Melupakanmu

Melupakanmu
Dirga Sakit


__ADS_3

Dirga bangun dari tidur nya, demamnya sudah mulai turun. Ia duduk menyandar pada bantal yang di letakkan dibelakang menetralkan kepalanya yang masih pusing, ia mengecek ponselnya apakah ada pesan atau panggilan dari Ariani tetapi setelah dilihat ternyata nihil.


"Dia tidak menghubungi ku sama sekali." Dirga memijit pelipisnya, menghilangkan pening.


"Mengapa kau yang marah, seharusnya aku yang marah padamu karena kau kabur meninggalkanku." Dirga menggebrak kasur, kemudian ia mengambil kaos miliknya yang pernah dipakai Ariani, ia memeluk kaos itu dan menghirup wangi tubuh Ariani yang masih menempel di kaos itu, Dirga tidak mencuci kaos itu. Entah hanya dia yang tahu alasannya.


"Kau akan menyesal telah mengabaikan ku." Nampaknya Dirga masih kesal bila ingat kejadian semalam. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu, suara ketukan itu pelan nyaris tidak terdengar dari dalam kamar namun Dirga masih bisa mendengarnya.


"Siapa yang datang siang-siang begini?mengganggu saja." Dengan malas Dirga turun, ingin melihat siapa yang mengetuk pintu. Dirga membulatkan kan matanya melihat siapa yang datang ke rumahnya, jantungnya berasa ingin loncat seperti melihat hantu saja. Tak menyangka ternyata Ariani yang datang ke rumahnya, Dirga melihat penampilan Ariani dari atas sampai bawah berseragam cafe lengkap menjinjing sebuah kantong.


"Kau, ada apa kemari?" Dirga berusaha menahan emosinya meskipun nada suaranya masih terdengar ketus, Ariani yang kini ada dihadapannya tersenyum kaku agak sedikit dipaksakan, Ariani sebenarnya takut berhadapan dengan Dirga apalagi melihat tatapan tajamnya itu, ia menggaruk jari jemarinya yang tidak gatal. Sudah pasti Dirga akan marah padanya, Dirga menutup pintu kembali karena tidak ada jawaban dari Ariani membuat Ariani terlonjak kaget mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras.


Ponsel Dirga berbunyi ada pesan masuk, ia kemudian membaca pesan yang masuk dari Dara.


"Dirga, aku dengar dari Bian dan Reno katanya kau sedang sakit. Aku mengirimkan makan siang untukmu, jangan lupa dimakan ya.. Oya, nanti pegawaiku yang mengantarkan makanan untukmu. Lekas sembuh kawan..."


Setelah membaca pesan dari Dara, Dirga mengintip Ariani yang masih berdiri diluar dari jendela.


"Mengapa harus dia yang mengantarnya?" Dirga menggerutu mengapa harus Ariani yang mengirimkan makanan untuknya? Sepertinya Dirga juga berniat mengindari Ariani.


Dengan terpaksa Dirga akhirnya membuka pintu kembali, ia menatap dingin Ariani yang juga membalas tatapannya. Dirga melengos kemudian ia masuk dan duduk di kursi ruangan tengah, ia duduk tegak dengan melipat kedua tangan di dadanya. Tanpa disuruh Ariani juga masuk kedalam lalu meletakkan kantong makanan di atas meja, ia melihat buket bunga mawar putih yang sudah terlihat layu di atas meja.


"Bu Dara memintaku mengirimkan ini." Ariani kembali ke tujuannya datang ke rumah Dirga, tapi Dirga tidak merespon ia hanya diam lalu melengos mengarahkan pandangannya ke arah yang lain, ia masih merajuk. Ariani yang masih berdiri melihat sikap Dirga yang mengabaikannya hendak pergi keluar.


"Mau kemana?" Dirga pun akhirnya bersuara, Ariani menghentikan langkahnya.


"Aku mau kembali bekerja." Ariani menengok kearah Dirga lalu berbalik badan.


"Siapkan makanan untukku." Dirga berbicara tanpa memandang Ariani.


Apa maksudnya? Apa aku harus menyiapkan makanan di piring lalu menyuapi nya? Yang benar saja.

__ADS_1


Ariani tidak mengerti maksud ucapan Dirga, Dirga melirik ke arah Ariani, ia memberi kode dengan matanya pada Ariani untuk membawa makanan ke dapur lalu menyiapkannya di piring. Ariani menghela nafas, ia menurut saja kemauan Dirga. Di Samping itu, ia ingin menyelamatkan diri dan menebus kesalahannya semalam.


"Ini, makanannya sudah aku siapkan. Silakan dimakan." Ariani menaruh makanan di meja, tapi Dirga tak menyentuh makanannya. Dirga sedang memikirkan cara agar Ariani tidak pergi dari rumahnya, ia ingin menyelesaikan masalah mereka saat ini juga. Lalu sebuah ide muncul dari otaknya, Dirga tersenyum samar.


"Terimakasih, aku mau cuci tangan sebentar." Dirga beranjak dari duduknya, tapi tiba-tiba ia memegang kepalanya kemudian ia ambruk di kursi. Ariani dengan langsung menghampiri Dirga, ia merangkul dan membantu Dirga duduk kembali. Sebenarnya dirga hanya pura-pura.


"Apa masih demam?" Dirga membeku mengapa Ariani bisa tahu ia sedang sakit.


"Masih, cek saja sendiri. Ini semua karena kau. Apa kau tahu kesalahan mu?" Dirga meraih tangan Ariani lalu meletakkannya di keningnya.


Panas sekali, ternyata benar Dirga sakit.


Ariani menggigit bibirnya lalu menarik tangannya, ia menatap Dirga sebentar lalu ia menunduk. Ia membayangkan semalam Dirga mencarinya di taman hingga kehujanan dan membuatnya demam.


"Maaf, sudah membuatmu seperti ini." Suaranya terdengar lirih.


"Apa? Aku tidak mendengar." Dirga pura-pura tidak mendengar permintaan maaf Ariani.


"Maaf, maafkan aku telah kabur meninggalkan mu, aku terkejut mengetahui kebenaran kejadian yang sesungguhnya, aku malu padamu, aku sudah berbuat tidak pantas padamu, maafkan aku. Aku pantas dihukum, jika kau ingin menghukum ku aku siap menerimanya." Ariani duduk bersimpuh di bawah memohon maaf pada Dirga, ia menumpahkan semua penyesalan yang ada dihatinya.


Ariani menundukkan kepalanya, ia tidak sanggup menatap Dirga. Dirga yang mendengar permintaan maaf Ariani hatinya berdesir, seketika emosinya mencair. Ia memegang pundak Ariani.


"Bangunlah,duduk kemari." Dirga membantu Ariani duduk di sampingnya.


"Aku memaafkan mu." Dirga juga merasa bersalah, karena ia juga sudah memanfaatkan situasi lebih tepatnya ia membiarkan Ariani berbuat semaunya saat mabuk yang membuatnya terbawa suasana hingga terjadi adegan ciuman diantara mereka.


"Benarkah? Terimakasih, kau baik sekali." Ariani tak menyangka semudah itu Dirga memaafkannya.


"Tapi aku juga akan menghukum mu dan kau harus menerimanya." Baru saja Ariani menyanjung nya, tapi ternyata tidak semudah itu Dirga memaafkan nya.


"Apa itu?" Ariani tak menyangka Dirga memberi hukuman padanya.

__ADS_1


"Suapi aku." Dengan entengnya Dirga meminta Ariani menyuapi nya makan.


"Apa? " Ariani tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kenapa? Tidak mau? Asal kau tahu, aku sakit karena ulahmu, jadi kau harus merawat ku. Cepat suapi aku!" Ariani diam dan mengalah, ia menyadari memang benar ia yang menyebabkan Dirga sakit. Ariani pun mengambil sendok kemudian mulai menyuapi Dirga lalu Dirga membuka mulutnya menerima suapan Ariani, dalam hati Ariani merasa lucu melihat sikap Dirga yang tidak bisa ditebak. Dengan wajah yang terlihat galak seperti itu Dirga memiliki sisi kekanakan.


"Kau sudah makan?" Ditengah acara makannya Dirga memberikan perhatian pada Ariani, Ariani menganggukkan kepala bahwa ia sudah makan. Padahal ia berbohong, sebenarnya ia belum makan.


"Ayo, habiskan. Lalu minum obatnya, agar kau cepat sembuh." Ariani menyemangati Dirga menghabiskan makanannya, di sela ucapannya perut Ariani berbunyi. Cacing diperut nya sedang bernyanyi, wajah Ariani memerah menahan malu.


Perut mengapa kau berbunyi, benar-benar tidak bisa melihat situasi.


Dirga terkejut mendengar suara perut Ariani yang lapar, ia mengambil sendok yang dipegang Ariani lalu ia mengarahkan sendok itu ke mulut Ariani.


"Makanlah, kau pasti lapar." Dirga menyuapi Ariani.


"Tidak, kau dulu yang makan. Aku nanti saja." Ariani berusaha menolak dengan halus.


"Aku tidak mau melanjutkan makan jika kau tidak menuruti perkataan ku, buka mulutmu." Ariani merasa geram dengan sikap Dirga yang memaksanya untuk makan, karena ia juga sudah merasa lapar akhirnya Ariani membuka mulutnya menerima suapan dari Dirga. Dirga tersenyum melihat pipi Ariani yang menggembung karena ia menyuapi Ariani satu sendok penuh. Mereka makan bersama dengan sendok yang sama dan satu piring berdua, terlihat romantis.


.


.


.


maaf jika ada typo..


Hai..ini karya pertamaku...


mohon berkomentar dengan bijak... 🙏

__ADS_1


pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..


Terima kasih... 🙏


__ADS_2