Melupakanmu

Melupakanmu
Apakah kau menyukaiku?


__ADS_3

Pagi hari di sebuah rumah yang berdekatan dengan puskesmas dua pemuda sudah terbangun dari tidurnya, mereka duduk diruang tamu dan sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Dirga sendiri sedang memantau pekerjaannya, sedangkan Tama main game.


"Oya, mobilmu kapan datang?apa sudah selesai?" tanya Tama.


"Mungkin siang ini, orang bengkel sudah mengabarinya." Dirga yang sudah selesai dengan pekerjaannya menaruh ponselnya dimeja.


"Kau sudah tidak sibuk? Ayo kita keluar, mencari udara segar". Tama mengajak Dirga berolahraga sekaligus mencari udara segar di pagi hari.


Mereka jalan pagi berolahraga sambil menikmati pemandangan indah disana, jalan kecil yang dikelilingi sawah terlihat juga bukit hijau menambah asri suasana desa itu.


''Segar nya..." Dirga menghirup udara yang bersih dan juga wangi tanaman padi yang terhampar hijau yang masih berembun, membuat tenang, damai.


Dari kejauhan terlihat seseorang dengan sepedanya hendak berpapasan kearah Dirga dan Tama yang akan melewatinya.


"Pak dokter, selamat pagi." gadis itu ternyata Ariani yang menyapa dokter Tama dengan senyum manisnya.


"Selamat pagi." jawab Tama ramah.


Ariani dan Dirga yang sama - sama melirik satu sama lain, pandangan meraka bertemu. Kemudian Ariani langsung pergi meninggalkan dua orang itu.


"kau kenal dia?"


"Adiknya salah satu pasienku, gadis itu membawa adiknya yang sakit datang untuk periksa ke puskesmas." Jawab Tama dan Dirga hanya mengangguk mengerti.


Ariani sudah sampai rumah, menaruh sepedanya kemudian ia duduk di kursi panjang teras rumahnya.


"Kenapa dia diam? Apa dia lupa? Atau memang benar dia orang yang angkuh, sombong hingga tidak tahu cara berterima kasih." Ariani memikirkan perlakuan Dirga yang diam membisu padanya.

__ADS_1


" Tadi dia bersama dokter Tama, dia siapanya?" Ariani yang seperti penasaran


"Huuhh... bukan urusanku." kemudian Ariani masuk kedalam rumah.


Ariani bersiap untuk pergi membuka warung, hari ini hari minggu jadi ia membuka warung kopinya agak pagi karena biasanya ramai dan uang yang didapat lumayan banyak dari hari biasanya.


"Nak, kemarin ibu lihat stok dagangan tinggal sedikit. Nanti kamu sekalian mampir ke toko membelinya ya." Ibunya mengingatkan Ariani untuk belanja kebutuhan jualan.


"baik bu."


Ini saatnya, dia harus mengetahuinya, aku harus bisa.


Ariani berbicara dengan hatinya untuk memantapkan dan meniru pemeran tokoh novelnya untuk menyatakan cintanya pada Ryan, ya.. karena dia akan ke toko Ryan untuk belanja keperluan dagangannya. Ariani tidak mau terus terusan tersiksa sendiri dengan perasaan nya yang sudah lama sekali ia pendam.


Ariani keluar dari kamarnya dengan penampilan yang berbeda dari biasanya, rambutnya yang biasa ia gulung asal dengan dijepit jepitan badai kini terlihat cantik dengan dikuncir kuda setengah. Hanya wajahnya saja yang tidak berbeda ia memakaikan pelembab seperti biasanya dan menambahkan Liptint tipis di bibirnya, tapi memang pada dasarnya Ariani sudah cantik natural meskipun tidak berdandan.


"Ke Warung, seperti biasanya." Ariani menjawab dengan cerianya. Ibu hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang berbeda itu, tanpa ada rasa ingin tahu dengan apa yang akan dilakukan Ariani.


Akhirnya Ariani pun berangkat ke pasar mengayuh sepedanya dengan semangat empat lima, setelah sampai depan toko grosir milik keluarga Ryan ia menormalkan Jantungnya yang berdetak kencang. Entah karena gugup atau karena dia lelah habis mengayuh sepedanya itu, entahlah.


Ariani pun mulai masuk kedalam toko dan ia melihat Ryan yang sedang melayani pembeli, lalu ia mulai memilih dan mengambil barang yang akan di belinya, setelah selesai ia ke kasir untuk membayar belanjaannya, ternyata Ryan sedang menghitung belanjaan pembeli yang lain sedangkan Ariani menunggu dibelakang untuk antri. Akhirnya sampai pada kasir dan belanjaan Ariani pun dihitung oleh Ryan.


"Semuanya jadi seratus tiga puluh ribu." ucap Ryan


"Ini." Ariani memberi uang belanjaan nya.


"Ini kembaliannya." Ucap Ryan seraya menatap wajah Ariani, di sambut dengan Ariani yang memberanikan diri membalas tatapannya.

__ADS_1


"Kak... " ucap Ariani seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Iya? " tanya Ryan.


Aku menyukaimu, apakah kau juga menyukaiku ?...


"Terimakasih." Akhirnya hanya kata itu yang dapat terucap dari mulut Ariani, Ariani menunduk malu dengan kelemahan nya kemudian ia pergi dengan menyesali dirinya yang masih belum mampu, dia hanya bisa mengatakan perasaannya didalam hati yang Ryan tidak akan pernah bisa mendengarnya.


...****************...


.


.


.


.


maaf jika ada typo..


Hai..ini karya pertamaku...


mohon berkomentar dengan bijak... 🙏


pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..


Terima kasih... 🙏

__ADS_1


__ADS_2