
Ariani terkejut dengan kehadiran lelaki yang ingin ia hindari yang tak lain adalah Ryan.
"Sedang apa disini?" Ryan melongok dari dalam mobil, ia terlihat sendiri tidak bersama Tomi ataupun Elma.
"Mau pulang." Ariani mengalihkan pandangannya menghindari bersi tatap dengan Ryan. Ia sedang menetralkan hatinya yang sedang kacau dan tidak ingin Ryan mengetahuinya. Ryan keluar dari mobil dan melihat kiri-kanan jalanan sudah terlihat sepi. Sekejap ia tersenyum tipis, dalam hatinya ada rasa kagum melihat wanita di depannya ini sangat tangguh dan pemberani seorang diri menunggu bis di malam yang sepi. Ryan tergelitik ingin menemani Ariani kemudian menghampiri dan duduk disebelah Ariani, Ariani menggeser bokongnya memberi jarak agar tidak terlalu dekat.
"Kau pulang bekerja?" Ryan mencoba memandang Ariani ingin melihat wajahnya dari dekat.
''Iya.'' Ariani menjawab singkat dengan pandangan mata lurus kearah jalan. Ryan melihat jam tangan seraya mengerutkan keningnya, apa Ariani pulang selarut ini?
Hening, tidak ada pembicaraan lagi di halte itu. Ryan yang masih tak enak hati merasa kikuk memulai obrolan sedangkan Ariani rasanya ingin cepat-cepat pergi saja dari sana. Keduanya cukup lama dengan kebisuan melihat satu dua kendaraan yang lewat di jam malam seperti ini jalanan sudah tidak menampakkan kemacetan seperti pada sore hari. Tanpa disengaja Dirga melihat keduanya saat mobilnya melewati halte, ia sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya setelah dari rumah sakit menemui ayahnya. Bian yang mengemudi pun melihat Ariani di halte itu.
Itu Ariani? Mataku tidak salah lihat kan?
Bian melirik kaca spion melihat Dirga yang duduk di belakangnya, apa Dirga juga melihatnya?
Tapi dari raut wajah Dirga terlihat biasa, apa dia tidak memperhatikan?
Bian bicara dengan hatinya. Ia yang belum mengetahui hubungan Dirga dan Ariani tidak mengetahui bagaimana isi hati Dirga saat ini, Dirga terlihat diam tetapi di balik kursi penumpang ia mengepalkan tangannya kuat mencengkeram kursi menahan emosi melihat Ariani bersama Ryan berduaan di halte.
Kurang ajar! Beraninya kau mempermainkan ku.
Dirga menatap kearah jendela dengan mengeratkan rahangnya.
...
Dua manusia di halte itu masih belum bicara satu sama lain, bisa jadi yang mereka lakukan di sana menghitung kendaraan yang lewat.
"Bagaimana keadaan Dirga, apa dia masih dirawat?" Tiba-tiba Ryan menanyakan sesuatu yang tidak Ariani sangka hingga membuat Ariani menengok kearahnya sebentar.
"Dia sudah pulang." Ariani menjawab apa adanya karena saat di rumah sakit ia pernah bertemu Ryan, Ryan mengangguk ngangguk mengerti.
__ADS_1
"Darimana kau tahu Dirga kecelakaan?" Deg, ekspresi Ryan seketika berubah saat Ariani menatapnya dengan selidik. Ryan melirik Ariani sekilas lalu membenarkan duduknya.
"A... Aku hanya kebetulan habis menjenguk teman yang sedang sakit dan tidak sengaja melihatnya dirawat, itu saja." Ryan mencari-cari alasan agar Ariani tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ryan menatap ke arah langit saat Ariani masih mencari kebenaran dari jawabannya.
Ryan teringat sesuatu lalu kembali ke mobil mengambil sesuatu.
"Ini untukmu." Ryan memberikan sebuah kertas tebal yang dibungkus rapi dengan diikat pita yang cantik, itu adalah undangan pernikahannya dengan Elma. Ariani memandangi undangan yang dikemas rapi dan indah itu dengan hati berdenyut.
Cantik sekali... Ariani memuji keindahan undangan pernikahan Ryan.
"Dua minggu lagi aku dan Elma akan menikah." Ariani yang tadinya menunduk mengagumi undangan itu seketika menengok kearah Ryan, mata mereka bertemu.
"Asal kau tau, kau orang pertama yang aku berikan." Ryan menunjuk undangan di tangan Ariani.
Apa aku harus merasa terhormat menjadi orang pertama yang mendapatkan undangan ini?
Menurut Ariani bukankah pertemuan mereka ini sebuah ketidaksengajaan, Ryan dalam perjalanan pulang lalu melihatnya duduk di halte dan kemudian ia berhenti. Bisa saja Ryan memberikan undangan itu karena waktunya mungkin sedang tepat.
"Terimakasih." Ariani menghormati pemberian Ryan.
"Kalau begitu selamat, kalian sudah lama menantikannya. Terutama Elma, semoga hubungan kita menjadi baik seperti dulu." Apakah masih ada rasa sakit di hati Ariani mendengar berita ini? Sepertinya tidak, Ariani sudah move on. Yang ia harapkan adalah dapat berbaikan dengan Elma, Ariani merindukan temannya. Ryan melirik melihat raut Ariani yang tiba-tiba menunduk, ia tahu bagaimana penderitaan Ariani yang selalu ditindas.
"Aku minta maaf atas semua yang sudah Elma lakukan padamu." Ryan meminta maaf mewakili kekasihnya yang sudah berbuat jahat pada Ariani.
"Aku memaafkannya." Ariani tersenyum getir, dulu hubungan mereka begitu dekat tapi sekarang merenggang seperti ada jurang pemisah. Ariani mengerti Elma berubah karenanya juga, ia takut Ariani akan merebut Ryan darinya.
"Dulu kita begitu dekat, dia teman yang baik." Ariani mengingat masa-masa sekolah saat pertemanan mereka yang begitu akrab.
"Aku minta maaf, ku harap kau mendapatkan pria yang baik, bukan seperti ku." Ryan menyesal telah menghancurkan hubungan pertemanan Ariani dan Elma.
"Tolong jangan membahas masalah yang sudah berlalu, lupakan. Karena aku juga akan melupakan." Ada hati yang ia jaga, Ariani sudah tidak ingin mengungkit masa lalu di otak dan hatinya. Jika diingat luka itu akan kembali menganga, lebih baik lupakan meski perlahan.
__ADS_1
"Benar, setelah ini mari kita jalani hidup kita dengan baik. Ayo kita berbaikan." Ryan mengulurkan tangannya mengajak berdamai, awalnya Ariani ragu namun ia juga lelah dengan semua ini. Apa salahnya berbaikan dengan masa lalu, Ariani membalas jabatan tangan Ryan dan akhirnya hari ini mereka berdamai. Ryan mengembangkan senyum merasa lega, meskipun dalam hatinya ada sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan.
Dan malam yang semakin larut bis yang Ariani tunggu tak kunjung datang, akhirnya Ariani diantar pulang oleh Ryan setelah Ryan membujuknya untuk mengantarkannya.
...
"Akan ku tunjukkan ini padanya, dan nanti aku akan mengajaknya datang ke acara pernikahan Ryan dan Elma." Ariani sudah pulang sedang berbaring menuju pulau kapuk sambil memandangi undangan itu lalu meletakkannya di dadanya, ia akan memberitahu Dirga tentang berita ini berharap Dirga percaya dan tidak berprasangka buruk lagi padanya.
Sementara itu Dirga tidak bisa tidur, sudah hampir pagi matanya belum juga terpejam. Hatinya masih panas membayangkan apa yang ia lihat.
"Jika kau terpaksa melakukannya lebih baik jangan memberi harapan." Dirga menyandarkan kepalanya di atas lengannya sebagai bantalan, ia berusaha memejamkan mata namun sedetik kemudian mata itu terbuka lagi. Saat ini hatinya sedang kacau, sedih bercampur kecewa kekasih yang memberikan janji tidak akan mengkhianati telah mengingkari.
"Kau sama saja." Ia menilai sepertinya Ariani sama saja dengan wanita lainnya. Mengucapkan janji manis tapi nyatanya dibelakang bermain-main, Ariani berani selingkuh dibelakangnya.
Dan semenjak hari itu Dirga memilih tidak bertemu dengan Ariani lagi, nomornya diblokir hingga Ariani tidak dapat menghubunginya.
Sudah berhari-hari Ariani tidak berkomunikasi dengan Dirga, ia berpikir apa Dirga sampai sebegitu marahnya dengan ucapannya. Ariani belum mengetahui sebab Dirga mengabaikannya.
"Ada apa denganmu? Mengapa kau mengabaikan ku?" Tiga hari sudah tidak berkabar, seperti hari hari yang lalu Ariani selalu menyempatkan waktu menyambangi rumah Dirga sepulang kerja meskipun hanya memandang dari seberang jalan ia melihat rumah Dirga yang tertutup dan sepi.
"Sebenarnya kau ada dimana sampai sulit dihubungi." Sungguh Ariani tidak mengerti apa yang Dirga inginkan, seandainya ia punya kelebihan bisa membaca pikiran, apapun akan ia lakukan.
"Kalau memang kau ingin mengakhiri hubungan ini, katakan. Jangan menggantungkan hatiku." Ariani berteriak didepan gerbang, Dirga yang sebenarnya ada didalam mendengarkannya di balik gorden jendela. Ariani pulang dengan menangis lagi, Bian melihatnya dari kejauhan memperhatikannya saat mobilnya berpapasan dengan Ariani. Ia pun sering melihat Ariani dari arah rumah Dirga akhir-akhir ini.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian?" Bian pernah menanyakannya pada Dirga namun tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan, Dirga lebih banyak diam tidak menanggapi pertanyaan Bian. Cuek sekali.
Bian tidak ingin memecah teka-teki itu sendirian, ia menceritakan masalah itu pada Tama.Tama hanya bisa menjadi pendengar yang baik.
"Biarkan ini menjadi keputusannya, selanjutnya kita lihat perkembangannya nanti." Tama terlihat santai tak terlihat penasaran seperti Bian.
"Maksud abang bagaimana?" Bian tak mengerti.
__ADS_1
"Ayah Dirga pernah menanyakan Ariani padaku." Ucapan Tama membuat Bian semakin bingung.
Bersambung...