Melupakanmu

Melupakanmu
Dirga Kecelakaan


__ADS_3

"Mengapa ini terjadi padamu?" Tama menatap Dirga yang masih belum sadarkan diri terbaring di ranjang rumah sakit, ada beberapa alat bantu medis menempel di tubuhnya. Kepalanya dibalut perban yang mengelilingi keningnya, pandangan mata Tama berpindah ke bagian kaki, salah satu kaki Dirga di bungkus perban dan menggantung ke atas.


Dirga kini sudah berada di rumah sakit ternama di kota B, ia sudah dipindahkan dari rumah sakit daerah tempat kecelakaan nya setelah Bian menerima telepon dari polisi yang memberi kabar mengenai kecelakaan itu.


Flashback On


"Halo, Bang." Bian langsung menghubungi Tama setelah mendapatkan berita.


"Iya, ada apa kau menghubungiku?" Tama yang sedang menyetir berada diperjalanan pulang menepikan mobilnya.


"Ini penting, tapi abang jangan marah ya." Sedikit takut Bian ingin menyampaikan kabar tentang kecelakaan Dirga pada Tama.


"Apa?" Tama penasaran, karena tidak biasanya Bian berbelit-belit seperti ini.


"Dirga mengalami kecelakaan, aku baru mendapat kabar katanya dia kecelakaan di jalan perbatasan kota."


"Kau tidak bercanda kan?!" Tama setengah berteriak mendengar kabar yang disampaikan Bian, seketika Tama merasakan sesak di dadanya. Benarkah Dirga mengalami kecelakaan?


Tak menunggu lama Tama langsung tancap gas pergi mengurus kepindahan Dirga untuk dibawa ke rumah sakit di kota B. Tama merasa sangat khawatir dengan apa yang sudah terjadi pada sepupu satu-satunya yang sudah ia anggap sebagai adiknya, meskipun kadang Dirga menyebalkan tapi Tama tahu Dirga merupakan anak yang baik.


Flashback Off


Tama membawa sebuah amplop putih besar ditangannya lalu membaca isi map tersebut, keningnya berkerut melihat hasil pemeriksaan dokter mengenai kondisi Dirga.


"Apakah ia akan sanggup menjalani pemulihan yang cukup memakan waktu?" Tama nampak serius membaca setiap lembaran kertas hasil pemeriksaan Dirga.


Pintu kamar VIP itu terbuka, Bian masuk membawa kantong plastik berisi makanan untuk ia sarapan pagi.


"Ayo kita sarapan dulu Bang." Bian dan Tama yang tidak sempat tidur di malam itu karena wara-wiri mengurus kecelakaan Dirga tak merasakan kantuk karena mengkhawatirkan keadaan Dirga. Terlihat wajah-wajah kusut dan mata panda mereka karena tidak tidur semalaman.

__ADS_1


"Hemm." Tama menuju sofa untuk memakan sarapan bersama Bian di kamar rawat inap itu. Di sela aktifitas makannya Bian sesekali melihat Dirga yang masih menutup mata, belum menunjukkan bahwa ia akan sadar.


"Bagaimana dengan hasil pemeriksaan dokter?"


"Bagian kepalanya baik-baik saja, tetapi Dirga mengalami patah di salah satu pergelangan kakinya." Tama sedikit berat mengatakannya, ia membayangkan reaksi Dirga saat tahu kondisinya nanti setelah sadar.


"Apa?!" Tiba-tiba Bian tersedak saat minum karena terkejut mendengar hasil pemeriksaan yang Tama katakan, berarti Dirga tidak bisa berjalan normal.


"Butuh waktu untuk bisa pulih seperti dulu, ia harus mengikuti terapi agar bisa berjalan seperti sedia kala." Dengan tenang Tama menjelaskan tahapan yang harus Dirga jalani agar kakinya bisa kembali sembuh.


"Apa dia akan sanggup melewatinya?" Bian pun merasa sangsi akankah Dirga akan sabar menerima keadaannya sekarang karena dilihat dari wataknya Dirga merupakan orang yang tidak sabaran. Tama mengangkat kedua bahunya, kita lihat saja nanti.


Ada rasa yang menggelitik hati Tama mengenai kecelakaan yang Dirga alami, apakah kecelakaan tunggal ini murni kelalaian Dirga atau sebab lain karena dari hasil penyelidikan polisi Dirga tidak dalam keadaan mabuk saat mengemudi. Jujur akhir-akhir ini ia dan Dirga tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga Tama tidak bisa sepenuhnya mengetahui kehidupan Dirga.


"Kau dekat dengannya kan? Apa kau tahu masalah apa yang sedang ia hadapi sekarang?" Tama mencari tahu masalah Dirga pada Bian. Apa ada orang yang sedang bermasalah dengan Dirga?


"Setahu ku Dirga tidak ada masalah dengan seseorang, tapi dari pandangan ku ia memiliki masalah dengan perasaannya."


"Sepertinya begitu, ia menyukai seorang gadis tapi gadis itu pergi meninggalkannya."


"Memangnya pergi kemana gadis itu?"


"Aku tidak tahu." Bian mengangkat kedua bahunya.


Kabar Dirga yang mengalami kecelakaan tersebar cepat terdengar di kalangan teman dan juga pekerjaannya. Begitu juga para karyawan toko sepatu miliknya, mereka sudah mengetahui kalau bos galaknya itu dirawat di rumah sakit karena kecelakaan mobil, di sela waktu senggang pekerjaan mereka bergosip.


"Apa kalian sudah tahu, pak William Dirga dirawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan." Salah satu pegawai pria menceritakan berita yang ia dengar.


"Benarkah? Kau tahu darimana berita itu?" Indah terkejut mendengar berita yang di sampaikan teman kerjanya.

__ADS_1


"Tadi saat aku dipanggil pak Bian, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan pak Bian dengan temannya kalau pak William mengalami kecelakaan." Karyawan pria itu telah diberi perintah Bian untuk meng-handle toko sementara waktu selama ia pergi menemui Dirga.


"Bagaimana kalau kita nanti menjenguknya?" Salah satu teman Indah mengajak menjenguk Dirga bersama-sama.


"Boleh juga idemu. Aku setuju." Bagi karyawannya, meskipun Dirga merupakan bos yang galak tapi di balik sifat arogan nya itu Dirga bukanlah bos yang pelit. Salah satu hal yang membuat pegawainya betah karena Dirga sering memberi bonus pada mereka.


Sudah satu minggu ini Dirga berada di rumah sakit, semenjak ia sadar dari pingsannya Dirga berubah menjadi pribadi yang pendiam nan dingin. Saat dokter memberitahu mengenai kondisi kakinya pun tak ada respon yang berarti darinya, dari ekspresi wajahnya Dirga tak menunjukkan apapun. Orang-orang terdekatnya sampai tidak bisa membaca ekspresinya, apakah ia sedih atau terluka menerima keadaannya sekarang. Namun di balik sikap diam Dirga mereka tahu pasti ada rasa tak terima Dirga menerima kenyataan ini, Dirga menunjukkan kekecewaannya itu dengan bersikap kasar membentak, memarahi setiap perawat yang datang untuk memeriksakan kondisinya. Melihat emosi Dirga yang meledak-ledak Tama hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu harus kemana mencari perawat yang sanggup merawatnya, Dirga selalu membuat mereka menangis." Tama sedang bersama Bian berada di kafetaria rumah sakit, Tama pusing karena tidak ada perawat yang mau merawat Dirga karena tak sanggup menghadapi sikap Dirga yang temperamen. Dirga sebentar lagi diperbolehkan pulang, tapi saat ini Tama sedang pusing mencari perawat untuk merawatnya.


"Kita cari perawat disini yang mau merawatnya." Bian menyampaikan idenya untuk mengambil perawat dari rumah sakit yang mau merawat Dirga selama pemulihan.


"Siapa? Disini tidak ada yang mau." Sudah banyak perawat yang menjadi korban dan mereka tidak mau menjadi perawat pribadi untuk merawat Dirga.


"Lalu, apa perlu kita mencari orang luar?" Maksud Bian orang yang mau bekerja merawat Dirga meskipun bukan seorang suster.


"Mungkin, sementara Dirga akan tinggal bersamaku selama aku belum menemukan perawat untuknya." Tama menyeruput kopinya kemudian ia dan Bian pergi menuju kamar rawat Dirga, ditengah perjalanan dari kejauhan Bian melihat Dara berdiri sedang menelepon seseorang. Tidak lama kemudian ponsel miliknya berbunyi, ternyata Dara sedang menelepon Bian.


"Ada apa Ra?" Dara terhenyak karena Bian tiba-tiba muncul dihadapan nya.


"Wah, panjang umur kau. Aku baru ingin menelepon mu." Dara menyapa Bian lalu menganggukkan kepalanya menyapa Tama dan dibalas dengan senyum oleh Tama.


"Kau datang sendiri? Mana Bella?" Bian belum pernah melihat Bella datang menjenguk Dirga.


"Wanita ular itu, dia hanya memanfaatkan Dirga. Saat Dirga terpuruk seperti ini dia mana peduli." Dara merasa geram karena Bella belum juga menampakkan batang hidungnya untuk sekedar melihat keadaan Dirga, Tama mendengar sambil mencerna pembicaraan mereka.


Sementara itu, Ariani sedang bersiap untuk berangkat ke kota B dengan hati yang bergemuruh. Ada rasa bahagia dalam hatinya bisa bekerja lagi di sana, tetapi ada juga rasa takut akan peristiwa masa lalu yang masih membayanginya.


"Ayo Ariani. Kau tidak perlu mengingat pengalaman pahit itu terus menerus." Ariani meyakinkan diri dapat bangkit melupakan masa lalu yang ia benci. Ariani memilih meninggalkan pekerjaannya di desa karena ia tak sanggup dengan hinaan orang-orang disekitarnya yang bermulut pedas, membuat telinganya panas dan sangat mengganggu kedamaian hidupnya. Setelah menerima informasi dari Indah bahwa ada lapangan pekerjaan untuknya Ariani tak menunda waktu lagi, ia segera menyusul Indah ke kota.

__ADS_1


"Semoga ini menjadi awal yang baik untukku, dan semoga nanti aku betah di tempat pekerjaan ku yang baru." Harapan itu ia ucapkan dalam hatinya di tengah perjalanannya menuju kota.


__ADS_2