Melupakanmu

Melupakanmu
Jadi Hanya Sebatas Ini Perjuanganmu?


__ADS_3

Hati Dirga bagaikan tercabik-cabik, kata-kata Bella sangat menyakitkan hatinya. Bukannya berempati, Bella datang memberikan luka.


Kini tinggallah Dirga seorang diri di kamar pasien VIP itu, Bella telah pergi meninggalkannya setelah memutuskan hubungan mereka. Tak ada kata yang terucapkan untuk menjawab penghinaan itu.


"Aku tidak pernah memohon padamu untuk mencintaiku." Dirga menunduk mencoba mengendalikan emosinya, nafasnya terasa sesak. Tenggorokannya sakit menahan tangis. Sakit hati bukan karena Bella memutuskan hubungan mereka, tetapi Dirga menyesal telah terpengaruh dengan semua tipu daya Bella yang ternyata tidak tulus mencintainya. Matanya berkaca-kaca, ia mengepalkan tangan hingga terlihat otot-otot pergelangan tangannya yang kokoh lalu pandangannya beralih melihat kakinya yang Bella katakan cacat.


"Aku tidak cacat." Pandangan matanya kosong terus menatap kakinya.


"Arrrggghhh...!!!" Dirga meluapkan kekesalannya dengan melempar selimut dan bantal hingga tercecer di lantai, nafasnya memburu dengan wajah merah padam menahan amarah, Dirga mengusap air matanya yang terlihat menggenangi bola matanya. Mengapa ini harus terjadi padanya, disaat Dirga ingin menjemput kebahagiaannya bersama Ariani ada saja halangan dan rintangan yang harus ia hadapi. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi, pasti. Ah, semuanya sudah terlambat. Ungkapan keputusasaan seketika timbul dalam dirinya.


Sementara Bella pergi dengan hati puas telah membalaskan rasa sakitnya, wanita cantik itu berjalan dengan senyum kemenangan. Ia berjalan mengangkat dagunya layaknya seorang model yang sedang berjalan di atas catwalk. Tanpa sengaja Bella berpapasan dengan Dara yang akan menuju kamar Dirga. Dara melihat kehadiran Bella menebak sepertinya Bella telah menemui Dirga.


"Ku kira kau sudah lupa dengan kekasihmu." Mereka berdiri saling berhadapan, tatapan mereka kompak memandang sinis satu sama lain. Hubungan mereka merenggang bagaikan musuh.


"Kekasih? Maaf kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi." Bella melengos lalu melipat kedua tangannya, Dara mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu? Jangan bilang kau memutuskan hubungan kalian." Dara menunjuk wajah Bella menebak semua prasangka yang dulu pernah muncul dalam pikirannya.


"Tentu, karena aku sudah tidak mencintainya lagi." Bella menampik jari telunjuk dari hadapannya, seketika Dara membulatkan matanya merasa geram tak terima dengan apa yang ia dengar.


Plak! Dara menampar pipi Bella yang mulus, perbuatannya mengundang perhatian orang-orang di sana yang melihat peristiwa itu.


"Jadi hanya sebatas ini perjuangan mu? Kau adalah wanita jahat yang pernah aku kenal, bisa-bisanya kau meninggalkan Dirga saat ia sedang terpuruk. Dasar wanita ular!" Dengan wajah penuh amarah Dara memaki Bella, terlihat Bella mengeratkan giginya tak terima dengan apa yang Dara lakukan padanya.

__ADS_1


Plak! Bella membalas tamparan nya, Dara meraba pipinya yang terasa sakit.


"Bukankah ini yang pernah kau katakan padaku, kau memintaku untuk berhenti kan? Sekarang aku ikuti perkataan mu. Aku sudah bosan, aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk merawatnya. Dirga bukanlah lelaki kuat yang aku kenal dulu, kau lihat sendiri kan untuk berjalan saja ia kesulitan." Bella yang pandai bersilat lidah membalikkan ucapan Dara saat itu untuk berhenti mengejar Dirga.


"Kau benar-benar ya..." Dara sudah tidak bisa menahan emosinya, ucapan Bella sangat pedas terdengar di telinganya. Bisa-bisanya ia menghina teman baiknya, tak terima Dara menjambak rambut Bella dan perkelahian jambak menjambak pun terjadi hingga menjadi bahan tontonan orang yang lewat.


"Hei, ada apa ini? Hentikan! Jangan membuat keributan disini." Tama dan Bian bergegas lari memisahkan pertengkaran dua wanita itu, Bian menahan Dara sedangkan Tama menahan Bella. Kedua wanita itu merapikan rambutnya yang acak-acakan, Bian dan Tama saling pandang berbicara dengan telepati mereka. Mengapa mereka bertengkar?


"Kau benar-benar jahat, setelah apa yang telah Dirga berikan padamu kau meninggalkannya begitu saja. Kau memang tidak tulus mencintainya." Dara tak habis pikir Bella melakukannya, padahal dulu Bella sangat menggilai Dirga. Dan saat hubungan mereka berjalan pun Dirga selalu memberikan apa yang ia mau baik waktu, barang apapun yang diinginkan pasti di berikan nya, tapi satu yang tidak, yaitu hatinya.


"Jangan menggurui ku tentang arti ketulusan. Selama ini aku menunggunya dan kau pun tahu itu. Dirga tidak pernah mencintaiku, dia menyukai wanita lain. Sekarang dimana wanita sialan itu? Dia pergi. Lalu apa bedanya dia dengan ku?!"


"Ini semua karena kau, sialan! Kau yang menyakiti Ariani hingga ia pergi." Dara mengungkit peristiwa di toilet cafe miliknya, Bella menyerang Ariani. Kening Tama berkerut, Ariani? Namun ia masih menyimak adu mulut dua wanita itu yang terlihat seru.


"Cukup Bella! Kau akan menyesal telah meninggalkannya, pergi kau dari sini!" Bian yang tadinya tidak ingin ikut campur tidak terima dengan segala penghinaan Bella terhadap sahabatnya, ia mengusirnya. Bella dengan tersenyum mengejek melenggang pergi dengan senang hati.


Selepas kepergian Bella, mereka bertiga langsung menuju kamar Dirga ingin melihat keadaannya. Akan tetapi yang mereka dapati kamar itu terlihat berantakan. Dirga menunjukkan aura dingin, diam seribu bahasa. Ia tidak menganggap kehadiran teman-temannya, mengerti suasana hatinya saat ini akhirnya mereka pergi memberikan ruang untuk Dirga sendiri.


Dara memijat pelipisnya lalu ambruk duduk di kursi tunggu diluar. Energinya terkuras setelah bertengkar dengan mantan teman dekatnya dan juga menghadapi kerasnya sikap Dirga, diikuti Tama dan Bian duduk di sampingnya.


"Siapa wanita itu?" Tama yang tidak tahu akar masalah bertanya pada siapapun yang mendengarnya.


"Dia kekasih Dirga." Bian menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Tapi dia baru memutuskan hubungan mereka." Dara melanjutkan Bian pun kaget. Pantas sikap Dirga berbeda.


"Sebenarnya ada apa ini? Jelaskan semuanya padaku." Tama memegang pundak Dara, Dara menengok kearah Bian menunggu persetujuan darinya. Dan akhirnya Bian dan Dara menceritakan semua peristiwa yang belum Tama ketahui dari awal sampai akhir, mulai dari kedekatan Dirga dengan Ariani hingga ia ditinggalkan lalu menerima Bella sebagai kekasihnya meskipun tidak ada cinta. Tama mengangguk mulai mengerti permasalahan ini karena diam-diam ia juga menyaksikan peristiwa yang mereka ceritakan.


Ternyata ini tentang Ariani.


Apa aku harus datang ke desa lalu membawanya kemari?


Tama berencana pergi menemui Ariani di desanya, ia bertekad membawa Ariani datang ke hadapan Dirga.


Ditempat berbeda sore hari itu Ariani berada di halte menunggu bis, ia hendak pulang setelah diterima bekerja dan langsung menjalani training di toko roti dan kue. Ariani merasa bersyukur Tuhan memudahkan segala urusannya, disaat sedang menunggu bis seorang anak perempuan datang mengamen di depannya. Ariani memperhatikan anak kecil itu bernyanyi merdu dengan ukulele nya, ia menjadi teringat Kirani saat melihat gadis kecil itu.


"Terimakasih kakak cantik." Ariani tersenyum melihat anak kecil itu bahagia menerima uang pemberiannya. Anak kecil itu sumringah lalu pergi lari pecicilan, ceria layaknya anak-anak lain. Namun tak disangka ia terserempet motor yang sedang melaju kencang. Ariani dan orang-orang yang melihat kejadian itu menghampiri, dilihatnya kaki anak itu terluka.


"Ini tetangga saya." Seorang tukang ojek mengenal si pengamen cilik itu.


"Bagaimana kalau bapak bawa anak ini ke rumah sakit?"


"Maaf neng, bukannya saya tidak mau, tapi saya tidak ada uang buat bayar biayanya." Mendengar ucapan tukang ojek itu Ariani termenung, dilihatnya anak kecil itu menangis kesakitan dengan luka parah di kakinya.


"Baiklah, ayo bapak antar kami ke rumah sakit. Masalah biaya nanti saya yang tanggung." Tanpa pikir panjang Ariani membawa anak kecil itu ke rumah sakit. Ia teringat kejadian awal ia datang ke kota, saat itu Ariani di jambret dan tertabrak motor. Beruntung Dirga datang menolong menyelamatkan nyawanya.


Setelah sampai rumah sakit suster membawa anak itu ke UGD untuk ditangani. Ariani ikut masuk mendampingi gadis kecil itu yang masih terisak kesakitan, sementara bapak tukang ojek menghubungi keluarganya. Ariani tidak memperhatikan dokter yang mengobati anak itu ternyata adalah Tama.

__ADS_1


Ariani?


__ADS_2