
Ariani duduk di ruang tunggu lantai VIP, diam-diam ia mengikuti Dirga saat menuju kamarnya. Dirga sebenarnya tahu apa yang dilakukannya tapi ia membiarkan Ariani seperti tidak peduli.
Apa dia membenciku?
Sepertinya Dirga tidak menyukai kehadirannya. Ariani sadar ia memang bersalah karena pergi saat masalah mereka belum selesai, meskipun malam itu Ariani datang ingin menemui Dirga untuk meminta maaf tapi mereka tak sempat bertemu dan membuat masalah menggantung.
"Aku harus apa? Menatap matanya saja aku takut. Dirga sangat menyeramkan saat sedang marah." Ariani merasa serba salah, Dirga seperti tidak mengenalinya. Ariani yang merasa rendah tidak berani membantah saat Dirga membentak menyuruhnya pergi.
"Bodoh, apa yang kau harapkan Ariani? Lihat dirimu, kau bukan siapa-siapanya. Mana mungkin dia peduli padamu, Dirga sudah memiliki kekasih." Ariani tahu posisinya yang bukan siapa-siapa, Dirga sudah menjalin cinta dengan Bella mungkin di matanya saat ini Ariani tidak ada artinya.
"Aku hanya ingin tahu kabarmu saja, tidak lebih.Tapi mengapa kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara?" Ariani mengangkat kepalanya ke atas menatap langit-langit lalu ia bangkit menuju sebuah kamar yang tertutup rapat, itu kamar Dirga.
"Aku masuk tidak ya?" Tangan Ariani tertahan ingin mengetuk pintu.
"Tapi aku takut nanti Dirga marah terus mengusir ku lagi." Ariani membayangkan Dirga akan semakin marah karena berani masuk ke kamarnya tanpa izin.
Cukup lama berpikir akhirnya Ariani memutuskan pulang, ia berjalan gontai seakan kakinya berat untuk melangkah tak ada semangat, pandangan matanya kosong. Pikiran Ariani masih di penuhi bayangan yang telah terjadi, Ariani memikirkan Dirga sepanjang lorong rumah sakit sampai ia dikagetkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Dokter?" Ariani menengok siapa yang menepuk pundaknya, ternyata Tama. Tama memang sengaja mengikuti Ariani dan dialah orang yang merencanakan pertemuan Ariani dan Dirga di taman.
"Apa kabar Ariani? Kau sedang apa disini?" Tama berlagak tidak tahu, padahal dia dalang dari semua ini.
"Saya..saya kebetulan ada sesuatu yang harus di urus disini dan..." Ariani berhenti, berfikir untuk tidak keceplosan menceritakan pertemuannya dengan Dirga, ia tidak tahu kalau Tama mengetahui semuanya.
"Dan.. ?" Tama mengangkat alisnya, menunggu ucapan Ariani yang menggantung
"Dan sekarang akan pulang." Bohong Ariani lalu ia hendak pergi namun Tama menahannya.
"Tunggu, bisa kita mengobrol sebentar?"
Ariani berpikir sebentar lalu ia setuju dengan ajakan tama sambil mencari tahu kabar tentang Dirga, Tama membawanya ke kafetaria rumah sakit.
"Sudah lama kita tidak bertemu ya, terakhir aku melihatmu di rumah sepupuku Dirga. Kau merawatnya saat ia sakit, kau masih ingatkan?" Tama membawa dua cangkir kopi lalu memberi satu untuk Ariani.Tama berbohong lagi, padahal ia menyaksikan perpisahan Dirga-Ariani di halte malam itu.
"Iya, saya ingat."
__ADS_1
"Bagaimana kabar adikmu? Apa dia baik-baik saja?" Tama menanyakan kabar Kirani, Tama memang mengenal Kirani karena Ariani membawanya berobat saat sakitnya kambuh. Kemudian Ariani menceritakan semua yang terjadi dalam hidupnya, tentang kepergian Kirani dan keputusannya keluar dari pekerjaan untuk menetap di desa.
"Maafkan saya baru mengetahui berita ini. Saya tahu adikmu anak yang kuat dan ceria ia tidak pernah mengeluhkan sakitnya. Saya turut berdukacita." Tama merasa terenyuh melihat betapa berat hidup yang Ariani jalani yang harus kehilangan sang adik. Seterusnya mereka mengobrol, Ariani menceritakan kalau dirinya sudah mendapatkan pekerjaan di kota dan Tama memberikan semangat. Ariani bercerita pada Tama layaknya teman, Tama memberi respon yang baik padanya saat berbagi cerita dan itu membuat Ariani merasa nyaman.
"Dokter." Ariani sedikit ragu, terlihat dari gelagat matanya bergerak kiri-kanan.
"Bagaimana kabar Dirga?" Satu pertanyaan yang sedari tadi ia pendam akhirnya terucap. Tama berhenti menyeruput kopinya lalu meletakkan gelas, mata indahnya yang di lapisi kacamata menatap mata Ariani sebentar.
"Sebenarnya Dirga sedang dirawat disini, ia mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu dan kakinya patah."
Raut wajah Ariani menampakkan keprihatinannya mendengar cerita Tama.
"Kau ingin menemuinya?"
"Saya..saya rasa nanti saja. Ini sudah malam." Ucap Ariani terbata lalu tersenyum kaku.
"Ayo." Tanpa menunggu jawaban Tama menarik tangan Ariani menuju kamar Dirga, sebenarnya Tama ingin membantu Ariani dan Dirga menyelesaikan masalah mereka. Ia pikir masalah itu akan selesai bersamaan dengan pertemuan mereka, tapi Dirga menunjukkan sikap yang tidak terprediksi olehnya.
"Ini kamarnya, ayo masuk."
"Tapi..." Ariani masih takut Dirga akan mengusirnya.
"Maaf, mungkin lain kali saja. Saya harus pulang." Ariani kabur sebelum Tama membuka pintu, Tama menggelengkan kepala melihat punggung Ariani yang berjalan cepat menolak bertemu Dirga.
Sekeras itukah sifatmu hingga membuat wanita takut padamu, Dirga.
Tama merasa geram dengan perlakuan Dirga pada Ariani, ia menyaksikan semuanya. Ia akui Dirga memang keras, tapi setidaknya ia bisa bersikap lembut dengan wanita yang disukainya.
"Kau sedang apa?" Tama masuk, dilihatnya Dirga yang berbaring sedang memikirkan sesuatu.
"Ayahmu sedang dalam perjalanan." Tama memberitahu kalau ayah Dirga dalam perjalanan menuju kota B, Dirga lalu meliriknya.
"Aku sudah bilang jangan sampai ayah tahu hal ini kan?"
"Hah, kau seperti tidak tahu saja. Orang tua itu kalau sedang mengobrol pasti mereka lupa lalu keceplosan." Tama membela para orangtua.
__ADS_1
"Sudahlah, lagipula kondisi ayahmu sedang stabil. Dia ingin menemui anaknya, apa salahnya?" Dirga cuma bisa menghela nafas mendengar alasan Tama, padahal Dirga tidak ingin orangtuanya merasa khawatir tapi mau bagaimana lagi? Ayahnya sudah terlanjur tahu kabar dirinya terkena musibah dan ingin menemuinya. Dirga hanya bisa pasrah.
Di lain tempat Ryan yang tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya sedang membereskan barang untuk kepindahannya di rumah baru. Saat sedang berkemas ia teringat ada barang yang ia tinggalkan di kamar Tomi.
"Tom, buku milikku yang kau pinjam kau simpan dimana?" Ryan masuk kedalam kamar Tomi.
"Ada di meja, ambil saja." Tomi yang sedang berada di kamar mandi tidak bisa mengambilkan barang yang Ryan cari. Ryan menuju meja mengambil buku miliknya di atas meja. Saat Ryan hendak mengambil bukunya tiba-tiba buku milik Tomi yang berada dibawah terjatuh. Ryan mengambil buku itu dan ternyata sebuah buku harian milik Tomi. Buku itu terbuka tepat di halaman yang terdapat sebuah foto Ariani dan Dirga.
"Ini kan Ariani dan Dirga saat berboncengan?" Suara Ryan pelan memperhatikan foto, Ryan melihat foto itu terdapat tanda silang warna merah di bagian kepala Dirga, lalu di bawah foto terdapat tulisan:
I'll kill u
"Apa maksud semua ini?" Ryan menengok ke arah kamar mandi memastikan Tomi belum keluar. Merasa penasaran Ryan kemudian membalikkan halaman buku itu dan ia membaca dairy Tomi yang isinya:
Beraninya kau menolak ku, sekarang kau lihat akibat dari kesombongan mu. Apa yang akan kau lakukan setelah aku buat warung kopimu terbakar dan hancur tak tersisa.
Ryan membelalakkan matanya, ia melihat tanggal dibuku itu tepat dengan waktu terbakarnya warung kopi milik Ariani. Ryan tidak menyangka kalau Tomi dibalik semua ini, tak pernah ia sangka ternyata ia hidup dengan seorang penjahat, Tomi yang ia anggap sebagai sahabat baiknya telah berbuat jahat pada Ariani.
Aku tidak menyangka kau bisa berbuat sejahat itu Tom, kau juga sudah membohongiku dengan membuat cerita buruk tentang Ariani supaya aku membencinya. Dan bodohnya aku tidak menaruh curiga padamu. Kau juga telah membuat Ariani sengsara. Dan Dirga, apa yang kau lakukan padanya?
Ryan bergegas pergi sebelum Tomi keluar, ia menaruh buku harian Tomi seperti semula lalu pergi meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai. Ryan merasa dibohongi karena ternyata Tomi juga menyukai Ariani.
"Mengapa kau membohongiku Tom?" Ryan memukul setir mobilnya, ia kecewa karena Tomi yang sudah membuat Ariani membencinya.
Ryan berhenti di sebuah club malam menghilangkan beban pikiran yang ia rasakan, biasanya Tomi menemaninya. Ryan duduk di meja panjang bartender.
"Dirga, apa yang Tomi lakukan padamu?" Ryan meneguk minumannya.
"Kemana aku mencari mu?" Ryan meneguk lagi, ia terpikirkan Dirga. Ia ingat terakhir kali bertemu Dirga mendatanginya dan berkelahi dengan Tomi. Setelah hari itu, Ryan tidak pernah melihat Dirga lagi. Ditengah kegalauannya ia mendengar percakapan tiga wanita di sampingnya.
"Bella, aku perhatikan akhir-akhir ini kau selalu pergi sendiri. Mana pacarmu yang tampan itu?" salah satu dari mereka berbicara.
"Kita sudah putus." Ternyata Bella sedang bersama teman-temannya.
"Apa? Bodoh sekali kau memutuskan pria tampan dan kaya seperti Dirga."
__ADS_1
"Hei, Dirga sudah bukan kriteriaku lagi. Dia kecelakaan dan kakinya cacat. Aku tidak sudi mengurus pria tak berdaya sepertinya." Dengan sombongnya Bella merendahkan Dirga dihadapan teman-temannya.
Bersambung...