
Prang...!
Suara gelas pecah memecah keheningan di rumah Dirga yang sunyi, Dirga duduk di meja makan dengan cahaya lampu yang hanya menyala di ruang makan dan membiarkan ruangan lain gelap. Dirga menyendiri melampiaskan amarah yang menyelimuti hatinya dengan minuman beralkohol, semenjak dekat dengan Ariani ia hampir tidak pernah menyentuh minuman itu dan kini saat hatinya sedang hancur seperti gelas pecah Dirga kembali meneguk minuman memabukkan itu. Sorot mata tajamnya lurus melihat buket bunga mawar merah yang tergeletak di atas meja, bunga yang akan ia berikan pada Ariani melambangkan perasaan sesungguhnya pada Ariani. Namun baru saja ia ingin mengungkapkan perasaannya ternyata Ariani sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
"Beraninya kau!" Dirga mengambil buket bunga lalu melemparnya hingga terlempar bercampur bersama pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Jadi kau benar-benar ingin menghindari ku ya? Sampai kau keluar dari pekerjaan mu agar aku tidak dapat bertemu denganmu lagi." Dirga mengambil gelas lalu mengisi gelas itu dengan minumannya lalu meneguk nya hingga tercecer mengalir di lehernya. Masih dengan aura dinginnya, Dirga belum bisa menerima kenyataan. Dirga tidak menyangka dengan semua yang Ariani ucapkan padanya hari itu ternyata sungguhan, ia pikir saat itu Ariani hanya diselimuti oleh emosi sesaat lalu memintanya pergi dan menjauhinya. Dan Dirga bertekad melunakkan hatinya saat ia kembali, akan tetapi ternyata Ariani benar-benar melakukannya, ia pergi tanpa kabar.
"Apa di matamu hanya ada Ryan sampai kau tidak pernah mencoba menengok padaku?" Dan saat itu Ariani lebih memilih Ryan daripada dirinya, saat ia akan keluar kota. Terlihat sekali Ariani masih menyukai Ryan dan berharap dapat menjalani hubungan dengan Ryan, Dirga menduga-duga.
"Baik, akan ku terima jika itu kemauan mu." Dirga menghabiskan isi gelas ditangannya, tubuhnya sudah mulai oleng dan kepalanya mulai terasa pusing dan berat.
"Ariani, seharusnya kau denganku saja. Lupakan dia, dia sudah memiliki kekasih, lupakan dia, datang padaku. Gadis desa." Nada suaranya sudah ngelantur seperti orang mabuk dan pandangannya sudah kabur, Dirga sudah terpengaruh oleh minumannya. Entah sudah berapa gelas yang ia minum dan di setiap tegukan nya ia melempar gelas lalu mengambil gelas yang baru dan kemudian ia melemparnya lagi hingga pecah.
"Aarghh...!!" Teriakannya menggema seisi ruangan, Dirga menggenggam erat gelas ditangannya lalu melempar gelas itu hingga berkeping-keping.
Merasa kecewa karena ditinggalkan tanpa ada kepastian oleh wanita yang dicintainya, apa mencintai harus sesakit ini?
Dirga berjalan sempoyongan tidak peduli saat sepatunya menginjak pecahan gelas dan buket bunga milik Ariani, ia menuju kamarnya yang ada di lantai atas dengan berpegangan pembatas saat menaiki anak tangga karena sudah tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.
Dirga membuka lemari bajunya mengambil baju miliknya yang pernah dipakai Ariani, kemudian ia menaruh baju itu di atas bantal. Dirga merebahkan tubuhnya menghadap samping tempat tidurnya.
"Kamu kemana? Mengapa kau pergi saat aku akan menyatakan perasaanku padamu, tak bisa kah kau menunggu sebentar saja?" Nada suara penuh kelembutan, tidak seperti saat di ruang makan tadi, Dirga bertutur kata lembut mengajak bicara baju yang pernah Ariani pakai, seolah sedang berbicara dengan Ariani, Dirga mengusir kesepiannya dengan cara seperti itu.
"Menikahlah denganku." Masih dalam keadaan tak sadar Dirga meletakkan tangannya di atas bantal disampingnya, seperti sedang memeluk. Jika Tama dan teman-temannya mengetahui tingkahnya yang seperti ini mungkin mereka akan geleng-geleng kepala, tidak habis pikir karena belum pernah melihat Dirga bertingkah sebodoh ini karena wanita.
__ADS_1
Tanpa terasa hari terus berganti, Dirga melanjutkan hidupnya setelah ditinggalkan Ariani dengan menjalani aktivitasnya kembali, ia mencoba melupakan luka dihatinya dengan menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tetapi dengan keadaan hatinya yang masih terluka membuat Dirga kini kembali menjadi Dirga seperti yang dulu yang di kenal galak dan dingin. Setiap hari pasti ada saja karyawan yang menjadi korban kemarahannya, tak terkecuali Indah beserta karyawan lainnya yang bekerja di toko miliknya.
"Mengapa tempat ini kotor sekali, apa kalian tidak pernah membersihkannya?" Dirga mengelap debu dengan telunjuknya, hal yang tidak pernah ia lakukan hanya karena ingin mencari-cari kesalahan pegawainya untuk mendapatkan omelan nya..
"Baik Pak." Pegawainya pasrah saja membersihkan lemari kaca yang masih terlihat kinclong, padahal baru ia bersihkan tadi pagi.
"Rapikan tempat ini, ini, ini." Lagi-lagi ada saja yang dijadikan bahan kesalahan.
"Baik Pak." Untung saja para karyawan sudah mengetahui sifat buruk bosnya yang menyebalkan itu, karena Bian menjadi penengah disaat ada pegawainya yang menangis terkena omelan Dirga, ia memberikan pengertian pada seluruh pegawai untuk bersabar menghadapi sikap Dirga.
Dan suatu hari Indah terlihat buru-buru bersiap berangkat kerja, hari ini ia bangun terlambat karena semalam habis maraton menonton drama favoritnya.
"Semoga aku tidak terlambat, mati aku jika Pak William tahu." Indah berlari mengejar waktu hingga meminta tukang ojek untuk ngebut. Indah pun akhirnya sampai di tempat kerjanya, akan tetapi sepertinya ini bukan hari keberuntungannya, Indah datang terlambat dan di sana ia melihat Dirga yang sudah datang lebih dulu sedang berdiri di depan pintu dan melihatnya baru sampai.
Glek...
Indah membeku saat ditatap Dirga dengan tatapan yang mengintimidasi, Dirga melipat kedua tangan di dadanya lalu ia masuk kedalam di ikuti Indah dibelakangnya.
Aku takut sekali...
Indah sudah pasrah pasti akan kena marah Dirga karena ia datang terlambat.
"Bisa-bisanya kau datang terlambat dari ku." Suara datar tapi terdengar menusuk ditelinga Indah, Indah menunduk lalu tangannya mencubit cubit tas selempang nya menghilangkan ketakutannya.
"Ma.. maaf Pak." Indah menjawab singkat saja, bingung mau mencari alasan karena ia tidak mungkin menceritakan keadaan sebenarnya.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang?" Dirga melihat jam tangan yang melekat di tangannya, Indah hanya bisa menggigit bibirnya karena ia tidak memakai jam tangan.
"Tidak tahu Pak." Dirga melotot, Indah tidak tahu harus menjawab apa karena jam tangan miliknya rusak dan ia belum sempat membelinya jadi ia tidak memakai jam tangan. Mata Indah melirik ke samping disana teman-temannya mengintip dirinya yang sedang menjadi sasaran amarah Dirga.
"Kalau ditanya jawab yang jelas, mengapa kau datang terlambat? Pasti kau habis pacaran semalaman sampai kau lupa waktu lalu paginya terlambat bangun, begitu?" Indah membulatkan matanya mendengar tuduhan Dirga yang tidak sesuai kenyataan, benar ia terlambat bangun tapi ia terlambat bangun gara-gara nonton drakor bukan pacaran.
Bisa-bisanya dia menuduh ku yang jomblo ini habis pacaran semalaman. Hei, bos kau sudah salah sangka.
Indah berani memaki Dirga tapi hanya didalam hati, Indah terus berpikir keras agar ia bisa selamat.
Seseorang tolong aku, mana pak Bian ya?
Indah mencari Bian yang bisa menolongnya dari jeratan Dirga, tetapi Bian tak kunjung datang.
"Pak, saya mohon maaf atas kecerobohan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Indah mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya. Dirga sudah ingin melanjutkan memberi hukuman untuk Indah, tapi seseorang masuk kedalam toko.
"Selamat pagi." Tiba-tiba Reno datang tanpa diundang, ia menghampiri Dirga yang hendak memberi Indah hukuman.
"Ada apa ini?" Reno melihat netra Indah yang memohon pertolongannya.Tolong bawa bos garang ini cepat, jeritan hati Indah.
"Kau yang ada apa? Pagi-pagi sudah datang kemari." Dirga balik bertanya.
"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu pergi. Ayo." Reno yang mengerti situasi yang dihadapi Indah langsung merangkul Dirga pergi tanpa menunggu jawaban Dirga, mereka pergi meninggalkan Indah. Indah menghela nafas lega akhirnya ia terbebas dari hukuman Dirga.
"Huftt... Syukurlah, akhirnya aku bisa selamat. Tadi siapa ya yang menolongku barusan? Sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya." Indah mengingat wajah Reno yang familiar.
__ADS_1
"Aku tidak ingat, tapi bagaimanapun aku berterima kasih padanya karena sudah menyelamat ku." Indah tersenyum lega, lalu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.