
Tidak ada yang dapat menyangka takdir, Ariani tak tahu apakah ini keputusan terbaik? Ia sudah terlanjur melangkah meskipun Dirga terlihat tidak suka.
Tiga hari kemudian pernikahan Dirga dan Ariani dilaksanakan, Dirga yang meminta pernikahan itu dipercepat dengan syarat pernikahan dilakukan secara sederhana. Tidak ada resepsi dan hanya dihadiri orang terdekat saja. Ariani hanya bisa pasrah dengan keinginan Dirga, sebenarnya negosiasi Dirga dan keluarganya cukup alot. Keluarga Dirga menginginkan syukuran kecil-kecilan minimal mengundang teman dan kolega terdekat akan tetapi tetap saja sia-sia, Dirga tetap dengan keputusannya dengan alasan kondisinya saat ini.
"Apa ini mimpi?" Ariani berdiri di depan cermin, ia sedang berada didalam toilet melihat pantulan wajahnya dengan balutan kebaya putih dengan riasan pengantin seadanya. Ariani terlihat sangat cantik meskipun dengan dandanan sederhana hasil riasan Maya yang dibantu Indah merias Ariani. Ariani termenung cukup lama, pikirannya tertuju pada tanggal pernikahannya hari ini. Ia ingat Elma dan Ryan juga menggelar pernikahan hari ini juga.
"Mengapa bisa bersamaan?" Ariani tak menyangka apakah takdir sedang mempermainkannya, disaat ia ingin mengajak Dirga ke acara pernikahan Ryan tetapi ternyata hari ini ia juga menikah. Ya, tepat dihari yang sama Ariani dan Ryan menikah dengan pasangan masing-masing. Namun acara pernikahan mereka dilakukan dengan cara berbeda, pernikahan Ariani dilakukan secara tertutup di rumah sakit sedangkan Ryan di selenggarakan secara megah dan meriah di desa tempat tinggalnya. Pernikahan dengan pesta meriah nan megah sebenarnya bukanlah impian Ariani, tetapi ia tidak pernah menyangka akan menikah mendadak seperti ini. Ariani tersadar dari lamunannya saat pintu diketuk.
"Ariani, Dirga sudah datang." Maya dan Indah datang menjemput Ariani.
"Cantik sekali pengantin ini." Indah memuji kecantikan Ariani, sebenarnya ia ingin mencairkan suasana karena terlihat ketegangan di wajah Ariani.
"Iya, kau cantik sekali. Dirga pasti pangling melihatmu nanti." Maya menggenggam tangan Ariani yang berkeringat dingin.
"Kau siap?" Indah menatap sahabatnya yang akan mendahuluinya menikah.
"Aku, deg-degan." Ariani memegang dadanya yang berdebar.
"Berdo'alah semoga semuanya berjalan lancar." Maya sedikit tergelak melihat wajah gugup Ariani.
"Iya." Ariani mengangguk kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskan nya.
"Ayo." Merekapun keluar, Maya dan Indah menuntun Ariani sampai ke meja penghulu.
Saat pintu dibuka pandangan Ariani langsung menemukan Dirga yang duduk di sofa dengan pakaian kemeja putih dan peci hitam terlihat sangat tampan dan gagah, ekspresi wajah Dirga berubah saat melihat keberadaan Indah tengah menggandeng Ariani, sedang apa karyawannya disini?
"Kau jangan terkejut, Indah itu teman Ariani. Dia yang tinggal bersamanya selama ini." Bian yang melihat ekspresi terkejut Dirga berbisik di telinganya.
Ariani berjalan menundukkan wajahnya, ia gugup menahan malu karena pasti semua orang tengah menatapnya.
Jangan gugup, jangan gugup...
__ADS_1
Ariani menguatkan hatinya, ia memejamkan mata sebentar kemudian ia mengangkat wajahnya lalu menarik bibirnya untuk tersenyum walau terasa kaku. Ia melihat sekeliling ruangan, beberapa orang sudah hadir. Mata Ariani berbinar memandang calon suaminya, Dirga membalas tatapannya namun Ariani tidak melihat pancaran bahagia dari wajah Dirga, ekspresi Dirga begitu datar. Jantung Ariani berdegup cepat saat duduk di samping Dirga, detakan itu semakin cepat saat Dirga mengucapkan ijab qabul. Pernikahan mereka disaksikan keluarga Tama, Bian dan Reno juga ada disana. Dari pihak keluarga Ariani ibunya dan pamannya sebagai wali juga terlihat hadir, mereka menginap di hotel ditemani Indah. Orang yang paling sibuk mengurus semuanya adalah Tama, Tama menjadi utusan keluarga Dirga menjemput ibu dan keluarga Ariani ditemani Indah dan Reno.
Saat penghulu mengatakan sah terpancar wajah bahagia semua orang yang menyaksikan, pernikahan itu berlangsung hikmad. Dirga menyematkan cincin pernikahan di jari manis Ariani kemudian mengecup pucuk kepala Ariani sesuai arahan pak penghulu. Hati Dirga berdesir saat Ariani mencium tangannya, Ariani menatapnya lalu tersenyum. Seperti tersihir oleh senyum manis Ariani, Dirga pun membalasnya dengan senyuman mahalnya sekilas.
Dirga, meskipun hubungan kita belum membaik, entah apa aku pun tak tahu sebabnya. Aku tetap akan bersamamu.
Kedua mempelai berjalan meminta restu dan keliling menyalami orang yang hadir.
"Selamat untuk kalian berdua. Ariani saya titip Dirga, kau boleh mengadu padaku jika Dirga menyakitimu." Galih menepuk pundak Ariani. Kemudian ia beralih ke anaknya.
"Sayangi istrimu." Ada rasa yang menggelitik hatinya menikahkan anaknya dengan cara seperti ini, akankah Dirga bisa mempertahankan pernikahannya? Karena usia mereka yang masih tergolong muda yang masih tinggi ego, belum lagi sifat Dirga yang keras.
"Selamat Dirga, Ariani. Semoga pernikahan kalian langgeng." Bian memberikan selamat.
"Lagi-lagi aku kehilangan satu temanku." Reno masih tak menyangka dengan pernikahan Dirga, pasti waktu untuk berkumpul akan berkurang.
"Kau ini, Dirga itu hanya menikah. Dia tidak akan kemana-mana." Bian menepuk punggung Reno.
"Ya, aku tahu. Aku harap kau bisa menyempatkan waktumu berkumpul denganku juga Bian, boleh kan?" Tidak peduli ucapannya itu didengar Ariani, Reno seperti belum siap kehilangan Dirga, menurutnya semuanya akan berbeda setelah Dirga menikah.
"Ariani, selamat ya. Semoga kamu dan tuan William bahagia selamanya." Indah memeluk Ariani, ia sedikit sedih karena ditinggal Ariani menikah ia tidak ada teman curhat lagi.
"Selamat untuk kalian berdua." Paman dan bibi yang merawat Dirga sejak kecil pun merasa terharu. Tama hanya tersenyum melihat ibunya mengusap air mata.
"Dirga, perlakukan Ariani dengan baik, jangan buat ia menangis. Asal kau tahu aku lebih dulu mengenalnya daripada kau." Tama meminta Dirga menjaga Ariani, Tama tahu Ariani gadis yang baik, penyayang bahkan rela pergi jauh merantau demi mencari uang untuk biaya pengobatan adiknya.
Tangis Ariani pecah saat meminta restu pada ibunya, satu-satunya yang ia punya setelah adiknya meninggal.
"Maafkan Ariani bu, Ariani belum bisa membahagiakan ibu." Ariani menyembunyikan wajahnya di ceruk leher bu Ani.
"Ibu akan bahagia jika melihatmu bahagia. Sudah jangan menangis, berbahagialah nak." Bu Ani memeluk erat anak satu-satunya, bu Ani menahan air matanya agar tak menetes. Ia turut sedih akan ditinggalkan Ariani, namun rasa itu tertutupi dengan rasa bahagia saat melihat Ariani menemukan pria yang dicintainya.
__ADS_1
"Tolong jaga anak ibu ya." Bu Ani berpesan pada Dirga, menatap menantunya yang baru ia temui dan baru ia kenal.
"Saya akan menjaganya." Dirga menganggukkan kepala menyanggupi pesan bu Ani.
Malam sudah menjelang, Dirga dan Ariani sudah berada di rumah Dirga, sedangkan Galih yang masih dalam pemulihan berada di rumah sakit ditemani Maya. Ariani kini berada didalam kamar lantai satu, kamar tidur Dirga selama pemulihan. Tidak ada riasan dekorasi didalamnya tidak seperti kamar pengantin lainnya yang dirias indah dengan hiasan kelambu serta bunga warna warni disudut kamar. Hanya ada kelopak bunga mawar merah berbentuk hati tertata rapi ditempat tidur, itu juga sebenarnya ide Maya yang membuatkannya. Ariani sudah berganti pakaian dengan pakaian tidurnya, ia menunggu Dirga yang masih berada diluar. Ariani duduk di ujung tempat tidur memandangi hiasan bunga mawar yang bertaburan, wajahnya bersemu merah senyum tipis terukir dari bibirnya.
Aku dan Dirga sudah sah menjadi suami istri. Apa ini mimpi?
Ceklek! pintu kamar terbuka, Dirga masuk berjalan perlahan mengangkat tongkatnya, Ariani berdiri menghampirinya berniat membantu.
"Tidak perlu." Dirga melewati Ariani, ia masuk kedalam kamar mandi. Deg, sikap dingin Dirga sontak membuat Ariani membeku.
"Apa dia masih marah?" Ariani berdiri mematung memikirkan sikap Dirga padanya.
"Dia masih bersikap seperti itu, salahku apa?" Ariani duduk lagi, merenung tenggelam dengan pikirannya.
Ariani tidak tahu apa yang sedang dilakukan Dirga di kamar mandi. Ternyata didalam Dirga sedang menetralkan hatinya, ia juga merasa gugup.
"Hufhh... Apa yang harus aku lakukan dengan keadaan seperti ini?" Dirga duduk di atas closet menatap kedua kakinya, ini adalah malam pertama mereka namun ia tidak mungkin melakukannya. Dirga menjambak rambutnya.
....
"Apa kau sudah ingin tidur?" Ariani berdiri setelah Dirga keluar, Dirga menatap tempat tidur dengan hiasan bunga mawar kemudian melirik Ariani sekilas lalu ia membaringkan tubuhnya pelan.
"Hemm... Kau tidurlah." Dirga tidur membelakangi Ariani.
"Kenapa diam?" Merasa tidak ada sahutan dari Ariani, Dirga membalikkan tubuhnya menghadap Ariani, dilihatnya Ariani masih berdiri di samping tempat tidur.
"Sepertinya aku tidur di sofa saja. Aku takut mengenai kakimu saat aku terlelap." Ariani khawatir ia akan mengenai kaki Dirga karena tidurnya jelalatan.
"Terserah." Dirga dengan mode cueknya kembali membelakangi Ariani. Ariani menatap punggung Dirga, akhirnya Ariani tidur di sofa. Ia mengambil bantal kemudian membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya.
__ADS_1
Di tempat tidur Dirga memperhatikan Ariani yang sudah tertidur.
Bersambung...