Melupakanmu

Melupakanmu
Kau Menyayanginya?


__ADS_3

Sore hari menjelang malam Dirga dalam perjalanan dari rumah sakit kembali ke rumahnya. Pandangannya melihat keluar jendela, wajahnya terlihat tenang tetapi dalam otaknya ia sedang memikirkan sesuatu, kemacetan tidak membuatnya terganggu karena ada hal yang lebih mengganggu pikirannya. Hatinya gelisah, Dirga memikirkan keinginan Galih yang belum bisa diwujudkannya. Ia khawatir dengan kondisi ayahnya yang sering keluar masuk rumah sakit jangan sampai ia tidak bisa mewujudkan keinginan Galih disisa hidupnya. Dirga teringat obrolannya dengan Galih saat di rumah sakit.


"Bagaimana kondisi kakimu?" Galih berbaring di kasur, wajahnya masih terlihat pucat.


"Semakin baik." Dirga baru selesai melakukan terapi di rumah sakit yang sama menyempatkan waktu menemui ayahnya.


"Memang itu akan membutuhkan waktu, kau harus sabar." Dirga menganggukkan kepala, kemudian beberapa saat Dirga melihat Galih termenung dengan pandangan kosong.


"Apa yang sedang ayah pikirkan?" Dirga membuyarkan lamunan Galih.


"Aku sedang memikirkan kedepannya." Dirga mengerutkan keningnya tak mengerti maksud ucapan Galih.


"Saat kondisiku sudah membaik, aku akan kembali mengurus perusahaan ku." Galih mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke kotanya, ia ingin mengurus perusahaannya yang ia tinggalkan selama menjenguk Dirga. Dirga menarik nafas sebentar lalu menghembuskan nya, agak sulit diterima tetapi ia harus terima.


"Jangan khawatir, aku bisa menjaga diri." Dirga mencoba mengerti dengan keadaan ayahnya yang bertempat tinggal jauh dengannya.


"Ayah akan tenang jika ada yang mengurus mu." Seketika Dirga terdiam, Dirga mengerti maksud ucapan Galih, ini pasti masalah pernikahan.


"Aku sudah terbiasa hidup sendiri." Dirga melengos, sok kuat. Galih tahu anaknya ini memang mandiri, namun melihat kondisi Dirga yang sekarang ia jadi kepikiran Dirga tidak akan terurus.


"Jadi, kau belum dapat mewujudkan keinginan ku?" Galih kembali mengungkit keinginannya. Sebenarnya bukan hanya tentang keinginan, ada hal lain yang membuatnya mengungkit masalah pernikahan. Melihat kondisi Dirga sekarang yang tidak mungkin bisa melakukan apa-apa sendiri, ia butuh seseorang bersamanya. Itu yang menjadi pikiran Galih.


"Aku tidak tahu." Dirga mode cuek.


"Kenapa? Bukannya kau sudah memiliki kekasih dan aku lihat sepertinya dia gadis yang baik." Dirga hanya diam saat Galih menilai Ariani.


"Itu tidak seperti apa yang ayah pikirkan." Dirga bicara dengan pandangan ke sembarang arah. Galih menilai ada sesuatu yang Dirga pendam.


"Jadi, aku harus menunggu berapa lama lagi?" Dirga menengok ke arah Galih.


"Lalu bagaimana jika aku keburu pergi menyusul ibumu?" Dirga terdiam mendengar ucapan ayahnya, ada sesuatu yang menyayat hatinya. Meskipun dulu hubungannya dengan Galih tidak begitu baik, tetapi yang namanya orangtua tetap orangtua. Tidak ingin mengecewakannya, Dirga harus menuruti keinginan ayahnya.


...


Sementara itu Tama sudah sampai membawa Ariani ke tempat tujuan.


Rumah sakit?


Ariani bingung tak mengerti mengapa Tama membawanya ke rumah sakit namun ia tidak ingin banyak bertanya, ia mengikuti Tama dari belakang. Tama menggunakan masker dan ia juga meminta Ariani untuk memakainya.


Mereka sampai di kamar VIP, Ariani merasa gugup siapa yang akan ditemuinya.


"Selamat malam Om." Tama membuka pintu lalu mengajak Ariani masuk, jantung Ariani berdetak cepat.

__ADS_1


Astaga.


Ariani melebarkan mata dan melongo, ia menghentikan langkahnya seketika saat tahu dengan siapa ia bertemu. Untung saja memakai masker sehingga ekspresinya tidak dapat terlihat.


"Selamat datang Ariani." Galih sedang duduk menyandar bantal di ranjang yang bisa ditekuk, menyambut kedatangan Ariani. Ternyata Tama membawa Ariani bertemu ayah Dirga


"Tuan-nyonya." Ariani menunduk memberi salam hormat pada Galih dan Maya yang menemani Galih duduk di kursi samping tempat tidur.


"Ayo sini." Maya menuntun Ariani duduk di sofa, Ariani masih terpaku tidak terbayang dipikirannya kalau orangtua Dirga ingin bertemu dengannya.


Kemana Dirga?


Sambil membuka masker Ariani mengedarkan pandangan mencari Dirga.


"Kau pasti terkejut ya?" Tama menyolek tangan Ariani. Ariani hanya tersenyum kaku masih menutupi rasa gugupnya.


"Ayah Dirga sudah beberapa hari ini dirawat." Tama berbisik memberitahu Ariani.


Mengapa Dirga tidak cerita?


Apa baginya Ariani tidak begitu penting sampai ia tidak memberitahu Ariani kalau ayahnya sedang sakit, disitu hati Ariani merasa tercubit.


"Terima kasih sudah mau datang, kamu pasti bertanya-tanya mengapa saya mengundangmu kesini." Galih terlihat ramah, sementara Ariani hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi, pandangannya menunduk melihat tangannya yang dipangku di atas lutut.


"Saya senang mengetahui kabar kedekatan mu dengan anak saya. Apa Dirga pria yang baik?" Tama berdeham, ia takut ariani mengungkap kebenaran dari ucapannya hari itu, padahal tanpa sepengetahuan Tama yang sebenarnya terjadi Ariani dan Dirga memang pacaran.


"Dirga pria yang baik." Ariani menjawab singkat dengan nada suaranya pelan.


"Apa kalian masih berhubungan baik?" Ariani ragu, sebenarnya ia ingin mengadu kalau hubungannya dengan Dirga sedang tidak baik tapi ia takut mengecewakan Galih lalu berpengaruh dengan kondisi kesehatannya.


"Saya dan Dirga baik-baik saja." Galih menganggukkan kepala lalu tersenyum.


"Saya meminta Tama membawamu kemari ingin menanyakan kelanjutan hubunganmu dengan anakku kedepannya." Galih mengutarakan tujuannya bertemu dengan Ariani.


"Kau menyayanginya?" Ariani terperanjat sekaligus terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan Galih.


Pertanyaan apa ini? aku malu menjawabnya.


Ariani menengok kearah Tama, Tama hanya menganggukkan kepala memberi kode, ingat pesannya jangan membohongi hati. Ariani merasa malu untuk mengucapkannya, ia hanya menganggukkan kepala mewakili jawabannya.


Lihat reaksi Tama, ia mengembangkan senyumnya. Galih dan maya pun nampak saling pandang lalu tersenyum.


"Kalau begitu apa kamu bersedia menikah dengannya?" Ariani kini terperangah, lebih-lebih Tama yang juga tidak menyangka Galih menanyakannya langsung pada Ariani.

__ADS_1


"Maksud bapak, saya menikah dengan Dirga?" Ariani masih tak percaya. Galih menganggukkan kepala, kemudian ia melihat mata Ariani banyak berkedip ke kanan kiri seperti sedang berpikir banyak.


"Tapi bagaimana dengan Dirga, apa dia sudah tahu?" Hubungan Ariani dan Dirga sedang tidak baik, ia ingin memastikan apa Dirga yang meminta pada ayahnya.


"Dirga tidak tahu kedatangan mu kemari, saya memang sengaja bertanya padamu lebih dulu." Tangan Ariani mencengkeram kain roknya, ia terlalu berharap sepertinya. Lama Ariani terdiam memikirkan ucapan Galih, mengapa Galih menawarkan pernikahan, padahal hubungan Ariani dengan anaknya sedang tidak baik.


"Dirga anakku satu-satunya. Kita tinggal terpisah, saya diluar kota sedangkan Dirga disini." Galih menceritakan sekelumit latar belakang Dirga dan kehidupan keluarganya, sambil menunggu Ariani mempertimbangkan ia menceritakan maksud niatannya.


"Saya akan kembali setelah kondisi kesehatanku membaik dan tentunya akan meninggalkan Dirga disini." Ariani baru mengetahui kehidupan Dirga, ternyata sejak kecil hidup berjauhan dengan orangtuanya.


Kasihan Dirga, pantas saja ia selalu terlihat sendiri di rumah itu.


"Dengan kondisi kakinya yang belum pulih saya merasa berat untuk meninggalkannya, di samping itu saya juga tidak bisa meninggalkan perusahaan dalam waktu lama." Ariani mengangkat kepalanya, sekilas ia menengok kearah Galih.


"Saya ingin ada yang menemaninya, salah satu cara ialah menghadirkan pendamping agar Dirga tidak kesepian, maka dari itu saya ingin menikahinya. Jadi apa kamu mau menikah dengan Dirga?"


Apa aku harus menjawabnya sekarang? Aku butuh bicara dengan ibu. Ariani berbicara dengan hatinya yang rumit.


"Maaf jika maksud dan tujuan ku yang mendadak ini membuatmu berpikiran macam-macam. Tetapi keputusan tetap ada di tanganmu." Galih tak ingin Ariani beranggapan buruk karena menikahi anaknya hanya untuk menjadi perawat saat ia pergi.


"Saya..." Suara Ariani bergetar.


"Saya hanya gadis desa, Pak." Ariani tahu siapa dirinya, ia hanya gadis desa miskin. Ia ingin Galih memikirkan baik-baik pilihannya.


"Saya mengerti, Tama sudah menceritakannya. Saya tidak melihat darimana kamu berasal, yang penting apa kamu mau menikah dengan anakku?"


"Beri saya waktu." Ariani meminta waktu mempertimbangkan, Galih mengangguk.


"Baik, besok saya ingin mendengar jawabanmu."


Ariani kemudian pulang diantar Tama, mereka kini didalam perjalanan.


"Maaf Ariani, aku tidak tahu akan secepat ini, mungkin ini sudah direncanakan oleh ayah Dirga, tujuan beliau bukan karena ingin mencari pendamping untuk merawat Dirga." Tama menjelaskan, ia juga terkejut karena dari awal Galih hanya meminta bertemu dengan Ariani.


"Maksud dokter?" Ariani menengok ke arah Tama.


"Ayah Dirga sakit dan divonis dokter bahwa waktunya tidak banyak. jadi ia ingin melihat anaknya menikah sebagai permintaan terakhir."


Jadi begitu.


Ariani baru mengerti, pantas saja saat itu Dirga memintanya menikah, mungkin itu bagian dari rencananya.


"Sebenarnya kalau benar mencintainya kau tidak perlu meminta waktu memberi jawaban, karena jika kau menundanya besok bisa saja kau akan berubah pikiran." Ariani melirik kearah Tama sambil mencerna ucapan Tama yang kadang sulit dimengerti olehnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2