
Pagi hari Dirga sudah terbangun, ia merasa tubuhnya sudah kembali sehat setelah beristirahat dan dirawat oleh suster dadakannya. Di Pagi yang cerah ini ia akan melakukan olahraga pagi di taman kota karena hari ini adalah akhir pekan dan ia sudah lama tidak berolahraga, Dirga lari pagi mengelilingi taman kemudian ia melanjutkan olahraganya dengan bermain basket di lapangan yang ada di dalam taman itu, lapangan basket masih nampak sepi hingga ia pun bermain basket sendirian di sana, mungkin Dirga datang terlalu pagi. Dirga yang memang hobi bermain basket terlihat keren saat melakukan dribble dan memasukkan bola ke dalam ring, hingga ada empat pemuda yang memperhatikannya kemudian mereka datang menghampiri nya ke lapangan dan mengganggu kesenangan Dirga yang sedang asik bermain. Salah seorang dari mereka merebut bola yang tak sengaja lepas dari tangan Dirga.
"Ternyata kau cukup hebat memainkannya." Tomi salah satu dari pemuda yang merebut bola dari Dirga, ia memutar bola di atas jarinya. Gerombolan pemuda yang datang mengganggu Dirga ternyata adalah Tomi, Ryan dan dua orang teman mereka. Dirga termangu, mengapa ia harus bertemu dengan orang-orang menyebalkan ini lagi. Ia menatap Ryan yang berada di sebelah Tomi dengan pandangan dingin, begitu juga dengan Ryan yang menanggapi pandangan Dirga dengan sorot mata tidak terbaca.
"Kembalikan bolanya" Dirga berkacak pinggang sambil mengatur nafasnya, lalu ia menjentikkan jarinya meminta bolanya dikembalikan.
"Sayangnya kita juga ingin bermain disini. Kau sudah lama bermain kan? Lebih baik kau pergi sekarang, gantian kita yang main." Tomi masih memegang bola basket itu, ia tidak mengembalikan bolanya kepada Dirga. Ia malah mengusir Dirga yang datang lebih dulu bermain di lapangan itu untuk pergi karena ia dan teman-temannya juga akan bermain basket di lapangan itu.
"Aku yang lebih dulu datang kemari, mengapa kau mengusir ku? Cepat kembalikan bolanya." Dirga tidak mau mengalah, ia sudah terlihat kesal berjalan mendekat berhadapan dengan Tomi.
"Baiklah, aku akan mengembalikan bola ini. Tetapi sebelum itu bagaimana kalau kita bertanding? Kita lihat siapa yang lebih hebat. Jika aku kalah, aku akan memberi bola ini padamu. Bagaimana?" Tomi tersenyum meremehkan, Dirga membuang nafas berusaha sabar namun memberi pandangan mengiris menanggapi Tomi yang jumawa.
"Sudahlah Tom, dia sendirian. Tidak mungkin kita bertanding melawannya empat lawan satu." Ryan menengahi ketegangan antara Tomi dan Dirga.
"Tiga lawan tiga." Tiba-tiba Reno dan Bian datang membuat semua orang di lapangan itu menengok ke arah mereka, Dirga tersenyum lega tak menyangka teman-temannya datang tepat pada waktunya.
__ADS_1
"Hoho... ternyata teman-temanmu datang ingin menyelamatkan mu, baiklah ayo kita bertanding." Mereka berdiri berhadap-hadapan, Dirga berada di tengah temannya menatap tajam Tomi.
Ingin sekali ku robek mulutmu yang sombong itu.
"Kau ini selalu tidak berubah, selalu saja membuatku jengkel setiap aku bertemu denganmu. Kali ini, akan ku bungkam mulut pedasmu itu." Dirga ingin memberi pelajaran kepada Tomi yang selalu berbuat tidak menyenangkan padanya sejak pertama bertemu dengannya di desa Ariani, selalu saja Tomi tak berhenti mengganggunya. Lalu di liriknya Ryan yang ada disebelah Tomi berhadapan dengan Reno, bagi Dirga ini adalah pembuktian siapa yang lebih hebat diantara mereka dan pantas untuk memiliki Ariani.
"Kita lihat, siapa yang lebih hebat." Ucapan Dirga yang penuh penekanan, membuat Ryan menatap tajam kearahnya saat mendengar ucapannya.
Dan pertandingan Basket tiga lawan tiga itupun dimulai dengan salah satu teman Ryan yang menjadi pengadil. Pertandingan unjuk kebolehan dan penuh gengsi itu terjadi hingga menarik perhatian beberapa orang pengunjung taman untuk menyaksikan pertandingan yang terlihat sengit. Terlihat sekali persaingan antara Dirga dan Ryan yang saling berebut bola, Dirga terlihat lebih unggul dari Ryan dalam mengolah bola karena tinggi badan Dirga yang lebih tinggi sedikit dari Ryan. Tomi yang melihat persaingan Dirga dan Ryan mencoba ingin mencelakai Dirga, ia menyikut perut Dirga saat melompat ingin memasukkan bola hingga terjatuh.
"Aku hanya ingin merebut bola, mengapa aku yang disalahkan?" Tomi berkilah, ia tidak ingin timnya kalah. Karena poin mereka kalah jauh dari Dirga dan kawan-kawan.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan." Dirga menengahi keributan yang dibuat Tomi. "Lagipula tidak ada gunanya mencari ribut dengan orang yang bermuka tembok." Dirga bergumam hingga Tomi tidak mendengar apa yang ia ucapkan. Permainan pun dilanjutkan, hingga pada akhirnya waktu pun habis dan pertandingan selesai. Hasil adu kehebatan itu dimenangkan oleh tim Dirga, Tomi merasa geram sekaligus malu karena ia yang sudah meremehkan Dirga dan kenyataannya dia yang kalah. Sedangkan Ryan mengakui kehebatan Dirga yang lebih baik darinya.
"Bagaimana? Apa kau mengakui kekalahanmu? Dengar, orang yang diam bukan berarti lemah. Jangan mentang mentang aku diam membiarkan mu, malah dengan seenaknya kau merendahkanku." Dirga melempar bola kearah Tomi dan ditangkap olehnya. Kemudian ia mendekati Ryan dan berbicara di dekat telinganya.
__ADS_1
"Dan kau, berhati-hatilah dengan orang yang dekat dengan mu selama ini, jangan lengah dengan segala kebaikannya. Mana tahu diam-diam dia akan menusukmu." Dirga memberikan peringatan kepada Ryan untuk berhati-hati dalam berteman. Sebenarnya ia tujukan kepada Tomi, namun Ryan belum mengerti maksud ucapannya.
"Kau bicara apa? Jangan asal menilai seseorang, lagipula kita hanya orang asing.Kita tak saling kenal." Ryan merasa geram dengan ucapan Dirga yang mengguruinya, mereka baru beberapa kali bertemu dan Ryan pun belum mengetahui nama Dirga siapa.Tetapi mengapa Dirga memperingati nya untuk waspada dengan orang disekitarnya.
"Oya? Kenalkan namaku Dirga. Aku pikir kau sudah tahu namaku dari Ariani." Dirga berbicara dengan gayanya yang sengak, ia mengangkat tangan ingin bersalaman dengan Ryan, namun Ryan diam tidak menanggapinya.
Apa? Ternyata dia sudah dekat dengan Ariani, semakin banyak sainganku untuk mendapatkan Ariani.
Tomi tercekat mendengar pembicaraan Dirga dan Ryan, jadi banyak kejadian yang tidak diketahui nya. Sepertinya ia sudah kalah start, kemungkinan kecil peluang dia mendekati Ariani. Dirga tersenyum miring apa yang dilakukannya tidak direspon Ryan.
"Baiklah, kalau kau tidak ingin menyebutkan namamu. Lagipula aku sudah tahu kau siapa." Dirga mengibaskan tangannya, seperti sedang menepuk-nepuk debu.
"Kau." Ryan menunjuk wajah Dirga, sebenarnya sedekat apa Dirga dengan Ariani.
"Tak perlu ku jawab. Baiklah sampai jumpa, terimakasih untuk acara pagi ini." Dirga bersama teman-temannya melenggang meninggalkan Ryan dan teman-temannya, Ryan mematung dengan segala pikirannya. Semalam baru saja ia menyatakan suka pada Ariani dan sekarang ia baru mengetahui kedekatan Dirga dengan Ariani yang sepertinya lebih dari sekedar teman. Apa mungkin Ariani akan menerima Ryan sebagai kekasih nya?
__ADS_1