Melupakanmu

Melupakanmu
Apa Jawabanmu?


__ADS_3

Ariani berjalan memasuki gang kontrakannya, pandangannya kosong memikirkan masalah yang tengah dihadapinya. Ia berhenti di pos dari kayu didekat kontrakan. Ariani menelepon ibunya di desa, menceritakan semua masalah dari awal. Tentang perasaannya pada Dirga dan tentang ayah Dirga yang melamarnya untuk menikah dengan anaknya.


"Ibu akan setuju apapun keputusanmu." Bu Ani yang ada di seberang mendukung semua keputusan yang akan Ariani ambil.


"Ariani bimbang, Bu."


"Nak, ini adalah pilihan. Kamu harus meyakinkan hatimu, jangan ragu dalam mengambil keputusan apapun itu. Karena kau yang akan menjalaninya." Bu Ani meyakinkan Ariani.


"Aku harus bagaimana?" Ariani duduk termenung setelah menutup panggilan dengan ibunya. Ia kemudian masuk menemui Indah lalu menceritakan semuanya, berharap mendapatkan solusi.


"Lalu apa jawabanmu?" Indah pun merasa kaget sepertinya keluarga kekasih Ariani ini memang serius ingin meminang Ariani.


"Aku tidak tahu." Ariani menangis, dalam lubuk hatinya ia merindukan Dirga namun ia juga takut Dirga sudah tidak menyukainya lagi.


"Pikirkan matang-matang Ariani, Dirga dalam kondisi seperti itu, kau pasti sudah tahu konsekuensinya setelah menjadi istrinya nanti akan seperti apa." Indah bukan tidak setuju jika Ariani menikahi Dirga tetapi ia bisa membayangkan Ariani akan melewati pernikahan yang berat karena harus mengurus Dirga yang sedang dalam pemulihan.


"Aku tahu itu." Ariani mengusap air matanya.


"Maaf bukannya aku ingin menggoyahkan hatimu, tetapi aku hanya tidak ingin kau menyesal. Pikirkan baik-baik, berdoa dan mintalah petunjuk." Pernikahan bukan hal main-main, Indah ingin Ariani bahagia dengan pilihannya. Tuhan yang membolak-balikan hati manusia maka dari itu mintalah petunjukNya.


....


Waktu berlalu begitu cepat bagi Ariani yang tengah dilanda kebimbangan, hari ini ia akan menemui Galih memberi jawaban.


Ariani mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat ia bekerja, jika nanti menikah maka ia akan berhenti bekerja. Padahal belum genap sebulan ia bekerja, gaji pun belum diterimanya.


"Rumit." Ariani memijit pelipisnya.


...


Malam harinya di rumah sakit Dirga yang hendak pulang tiba-tiba ditahan oleh Galih.


"Jangan buru-buru pulang, tunggu sebentar lagi." Dirga melihat jam menunjukkan pukul sembilan lewat, tumbenan Galih melarangnya pulang biasanya ia menyuruhnya pulang karena hari sudah malam.


"Ada seseorang yang akan datang." Galih tengah makan buah ditemani Maya yang sedang mengupas buah.


"Siapa?" Dirga mengerutkan kening, penasaran.


"Ariani." Mendengar nama Ariani hati Dirga berdesir, jantungnya berdebar. Sudah berapa hari ia tidak berjumpa dengan kekasihnya.


"Maaf ayah tidak memberitahumu, kemarin ayah mengundangnya kesini." Galih menceritakan kejadian kemarin.


"Jangan bilang kalian membahas pernikahan." Dirga bisa menebak tujuan Galih bertemu Ariani. Maya hanya diam mendengar percakapan antara ayah dan anak.


"Benar, ayah ingin kau menikah dengannya. Ayah bercerita banyak dengannya kemarin, ayah menyetujui hubungan kalian." Dirga diam tak bereaksi apapun, ia hanya mendengarkan Galih bicara.


"Dirga, ayah ingin tahu bagaimana perasaanmu pada Ariani. Apa kau serius dengannya?" Dirga diam tak menjawab.


"Selama ini ayah belum pernah mendengar kedekatan mu dengan wanita, kalau kau mau aku yang memilihkan maka aku akan memilih Ariani, apa kau mau?" Ya, Galih tahu cerita kehidupan asmara Dirga dari Tama, Tama sudah menceritakan semuanya. Dirga sudah tahu hal itu.


Dirga masih diam membisu hingga pintu kamar terbuka lalu terlihat Tama masuk bersama seseorang yang ia kenal mengekor dibelakangnya, Ariani kekasihnya yang ia abaikan.


Ariani terkejut melihat keberadaan Dirga yang sedang menatapnya, pandangan mereka mengunci. Dirga mengalihkan pandangannya setelah Ariani duduk di sampingnya, mereka duduk di sofa panjang sedangkan Tama dan Maya di kursi.


"Ariani, terimakasih sudah menyempatkan waktu datang. Kau pasti lelah." Galih kagum dengan Ariani yang menepati janjinya meskipun ia kelelahan karena bekerja.


"Dirga sudah saya ceritakan tentang masalah kemarin dan disini ia juga ingin mendengar jawabanmu." Ariani sedikit melirik ke arah Dirga namun Dirga acuh tak acuh.

__ADS_1


"Jadi, apa jawabanmu?" Semua mata tertuju pada Ariani, kecuali Dirga. Ia duduk tegap dengan pandangan ke depan.


"Sa...saya..." Nafas Ariani tercekat suaranya terbata, Ariani terlihat tegang. Dirga meliriknya dengan ada sedikit gerakan dari tubuhnya.


"Saya bersedia." Ariani menundukkan wajah tidak berani menatap manusia di sekelilingnya, Dirga menengok ke arah Ariani mendengar jawaban.


"Bagaimana denganmu, Dirga?" Galih ingin mendengar tanggapan Dirga apakah ia setuju.


"Atur saja semuanya." Setelah mengucapkan satu kalimat singkat Dirga pergi tanpa permisi.


Ariani menatap kepergian Dirga dengan dada bergemuruh, ekspresi Dirga sedingin es di kutub.


"Terimakasih Ariani." Galih tersenyum lega.


"Terimakasih kasih nak, Dirga pasti beruntung mendapatkan gadis sepertimu." Maya berpindah duduk di samping Ariani, mengelus pundak Ariani. Kecuali Tama, ia dari tadi memperhatikan ketegangan antara Ariani dan Dirga.


...


Dirga duduk di kursi taman rumah sakit, tidak ada yang tahu dengan perasaannya saat ini. Semuanya ia pendam sendiri.


"Dirga." Ariani datang menyusul berdiri di sampingnya, Dirga meliriknya dengan ekspresi datar kemudian berpaling.


"Bukankah dulu kau menolak." Dirga mengungkit perkataan Ariani malam itu, saat ia menyatakan pernikahan.


"Aku tidak menolak, aku hanya meminta waktu."


"Aku rasa ucapanmu hari itu cukup sebagai jawaban." Dirga yakin dengan persepsinya, Ariani menolaknya karena keadaannya saat ini.


"Beri aku kesempatan merubahnya." Ariani memohon, ia mencoba mengalah mengikuti apa kemauan Dirga.


"Tidak." Ariani dengan cepat menampiknya.


Ariani memberanikan diri duduk di samping Dirga, perkara Dirga akan mengusirnya ia tak perduli. Dari kejauhan Tama memperhatikan keduanya.


"Bang, sedang apa?" Seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


"Kau ini, mengagetkan saja." Tama tersentak karena dikagetkan.


"Maaf bang, abang sedang memperhatikan siapa?" Bian datang bersama Reno, mereka mengikuti arah mata Tama memandang. Ternyata Tama sedang memperhatikan Dirga dan Ariani duduk di taman rumah sakit.


"Ada apa lagi dengan mereka? Apa mereka sudah baikan?" Bian yang sedikit tahu masalah Dirga dan Ariani bertanya, sedangkan Reno hanya menyimak.


"Mereka akan menikah, Om Galih sudah melamar Ariani untuk Dirga."


"Apa?" Ucap Bian dan Reno bersamaan, mereka membelalakkan mata mereka terkejut.


...


Sepasang manusia yang duduk berdampingan di taman rumah sakit itu tidak saling bicara, ternyata Dirga tidak mengusir Ariani. Ariani menengok lelaki di sampingnya, Dirga melirik Ariani dengan sudut matanya kemudian ia memicingkan mata disusul dengan bibirnya cemberut seperti sedang merajuk.


"Apa kau marah padaku?" Ariani merasa Dirga sedang menahan marah.


"Pergilah." Dirga memalingkan wajahnya.


"Kalau kau tidak suka dengan ini, aku akan kembali menemui ayahmu." Entah dari dalam hati Ariani merasa Dirga tidak suka dengan keputusannya.


"Kau mau apa?" Dirga kini balik menatapnya, ia tak melepaskan pandangannya sampai Ariani bicara. Ariani menunduk takut,

__ADS_1


"Aku akan mengubah keputusanku. Aku akan membatalkan pernika.... " Ucapan Ariani terhenti, Dirga menghentikan ucapannya.


"Kau ingin membuat ayahku meninggal dengan membatalkan pernikahan ini?!" Dirga membentak Ariani, ia sudah menebak apa yang ada di pikiran Ariani.


"Jangan membuatku semakin membencimu, lakukan saja semua sesuai apa yang mereka inginkan." Dirga menggenggam dan menekan lengan Ariani dengan kuat, Ariani meringis menahan sakit.


"Dirga, kau jangan bersikap kasar pada Ariani, dia calon istrimu." Tama datang melerai pertikaian mereka, Dirga melepaskan genggamannya. Lengan Ariani terlihat memerah, tekanan jari jemari Dirga pun membekas di lengannya.


"Calon istri?" Dirga menyeringai, kemudian ia pergi meninggalkan Ariani dan Tama.


Dirga benar-benar berubah, apakah sudah tidak ada cinta untuknya?


"Menghadapinya harus sedikit sabar." Tama menenangkan Ariani saat Dirga pergi, Ariani mengusap lengannya yang sakit.


Ariani merasa serba salah, apa keputusan yang ia ambil sudah benar? Seharusnya Dirga bahagia lalu menyambutnya, memeluknya. Tetapi ternyata berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan, Dirga terlihat tidak senang mendengar keputusan Ariani.


Ariani diantar pulang oleh Bian dan Reno, saat tiba di kontrakan ia ingin mengenalkan Bian dan Reno dengan Indah, karena Bian ingin tahu tempat tinggalnya.


"Jadi kau tinggal berdua dengan temanmu?"


"Iya, dia bekerja di gerai sepatu di kawasan x." Bian yang sudah tahu menahan senyum saja.


Mereka pun sampai. Bian dan Reno melihat-lihat tempat tinggal Ariani cukup ramai, bangunannya memanjang dan ada beberapa motor penghuni kontrakan terparkir diluar. Ariani membuka pintu lalu masuk kedalam.


"Ariani lihatlah Elma dan Ryan akan menikah mereka sudah menyebarkan undangan." Indah baru mendapatkan undangan pernikahan Ryan dan Elma. Ariani hanya melihat undangan itu lalu mengajak Indah keluar menemui Bian dan Reno.


"Indah, aku datang bersama teman-teman Dirga. Mereka mengantar ku pulang. Ayo keluar, aku akan mengenalkan mereka padamu." Indah menurutinya saat Ariani menariknya keluar.


"Indah, ini teman Dirga." Ariani memperkenalkan Indah.


"Aaa... apa?" Indah membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang ia lihat, mulutnya menganga namun ia tutupi dengan kertas undangan.


"Indah? Oh, jadi kamu teman Ariani ya. Tak disangka ternyata." Reno cukup terkejut bertemu dengan Indah. Sedangkan Bian, ia pura-pura. Indah menengok Ariani dan Bian secara bergantian.


"Pak Bian, Reno. Kalian..." Pikiran Indah terbang mengumpulkan semua fakta hingga ia menyadari.


"Jadi benar, dugaan ku selama ini." Indah memegang keningnya.


"Ada apa ini?" Ariani pun sama tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Ariani kekasihmu, apa dia william Dirga?" Indah memegang kedua pundak Ariani.


"Benar Indah, Ariani temanmu ini kekasihnya Dirga dan mereka akan segera menikah." Bian mengiyakan.


"Apa?" Indah berpegangan tembok, merasa limbung dan nyaris pingsan mengetahui calon suami Ariani ternyata adalah William Dirga, bosnya. Untung Reno menahannya agar tidak jatuh.


Ariani akan menikah dengan William Dirga, pria galak dan pemarah. Apa dia akan sanggup?


Ariani, kau penuh dengan rahasia.


......................


Bersambung...


Episode ini cukup panjang...


Jangan lupa di Like 👍 ya... 🙏

__ADS_1


__ADS_2