Melupakanmu

Melupakanmu
Ingin Menghindar


__ADS_3

Ariani sudah terlihat rapi akan memulai hari baru setelah kemarin ia menikmati libur kerjanya, Ariani menelepon ibunya terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.


"Halo, Bu. Bagaimana kabar ibu dan Rani? Maaf ya bu kemarin Ariani tidak ada saat ibu menelepon." Ariani meminta maaf kemarin ibunya menelepon tetapi ia tidak ada.


"Kabar ibu sehat, keadaan Rani juga semakin membaik. Ibu berterima kasih padamu karena kau sudah sangat baik memperhatikan keadaan kami. Bagaimana dengan keadaan mu di sana?" Ibu dengan suara bergetar terharu dengan kebaikan Ariani yang sudah mengirimkan uang untuk kebutuhan hidup di desa dan juga untuk membeli vitamin dan obat untuk Kirani, tenggorokan Ariani terasa sakit menahan tangis yang ia tahan.


"Aku baik-baik saja Bu, aku bahagia mendengar keadaan ibu dan Rani, jaga kesehatan ya Bu. Oya, ini nomor Ariani yang baru." Ariani bahagia mendengar orang-orang yang disayanginya dalam keadaan sehat.


"Syukurlah, kau sudah bisa membeli ponsel baru. Jadi bisa mengganti ponselmu yang sudah rusak itu." Ariani terdiam, ia berbohong kepada ibunya bahwa ia pernah di copet.


"I.. iya Bu, Ariani berangkat kerja dulu ya."Ariani terbata.


"Iya, hati-hati di sana, jaga dirimu baik-baik nak."


"Iya Bu, sudah dulu ya." Ariani menyudahi panggilan bersama ibunya. Kemudian ia mengecek ponselnya melihat riwayat panggilan di layar.


Dirga memanggil sampai 50 kali panggilan.


Ariani merasa bersalah karena meninggalkan Dirga sendiri di taman semalam,namun ia sudah terlanjur malu, ia ingin menghindari Dirga. Ariani mengecek tasnya ia menemukan gulungan uang didalam tasnya.


"Tidak mungkin, dia memakai uangnya untuk membayar ponselku?" Ariani baru sadar Dirga menyelipkan uang untuk membayar ponsel ke tasnya tanpa sepengetahuannya, Dirga yang membayar ponselnya.


"Kau membuat hutang ku semakin banyak, bagaimana aku bisa membayarnya?" Ariani tak menyangka kebaikan Dirga yang tak pernah habis untuknya. Ia kemudian berangkat bekerja mengesampingkan masalah uang tadi.


Ariani terlihat sibuk saat membereskan meja sebelum cafe dibuka, hatinya merasa tidak nyaman, entah apa yang dirasakannya.


"Padahal tadi pagi aku sudah menelepon ibu tapi mengapa hatiku merasa ada yang mengganjal?" Ariani memegang dadanya, perasaannya merasa tidak nyaman kemudian ia mengambil air minum melegakan dadanya yang terasa sesak.


"Ariani, ada apa denganmu? Apa kau sakit?" Dara yang melihat raut Ariani seperti dalam masalah.

__ADS_1


"Tidak Bu, saya baik-baik saja. Permisi." Ariani melanjutkan pekerjaannya. Cafe pun sudah dibuka dan beberapa pengunjung berdatangan dikala hari yang semakin siang untuk menyantap makan siang mengisi perut yang lapar.


Bian dan Reno datang ke cafe milik Dara, mereka juga akan makan siang di cafe itu.


"Dara..!" Reno melambaikan tangan menyapa Dara, Dara menengok kearah suara yang memanggil namanya.


"Hai, kalian datang kemari. Kalian berdua saja? Mana Dirga?" Dara menghampiri kedua temannya, merasa ada yang kurang. Dirga tidak datang bersama mereka.


"Dirga sedang sakit." Bian menjawabnya, seperti terkejut Bian dan Reno diam saat melihat Ariani datang membawakan buku menu ke meja mereka. Mereka memandang Ariani bersamaan.


"Selamat datang, silakan dipilih menunya." Reno dan Bian saling melirik melihat Ariani, mereka berbicara dengan bahasa isyarat. Dara memperhatikan gerak gerik mereka, seperti nya ada sesuatu yang terjadi.


"Aku tinggal sebentar ya. Ada yang harus aku kerjakan, selamat menikmati makan siang kalian." Dara pun pergi meninggalkan Ariani yang masih berada di meja Reno dan Bian yang memilih menu, setelah itu ia pergi meninggalkan mereka yang memperhatikan kepergiannya.


"Dia gadis yang di rumah Dirga hari itu kan?" Reno masih mengingat kejadian di rumah Dirga.


"Iya, ternyata dia bekerja disini." Bian malah mengingat leher Ariani yang merah.


"Iya, aku rasa kau benar. Dirga memberikan pekerjaannya padaku ia beralasan ada urusan penting, contohnya kemarin siang ia pergi meninggalkan toko dan tidak kembali hingga malam." Bian mengiyakan perkataan Reno.


"Entahlah, kita sebagai teman harus mendukungnya. Lagipula ayahnya menginginkan dia untuk segera menikah, biarkan dia mencari wanita untuk dijadikan pendamping hidupnya." Bian menceritakan masalah Dirga untuk cepat menikah pada Reno. Reno yang baru mengetahui hanya mengangguk tidak bicara lagi. Makanan yang mereka pesan pun datang, Ariani membawakan makanan mereka. Mata Bian dan Reno saling lirik mereka memiliki ide akan melakukan sebuah drama.


"Ehm... Ren, apa kau tahu kabar Dirga, dia sedang sakit." Bian dan Reno memulai akting mereka, Bian melirik Ariani ingin mengetahui reaksi Ariani mendengar ucapannya. Namun Ariani menanggapinya dengan ekspresi datar.


"Benarkah? Pantas saja ia tidak datang, sakit apa dia?" Reno pun mengikuti drama yang Bian buat, Ariani mulai menghentikan aktifitasnya ia melirik ke arah Bian menunggu jawaban Bian.


"Dia demam, badannya sangat panas. Aku merasa kasihan padanya, dia kan tinggal sendirian di rumahnya aku khawatir terjadi apa-apa dengannya karena tidak ada yang merawatnya." Ariani menjatuhkan sendok hingga ada bunyi dentingan. Bian dan Reno melirik ke arahnya bersamaan.


"Maafkan saya, saya akan mengambil sendok yang baru." Ariani bergegas pergi mengambil sendok yang baru, lalu dengan cepat menaruh sendok kemudian pergi meninggalkan Bian dan Reno.

__ADS_1


"Apa dia mengingat wajah kita? Sepertinya dia lupa." Reno ragu rencananya itu berhasil atau tidak karena ekspresi datar yang ditunjukkan Ariani.


"Tidak, dia masih ingat kita." Bian yakin Ariani mengingat mereka dari sikap Ariani terakhir menjatuhkan sendok dan terlihat gugup. Bian memijit dagunya berpikir, ia ingat ada buket bunga mawar putih di rumah Dirga, sepertinya ada hubungannya dengan Ariani dan masih ada kaitannya dengan sakitnya Dirga. Ia menyimpulkan hubungan Dirga dan Ariani sedang ada masalah dengan sikap Ariani yang datar seperti tidak mengenalinya tidak sama saat pertama kali melihatnya di rumah Dirga Ariani yang mau menunjukkan senyumnya walaupun samar.


Di balik pintu dapur Ariani menyandarkan tubuhnya ke tembok, ia memegang dadanya yang bergemuruh. Ia ingat dua orang pria tadi adalah teman Dirga yang datang ke rumah Dirga saat ia di sana.


"Dirga sakit ?" Ariani memikirkan keadaan Dirga yang ia dengar tadi.


"Apa ini semua karena kejadian semalam?" Ia merasa khawatir dan cemas akan keadaan Dirga, meskipun ia berniat menghindari bertemu dengannya namun hati kecilnya tak berhenti memikirkannya. Di sela lamunannya Dara memanggilnya.


"Ariani, apa kau bisa membantuku? Aku ingin mengirim makanan ini untuk temanku. Tolong kau yang antar makanan ini kerumahnya, bisa?" Dara meminta Ariani mengirimkan makanan ke rumah temannya. Ariani agak sedikit heran mengapa Dara menyuruhnya mengantar makanan, biasanya ada yang bertugas delivery.


"Tapi... " Ariani melihat suasana cafe yang masih ramai.


"Kau jangan khawatir, semuanya akan ditangani oleh yang lain. Aku sudah memesan ojek online untuk mengantarmu." Dara mengerti maksud Ariani yang melihat cafe yang masih terlihat ramai pengunjung, namun ia meyakinkan Ariani.


"Baik." Ariani menerima kantong berisi box makanan untuk ia antar, kemudian ia berlalu meninggalkan cafe mengirim makanan untuk teman Dara.


Ariani tidak memerhatikan jalan menuju rumah teman Dara, sepanjang jalan memikirkan keadaan Dirga hingga saat motor berhenti di tempat tujuan Ariani melebarkan matanya. Melihat bangunan rumah yang tidak asing, ia terkejut.


"Mas, apa benar ini alamatnya?" Ariani memastikan ke abang ojol mengenai alamat tujuan.


"iya benar, ini alamatnya." Abang ojol memastikan bahwa ia tidak salah alamat. Ariani tidak menyangka ia sampai di rumah Dirga, ternyata Dara mengirim makanan untuk Dirga.


"Apa yang harus aku lakukan, ternyata bu Dara mengirim makanan untuk Dirga. Aku harus bagaimana?" Ariani menggigit bibirnya, niat hati ingin menghindar bertemu Dirga tapi mengapa dia yang datang menemuinya?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2