Melupakanmu

Melupakanmu
Sulit Memutuskan


__ADS_3

"Aku pergi ya." Ariani pamit pada Indah sebelum berangkat kerja, ia sedang memakai sepatu kerjanya.


"Iya, hati-hati dijalan. Ariani, apa kau sudah memutuskan pilihanmu?" Indah yang sedang tiduran sambil menonton TV masih membahas pembicaraan mereka.


"Sudah, apa hari ini kau libur kerja?" Ariani melihat Indah yang masih terlihat santai dengan baju rumahan.


"Iya, hari ini aku libur. Sudah lama aku tidak mengambil libur, nanti siang aku akan pergi keluar. Jam tanganku rusak." Ariani pun sudah siap dengan sepatunya."Baiklah, hati-hati saat kau pergi sendiri, mana tahu ada pencuri. Pencuri hati." Ariani menutup mulutnya menahan tawa kemudian ia kabur meninggalkan Indah yang ternganga mendengar ucapannya, tidak menyangka Ariani membalas candaannya tempo hari.


"Astaga anak ini, ternyata dia bisa bercanda seperti itu. Hemm. " Indah menggelengkan kepalanya, tersenyum melihat tingkah Ariani yang sudah bisa menjadi dirinya sendiri.


Ariani berjalan menuju halte menyusuri trotoar, hatinya masih berkecamuk. Jiwa dan pikirannya masih tertuju dengan keputusan apa yang akan diambilnya, wajar saja jika ia seperti itu karena ini adalah kali pertama ia mendapat ungkapan perasaan dari seorang lelaki yang ia sukai. Hingga akhirnya ia sampai di halte dan tidak lama kemudian bis pun sampai, Ariani masuk kedalam kemudian duduk di bangku penumpang. Ia memejamkan matanya, sejenak merelaksasi otaknya yang penuh dengan pikirannya yang rumit seperti benang kusut.


"Rumit sekali mengambil keputusan ini. Apa semua wanita pernah merasakan hal yang sama denganku?" Ariani membuka mata melihat satu persatu penumpang wanita yang ada di bis, mungkinkah mereka pernah ada di posisinya sekarang, kemudian ia memejamkan matanya lagi. Saat berada di alam bawah sadarnya ia melihat bayangan mimpinya yang dulu pernah dialaminya. Ryan menghilang dan meninggalkan nya di taman, kemudian datang laki-laki lain yang membawanya berlari.


"Hah.." Ariani terbangun, ia dikejutkan dengan bis yang mengerem mendadak.


"Mimpi itu muncul lagi, pertanda apa ini?" Entah mengapa tiba-tiba Ariani jadi teringat Dirga, sejenak ia melupakan lelaki itu semenjak Ryan mengatakan perasaan nya semalam, kemudian ia melihat ponselnya. Tidak ada pesan dari Dirga.


"Dia orang yang baik, tapi apakah dia menyukaiku? lalu apa maksud dari ucapannya, memintaku melupakan kak Ryan?" Ariani bergelut dengan pikirannya, keputusan yang sudah ia mantapkan kini buyar kembali.


"Aduh, pusing. Rasanya kepala ini mau pecah, apa aku menghindar saja tidak menanggapi ucapan kak Ryan?" Ariani memegang kepalanya yang terasa pening, ia sampai pusing memikirkan jawaban yang harus ia berikan kepada Ryan. Seperti sedang ujian sekolah saja.


"Tidak, aku tidak ingin menjadi pengecut." Ariani bertekad menghadapi semua ini, agar jelas dan pasti. Bis pun sampai, Ariani keluar dan saat ia hendak melangkah turun ia menarik nafas dalam lalu membuangnya.

__ADS_1


"Semoga ini keputusan terbaik, aku tidak akan menyesali semua keputusan yang sudah kuambil. Tuhan, mudahkanlah segala urusanku." Sepertinya Ariani sudah memantapkan keputusan nya, ia sudah tidak plin-plan lagi dan mengunci keputusannya hingga sampai ke telinga Ryan nanti.


Hari pun sudah menandakan waktu siang, saatnya untuk mengisi perut yang lapar bagi manusia yang lelah bekerja yang berada di kota itu. Cafe Dara sudah nampak ramai pengunjung yang datang bergantian hingga semua orang yang bekerja di cafe itu terlihat sibuk mondar mandir melayani pengunjung termasuk Ariani.


"Ariani itu ada yang datang, tolong gantikan aku sebentar. Aku kebelet." Sinta salah seorang temannya meminta Ariani menggantikan dirinya untuk memberi buku menu kepada pengunjung yang baru datang.


"Oke." Tidak menunggu lama Ariani menghampiri pengunjung cafe tersebut, Ariani menajamkan penglihatannya melihat pengunjung yang akan dilayaninya kemudian ia tersenyum setelah tahu siapa yang datang ke cafe itu.


Dirga.


" Permisi, anda mau pesan apa tuan? ini silakan dilihat menunya." Ariani bersikap profesional, Dirga tersenyum akhirnya ia bisa menjumpai gadis pujaannya.


"Kaku sekali, tapi aku suka. Rasanya seperti menjadi raja diperlakukan seperti itu. Apa Dara yang menyuruhmu untuk melakukannya?" Dirga mengajak Ariani bicara dengan santai.


"Iya, awalnya canggung tapi lama lama aku jadi terbiasa. Kau sudah sehat?." Mereka akhirnya mengobrol dengan sumringah di wajah keduanya hingga seseorang datang ke meja Dirga.


Wanita ini siapanya Dirga? Apa dia kekasih nya?


Dada Ariani terasa sesak, ia juga tidak tahu mengapa ini terjadi padanya. Apa mungkin dia cemburu?


*R*asanya sesak sekali melihat Dirga duduk bersama wanita cantik.


Ariani langsung pergi meninggalkan meja Dirga setelah mencatat pesanan.

__ADS_1


"Hai, kalian berdua ada disini? Dirga, bagaimana keadaanmu?" Dara ikut bergabung duduk bersama Dirga dan Bella.


"Hemm, aku baik." Dirga menjawab singkat.


"Memangnya kau kenapa? Apa yang terjadi denganmu?" Bella yang bersikap biasa seperti tidak tahu apa-apa, ia ingin mendengarkannya langsung.


"Kemarin Dirga sakit." Dara yang menjawab pertanyaan Bella.


"Kau sakit apa? Mengapa kau tidak mengubungi ku? Aku pasti akan datang ke rumahmu dan merawat mu." Dirga melirik kearah Bella dengan jengah.


"Aku sudah sehat, lagipula hanya demam biasa bukan sakit yang parah." Dirga mencoba menjelaskan keadannya.


"Kau jangan khawatir, aku sudah mengirim suster dadakan untuk merawatnya." Dara keceplosan, ia tidak tahu ucapannya itu memancing emosi Bella. Hati Bella panas, ia sudah mendengar kebenarannya langsung dari bibir Dara. Mengapa Dirga membiarkan wanita lain masuk kedalam rumahnya, padahal Ia selalu menolak Bella datang ke rumahnya meskipun hanya sampai sebatas didepan gerbang rumahnya.


Ternyata benar, kau jahat sekali Dirga. Kau membiarkan wanita lain masuk kedalam rumahmu, bahkan merawat mu yang sakit. Apa kau tidak pernah melihatku selama ini agar bisa dekat denganmu ?.


Bella tersenyum kecut, ia mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia kecewa, ia merasa kalah dengan wanita yang baru hadir dalam kehidupan Dirga. Tak menunggu lama Ariani pun datang dengan membawa nampan berisi pesanan mereka, pandangan Bella sinis menatap Ariani, rasanya ingin sekali ia melabrak Ariani namun ia harus bisa menahannya. Bella tersenyum setelah mendapatkan ide yang muncul di kepalanya, saat Ariani sedang menaruh makanan dan minuman ke meja ia sengaja menyenggol sendok dimeja yang seolah tidak sengaja ia jatuhkan.


ting.. bunyi sendok jatuh menarik perhatian Dirga dan Dara yang langsung melihat kearah sendok yang jatuh itu.


"Oh, maaf bisa ambilkan sendok itu lalu tolong ganti dengan yang baru." Bella berbicara sambil mengambil gelas berisi es cokelat yang akan ia minum, Ariani pun menuruti perintah Bella. Ia jongkok ingin mengambil sendok di lantai. Bella memiringkan gelas yang dipegangnya hingga minumannya mengenai baju Ariani dan menjadi kotor.


"Bella, apa yang kau lakukan!? " Dirga terlihat kesal karena Bella membuat baju Ariani kotor, Dara hanya diam melihat.

__ADS_1


"Astaga, maaf aku tidak sengaja. Sungguh aku tidak menyangka akan seceroboh ini." Bella meminta maaf pada Ariani padahal ia hanya pura-pura, dalam hatinya ia memaki.


Rasakan, ini baru awal. Kita lihat selanjutnya apa yang akan terjadi padamu.


__ADS_2