
Tanpa mereka sadari sedari tadi Ariani berdiri di belakang, sejenak Dirga dan Tama saling pandang sama-sama terkejut melihat kehadiran Ariani, dalam hati bertanya-tanya apa Ariani mendengar pembicaraan mereka?
"Sejak kapan kau disini?" Dirga memastikan apa Ariani baru datang, ia menutupi keterkejutannya. Ariani tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum kemudian duduk di sebelah Dirga.
"Baru saja, sepertinya kalian sedang mengobrol serius. Apa aku mengganggu?" Ariani menjawab seolah tidak mengetahui apa-apa, padahal didalam hatinya ia menahan rasa sakit. Sebenarnya Ariani mendengar pembicaraan Dirga dan Tama, sepertinya ia mendengar semuanya.
"Tidak, kita hanya mengobrol santai." Tama membetulkan kacamatanya lalu tersenyum.
"Ariani, bagaimana kabarmu? Apa semalam kau tidur nyenyak? Dirga tidak mengganggumu kan?" Tama mengalihkan pembicaraan, berupaya mencairkan suasana. Dirga menyikut Tama, mengerti dengan maksud pertanyaan Tama. Ariani hanya menyaksikan tingkah kedua pria di depannya dengan heran.
"Aku hanya bertanya apa Ariani semalam tidur dengan nyenyak. Iya kan Ariani?" Tama mengedipkan mata pada Ariani, ia tak tahu tingkah genitnya membuat Ariani keget tak percaya.
Astaga.
"Semalam kami tidur nyenyak, iyakan Dirga?" Ariani menoleh kearah Dirga dengan wajah polosnya. Tama melihat perubahan pipi Dirga yang bersemu, ia tersenyum tipis.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku kira Dirga membuatmu susah." Tama kembali menggoda pengantin baru itu.
"Maksudmu apa?" Dirga mulai terusik dengan kejahilan Tama.
"Seluruh dunia tahu bagaimana sifat mu."
Mereka ini kenapa sih? Ariani menatap kedua pria itu bergantian, seperti Tom and Jerry yang tidak pernah akur ada saja yang jadi bahan perdebatan. Tak ingin melihat situasi semakin memanas, Ariani mencoba melerai perdebatan itu.
"Dirga tidak seburuk apa yang dipikirkan." Ariani membuat kedua pria itu diam. Tama terperangah tak percaya Ariani membela Dirga, ia tahu Dirga sangat sulit dihentikan. Saat dirawat di rumah sakit banyak yang melaporkan bagaimana galaknya Dirga terhadap suster yang merawatnya.
"Wah... Sepertinya kau memang menerima Dirga apa adanya." Tama mengacungkan ibu jarinya, Ariani menanggapinya dengan senyum tipis. Berbeda dengan Dirga, ia hanya diam dengan segala isi hatinya.
....
Tiba waktunya Bu Ani untuk pergi, waktu yang terasa singkat dan serasa seperti mimpi. Ia bahagia mendengar berita ada lelaki yang ingin menikahi putrinya, tapi tidak menyangka juga pernikahannya dilakukan secara mendadak. Indah sudah duduk di kursi depan mobil bersama Tama yang akan mengantar keluarga Ariani kembali ke desa.
"Ibu pamit ya. Rawat suamimu dengan baik." Bu Ani menangkup pipi Ariani. Ia memandang wajah putrinya cukup lama, karena tidak tahu kapan akan bisa bertemu putrinya kembali.
"Baik bu, ibu juga jaga kesehatan. Maafkan Ariani belum bisa membahagiakan ibu." Ariani memeluk ibunya, ia menangis karena selama ini belum bisa membahagiakan keluarganya. Bukan hanya itu alasan Ariani menangis, sebenarnya ia ingin mengadu. Tapi ia tidak mungkin menceritakannya, lebih baik ia pendam sendiri.
"Ibu sangat bangga memilikimu. Kirani juga pasti bangga padamu nak. Terimakasih sudah mau berjuang demi ibu dan adikmu." Mereka berpelukan sangat erat, Ariani terisak tak tahan menahan sakit di tenggorokannya mengingat kehidupannya yang begitu berat. Ariani berhenti menangis saat bu Ani mengusap lembut punggungnya, sangat menenangkan.
Apa begitu berat kehidupan yang dulu kau jalani? Dirga melihat pemandangan itu dengan penuh arti, hatinya berdesir saat melihat Ariani menangis.
__ADS_1
"Nak Dirga, ibu pamit pulang ya. Semoga lekas sembuh. Datanglah ke desa, main ke rumah ibu."
"Pasti, saat kondisi ku membaik aku akan berkunjung ke desa. Hati-hati bu." Dirga mencium tangan ibu mertuanya disaksikan Ariani, ia tak menyangka Dirga bersikap sopan pada ibunya.
Dihadapan ibu kau bisa begitu baik.
Ariani mengantar keluarganya sampai ke luar hotel, ia melambaikan tangan saat mobil mulai menjauh, bibirnya tersenyum manis namun hatinya memendam rasa pahit.
Tidak apa-apa, jika kau masih belum menerimaku. Aku akan berusaha semampuku untuk merawatmu, setelah itu aku akan terima semua keputusanmu.
Ariani akan menepati janjinya, janji terhadap cintanya pada Dirga dan janjinya pada Galih yang mempercayakannya merawat Dirga. Disini ia akan berjuang memulai lembaran kehidupan yang baru bersama Dirga. Ariani melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Dirga kemudian pergi masuk kedalam mobil. Dirga hanya diam membiarkan Ariani pergi, padahal tadi Ariani yang lebih dulu menggandeng tangannya.
Di perjalanan Ariani menjadi lebih pendiam, bayang-bayang suara Dirga masih terngiang di telinganya.
Mengapa dia jadi lebih pendiam? Apa dia mendengar pembicaraan ku? Diam-diam Dirga menerka-nerka perubahan sikap Ariani.
Mereka tidak pulang, Dirga dan Ariani ke rumah sakit lebih dulu untuk melihat keadaan Galih, di sana mereka memperlihatkan keharmonisan sebagai pengantin baru. Ariani memasang raut bahagia menggandeng Dirga begitu lengket sedangkan Dirga hanya mengikuti alur cerita yang Ariani tunjukkan. Kemesraan mereka tidak luput dari perhatian Galih dan Maya, mereka nampak bahagia melihat pemandangan itu. Ada rasa lega dalam hati Galih, kini kondisinya terlihat semakin sehat.
...
Malam harinya Dirga dan Ariani baru sampai di rumah setelah seharian menghabiskan waktu diluar, selepas dari rumah sakit mereka ke tempat kerja Dirga karena ada sesuatu yang harus Dirga urus. Ariani membuka pintu dan masuk tidak lupa membantu menuntun Dirga meskipun ia masih menyimpan kesal padanya. Saat mereka berada di ruang tengah Dirga melepaskan tangannya sampai membuat tubuh Ariani mundur.
"Maksudmu?" Ariani mengerutkan keningnya, ia melihat aura Dirga menakutkan seperti kamar mayat.
"Demi apa kau menunjukkan wajah bahagia di hadapan mereka?" Ucap Dirga dengan tatapan sinis.
"Memangnya apa masalahmu? Aku hanya ingin menunjukkan apa yang aku rasakan dan jika kau tanya untuk siapa? Anggap saja aku lakukan ini demi ibuku, keluargamu terutama ayahmu. Aku ingin menunjukkan kalau aku bahagia dengan pernikahan ini." Tidak ada yang Ariani tutupi, awalnya ia sempat ragu dengan keputusannya namun setelah melihat keluarga Dirga menerimanya dengan terbuka ia yakin dengan pilihannya.
"Sungguh? Jadi kau bahagia menikah denganku?" Dirga menyeringai.
Mengapa dia bertanya seperti itu?
"Apa kau tidak bahagia dengan pernikahan ini?" Ariani balik bertanya tentang perasaan Dirga, dada Ariani mulai bergemuruh. Akan tetapi Dirga tidak menjawab.
"Apa salahku?" Dengan nafas yang sudah terasa sesak Ariani mendekati Dirga ingin tahu masalah apa yang Dirga sembunyikan.
"Apa ada kesalahan yang aku perbuat hingga membuatmu berubah. Katakan Dirga." Air mata yang mengambang di bola mata Ariani perlahan menetes di pipi. Dirga melengos mengalihkan pandangannya, ia masih diam seribu bahasa.
"Aku minta maaf, dulu aku menunda-nunda waktu untuk menikah denganmu." Ariani memberanikan diri meraih tangan Dirga, namun Dirga sepertinya masih kesal terus melerai tangan Ariani lagi.
__ADS_1
"Hentikan, aku malas mengungkit masalah itu." Dirga berlalu pergi meninggalkan Ariani yang masih menanti penjelasan.
"Hiks... sampai kapan kau terus seperti ini." Ariani duduk di sofa, ia tidak berani masuk ke dalam kamar karena suasana hati Dirga masih panas.
...
Apa yang Ariani lakukan selalu salah di mata Dirga, namun Ariani tidak mau ambil pusing dengan sikap Dirga yang menyebalkan.
"Ibu baik-baik di sana, jangan mengkhawatirkan ku. Aku baik-baik saja, Dirga sangat baik padaku." Ariani sedang berbicara dengan ibunya lewat telpon, Dirga memutar bola matanya malas mendengar Ariani terus berpura-pura kalau ia baik-baik saja, padahal kenyatannya semalam ia habis menangis.
"Apa kau tidak lelah terus berpura-pura bahagia hah?"
"Aku bisa pura-pura bahagia tapi aku tidak bisa berpura-pura mencintaimu." Ariani menanggapi ocehan Dirga dengan sedikit merayu.
"Ck..." Dirga pergi dengan cueknya.
Menyebalkan. Ariani mengepalkan tangannya merasa kesal, bisa-bisanya Dirga menjadi sangat menyebalkan.
Pekerjaan rumah sudah ia kerjakan, Ariani merasa bosan lalu ia memutuskan menelepon Indah, ia butuh teman bercerita dan ia pikir Indah bisa membantunya.
"Jadi kalian masih belum berbaikan." Indah mengira Ariani terlihat baik-baik saja saat terakhir bertemu, ternyata Ariani menyembunyikan masalahnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku sudah meminta maaf meskipun aku tak tahu apa salahku, tapi ia terus menghindar."
"Tuan Dirga memang memiliki temperamen buruk. Kau harus pandai menjaga suasana hatinya."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Ariani sudah mencoba berbagai cara mencairkan hati Dirga tapi masih belum berhasil.
"Rebut hatinya, buat ia senang. Kau sudah membuka kado pemberian ku?"
...
"Apa aku harus memakainya?" Ariani membuka kado pemberian Indah yang ternyata sebuah lingerie.
"Astaga, bisa-bisanya Indah memberiku pakaian kurang bahan." Ariani malu sendiri melihat pantulan dirinya mengenakan pakaian dengan bahan jaring-jaring yang sangat minim hingga lekukan tubuhnya terpampang nyata.
"Apa Dirga akan menyukainya? Aku tidak yakin." Ariani masih diam berdiri mematung, memikirkan kembali apa ia akan melakukan saran yang Indah berikan.
bersambung....
__ADS_1