Melupakanmu

Melupakanmu
Pertengkaran


__ADS_3

"Apa yang dimiliki wanita miskin itu sampai kau bisa jatuh cinta pada wanita sepertinya, dia tidak sepadan denganmu. Aku, aku yang lebih pantas untukmu. Kau kekasihku, mulai sekarang lupakan wanita sialan itu!"


Pertengkaran itu semakin menjadi, kecemburuan Bella sudah memuncak, ia meluapkan emosinya dengan terus merendahkan Ariani dimata Dirga. Dirga tak terima mendengar segala penghinaan Bella terhadap Ariani, ia mengepalkan tangannya kemudian mengarahkan salah satu tangannya mencapit kedua pipi Bella, menekannya hingga Bella kesulitan berbicara.


"Diam atau akan ku robek mulutmu! Berisik." Dirga melepaskan jeratannya dengan kasar kemudian pergi meninggalkan Bella yang memegang pipinya kesakitan.


"Jika kau tetap memilih pergi, kita putus!" Bella mengancam akan mengakhiri hubungan mereka, Dirga berhenti melangkah sesaat tapi setelah itu ia melanjutkan langkah kakinya tanpa menoleh ke arah Bella, tak peduli dengan ancaman Bella. Bella yang naik pitam mengejarnya menarik jaket Dirga dari belakang hingga Dirga terhenti dan berbalik arah berhadapan dengannya.


Plak!! Tamparan keras mendarat di pipi Dirga. Bella yang sudah semakin emosi menampar lelaki yang ia sukai sejak lama. Perih, Dirga memegang pipinya yang terasa panas bekas tamparan Bella.


"Jadi benar, kau masih belum mencintaiku?" Dirga terdiam dengan sorot mata tak terbaca. Timbul sesal dalam hatinya, mengapa ia bisa menjalin hubungan dengan wanita kasar seperti Bella. Ingin rasanya membalas balik menampar namun ia berusaha mengendalikan emosinya.


"Lalu untuk apa kau meresmikan hubungan kita? Jika ternyata kau masih belum mencintaiku. Kau hanya mempermainkan perasaan ku Dirga!" Teriakan kencang Bella memecah keheningan seisi ruangan rumah, untung saja kondisi rumah sedang sepi hingga tidak ada yang tahu pertengkaran di rumah itu. Dirga Tak bisa berkata-kata, ia menyadari ini terjadi karena kesalahannya yang hanya coba-coba menjalani hubungan bersama Bella, parahnya ia menyatakannya didepan teman-temannya. Sesaat Dirga mengerti apa yang sedang Bella rasakan saat ini, meskipun sebenarnya ia masih tidak terima dengan perbuatan kasar yang Bella lakukan padanya.


"Maaf. Aku bersalah." Satu kalimat keluar dari mulut Dirga, ia menatap Bella yang sudah berurai air mata.


"Bukan maksudku mempermainkan perasaanmu. Selama ini aku sudah mencobanya, satu hal yang harus kau tahu, kau tidak bisa memaksakan hati seseorang untuk mencintaimu." Dirga menyatakan isi hatinya yang sebenarnya, ia sudah berusaha membuka hatinya untuk Bella. Tetapi rasa cintanya pada Ariani menolak hatinya untuk menerima Bella.


"Terima kasih telah menyadarkan ku." Ucapan yang mengandung penekanan, kini Dirga tahu sisi lain yang dimiliki Bella.


"Dirga..." Bella terperangah tak bisa berkata-kata melakukan pembelaan, ia tersadar telah melakukan perlakuan kasar terhadap Dirga. Dirga pergi meninggalkan Bella yang menyesali perbuatannya, merasa kalah masih belum mampu meruntuhkan hati Dirga.


"Apa kekuranganku dibanding wanita kampung itu?! Aku bersumpah kau tidak akan bisa menemukan perempuan kampung itu!" Bella duduk terkulai melihat kepergian Dirga, hatinya merasa hancur. Ia tidak terima dengan perlakuan Dirga yang telah mempermainkan nya.


Dirga melajukan mobil dengan kencang, tak bisa dibayangkan sekacau apa hatinya saat ini. Penyesalan menghantui dirinya, ia sudah salah langkah telah membawa Bella masuk kedalam kehidupannya.


"Harusnya aku tidak ceroboh seperti ini." Dirga merutuki dirinya yang salah mengambil keputusan, menerima Bella yang tidak pernah dicintai sebagai kekasihnya dan akhirnya Bella mengetahui kebenaran bahwa ia belum mencintainya.


"Sial!" Dirga mengendarai mobilnya tanpa tujuan, seperti jalan cerita hidupnya yang rumit entah kemana ia akan melangkah?


Di samping itu, Bian yang memulai misinya mengulik hubungan Dirga dengan Ariani menemui Dara di cafe saat jam makan siang, ia sudah mengumpulkan segala informasi mengenai kedekatan Dirga dan Ariani lalu mencocokkan dengan apa yang ia ketahui.

__ADS_1


Flashback On


Di cafe Dara siang itu Bian meminta dara menemaninya mengobrol.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Ini mengenai Ariani." Setelah selesai makan Bian meminta Dara duduk di mejanya.


"Apa yang ingin kau tahu?" Dara sedikit gusar, mengapa tiba-tiba Bian menanyakan tentang Ariani?


"Ceritakan semua tentang Ariani, kau kan bosnya. Apa kau mengetahui kedekatan antara Dirga dan Ariani?" Dara membulatkan matanya, Bian ingin mengetahui rahasia yang lama ia simpan.


"Ada apa ini?" Dengan elegan Dara bersikap tak tahu, tidak ada angin tidak ada hujan Bian langsung ke pokok masalah.


"Aku merasa akhir-akhir ini Dirga tidak dalam suasana hati yang baik, aku sering mendengarnya memanggil nama Ariani. Maka dari itu aku kemari ingin menanyakan hal ini padamu, sedekat apa hubungan mereka?" Bian menceritakan perilaku Dirga yang berbeda setelah kepulangannya dari menemui ayahnya dan ketika mabuk terus menyebut nama Ariani. Dara menghela nafas, sudah lama ia memegang janji menyimpan rapat rahasia Ariani. Mungkin ini saatnya untuk membuka semuanya.


Ariani memintaku untuk tidak menceritakannya pada Dirga, tapi aku tak sanggup jika harus memendamnya sendirian. Bian sepertinya bisa diandalkan.


"Aku tidak tahu harus mulai darimana. Yang aku tahu, Dirga memang dekat dengan Ariani setelah acara jamuan makan itu. Ariana baru beberapa minggu bekerja disini. Setelah itu mereka sering terlihat jalan bersama." Dara menceritakan sesuai dengan apa yang ia lihat.


"Apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya?" Bian merasa curiga dengan awal perjumpaan Dirga dan Ariani yang menurutnya singkat, tidak mungkin kan baru kenal sudah langsung sedekat itu.


"Lalu mengapa Ariani berhenti bekerja?"


"Ini yang aku sesalkan, aku tidak bisa berbuat banyak untuknya. Aku dengar kabar kalau adiknya meninggal dan Ariani memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya." Dara menjelaskan perihal keputusan Ariani berhenti bekerja dari Sinta, tetangga kontrakannya yang juga bekerja di cafe, saat itu Ariani sulit dihubungi.


"Tapi aku rasa Ariani memiliki alasan lain." Dara menerka alasan lain Ariani keluar dari pekerjaannya, Bian nampak tertarik dengan cerita Dara menunggu cerita selanjutnya.


"Dihari sebelumnya Ariani mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Bella mengetahui kedekatannya dengan Dirga, dia merundung Ariani hingga ia terluka. Sangat kejam!" Mata Dara berair mengingat perbuatan kejam Bella kepada Ariani.


"Bella menganiaya Ariani? Apa itu terjadi sebelum Dirga pergi keluar kota?"


"Kau tahu?" Dara membulatkan matanya dengan sempurna. Bian menganggukkan kepala mengerti, perlahan kepingan puzzle yang ia cari telah terangkai. Lalu ia menceritakan kejadian tengah malam saat Ariani ingin menemui Dirga dirumahnya.

__ADS_1


Flashback Off


Bian mencari keberadaan Dirga yang ternyata sedang berada di rumahnya, ia melihat Dirga menyendiri dihalaman belakang rumah sedang bermain basket. Ia memperhatikan Dirga yang bermain seperti sedang meluapkan emosinya disana.


Aku ingin tahu, apa kau peduli dengan apa yang akan ku tunjukkan padamu.


"Tumben olahraga malam." Bian menghampiri dirga yang tidak mempedulikan kedatangannya, ia asik sendiri berlari mendribble bola.


Merasa diabaikan Bian merebut bola dari penguasaan Dirga, merasa terusik Dirga melayangkan tatapan tajamnya tak ingin diganggu.


"Aku punya sesuatu yang menarik, kau ingin tahu tidak?" Bian mencoba mengalihkan perhatian.


"Tidak." Dirga tak peduli, ia melanjutkan aktifitasnya.


"Kalau begitu apa kau mengenal gadis didalam foto ini?" Bian mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mengarahkan layar ponsel miliknya tepat di hadapan Dirga. Mau tidak mau Dirga melihat gambar yang ditunjukkan Bian padanya.


Ariani?


Dirga mengambil ponsel dari tangan Bian, memastikan gadis didalam foto itu adalah Ariani. Dilihatnya foto itu kondisi Ariani yang nampak berantakan, Bian memotret Ariani diam-diam saat berada di klinik.


"Darimana kau mendapatkannya?" Dirga menatap tajam Bian meminta penjelasan.


"Aku sengaja mengambilnya diam-diam, malam itu saat kau pergi menemui ayahmu Ariani datang ke rumah ingin menemui mu. Kau tahu, keadaannya saat itu sangat kacau. Aku melihat ada beberapa luka lebam diwajahnya." Bian melihat binar mata Dirga yang terlihat peduli menatap terus layar ponsel.


Apa yang terjadi padamu saat aku tidak ada?


Dirga menggenggam erat ponsel milik Bian, membayangkan apa yang terjadi pada Ariani setelah kepergiannya di halte.


"Aku dengar Bella merundung nya saat di cafe. Dara yang menceritakannya padaku." Dirga mulai mengerti, ternyata Bella di balik semua ini.


"Mengapa dia tidak mengatakannya padaku?"

__ADS_1


"Apa kau bertanya padanya?" Bian mencoba melindungi Dara dari kemarahan Dirga.


Dirga mengingat kembali pertemuan terakhirnya dengan Ariani, saat itu ia melihat pelipis Ariani yang diplester itu pasti karena ulah Bella. Tapi di dalam foto ini mengapa luka di wajah Ariani bertambah dan juga ada darah di sudut bibirnya. Siapa yang melakukannya? Dirga ingat, ia meninggalkan Ariani ketika Ryan datang saat pertikaian diantara mereka yang masih mengambang. Ryan adalah orang terakhir yang bersama Ariani saat itu. Berbagai macam pertanyaan muncul di otaknya, apa yang dilakukan Ryan saat itu hingga Ariani datang ke rumahnya dalam keadaan kacau?


__ADS_2