
Ariani terus berjalan meninggalkan perselisihan antara dirinya dengan Ryan dan Elma. Ryan terpaku melihat kepergiannya, rasa sesal muncul didalam hatinya, ia sadar ia tidak dapat berbuat banyak untuk membela Ariani. Ariani pergi dengan membawa rasa sakit dan kecewa didalam hati dan juga raganya, tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian ini. Elma, teman masa kecilnya telah memperlakukannya dengan kasar tanpa ingin mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu, seakan-akan mata hatinya tertutup Ariani mendapatkan beberapa tamparan dari Elma sampai pipinya memerah terasa perih hingga menusuk hati. Lebih sakit lagi Elma mengecap Ariani sebagai wanita tidak baik yang sudah merebut Ryan, tunangannya. Sikap Ryan, lelaki yang dulu amat dicintainya telah menyadarkannya bahwa apakah selama ini Ariani telah mencintai orang yang salah, setelah ia tahu ternyata Ryan hanya coba-coba menyatakan perasaan suka padanya. Palsu, Ryan hanya ingin melihat reaksi Ariani saja, apakah Ariani benar-benar menyukainya atau tidak.
"Jadi semua ini kau anggap gurauan?" Ariani masih tidak percaya dengan perbuatan Ryan padanya. Ia masih berjalan dengan mengikuti derap langkah kakinya.
"Ryan Ernando, kalau memang kau tidak mencintaiku pun aku tak apa, aku masih bisa menjalani kehidupanku seperti dulu meskipun kau tak tahu perasaanku, aku mampu. Tapi bisa-bisanya kau mempermainkanku, kau ingin menjadikan aku cadangan mu, kau jahat, aku kecewa." Ariani berlari, seakan telah terjebak dengan situasi yang Ryan buat hingga membuatnya membenci Ryan. Ariani berhenti di sebuah halte yang sepi, ia duduk di bangku halte, ia merasa lelah. Ariani sendiri di halte itu sampai melupakan rasa takutnya akan kejahatan dimalam hari, yang ia pikirkan sekarang adalah pengalaman menyakitkan yang baru saja ia alami. Hening, Ariani menetralkan suasana hatinya yang kacau.
"Heh.. lucu sekali." Ariani tersenyum getir, ia tergelak menertawai kehidupan asmaranya yang rumit, belum hilang dalam ingatannya perlakuan kasar Bella yang memintanya untuk menjauhi Dirga, malam ini ia harus menerima kesakitan lagi dari temannya. Beruntung Ariani menolak Ryan saat itu, kalau tidak entah apa yang akan terjadi padanya. Selang beberapa menit senyuman itu berubah menjadi muram dan terlihat bola mata yang berair menahan air mata yang akan menetes lalu terdengar isak dari mulutnya.
"Hiks... Kau kejam." Akhirnya air mata Ariani tak terbendung lagi, ia menangis meluapkan kekecewaannya. Ryan yang ia pikir lelaki baik dan sempurna dimatanya telah mempermainkan perasaannya. Ariani melepaskan ikat rambutnya dan membiarkan rambut indahnya tergerai. Lalu ia memegang kepalanya dan mencengkram rambutnya, ia merasa frustasi dengan kehidupan yang ia jalani. Rasanya ingin berteriak sekencang kencangnya namun tidak ia lakukan, akhirnya Ariani hanya bisa berteriak didalam hati.
Disaat kegalauan hatinya Ariani menjadi teringat sosok Dirga, lelaki yang sudah ia kecewakan dan ditinggalkan.
"Maafkan aku, maafkan aku Dirga. Seandainya aku memiliki keberanian, aku akan memilih bersamamu." Ariani menangis tersedu mengingat raut wajah Dirga yang menampakkan rasa kecewa saat ia lebih memilih pergi bersama dengan Ryan.
"Aku menyesal, aku telah melukaimu. Maafkan aku." Ariani menyadari sikapnya yang terbilang kejam telah menyakiti perasaan Dirga, membiarkannya pergi agar Bella bisa leluasa mendapatkan nya. Ariani yang lebih mementingkan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri memilih menjauh dari kehidupan Dirga. Tanpa memikirkan perasaan Dirga padanya. Ariani pergi melanjutkan perjalanannya, dengan penampilannya yang berantakan Ariani melangkahkan kakinya menyusuri trotoar, entah kemana tempat yang akan ia tuju.
Sedangkan Elma dan Ryan masih berada di taman kota yang sudah nampak sunyi, Elma sudah mulai terlihat tenang setelah kepergian Ariani. Ia menatap Ryan dengan geram.
__ADS_1
"Lepaskan." Elma melepaskan genggaman tangan Ryan.
"Apa kekurangan ku dibanding dia? Mengapa kau berbuat seperti ini padaku?" Elma yang merasa lebih baik dari Ariani dari segi manapun tidak habis pikir mengapa Ryan bisa tertarik dengan Ariani.
"Elma, ini semua tidak seperti yang kau sangkakan." Ryan berusaha mengelak, setelah semua rencananya gagal.
"Bohong, jika Tomi tidak memberitahu ku entah apa yang akan kau lakukan dengan Ariani. Aku tidak menyangka kau bisa melakukan ini padaku, kau bermain serong dengan temanku." Elma pergi meninggalkan Ryan yang hanya bisa terdiam mendengar segala tuduhannya.
"Elma, jangan pergi. Tolong dengar penjelasan ku dulu." Tetapi Elma tak ingin mendengarkan perkataannya, ia tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Ryan.
"Sial." Ryan mengeram kesal karena rencana yang ia buat sedemikian rupa tidak berjalan lancar.
"Oh, jadi kau membuntuti ku ya?" Ryan mengejutkan Tomi yang hendak membuka pintu mobilnya.
"Kau." Tomi membeku, nampak Ryan yang memandangnya jengah.
"Untuk apa kau mencampuri urusanku?" Ryan berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Tomi. Tomi menyeringai.
__ADS_1
"Suka-suka aku lah. Lagipula mengapa kau tidak berhati-hati menaruh ponselmu. Aku tidak menyangka ternyata kau serakah juga, kau ingin bermain api tapi ternyata kau terbakar sendiri. Kasihan, hahaha..." Ucapan Tomi membuat telinga Ryan panas, ternyata Tomi sudah mengetahui rencana Ryan setelah membaca pesan di ponsel milik Ryan.
"Kali ini kau selamat, tetapi tidak lain kali." Ryan menunjuk wajah Tomi, ia menatap Tomi dengan tatapan tidak bersahabat. Tomi yang mendapat ancaman Ryan hanya membalas dengan senyuman sinis. Ryan pergi meninggalkan Tomi setelah ia mendorong bahu teman dekatnya itu.
Ariani berdiri di depan sebuah rumah yang nampak gelap karena lampu rumah itu tidak menyala, sorot matanya menatap terus kearah rumah yang pernah ia datangi yang tak lain adalah rumah Dirga. Ariani sekarang berada didepan pintu gerbang yang tertutup rapat.
"Dirga, apa kau mendengar ku? Tolong keluarlah, temui aku." Ariani mengetuk pintu gerbang yang kokoh itu, ia berusaha menaikkan volume suaranya berharap Dirga mendengar nya dan membukakan pintu gerbang. Namun, tidak ada respon.
"Dirga, apa kau didalam? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, kumohon keluarlah." Ariani masih berusaha memanggil Dirga, ia ingin menemuinya. Ingin meluruskan masalah yang terjadi karenanya, namun masih tetap tidak ada jawaban dari dalam rumah.
"Kumohon, buka pintunya. Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Maafkan aku, hiks.. " Tubuh Ariani merosot, ia duduk menyandarkan punggungnya di pintu gerbang. Sepertinya memang tidak ada orang didalam rumah itu, Ariani membuka tasnya dan mengambil ponsel miliknya yang layarnya sudah retak, ia ingin menghubungi Dirga tetapi apa yang terjadi ternyata ponsel nya mati. Ariani tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya ia memutuskan untuk pergi. Namun sesaat Ariani menyeberangi jalan tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepan pintu gerbang rumah Dirga dan Ariani mengamati siapa yang berada didalam mobil itu dari seberang.
Dirga, apa itu kau?
Mata Ariani tak berkedip berharap Dirga yang membuka pintu mobil itu, tapi ternyata Bian yang keluar dari mobil itu. Bian menengok ke arah Ariani saat hendak membuka pintu gerbang.
"Siapa wanita disana? Sepertinya aku mengenalnya." Bian mengamati wajah wanita yang berada di seberang jalan.
__ADS_1
"Dia Ariani kan? mengapa dia berada disini?" Bian mengingat nama Ariani dari nametag di baju kerjanya saat ia berada di cafe, terkejut dengan keberadaan Ariani yang berdiri diseberang rumah Dirga di tengah malam. Kemudian Bian menghampiri Ariani, ia melihat penampilan Ariani dari atas sampai bawah, kondisinya nampak berantakan, wajah yang menyiratkan kesedihan, terlihat lebam di pipi serta darah disudut bibirnya. Rambut Ariani yang tergerai acak-acakan membuat Bian menduga sepertinya Ariani sedang dalam masalah.