Melupakanmu

Melupakanmu
Kehidupan Di Kota


__ADS_3

Sepasang manusia yang tidak saling mengenal berada didalam satu ruangan diam dengan kebisuan masing-masing, hanya suara detik jam yang berputar terdengar diruangan itu. Ariani sendiri masih butuh istirahat, memejamkan mata menahan sakit dikepalanya yang masih terasa pusing meskipun sebenarnya ia merasa canggung dengan situasi ini. Sesekali melirik lelaki di dekatnya yang duduk seperti manekin tidak bergerak dengan wajah kakunya seperti kanebo kering. Dirga sendiri sebenarnya gugup, apa yang harus ia lakukan, tidak seperti biasanya ia merasa canggung berhadapan dengan orang lain. Mengapa didekat gadis ini lidahnya seperti kaku untuk digerakkan.


"Ehmmm... " Dirga mengeluarkan suara mencoba melemaskan otot pita suaranya.


"Siapa namamu?" pertanyaan yang akhirnya keluar dari mulutnya mengeluarkan situasi canggung mereka.


"Ariani." Ariani menengok kearah Dirga, mata mereka bertemu. Kemudian Ariani mengalihkan pandangannya ke arah depan.


"Kenapa kau bisa berada disini? Apa yang sedang kau lakukan?" Dirga bertanya menginterogasi seperti seorang polisi.


"Saya kesini ingin bertemu dengan teman saya. Saya menunggunya di halte tetapi tiba-tiba ada seorang pria datang menghampiriku." Ariani berhenti sebentar mengingat kronologi kejadian.


"Lalu?" Dirga yang tertarik dengan cerita Ariani nampak dengan wajah mode serius.


" Dia bilang padaku bahwa temanku tidak bisa datang dan dia akan mengantarku, lalu saya ikut bersamanya tanpa ada curiga sedikit pun padanya. setelah agak jauh dari halte itu tas ku dijambret olehnya dan saya berusaha mengejarnya lalu tertabrak." Ariani menceritakan kejadian itu dengan mata berkaca kaca, mengingat tasnya yang telah diambil paksa penjahat yang berisikan uang untuk kehidupannya dikota, ia sudah tidak memiliki apa - apa. Ia bingung setelah ini akan kemana, ingin kembali pulang pun tidak ada ongkos.


Dirga mengeratkan giginya merasa geram dengan kejadian yang di alami Ariani, betapa lugunya gadis desa ini hingga ia tertipu seorang penjahat yang bisa saja mengancam nyawanya.


Gadis ini polos sekali, hingga ia bisa ditipu dengan mudahnya.


"Hidup di kota itu kejam, jangan mudah percaya dengan orang yang tidak dikenal apalagi baru pertama kali bertemu. Nasib baik kau hanya dijambret, kalau kau diculik bagaimana?" Dirga membeberkan sekilas potret buram kehidupan dikota yang rawan dengan kejahatan. Ariani membulatkan matanya mendengar cerita kehidupan di kota sekejam itu, ia masih bersyukur karena ia hanya dicuri tasnya, tidak sampai diculik. Ia tidak bisa membayangkan jika nantinya ia diculik penjahat itu, bagaimana nasib keluarganya? Hanya itu yang dipikirkannya.

__ADS_1


"Saya akan lebih berhati-hati kedepannya, saya bersyukur karena saya tidak sampai diculik dan setidaknya masih ada orang baik disini yang mau menolongku." ucapan Ariani memberikan isyarat pada Dirga bahwa ia telah ditolong Dirga, berarti Dirga adalah orang yang baik. Mendengar ucapan Ariani Dirga tersipu, telinganya memerah menahan malu.


Apa dia sedang menggodaku?


Dirga merasa Ariani telah menggodanya karena telah memuji kebaikannya, padahal tidak seperti itu maksud Ariani, dia memang tulus memberikan pujiannya kepada orang yang telah menolongnya, tidak lebih.


" Ya, kau harus lebih berhati-hati lagi, jangan mudah percaya." Dirga hanya menanggapinya dengan ekspresi datar.


Krucuk...krucuk...


sebuah bunyi sepertinya berasal dari perut, Ariani yang belum makan perutnya merasa lapar dan memegang perutnya yang belum terisi sejak siang.


Hei perut mengapa kau bunyi disaat sepeti ini.


"Kau lapar?" Ariani menganggukkan kepalanya, menundukkan wajahnya karena malu.


"Tunggu sebentar." Dirga keluar dan akan membelikan makan untuk Ariani.


Sementara itu, Indah sudah sampai rumah sakit dan sedang berada di bagian informasi.


"Permisi, apa ada pasien yang baru saja datang beberapa waktu yang lalu karena kecelakaan?" Indah menanyakan keberadaan temannya.

__ADS_1


"Ya, dia berada di ruang perawatan. sebelah sana."


"Terimakasih."


Indah segera menuju ruangan yang diarahkan petugas informasi tadi, sedangkan Dirga sudah keluar dari ruangan Ariani. Indah yang berlawanan arah dengan Dirga tidak sampai bertemu dan berpapasan karena tergesa-gesa menuju ruangan perawatan hingga tidak memerhatikan siapapun. Indah membuka pintu ruangan itu, dan melihat Ariani terbaring di ranjang rumah sakit, air matanya menganak sungai.


"Ariani... " Indah berlari menghambur memeluk temannya yang sempat hilang itu.


.


.


.


maaf jika ada typo..


Hai..ini karya pertamaku...


mohon berkomentar dengan bijak... 🙏


pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..

__ADS_1


Terima kasih... 🙏


__ADS_2