebelum kita saling mengenal, wajahmu tiba-tiba hadir dalam bayangan ku, kau tersenyum dengan cerianya di sampingku. Sekarang apa yang aku lihat, ini benar-benar nyata.


Dirga teringat saat ia baru pulang dari desa Ariani, saat ia termenung sendiri di kamarnya tiba-tiba bayangan Ariani muncul di hadapannya. Padahal waktu itu mereka baru bertemu dan belum tahu nama masing-masing tetapi mengapa wajah Ariani hadir di bayangan Dirga.


"Nyata." Celetuk Dirga tangannya sembari meraih wajah Ariani yang masih duduk.


"A-apa? Nyata? Kamu sedang memikirkan apa?" Ariani penasaran, sedangkan Dirga langsung menurunkan tangannya dan bersikap seperti biasa.


"Tidak ada." Dirga mengubah posisinya berbaring lurus.


"Tuh kan, kau menyembunyikan sesuatu dariku." Ariani ikut merebahkan tubuhnya sejajar dengan Dirga.


"Beri tahu aku, apa yang sedang kau pikirkan?" Tangan Ariani mencolek pinggang Dirga, membuat Dirga terhentak kegelian.


"Nyata, ternyata kau benar-benar menjadi milikku sekarang." Tubuh Dirga miring menghadap Ariani dengan satu tangannya menopang kepala. Tangan satunya lagi terangkat membelai pipi lalu menyusuri garis wajah Ariani yang ayu, putih cantik alami, sesekali Dirga menyelipkan anak rambut ditelinga Ariani. Dirga memberi kecupan di kening, pipi lalu dibibir, Ariani memejamkan mata terlihat pasrah dengan apa yang Dirga lakukan. Ariani membalas dan meraba dada bidang Dirga. Nafas mereka memburu saling membalas c**man, tangan Dirga mulai menyusup ke dalam baju meraba perut Ariani yang rata lalu berpindah ke bagian atas hingga menyentuh b*** d***, Ariani m*nd*s*h karena baru pertama kalinya ia disentuh. Dirga terus memainkan tangannya di area yang sudah lama membuatnya penasaran dan Ariani mencengkram kuat kaos Dirga mulai terbawa menikmati sentuhan Dirga yang lembut. Dirga melanjutkan aksinya menjelajah ke bagian bawah namun sebelum itu ia menghentikan kegiatannya.


"Maaf." Dirga berbicara dengan mengatur nafasnya yang naik turun.


"Aku tidak bisa melanjutkannya." Dirga melepaskan Ariani.


"Aku harap kau mau bersabar menunggu sampai aku benar-benar pulih." Dirga tidak bisa memberikan lebih dari ini karena kondisinya, Ariani membetulkan pakaiannya sambil mencerna apa yang Dirga katakan.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti." Ariani mencoba mengerti, Dirga yang masih dalam pemulihan belum bisa melakukan tugasnya sebagai suami.


"Aku akan bersabar menunggu sampai kamu benar-benar pulih." Ariani menangkup pipi Dirga menyemangatinya.


"Terimakasih." Dirga tahu itu, Ariani memang gadis baik dan tulus yang pernah ia temui, berbeda jauh dengan wanita-wanita yang mendekatinya hanya demi tujuan tertentu. Tidak salah kalau Dirga sudah menyukai Ariani sejak pertama bertemu, meskipun pada saat itu Ariani masih menyukai Ryan dan belum tahu.

__ADS_1


Mereka saling berpelukan, pagi hari yang disambut hujan rintik membuat malas gerak, dua manusia di rumah itu melewati pagi dengan bermalas-malasan dikamar, karena efek obat Dirga mulai mengantuk dan tidur dengan memeluk Ariani. Begitu juga dengan Ariani yang tadinya hanya ingin meninabobokan Dirga ia juga ikut tertidur karena semalam kurang istirahat, mereka tidur berpelukan saling memberikan kenyamanan.


__ADS_2