Melupakanmu

Melupakanmu
Ariani Pulang


__ADS_3

Dirga dan Ariani sedang berada didalam mobil, Dirga mengantarkan Ariani pulang, tidak banyak pembicaraan didalam mobil. Ariani merasa bersalah dengan perbuatannya karena dia mabuk dan sudah menyusahkan Dirga. Ariani melihat penampilannya dengan pakaian pemberian Dirga yang ia kenakan sekarang, terlihat bagus sepertinya harganya mahal.


"Maafkan aku, sudah menyusahkan mu." Ariani menunduk sebelum turun saat mobil terparkir di pinggir jalan. Ia malu dengan apa yang telah terjadi karena perbuatannya. Meskipun ia belum ingat apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Hemm... Jaga dirimu baik - baik." Dirga hanya menjawab dengan kalimat singkat, Ariani tidak mengerti dengan semua perlakuan Dirga, mengapa ia begitu peduli padanya. Ariani ingin sekali menanyakan nya namun ia enggan, ia tidak mau terlalu percaya diri.


"Terimakasih Tuan sudah menolong saya, aku tidak tahu harus dengan cara apa membalas kebaikan anda." Memang, Dirga yang selalu ada disaat Ariani mendapatkan kesulitan ataupun masalah, ia selalu ada dan menolongnya bak malaikat.


"Bisakah kau berhenti memanggilku Tuan, aku bukan majikan mu." Dirga tidak nyaman dengan panggilannya, Ariani tidak tahu dengan sebutan apa ia memanggil Dirga.


"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Ariani menunduk, mengetuk ngetuk jari telunjuknya.


"Terserah." Dirga menjawab dengan cuek, membuat Ariani merasa geram.


sebenarnya ia ingin aku panggil apa sih?


"Pak? " Ariani mencoba memanggil layaknya ke atasannya.


"Aku tidak setua itu." Ariani mengigit bibir bawahnya.


mau mu apa??


"Kakak?" Ariani mencoba memanggil Dirga dengan panggilan nya kepada pria yang lebih tua darinya, seperti panggilannya untuk Ryan dan juga Tomi. Dirga melirik Ariani dengan mata elang nya, hatinya merasa panas mendengar Ariani memanggil nya kakak.


Cih...kau ingin memanggil ku dengan panggilan yang sama dengan lelaki yang kau sukai? Mendengarnya saja telingaku merasa panas.


"Aku bukan kakakmu, aku tidak suka dengan panggilan itu." Dirga menolak dengan panggilan yang sama dengan orang yang Ariani sukai. Ariani sudah tidak bisa menahan kesabaran nya, ia tidak mengerti apa maunya.


"Lalu apa mau mu? Semua panggilan yang aku sebutkan kau tidak menyukainya. Dirga, apa mau mu?" Ariani mengungkapkan kekesalannya, Akhirnya ia memanggil Dirga dengan namanya saja. Dirga menatap Ariani yang terlihat kesal dengan tingkahnya, Ariani memberanikan diri menatap balik Dirga meski sebenarnya ia sedikit takut menatapnya. Apa mungkin efek mabuk masih tersisa sehingga ia bisa mengungkapkan kekesalannya? Pandangan mereka mengunci.


"Ya, panggil dengan namaku saja. Itu lebih baik." Dirga melengos, ia tidak sanggup menatap mata itu ia menjadi teringat kejadian di rumahnya. Melihat bibir Ariani ia seperti merasa terdorong ingin menciumnya lagi, merasai bibirnya yang manis.

__ADS_1


"Kau, cepatlah turun. Hari sudah malam." Dirga merasa gugup sendiri mengendalikan perasaannya. Ariani pun hendak membuka pintu.


"Tunggu, ada sesuatu di lehermu, lehermu merah." Ariani meraba lehernya, ia sudah tahu ada tanda merah di lehernya ketika bercermin. Tapi Ariani yang memang polos dan tidak memiliki pengalaman percintaan tidak tahu bahwa itu adalah bekas kecupan.


"Iya, aku juga tidak tahu mengapa leherku bisa merah." Ariani yang sudah hilang rasa kesalnya berbicara nyaman dengan Dirga seperti dengan temannya.


"Mungkin itu efek dari alkohol yang kau minum, sehingga membuat lehermu memerah." Dirga mengelabui Ariani yang lugu untuk menutupi perbuatannya, pembohong.


"Benarkah?" Dirga menganggukkan kepalanya, Ariani terdiam, merasa malu jika nanti Indah menanyakan padanya dan tahu bahwa ia mabuk. itu akan membuatnya kecewa. Ariani pun keluar dan berjalan menjauh sebelumnya ia melambaikan tangannya pada Dirga.


"polos sekali, tapi ada baiknya ia tidak ingat kejadian itu. Hemm...." Dirga tersenyum mengingat kepolosan Ariani yang dengan mudahnya ia dibohongi Dirga.


Indah berada didalam kontrakan sudah berapa putaran ia mondar mandir menunggu kedatangan Ariani, ia merasa khawatir karena Ariani tidak pulang.


"Ariani kau dimana? apa kau baik - baik saja? Aku khawatir padamu." Indah takut akan terjadi sesuatu dengan sahabat nya. Pintu kontrakan ada yang mengetuk mengejutkan Indah, Indah langsung membuka pintu dan ia melebarkan matanya melihat Ariani yang akhirnya pulang.


"Ariani kau kemana saja? kenapa kau tidak pulang. Aku khawatir padamu." Indah memeluk erat Ariani sampai Ariani merasa sesak kesulitan bernafas.


"Aku baik - baik saja, maafkan aku sudah membuat mu khawatir." Indah pun melepas pelukannya, ia merasa lega karena tidak terjadi hal buruk yang menimpa sahabat nya. Indah melihat penampilan Ariani yang memakai pakaian baru.


"Aku pingsan saat ingin pulang, Aku ditolong oleh pria yang menolongku saat di rumah sakit. Saat itu hujan deras, ia ingin mengantarku pulang tapi tidak tahu tempat tinggal ku lalu akhirnya ia membawa ku kerumahnya karena aku tak kunjung sadar dari pingsan. Dan pakaian ini, dia yang memberikannya." Indah merasa janggal dengan cerita itu, ia mengecek seluruh badan Ariani, ia merasa curiga akan terjadi sesuatu pada Ariani, karena ini kehidupan kota, kejahatan terjadi dimana saja.


"Saat kau berada di rumah lelaki itu, apa ada orang lain di sana?" Ariani menggelengkan kepalanya membuat Indah melihat tanda merah di lehernya.


"ada apa dengan lehermu?" Indah menunjuk tanda merah di leher Ariani, ia tahu itu seperti bekas kecupan. Ia merasa lelaki itu sudah berbuat tidak baik pada Ariani.


k**urang ajar, beraninya dia mengambil kesempatan menciumnya saat Ariani pingsan.


Ariani menutupi lehernya dengan tangan, ia malu dengan Indah karena ia mabuk di rumah Dirga.


"Ini.... leherku gatal jadi aku menggaruknya hingga merah. Hee... " Ariani nyengir tertawa dipaksakan, ia telah percaya dengan ucapan Dirga. Indah memandang Ariani dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Jujur saja padaku, jangan berbohong padaku." Tangan Indah memegang kedua pundak Ariani, Ariani tidak bisa menyembunyikan kebohongan nya.


"Maafkan aku, aku mabuk di rumah lelaki itu, aku tidak tahu kalau aku sudah meminum minuman beralkohol.Jadi leherku merah karena aku alergi sepertinya." Ariani menunduk, akhirnya ia berkata jujur pada Indah. Ia memang tidak pandai berbohong. Indah membulatkan matanya.


Apa? jadi benar lelaki itu telah mengambil kesempatan mengecup Ariani saat mabuk. Awas kau!


"Kau yakin tidak terjadi apa-apa padamu? Apa bagian bawah perutmu sakit?" Indah sampai berpikiran terlalu jauh membayangkan apa yang terjadi pada Ariani.


"Tidak." Ariani menggelengkan kepalanya, ia terlalu polos tidak mengerti maksud ucapan Indah.


"Kalau boleh tahu, siapa nama lelaki itu, malaikat penolong mu?" Indah merasa penasaran dengan lelaki yang disebut malaikat oleh sahabat nya itu.


"Dirga, namanya Dirga." Dengan tersenyum Ariani menyebut nama Dirga, ia mengingat semua kejadian bersamanya. Indah merasa terkejut dengan nama itu, merasa tidak asing mendengar nama itu.


Dirga?


Indah menerka apakah pria yang menolong Ariani adalah William Dirga, bos nya. Atau orang lain yang memiliki nama yang sama dengannya. Indah menepis anggapan nya, mungkin saja pria lain yang menolong Ariani, bukan bosnya.


...****************...


.


.


.


maaf jika ada typo..


Hai..ini karya pertamaku...


mohon berkomentar dengan bijak... 🙏

__ADS_1


pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..


Terima kasih... 🙏


__ADS_2