Melupakanmu

Melupakanmu
Aku Tidak Akan Kembali


__ADS_3

Perpisahan adalah suatu hal yang selalu ingin ku hindari. Jika ada sebuah pengorbanan yang harus aku penuhi agar dapat membawamu kembali, akan ku lakukan dengan seluruh jiwa asalkan kau tetap bersamaku.


Ariani membuka lembaran-lembaran kenangan bersama Kirani, malam ini adalah malam kedua sang adik meninggalkan nya. Ariani sedang berada di kamar Kirani, membereskan barang-barang peninggalannya. Ia duduk di ranjang sambil melihat foto yang tertempel rapi di dalam album, ingatannya mengenang saat-saat indah yang pernah mereka lalui bersama.


"Kamu memang paling suka kalau difoto, selalu menampilkan senyum ceriamu. Adikku yang manis." Dilihatnya hasil jepretan kamera di album foto koleksi Kirani dari masih bayi hingga kini dan tersimpan juga foto-foto kenangan bersama keluarga mereka. Kirani terlihat selalu menampakkan wajah ceria di setiap posenya, meskipun belakangan kondisinya mengalami penurunan, Kirani tetap menampilkan keceriaan nya. Berpura-pura kuat menahan sakitnya, ia jarang mengeluh mungkin supaya sang kakak tidak terlalu mengkhawatirkannya. Entah hingga saat ini masih menjadi misteri sebenarnya sakit apa yang diderita kirani, karena keterbatasan biaya Ariani belum sempat membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaaan yang lebih intens.


"Kakak tidak tahu, ternyata kamu sudah menahan sakit begitu lama. Dan kamu menyembunyikan itu agar kau terlihat baik-baik saja, ini membuat Kakak semakin bersalah padamu." Bulir air mata menetes di pipi Ariani, tak kuasa menahan air matanya. Ia sudah mendengar cerita ibunya bahwa disaat kondisinya yang sedang drop, Kirani menahan Bu Ani untuk tidak memberi tahu Ariani.


Jangan beritahu kakak Bu, kirani masih kuat kok.


Kirani yang tidak pernah mengeluhkan sakitnya, ia tidak ingin merepotkan ibu dan kakaknya. Ariani menangis lagi, ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa ia menjalani hidup tanpa sang adik. Susah senang mereka lalui bersama, menjadi anak pertama dan tanpa kehadiran sosok ayah membuat Ariani bertukar peran menjadi tulang punggung dan pelindung bagi keluarganya. Hidupnya ia jalani dengan bekerja keras, Ariani tidak pernah merasa terbebani dengan segala keinginan kirani karena Kirani adalah orang yang menjadi penyemangat hidupnya untuk terus selalu berusaha, mencukupi kebutuhan hidup dan keperluan sekolahnya. Baginya kebahagiaan kirani adalah obat yg dapat menghilangkan segala lelahnya.


"Kamu sudah tidak disini, sekarang apa yang harus kakak lakukan setelah kamu tiada, Kamulah penyemangat kakak, Kirani." Ariani bagaikan hilang semangat. Baginya, Kirani adalah harapan yang harus ia perjuangkan, demi kesehatan Kirani Ariani rela pergi meninggalkan desa untuk bekerja di kota. Tapi sekarang Sudah tidak ada lagi yg menjadi alasan Ariani berjuang, kehilangan Kirani membuatnya hilang arah. Sesuatu yg ia perjuangkan sudah pergi, lalu apakah mungkin ia dapat melanjutkan hidup dengan baik?


Dari luar terdengar suara mesin motor yang berhenti di depan rumah membuat Ariani terbangun dari lamunan.


"Nak, Indah datang. Dia menunggumu diluar." Ibu masuk menghampiri Ariani yang masih didalam kamar Kirani.


"Iya Bu. Nanti aku keluar." Ariani lalu beranjak keluar menemui Indah. Mereka duduk di kursi panjang didepan teras rumah, sambil melihat pemandangan malam yang bertabur bintang di langit terlihat sangat indah, ditambah suara jangkrik dan katak menambah syahdu suasana malam di desa itu.


"Indah kamu darimana?" Ariani melihat dandanan Indah seperti mau kondangan.

__ADS_1


"Aku tadi habis dari acara nikahannya Susi. Ini ada titipan." Indah memberikan sebuah kantong plastik merah pada Ariani.


"Oh iya terimakasih."


"Kamu kenapa? Dari tadi wajahmu terlihat kesal. Lagi marah ya?" Ariani melihat raut wajah Indah yang berbeda dari biasanya, ekspresi wajahnya nampak kecut seperti sedang menahan kesal.


"Iya, ada sesuatu yang membuat aku sebal. Sombong sekali, kau tau di pesta tadi Elma dengan bangganya mengumumkan kalau dalam waktu dekat dia akan menikah." Indah mendengus kesal menceritakan kejadian di acara pernikahan teman sekolahnya.


Jadi mereka akan segera menikah.


"Oh, bagus lah. Itu kabar baik kan? lalu apa yg membuatmu kesal?" Ariani yang mendengar berita itu merasa biasa saja, kini sudah tidak merasa ada denyutan dihatinya. Tapi kenapa Indah kesal, ya?


"Bukannya aku tidak suka mendengar kabar dia akan menikah, tapi aku merasa sikapnya sedikit berbeda, Elma tidak seperti teman yang kita kenal dulu. Sepertinya dia berubah semenjak ia kuliah dan bergaul dengan teman-temannya di kota. Dia juga seperti menjaga jarak denganku." Indah menceritakan semuanya perubahan yang terjadi dengan Elma, teman sekolahnya dulu.


Ariani menerka dirinya adalah penyebab sikap Elma berubah kepada Indah, karena selama ini Indah sangat dekat dengan Ariani.


"Wajar saja dia seperti itu, mungkin dia sudah terbawa dengan gaya berteman di kota. Diakan kuliah di sana jadi lingkungan pertemanannya juga luas. Sedangkan kita apa?" Seakan menyuruh berkaca, Ariani tahu porsinya. Dirinya yang hanya lulusan SMA dan bekerja dari pagi hingga malam, tidak ada waktu untuk me time.


"Tapi aku tidak suka dengan sikapnya yang sok pamer, sombong, ia merasa paling beruntung karena mau dinikahi Ryan, pemuda kaya populer di desa ini." Indah terlihat semakin berapi-api.


"Sudahlah terserah dia mau seperti apa, orang kaya mah bebas. Kita cukup jadi penonton saja. Mungkin dia terlalu bahagia akhirnya akan menikah dengan Ryan, anak bos grosir di desa ini." Ariani mencoba mencairkan emosi Indah, tapi Indah memutar bola matanya tidak setuju dengan ucapan Ariani.

__ADS_1


"Idihhh, sekaya kayanya orang dikampung masih kalah jauh perbandingannya dengan orang kaya di kota." Indah mengukur jarinya, memberi perumpamaan dari ucapannya. Ariani hanya manggut-manggut saja lalu masuk kedalam mengambil minum.


"Besok pagi aku akan kembali ke kota. Apa kau ingin ikut bersamaku?" Setelah meneguk air yang diberikan Ariani Indah menyampaikan bahwa besok ia akan kembali ke kota, bekerja kembali.


"Entahlah, aku masih belum bisa memutuskan." Ariani masih berduka, masih belum memikirkan rencana kedepannya. Kening Indah berkerut.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan mu?" Indah berharap Ariani akan ikut bersamanya bekerja di kota, tapi keputusan ada di tangan Ariani.


"Aku tidak tahu, seandainya aku kembali pun sepertinya lebih baik aku mencari pekerjaan lain. Atau mungkin aku benar-benar tidak akan kembali." Dalam hati kecilnya ia tidak ingin meninggalkan desa, karena setelah kepergian Kirani kini hanya tinggal dirinya dan ibunya, jika ia pergi sudah pasti ibunya tinggal sendiri dan pasti akan merasa kesepian. Di samping itu, Ariani juga ingin menghindari bertemu dengan orang-orang yang menimbulkan masalah dalam hidupnya, terutama Ryan. Orang yang sudah menggoreskan luka dihatinya.


Mungkin akan lebih baik jika aku tetap disini.


"Kenapa? Bukankah bos mu orang yang baik?" Indah pernah mendengar cerita Ariani tentang perlakuan Dara yang baik padanya.


"Iya, aku tahu itu. Bu Dara orang yang baik, aku hanya ingin mencari suasana baru saja." Ariani beralasan, memang benar dirinya sudah merasa nyaman bekerja di cafe milik Dara. Tapi kenyamanan itu berubah menjadi trauma baginya, setelah menerima perlakuan jahat Bella. Perempuan yang tidak dikenalnya yang tiba-tiba merundung nya hanya karena Ariani tengah dekat dengan pria yang diincar nya.


Ariani duduk menyendiri memandang langit malam selepas Indah pulang, memandang salah satu bintang yang berkelip terang.


"Dirga, mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Aku sudah memutuskan untuk tetap di sini. Satu kata yang ingin ku ucapkan padamu, maaf. Bahkan jika kita bertemu didalam mimpi aku akan mengatakannya padamu." Ariani mengajak bicara bintang itu seakan-akan Dirga yang ia ajak bicara.


"Maafkan aku pergi tanpa pamit padamu, jangan merindukanku. Temui kebahagiaan mu bersama Bella, aku disini akan baik-baik saja."

__ADS_1


Tanpa Ariani tahu, di seberang sana ada seseorang yang sangat merindukannya.


__ADS_2