
Tok...tok...tok...
Suara pintu yang diketuk, Indah yang berada didalam segera menuju ruang depan untuk membuka pintu. Ia tahu siapa yang mengetuk pintu, itu pasti Ariani yang sudah sampai. Dibukanya pintu kontrakan olehnya hingga setelah itu Indah melihat seseorang yang berdiri di hadapannya, wajah yang terdapat luka lebam dan ada beberapa plester yang menempel di wajah cantik sahabatnya itu.
"Maaf ya, aku pulang terlambat." Ariani dengan suaranya yang pelan memecah kesunyian. Indah tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, sedangkan Ariani berusaha menutupi kegalauan hatinya dengan menarik bibirnya untuk tetap tersenyum.
"Ariani, ada apa dengan wajahmu?" Dengan mata terbelalak serta mulut menganga Indah menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apa yang sudah terjadi dengan Ariani? Yang ia tahu hari ini Ariani akan memberikan jawaban kepada pria yang ia ceritakan malam hari itu, tetapi mengapa Ariani pulang dengan wajah babak belur seperti ini.
Ariani langsung menghamburkan tubuhnya memeluk Indah, ingin membagi kesedihannya dengan sahabatnya itu.
"Indah, apa aku wanita yang jahat? Apa aku bukan wanita baik?" Seperti sedang tertekan Ariani terus mengulang ucapannya, Indah menangkap ada sesuatu yang terjadi pada Ariani setelah melihat tangan Ariani yang gemetaran, ia segera menggenggam tangan itu.
"Ariani kau bicara apa? Tenangkan dirimu, ayo kita masuk dulu. " Indah menuntun Ariani masuk kedalam.
"Apa yang terjadi dengan mu hari ini? Ceritakan padaku, jangan malu Ariani." Indah dan Ariani duduk di atas kasur, mereka berada diruang tengah yang dijadikan kamar. Indah mengusap punggung Ariani mencoba menenangkannya, pandangan Ariani menerawang ke atas memutar kembali ingatannya tentang kejadian yang menimpanya. Seketika ia menunduk lalu menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku tak pernah menyangka akan mengalami hari yang buruk seperti ini." Ariani mencoba tegar, sebenarnya ia malu harus menceritakan kejadian yang dialaminya, Indah masih diam menyimak memberikan Ariani waktu.
"Aku sudah memberikan jawaban padanya, aku memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengannya." Ariani bercerita mengenai keputusan nya, ia menolak pria yang sudah memiliki kekasih yang telah menyatakan perasaan padanya, yang tidak lain adalah Ryan.
"Jadi kau menolak pria yang kau sukai? Kau yakin dengan keputusanmu?" Indah memastikan apa yang ia dengar. Dangan pasti Ariani menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak ingin membuat keributan. Jika aku bersamanya, sudah pasti aku telah menyakiti hati seseorang dan aku tidak ingin menambah banyak masalah. Kehidupanku sudah cukup rumit. Apa menurutmu tindakanku ini benar? Aku sudah benar kan? " Ariani sedikit mendesak ingin tahu tanggapan Indah mengenai keputusannya, Indah melihat sorot mata Ariani yang berbinar memancarkan keputusasaan.
"I..iya, yang kau lakukan sudah benar Ariani, keputusanmu sudah benar. Tapi mengapa wajahmu bisa seperti ini?" Indah yang sedari tadi ingin menanyakan hal ini cukup gusar melihat apa yang Ariani alami.
"Ini..." Ucapan Ariani tertahan, ia menunjuk wajahnya. "Hadiah dari kekasihnya, untukku." Ariani tersenyum getir, mengingat perbuatan Elma yang tiba-tiba datang dan berlaku kasar padanya.
"Apa? Jadi kekasihnya datang dan dia... " Suara Indah tertahan, tak bisa terbayangkan olehnya sampai ia tidak mampu berkata-kata.
__ADS_1
"Iya, semua yang kau pikirkan semuanya benar terjadi." Ucapan Ariani membuat Indah geram, ia mengeratkan giginya, tak terima sahabatnya mendapat perlakuan seperti ini.
"Beraninya dia memperlakukanmu seperti ini, apa dia bukan manusia? tidak punya hati. Mengapa kau diam saja, apa tidak ada yang membelamu? Jika aku bertemu dengannya nanti akan ku balas dia." Indah memang cukup banyak bicara bila ia sedang marah, sampai-sampai ingin memberi pembalasan kepada orang yang menyakiti temannya. Ariani sendiri ragu apakah ia harus jujur kalau orang yang sedang ia bicarakan adalah Elma, teman mereka.
Apa aku harus jujur pada Indah kalau Elma yang melakukan semua ini? tidak, aku tidak ingin hubungan pertemanan ini hancur karena ku.
Akhirnya Ariani menutup mulut untuk tidak memberi tahu Indah yang sebenarnya, ia takut hubungan Indah dan Elma rusak karena dirinya.
"Aku sudah melakukannya dan aku sudah cukup bersabar memberi penjelasan padanya, tapi sepertinya telinga dan mata hatinya tertutup, sampai dia terus memojokkan ku seperti wanita tidak berguna." Ariani menyesalkan perbuatan Elma yang menjatuhkan harga dirinya.
"Lalu pria itu, apa yang dilakukannya?" Mendapatkan pertanyaan itu Ariani seketika membeku, mengingat sikap Ryan yang tidak tegas dan membuatnya kecewa.
"Aku tidak berharap padanya. Sudahlah, kau tidak perlu menghawatirkan ku, aku baik-baik saja kok. Semoga kejadian ini tidak terulang kembali, dan dengan kejadian ini membuatku lebih mawas diri kedepannya." Ariani berusaha memadamkan Indah yang sudah tersulut emosi, ia tidak ingin masalah ini menjadi panjang. Ia belajar menerima apa yang terjadi hari ini.
"Ini adalah akhir perjalananku mengharapkan cintamu, meskipun tak seindah cerita novel yang aku baca, ku relakan kau bahagia dengan yang lain." Ariani menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. perasaan yang dulu begitu indah yang ia rasakan sendiri kini akan ia hapus dari hatinya. Kecewa, sakit hati merasa dipermainkan membuat rasa suka seketika menjadi benci.
Ariani merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia melirik Indah disebelahnya yang sudah terlelap. Waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Hari ini benar-benar hari yang berat. Ariani memiringkan tubuhnya menghadap kanan, ia berusaha memejamkan matanya, mencoba menghilangkan beban pikirannya. Ia berharap akan bermimpi indah mengobati luka yang ia dapat hari ini. Namun terlintas didalam pikirannya menggaungkan nama Dirga, ia merasa berdebar jika mengingat lelaki itu. Kini ia merindukannya, lelaki yang sudah ia sakiti.
Dirga, kau dimana?
Kapan kau akan kembali?
M**aafkan aku telah mengecewakan mu...
Setetes kristal bening menetes di ujung matanya, Ariani terlarut dalam lamunannya sampai ia terlelap.
Dan pagi hari menyapa, tidak terasa malam begitu cepat berlalu. Indah yang masih terlelap dikejutkan dengan bunyi ponselnya yang terus berdering.
__ADS_1
"Hoamm... siapa yang menelepon pagi-pagi begini? ini kan masih gelap." Dengan malas Indah mengambil ponselnya.
"Halo... Bu? Ada apa? tumben pagi-pagi sudah telfon." Ternyata ibunya yang di desa menghubunginya.
"Indah, apa Ariani bersamamu?" Suara Ibu Indah yang terdengar gusar.
"Iya, Ariani masih tidur Bu. Ada apa Bu?" Indah berada diruang depan menerima panggilan.
"Maafkan Ibu nak, tolong sampaikan pada Ariani........" Ibu Indah memberikan sebuah kabar yang mengejutkan di pagi buta.
"Apa? Tidak mungkin Bu, hikss... hikss..." Jantung Indah serasa ingin copot mendengar kabar yang disampaikan ibunya, ia langsung membangunkan Ariani yang masih tidur.
"Ariani, Ariani, bangun... Cepat bangun." Indah menepuk-nepuk kaki Ariani.
"Ada apa Indah?" Ariani mengerjapkan kelopak matanya, masih sangat mengantuk.
"Ariani mana ponselmu?" Indah menanyakan ponsel milik Ariani.
"Ponselku, hilang. Sepertinya aku tidak sengaja menjatuhkannya." Bohong Ariani, sebenarnya ia mengembalikan ponsel itu kepada Dirga yang telah membelikannya.
"Kapan terakhir kau memberi kabar pada Ibu dan Kirani?" Indah menginterogasi Ariani yang baru bangun tidur, pikirannya belum kumpul.
"Kemarin siang, Kirani sedang sakit dan aku belum memberi kabar lagi semalam." Jawab Ariani polos, belum mengetahui apa yang telah terjadi.
"Ini sebenarnya ada apa?" Ariani melihat Indah terisak, menangis. Indah tidak tahu harus mulai dari mana memberi tahu kabar itu.
"Ariani, ku mohon kamu yang tabah ya, hiks... Kirani baru saja pergi." Dengan suara bergetar Indah menyampaikan berita duka kepada Ariani.
"Pergi? Kemana? Bicara yang jelas, aku tidak mengerti maksudmu." Ariani masih belum mengerti maksud perkataan Indah.
__ADS_1
"Adikmu, Kirani meninggal, ia sudah pergi Ariani."
"Apa?! Kirani, tidak..! tidak mungkin..! Kirani... Hikss... Hikss..." Tangis Ariani pecah, mendengar kabar duka, adik tercinta telah menghadap sang Pencipta. Indah memeluk erat Ariani yang menangis meraung, ia pun tidak dapat menahan kesedihan nya dan akhirnya mereka berdua menangis bersama di kontrakan itu. :'(