
Apa aku diculik?
Ariani yang sudah dibawa masuk kedalam mobil itu tetap memberontak ia berusaha mencoba melakukan perlawanan agar bisa lolos, Ariani mengigit jari pria yang membekap mulutnya.
"Aaa... " Pria itu kesakitan karena tangannya digigit Ariani. Lalu ia melepaskan Ariani.
"Tuan jangan culik saya, saya tidak punya harta untuk tebusan. Tolong lepaskan saya, saya mohon lepaskan saya." Ariani mengatupkan tangannya dan menutup mata berbicara pada pria itu, ia nampak ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Seperti sedang mengalami adegan penculikan yang ada di film yang pernah ia tonton.
"Diamlah, kau jangan banyak bicara." Pria yang membawanya itu kemudian membuka masker dan topi yang tadi ia pakai. Ariani membulatkan matanya setelah melihat wajah pria itu ternyata orang yang menculiknya adalah Dirga. Mata mereka kemudian saling beradu dikursi bagian belakang sopir itu, Dirga kemudian melengos dan melipat kedua tangannya di dadanya.
"Sekarang kau jelaskan padaku." Dirga langsung to the point meminta penjelasan perihal kejadian tempo hari. Ariani yang masih ketakutan dan belum menormalkan jiwanya yang terguncang karena takut diculik itu diam tak menjawab, Ariani belum mengerti arah pembicaraan yang Dirga katakan. Harusnya dia yang bertanya mengapa Dirga menculiknya?
"Cepat katakan! Mengapa kau pergi begitu saja meninggalkanku di rumah sakit itu." Dirga dengan suara ngegas membuat Ariani terhentak kaget.
"itu... itu... maafkan saya. Saya pergi tidak pamit pada anda." Ariani menjawab masih dengan rasa takut. Dirga memasang wajah yang tidak bersahabat dan tatapan yang tajam. Bagi Ariani itu sangat menakutkannya hingga ia tidak berani menatap Dirga.
"Apa kau tidak diajarkan sopan santun, kau tidak berterima kasih pada orang yang menolong mu, lalu pergi tanpa permisi begitu?!" Dirga masih menyudutkan Ariani, membuatnya semakin mundur hingga ujung kursi dan menyandar pintu mobil.
"Hari itu, saat anda pergi keluar, tiba-tiba teman saya datang menemukanku. Saya dan teman saya sudah menunggu anda hingga malam, tetapi anda tidak juga datang. Kami sudah terlalu lama menunggu lalu temanku mengajakku untuk keluar dari rumah sakit itu, kemudian saya pun menurutinya karena kasihan padanya sudah terlihat lelah karena sudah mencari ku dan waktu sudah malam." Ariani berkata jujur dengan sesekali melihat wajah Dirga meskipun masih sedikit takut.
__ADS_1
"Saya minta maaf telah membuat anda khawatir." Ucapan Ariani membuat telinga Dirga memerah.
Dirga yang mendengar alasan Ariani pun menyadari ternyata dirinya lah yang sudah membuang waktunya, jika saja ia tidak menuruti permintaan Bella untuk menjenguk ibunya mungkin Ariani akan memakan makanan yang sudah dibelinya, karena ia sudah kelaparan dan juga mungkin saja Ariani akan dibawa pulang bersamanya agar lebih aman. Itu yang ada dipikiran Dirga, ia memikirkan Ariani yang belum makan dan mengkhawatirkan keadaannya saat sudah pergi meninggalkan nya.
"Jadi temanmu sudah menemukanmu?" Dirga sudah menormalkan suaranya, Ariani hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kali ini ku maafkan kesalahan mu." Dirga menunjuk kening Ariani, dengan mudahnya ia memaafkan orang yang telah membuatnya marah, sebelumnya tidak semudah itu.
"Terimakasih, atas kebaikan anda, tuan." Ariani dengan berbinar menatap Dirga dan memegang tangan Dirga yang menunjuknya tadi, merasa lega karena orang di depannya ini tidak melakukan apa - apa padanya. Dirga menarik tangannya yang dipegang Ariani.
"Bisakah kau berbicara dengan normal? jangan memanggilku tuan ataupun anda." Dirga merasa tidak nyaman dengan panggilan itu.
"lalu saya harus memanggil anda apa? saya bahkan belum tahu nama anda." Ariani yang memang belum mengetahui nama lelaki yang sudah menolongnya ini merasa menyesal kenapa tidak menanyakan namanya hari itu.
"Dirga, panggil saya Dirga." Ariani mengangguk mengerti, tetapi dalam hatinya ia bertanya apakah Dirga masih ingat namanya?
"apa anda masih ingat nama saya?"dengan sedikit takut Ariani pun akhirnya bertanya.
" Cih... kau ini memangnya aku ini pelupa sepertimu hingga tidak ingat dengan apa yang sudah ku ketahui. Ariani." Ariani sedikit tersenyum mendengar Dirga yang sedang mengomel. Dirga membuka pintu mobil dan pindah ke kursi depan dan menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
"Ayo pulang." Ariani hendak membuka pintu mobil dan keluar, akan tetapi ditahan oleh Dirga.
"Aku akan mengantarmu." Ariani pun tidak jadi membuka pintu dan duduk kembali. Dirga menjentikkan jarinya menyuruh Ariani pindah ke kursi depan dan Ariani menurut seperti kucing manis yang penurut. Dirga mendekati Ariani yang sudah duduk disampingnya, ia hendak akan memasang safety belt pada Ariani membuat Ariani yang tadinya menghadap kearah depan seketika menengok kearah nya, jarak mereka dekat sekali hanya beberapa senti. Dirga melihat wajah Ariani dari dekat bahkan sangat dekat dari mata,hidung dan kini sudah beralih menatap bibir merahnya yang ranum. Ariani pun hanya diam terpaku tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukan Dirga. Dan Dirga pun melanjutkan memasang sabuk pengaman padanya setelah kembali kesadarannya.
"Ehemm... " Dirga berdehem tetapi tidak batuk. Kemudian Dirga kembali ke posisinya dan mulai melajukan mobilnya.
"Terimakasih, sudah mau mengantarku." Ariani pun memecah keheningan yang terjadi, merasa lega Dirga tidak menelantarkan nya karena hari sudah larut malam, angkutan umum pun sudah tidak ada. Dan Dirga hanya membalasnya dengan menganggukkan kepala, pipinya yang memerah kalau saja Ariani melihatnya, namun sayangnya ia tidak memperhatikan nya.
.
.
.
maaf jika ada typo..
Hai..ini karya pertamaku...
mohon berkomentar dengan bijak... 🙏
__ADS_1
pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..
Terima kasih... 🙏