
Seseorang menyendiri di dalam kamar berusaha menghindari perdebatan semakin menjadi, Dirga pergi meninggalkan Ariani demi menahan amarahnya yang hampir meledak terbawa emosi karena perdebatan mereka. Dirga duduk di ujung tempat tidur, keadaan kamar sudah terlihat berantakan hasil perbuatannya yang meluapkan emosinya dengan melempar semua yang ada di atas kasur.
"Beraninya kau membiarkanku mencari wanita lain, apa kau sudah tidak mencintaiku?" Bantal guling dan selimut semua tercecer di lantai, tidak hanya itu Dirga juga melempar tongkat bantu jalannya sampai membentur pintu. Saat itu Ariani juga terkaget sepertinya Dirga sedang meluapkan amarahnya, pikirnya.
"Asal kau tahu, kau satu-satunya." Sorot matanya yang tajam kini berubah sendu, mata Dirga berkaca-kaca dan hingga akhirnya tak terbendung air mata mengaliri pipi. Dirga menangis tanpa suara menumpahkan suasana hati yang sebenarnya, marah bercampur kecewa. Ariani adalah wanita pertama yang ia suka dan ia sayangi setelah ibunya, Dirga belum pernah jatuh cinta pada seorang gadis walaupun dia adalah pemuda tampan yang menjadi incaran wanita saat sekolah namun Dirga betah dengan kesendiriannya bersama hatinya yang dingin, sampai orang berpikir apa Dirga tidak menyukai wanita.
"Jangan tinggalkan aku." Berbanding terbalik dengan apa yang ia ucapkan pada Ariani saat itu, Dirga terlihat tegar tetapi siapa sangka sekarang ia menangis takut Ariani benar-benar akan meninggalkannya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Dirga menghapus jejak air mata di pipinya.
"Maafkan aku jika membuatmu sakit, aku memang pria kasar dan pemarah."
"Asal kau tahu aku hanya menginginkanmu, aku tidak peduli darimana kau berasal." Dirga ingat Ariani membahas perbedaan status mereka, Dirga tidak suka dengan pernyataan Ariani yang tiba-tiba menjadi rendah diri.
"Apalagi yang harus ku buktikan, bahkan nyawa pun aku pertaruhkan." Segalanya, sudah Dirga berikan. Demi menemui Ariani di desa ia harus bertaruh nyawa mengalami kecelakaan parah.
Tok tok tok... Suara pintu diketuk Ariani, Dirga melirik arah pintu memperhatikan handle pintu tidak bergerak. Rupanya Ariani tidak berani masuk ke dalam, Dirga mendengar suara Ariani yang pelan dari luar.
"Dirga, aku minta maaf. Aku sudah keterlaluan, maafkan aku." Tidak ada jawaban dari dalam. Ariani menggigit bibirnya, ia ingin menemui Dirga dan meminta maaf tapi tidak ada keberanian mengusik Dirga saat dilanda emosi.
Sepertinya Dirga masih marah.
Akhirnya Ariani mengurungkan niatnya, ia membiarkan Dirga didalam kamar untuk menenangkan diri, hingga sampai tengah malam Ariani mencoba menguping keadaan didalam sudah hening, sampai dirasa sudah aman baru ia memberanikan diri membuka pintu kamar.
Ceklek!
Ternyata tidak di kunci.
Ariani mengendap masuk ke dalam kamar yang terlihat gelap hanya cahaya lampu tidur yang menerangi ruangan itu, Ariani melihat Dirga sudah berbaring miring di atas kasur.
Astaga, berantakan sekali.
__ADS_1
Ariani memunguti bantal dan selimut yang tercecer lalu menyelimuti Dirga dengan hati-hati jangan sampai terbangun.
"Kau melewatkan makan malammu, maaf aku sudah merusak semuanya." Suara Ariani berbisik, ia menatap wajah Dirga yang sudah terlelap. Ariani memperhatikan kelopak mata Dirga terlihat sembab.
Ariani cukup lama memandangi wajah suaminya kemudian ia beranjak mengambil selimut miliknya, malam ini sepertinya ia tidur di luar saja. Ariani menuju sofa mengambil selimut miliknya tetapi dari arah tempat tidur ia mendengar suara lirih, Ariani menajamkan indera pendengarannya dan benar saja Dirga sepertinya mengigau sambil terisak. Ariani perlahan mendekati tempat tidur memastikan itu suara Dirga.
"Hiks...jangan pergi... " Ariani masih memperhatikan Dirga yang masih memejamkan mata, namun seketika ia melebarkan matanya melihat air mata menetes dari sudut mata Dirga.
Dirga menangis?
Ariani segera menghapus air mata itu.
"Dirga, bangun." Suara Ariani halus sembari mengelus lembut pipi Dirga mencoba membangunkannya tapi ada sesuatu yang ia rasa, Ariani merasakan panas di pipi Dirga.
Panas. Ariani menempelkan punggung tangannya di kening Dirga, setelah yakin Dirga demam Ariani segera mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres. Ariani duduk dibawah tempat tidur menjaga Dirga sambil mengganti air kain kompres, ia merasa khawatir sampai tak tidur.
"Maaf." Ariani menggenggam tangan Dirga, menatap Dirga yang terlelap.
Menjelang subuh Dirga terbangun, ia membuka mata merasakan ada kain basah di keningnya, matanya tertuju pada Ariani yang tertidur dengan posisi kepala miring menghadapnya, Dirga memandangi wajah Ariani yang tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka dengan suara dengkurannya yang halus. Dirga kembali melihat tangannya yang digenggam Ariani. Dirga terdiam, pandangannya menerawang memikirkan akankah kesalahpahaman ini berakhir, jika seandainya nanti Ariani tetap dengan keputusannya dan memilih pergi. Lalu bagaimana dengannya?
"Jangan pergi." Suara Dirga lirih, ibu jari Dirga mengusap usap lembut tangan Ariani, betapa rindunya ia pada Ariani yang sudah lama ia tidak membelainya. Hanya karena tidak saling terbuka menahan cemburu sendirian, Dirga mengabaikan orang yang ia sayang.
Ariani terbangun merasakan ada pergerakan dari Dirga, ia mengucek matanya dan mengusap mulutnya barangkali ada iler yang keluar.
"Dirga, kenapa bangun? Ini masih malam." Ariani melihat arah jendela menunjukkan langit yang masih gelap.
"Aku haus."
"Baik, tunggu sebentar." Ariani mengambil air lalu Dirga meminumnya, setelah itu Dirga memberikan gelasnya pada Ariani. Tidak ada suara yang keluar dari keduanya, Dirga hanya diam dengan pandangan menatap Ariani. Ariani menundukkan wajahnya berbicara dalam hati apakah ini waktunya untuk minta maaf?
Apa aku harus meminta maaf sekarang? Aku yang menyebabkan Dirga sakit.
__ADS_1
Ariani masih menimbang.
Tidak, sepertinya tidak sekarang. Ariani melihat kondisi Dirga masih terlihat lemah dan perlu istirahat, jika ia membuka kembali permasalahan Ariani khawatir Dirga akan semakin parah.
Akhirnya Ariani memutuskan pergi, namun saat Ariani hendak berdiri Dirga tiba-tiba menahannya.
"Maaf." Dirga mengatakan maaf. Sejenak Ariani terdiam, apa ia tidak salah dengar?
"Kau pasti tertekan selama hidup bersamaku, maaf atas segala sikap ku. Aku tahu itu pasti menyakitimu, aku minta maaf. Kumohon jangan pergi Ariani." Dirga berani meminta maaf lebih dulu, itu sesuatu yang tidak Ariani duga dan ia cukup bahagia Dirga mau berbicara terbuka dengannya.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu." Ariani menyambut baik permintaan maaf Dirga, terlihat sekali matanya berbinar menahan haru sekaligus bahagia.
"Aku memang kasar dan egois, tetapi itu karena aku terlalu cemburu." Dirga sedikit kesal dengan sikapnya selama ini, sebenernya ia juga lelah menahan perasaan itu sendirian.
"Maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya." Ucap Dirga tulus. Ariani menatap Dirga dengan tersenyum bangga dengan apa yang sudah Dirga lakukan.
"Dalam sebuah hubungan harus ada rasa saling percaya, sebisa mungkin aku akan terbuka tentang apapun, tidak ada yang aku tutupi. Aku harap kamu pun begitu, kita berbagi cerita baik suka dan duka." Ariani menunjukan kedewasaannya, meskipun tidak berpendidikan tinggi pikiran Ariani cukup bijak. Dirga menanggapinya dengan mengangguk lalu tersenyum. Ia kemudian bangkit duduk menyandar tempat tidur, Ariani membantunya menyelipkan bantal di punggung Dirga.
"Terimakasih sudah mau bertahan." Dirga menggenggam erat tangan Ariani, jemari mereka saling bertautan. Ariani menggeser posisi badannya mendekat dengan Dirga, mereka saling menatap.
"Apa ada lagi? Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Ariani menatap penuh arti, Dirga tersenyum tipis mengerti maksud Ariani.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Dirga membisikkan ungkapan cinta yang sudah lama tidak Ariani dengar sejak pernikahan mereka, suara Dirga yang lembut membuat Ariani merinding. Sesederhana itu, Ariani ingin mendengar ungkapan cinta yang dulu sering diucapkan Dirga.
"Aku juga mencintaimu. Dirga." Ariani bahagia, akhirnya ia dapat mendengar pengakuan cinta Dirga. Bersyukur telah melewati serangkaian masalah yang terjadi karena kecemburuan Dirga, tapi dari sini Ariani dapat belajar untuk memahami satu sama lain. Ariani memeluk Dirga, ia meletakkan kepalanya di dada Dirga.
"Aku merindukanmu." Tak dapat di pungkiri Ariani pun merindukan pelukan Dirga yang hangat.
"Ariani, sayang." Dirga mengecup pucuk kepala lalu mengelus lembut rambut Ariani, wajah Ariani bersemu merah mendengar panggilan itu. Ia menenggelamkan wajahnya hingga dapat mendengar degup jantung Dirga yang berdetak cepat.
Ternyata kau masih mencintaiku walau dengan caramu.
__ADS_1
Ariani merasa lega akhirnya masalah itu bisa terlewati dan berakhir dengan kebahagiaan, bukan berakhir dengan perpisahan yang ia bayangkan sebelumnya. Ia berharap hubungan ini akan terus semakin erat dan tak terpisahkan selamanya.