
Reno dan Dirga berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat kerja Dirga, mereka makan sarapan sambil ngopi. Reno merupakan teman Dirga yang cukup sibuk karena ia sering dinas keluar kota, jadi ia jarang bertemu dan berkumpul bersama disaat ia sedang ada tugas di kerjaannya.
''Dirga, bagaimana keadaan ayahmu? Aku dengar beliau sakit." Reno menyeruput kopinya sambil memperhatikan Dirga yang tengah sibuk menatap layar gawai nya.
"Kondisinya sudah stabil dan kesehatannya sudah lebih baik." Mata Dirga masih fokus menatap gawai nya dan ia mulai mengetik sesuatu, memang terlihat sibuk. Reno membiarkan Dirga melakukan kesibukannya yang penting ia ada teman untuk minum kopi dan mengobrol. Selang beberapa saat disusul Bian datang ikut duduk bergabung bersama mereka.
"Mengapa baru datang?" Reno menegur Bian yang baru sampai.
''Biasa, mengecek cabang. Dirga, jangan lupa kita ada pertemuan dengan klien siang nanti?" Bian ternyata sedang sibuk mengontrol toko cabang mereka ditempat lain. Jadi ia tidak sempat menyelamatkan Indah dari omelan Dirga.
"Hemm... Siapkan saja." Dirga menganggukkan kepala akan memenuhi semua agenda kerjanya. Dirga melakukan semua ini semata ingin menyibukkan diri, dengan begini perlahan-lahan Dirga dapat melupakan gadis yang selalu mengganggu pikirannya. Bukan hanya karena ingin melupakan cintanya, ia tidak ingin meratapi kemarau cinta yang berkepanjangan karena ia dihadapkan dengan target menikah. Mulai sekarang ia akan mencoba membuka hatinya untuk wanita lain, melupakan Ariani yang sudah bersama Ryan, sangkaan nya.
Perubahan sikap Dirga juga tidak luput dari perhatian Bian, Bian yang merupakan orang terdekat dan yang dipercaya Dirga. Ia mengambil sisi positif Dirga yang kembali gila kerja karena semenjak pendekatan dengan Ariani, Dirga sering membolos dan melimpahkan pekerjaan padanya dan itu cukup membuatnya kerepotan.
"Aku lapar, bagaimana kalau kita mencari makan dulu?" Bian mengajak Dirga makan bersama, mereka berada di dalam perjalanan setelah menyelesaikan pertemuan dengan rekan kerja mereka.
"Terserah kau saja." Dirga menuruti ajakan Bian. Bian langsung tancap gas mengarahkan setirnya menuju tempat mereka akan menyantap makan siang. Dirga yang dari tadi diam dan mengikuti ajakan Bian seketika tampak enggan keluar saat Bian memarkirkan mobil di sebuah cafe tujuan mereka yang ternyata adalah cafe milik Dara, tempat kerja Ariani sebelumnya.
Mereka berdua masuk kedalam cafe dan langsung menuju meja, Dara menghampiri keduanya saat melihat kedatangan mereka.
"Selamat datang, tuan-tuan?" Dengan gayanya yang elegan bak pelayan restoran bintang lima Dara menyambut kedatangan teman-temannya, Bian tertawa melihat tingkah tak biasa temannya, sedangkan Dirga hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kalian mau makan apa?" Dara mengangkat tangan memanggil pegawainya.
"Aku tinggal dulu ya, ada urusan. Silakan pilih makan siang kalian." Dara langsung pergi meninggalkan Bian dan Dirga untuk memilih menu makan mereka karena ia ada kepentingan.
Sambil melihat lihat menu Bian mengedarkan pandangannya melihat seluruh area cafe, dia mencari Ariani, tetapi matanya tidak menemukan orang yang ia cari.
Kemana dia?
Bian menemukan ada sesuatu yang janggal, ia tidak melihat Ariani mondar-mandir di cafe, apakah Ariani sudah tidak bekerja disini? Di sela aktivitas makannya ia melirik Dirga yang terlihat datar menyantap makanannya. Mengapa Dirga tidak mencari gadis itu? Karena penasaran akhirnya Bian menanyakan nya pada Dirga.
"Dirga, aku tidak melihat Ariani disini. Kemana dia ya?" Ting... suara dentingan sendok yang jatuh memantul piring nyaring berbunyi, Dirga seketika berhenti makan.
"Memangnya dia siapa, sampai kau menanyakannya padaku." Jawaban dingin Dirga membuat menambah penasaran Bian dengan permasalahan yang terjadi diantara mereka.
Bian yakin ini bukan sebuah kebetulan, perubahan sikap Dirga dengan Ariani yang tidak bekerja pasti ada kaitannya.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya saja, aku kira kalian sudah..." Ucapan Bian terhenti saat Dirga memotong perkataannya.
"Tidak ada hubungan diantara kita." Dirga memberi klarifikasi hubungannya dengan Ariani.
"Benarkah? padahal aku melihat kau seperti peduli padanya dan nampaknya kalian sudah mulai dekat." Bian masih belum percaya, di ucapannya ia menambah bumbu-bumbu yang membuat telinga Dirga panas.
__ADS_1
"Cukup. Kita tidak sedekat apa yang kau pikirkan, jadi hilangkan semua penilaian mu tentang diriku dan dengannya."
Cih, kau masih ingin berkilah menepis kedekatan mu dengannya. Memangnya aku buta hingga aku tidak dapat melihat perbuatanmu padanya? Kau bernafsu saat didekatnya, aku tahu itu.
Bian ingin memaki Dirga yang terus menyangkal, menutupi perasaannya pada Ariani, ia tahu sifat Dirga yang tidak sembarangan menyentuh wanita, tetapi Dirga menunjukkan perlakuan yang berbeda saat dengan Ariani. Dirga yang saat itu dapat terpancing mengecup leher Ariani hingga timbul warna merah keunguan dileher Ariani dan Bian melihat hasil perbuatannya.
"Tapi saat kau pergi keluar keluar kota menemui ayahmu..." Bian ingin menceritakan kejadian malam hari itu saat ia menjumpai Ariani yang berada didepan rumah Dirga, tiba-tiba ada seorang wanita cantik menghampiri meja mereka.
"Dirga kau ada disini, aku senang sekali bisa bertemu denganmu." Wanita itu langsung duduk ikut bergabung bersama Bian dan Dirga dalam satu meja.
"Bella." Bian menghentikan obrolannya karena kedatangan Bella, Bella menggeser kursinya mendekat di samping dekat Dirga.
"Aku tidak menyangka kita bertemu disini, kau tahu semalam aku memimpikan mu. Aku merindukanmu Dirga." Bella yang agresif tidak melihat situasi, ia menggandeng tangannya di lengan Dirga lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dirga, ia lupa atau mungkin tidak takut dengan reaksi Dirga yang biasanya akan menghindar dan marah saat Bella memulai aksinya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya, ternyata tidak ada penolakan darinya, Dirga diam membiarkan Bella melakukan usahanya dalam mendekatinya. Sikap Dirga yang berbeda dari biasanya tentu saja itu membuat Bella merasa bahagia mendapatkan kesempatan langka karena ia masih mengharapkan Dirga untuk membalas cintanya. Bian dibuat melongo melihat kelakuan sepasang manusia didepannya.
Apa mataku tidak salah melihat? Dirga membiarkan Bella mendekatinya.
Bian melihat sikap tak biasa Dirga yang berubah semenjak kepulangannya dari luar kota menemui ayahnya, Dirga yang dari dulu tidak pernah nyaman saat Bella berusaha mendekatinya kini seakan luluh dengan perjuangan Bella dalam menaklukkan hatinya. Apakah ini pertanda Dirga sudah menerima cinta Bella?
"Wah.. Wah... Apa dunia akan kiamat? Apa yang aku lihat ini nyata? Kalian lengket sekali seperti perangko, memangnya sudah jadian ya?" Dara datang dengan tiba-tiba sedikit menyindir, Bella yang terkesiap langsung melepaskan tangannya dan kembali duduk tegak di kursinya.
"Hemm..." Dirga mengiyakan perkataan Dara, seketika ada hati yang berbunga bunga. Bella tidak menyangka akhirnya Dirga mau membuka hati untuknya.
__ADS_1
Benarkah? Dirga, apa aku sedang bermimpi? Akhirnya kau membalas perasaan ku.
Bella menengok kearah Dirga untuk memastikan apa yang ia dengar itu benar, Dirga balik menatapnya disusul senyum tipis terukir dari bibirnya, pandangan mereka mengunci. Sudah tidak bisa diungkapkan sebahagia apa hati Bella saat ini, inilah pertama kalinya Dirga menatapnya.