
Waktu berjalan begitu cepat bagi hati yang sedang berbahagia, Ariani harus pulang karena waktu menunjukkan sudah tengah malam. Begitu sulit meminta izin pulang karena Dirga terus menahannya untuk tidak pergi dan menemaninya.
"Ini sudah malam, kau tidurlah disini."
"Sofa itu cukup besar, kau bisa tidur di sana." Dirga menunjuk sofa yang terdapat di kamar rawat inap nya.
"Tidak, aku harus pulang. Temanku pasti sedang menunggu." Ariani memikirkan Indah yang pasti sudah mengkhawatirkannya, Dirga hanya diam menerima keputusan Ariani.
Ariani pulang dengan suasana hati yang berbunga hingga ia tiba di tempat kostan pun Ariani tersenyum sendiri dan itu tak luput dari perhatian Indah.
"Kau kenapa? Sepertinya kau bahagia sekali." Teman baiknya ini merasa tak biasa melihat wajah Ariani yang nampak sumringah, lain dari biasanya.
"Tidak ada." Ariani berusaha menutupi, tetapi beberapa saat kemudian Indah melihat Ariani tersenyum lagi disusul gelak lirih dari bibirnya.
"Jangan main rahasia denganku ya, apa ada yang lucu? Cepat katakan, jangan membuatku penasaran." Indah mengelitiki pinggang Ariani membuat Ariani tertawa merasa geli. Penasaran dengan Ariani yang belum mau bercerita, Indah berhenti setelah Ariani menyerah kegelian. Baik akan kuceritakan.
"Hari ini aku bahagia karena mulai sekarang aku memiliki pacar." Ariani dengan bangga memberitahu Indah kalau dia sudah memiliki kekasih. Ada sesuatu yang berbeda dengan diri Ariani, kini ia mau terbuka bercerita mengenai kisah cintanya pada indah, sebelumnya Ariani lebih menutup rapat kisah cintanya dalam hati.
"Sungguh? Apa aku tidak salah dengar, kau baru hari ini bekerja lalu pulang-pulang kau bilang kau jadian dengan seorang pria." Indah sedikit tidak percaya dengan yang Ariani ceritakan, Ariani baru mulai bekerja di kota ini tetapi Ariani pulang dengan status sudah memiliki pacar. Ariani menganggukkan kepala.
"Memang siapa orang yang menjadi kekasihmu, jangan bilang kau baru berkenalan dengannya lalu dia langsung menyatakan cinta padamu. Aduh kau jangan sampai terjebak rayuan laki-laki zaman sekarang, mereka itu penipu." Indah mengaitkan kisah Ariani dengan cerita drama yang ia tonton, Ariani yang lugu terjebak oleh pria hidung belang. Indah tidak ingin Ariani menjadi korban lelaki penipu.
"Tidak, aku sudah lama mengenalnya, setelah sekian lama tidak bertemu kita baru bertemu lagi. Aku pernah menceritakan pria itu padamu, dia Dirga." Ariani bercerita sambil membayangkan pertemuannya dengan Dirga di rumah sakit.
"Dirga? Dirga pria yang pernah menolong mu hari itu?" Sekelebat Indah mengingat nama pria yang sama dengan bosnya.
"Iya." Ariani membenarkan.
"Oh, aku pikir kalian sudah putus komunikasi ternyata kalian dipertemukan kembali."
"Aku juga tidak menyangka kita dipertemukan kembali."
__ADS_1
"Apa dia pria baik? Tampan tidak?" Indah penasaran dengan rupa kekasih Ariani.
"Nanti kau juga akan tahu."
"Baiklah, jangan lupa kau ajak dia kemari untuk meminta restu padaku." Indah mengulurkan tangannya seperti ingin disalami, maksudnya ia menyuruh Ariani membawa Dirga mengenalkannya padanya.
Ada rasa yang menggelitik hati Indah dengan semua yang Ariani ceritakan, apakah Dirga kekasih Ariani ini adalah bosnya karena dari nama dan semua kejadian yang terjadi itu sama persis, atau ini hanya sebuah kebetulan saja? Namun Indah menampik semua perkiraannya, mungkin Dirga kekasih Ariani adalah orang lain yang memiliki nama yang sama dengan bosnya.
...
Ditempat lain Ryan yang sudah berada di kamarnya tengah berbaring ditempat tidur, Ryan yang masih tinggal bersama Tomi belum pindahan ke rumah barunya. Pikirannya membayangkan kembali pertemuannya dengan Ariani yang tidak disengaja saat di rumah sakit.
"Sekarang kau berubah ya." Ryan baru menyadari perhatian Ariani padanya sudah tidak seperti dulu. Diam-diam Ryan memperhatikannya, dulu meskipun terlihat malu malu saat berada di hadapannya Ariani masih bisa memberikan senyuman terbaiknya pada Ryan, tapi sekarang Ryan melihat Ariani berubah dingin dan menghindarinya.
"Maafkan aku Ariani, aku tahu kau pasti menderita setelah apa yang sudah Tomi lakukan padamu. Seandainya aku tahu sedari awal mungkin tidak akan seperti ini, ini karena kau tidak bisa terbuka padaku." Ryan menyesalkan sikap Ariani yang cenderung menutup diri. Seandainya, sebuah kata penyesalan Ryan yang tidak bisa mengembalikan Ariani seperti dulu.
...
Selamat pagi, apa kamu sudah bangun? Itu pesan dari Dirga.
"Dirga sudah bangun, apa dia memang biasa bangun sepagi ini." Ariani merasa terkesan dengan Dirga yang sudah bangun tidur.
Aku sudah bangun, sekarang lagi bikin sarapan.
Ariani menaruh ponsel lalu lanjut memasak, tetapi baru ditinggal sebentar Dirga meneleponnya.
"Aku kan sudah bilang kalau sedang memasak, kenapa dia menelpon?" Ariani menggerutu karena pekerjaannya belum selesai Dirga malah menelponnya.
"Halo... " Ariani terpaksa menjawab telepon, terdengar suara lelaki diseberang.
"Aku hanya ingin bilang hari ini aku pulang, kau tidak lupa kan?" Dirga mengingatkan Ariani kalau dirinya hari pulang ke rumah, ia tersenyum sembari menggeleng kepala ternyata Dirga meneleponnya hanya ingin mengingatkannya.
__ADS_1
"Iya, aku ingat. Aku akan menemui mu nanti."
"Kau ingin datang?" Dirga seperti berharap Ariani menemaninya berkemas.
"Aku harus bekerja, aku akan datang malam nanti. Tidak apa-apa kan?" Dirga diam, Ariani tidak mendengar suara diseberang.
"Halo? Dirga, apa kamu marah?" Ariani menyangka Dirga marah karena ia lebih mementingkan pekerjaannya daripada kekasihnya.
"Tidak, ya sudah kalau begitu aku tutup ya. Aku merindukanmu." Eh, ternyata Dirga tidak marah, Ariani merasa lega. Tetapi Dirga diam lagi seperti sedang menunggu Ariani membalas perkataannya.
"Kok diam?" Dirga masih menunggu, Ariani baru mengerti maksud Dirga.
Idih... apakah harus seperti ini.
Ariani merasa malu sendiri dengan yang ingin ia katakan, ia melirik kearah tempat tidur memastikan Indah masih terlelap.
"Aku juga merindukanmu." Setelah melihat situasi yang dirasa aman Ariani membalas ucapan Dirga, ia merasa lucu dengan tingkah Dirga, meskipun ia tahu Dirga pemuda yang mudah marah bahkan ia pun sering menjadi korbannya tetapi ternyata Dirga bisa bersikap lembut.
Ariani merasakan harinya indah karena ada Dirga yang melengkapinya. Ia sedang menunggu bis menuju tempat kerjanya di halte, Ariani dibuat terkejut melihat siapa yang tiba-tiba datang di halte yang sama dengannya. Elma dan dua orang temannya berangkat kuliah dengan menggunakan bis, Elma terlihat sinis menatap Ariani saat tahu keberadaan Ariani, ia bersikap cuek seperti tidak mengenalinya.
Sebenci itukah kau padaku.
Ariani berusaha menetralkan luka hatinya yang terbuka kembali mengingat perlakuan Elma padanya. Ariani berusaha tidak peduli dengan kehadiran Elma, mereka tidak bertegur sapa. Elma duduk di bangku panjang halte di samping Ariani di pisahkan dengan salah satu teman Elma yang duduk diantara mereka. Ariani mengalihkan pandangannya melihat suasana jalanan yang ramai sedangkan Elma mengobrol dengan temannya, entah apa yang mereka bicarakan, Ariani tidak tahu apa yang sedang dibicarakan orang kuliahan. Sesekali Ariani melirik memperhatikan interaksi Elma dan teman-temannya yang terlihat akrab, ia melihat cara mereka mengobrol dan tertawa, penampilan pun tidak luput dari mata Ariani, outfit yang mereka pakai jauh berbeda dengan dirinya yang sangat sederhana.
"Itu bisnya datang, ayo." Elma dan kedua temannya bangkit saat bis mereka sudah tiba, namun resleting tas milik salah satu temannya terbuka hingga membuat dompetnya jatuh tepat di samping Ariani. Dengan polosnya Ariani mengambil dompet berniat mengembalikannya. Akan tetapi seseorang yang baru datang melihat Ariani memegang dompet lalu menyangka Ariani sengaja mencurinya.
"Hei! kau pencuri ya!" Lelaki paruh baya itu memergoki Ariani seperti seorang pencuri, sontak Elma dan dua temannya menengok kearahnya. Ariani pun kaget saat semua mata tertuju padanya.
"Ini milik saya." Teman Elma menghampiri lalu mengambil paksa dompet ditangan Ariani, ia memastikan dompet itu memang miliknya.
"Wanita ini yang mengambilnya." Pria itu menunjuk Ariani, menuduh hal yang tidak pernah Ariani lakukan bahkan terpikirkan di otaknya pun tidak.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mencurinya." Ariani merasa terpojok, ia berdiri ditengah kerumunan orang yang menuduhnya pencopet. Semua orang memandangnya dengan tatapan mengintimidasi, tak satupun yang ingin menolongnya. Kemudian Ariani menatap Elma dengan sorot mata memohon tolong, namun Elma tak bergeming, ia hanya diam seolah tak mengenalnya.