
Dirga menatap Ariani dan meminta penjelasannya, Dirga menerka sepertinya Ariani janjian bertemu dengan Ryan tanpa ia ketahui. Hadirnya Ryan menambah kegusaran hati Dirga yang sudah merasa sudah tidak ada kesempatan untuknya. Tama yang dari tadi mengamati drama di halte itu membenarkan kacamatanya, ia penasaran ingin melihat akhir ceritanya akan seperti apa setelah kedatangan Ryan.
"Apa ini tentang cinta segitiga?" Tama menebak cerita yang terjadi di antara Dirga, Ariani dan Ryan.
Dirga menggenggam tangan Ariani saat Ariani hendak pergi meninggalkannya.
"Tak bisakah kau menjelaskan semuanya padaku, sebelum kau pergi." Dirga ingin tahu alasan mengapa sikap Ariani bisa berubah dengan cepat. Padahal siang tadi mereka masih baik-baik saja, tidak ada masalah. Ariani membeku, tidak tahu harus berkata apa? Sakit rasanya membohongi perasaan sendiri, apalagi menyakiti perasaan lelaki yang dicintainya.
"Kau pernah berkata padaku memberikan waktumu untuk bisa melupakannya kan? iya kan? " Dirga menangkup pipi Ariani meyakinkan Ariani atas ucapan yang pernah dikatakannya. Ia masih ingat dengan jelas saat hubungan mereka yang terlihat semakin baik dan ada kemajuan, ia pikir semuanya akan berjalan sesuai harapannya. Ariani menunduk, benar saat itu ia sadar telah mengatakannya. Tapi itu terjadi sebelum ia tahu ternyata ada Bella yang lebih dulu hadir di kehidupan Dirga, wanita yang mencoba mengetuk hati Dirga sejak lama, Ariani tidak ingin menyakiti hati sesama wanita. Ia akan pergi dari kehidupan Dirga agar Bella bisa mendapatkan Dirga. Bodohnya Ariani yang tidak memikirkan perasaan Dirga.
"Iya, aku pernah mengatakannya. Tapi dengan kehadiran kak Ryan disini aku pikir kau sudah tahu dengan jawabanku." Ariani melerai genggaman Dirga, alasan yang masuk akal baginya yang kemungkinan bisa diterima oleh Dirga, dengan itu Dirga akan menyangka Ariani masih mengharapkan Ryan.
"Jangan berharap padaku, banyak wanita yang lebih baik dari aku, yang lebih cantik dan sederajat denganmu. Bukan aku yang sudah jelas-jelas menyukai pria lain, kau tahu itu kan?" Ariani memainkan perasaannya dengan sangat baik, menutupi perih hati yang sebenarnya ia rasakan.
Sakit rasanya hati Dirga bagai diiris-iris, ternyata perhatiannya selama ini tidak ada artinya bagi Ariani.
"Ariani, ayo." Ryan yang berada di samping mobil tidak bisa mendengar percakapan Dirga dan Ariani, memecah ketegangan hati yang terjadi diantara Dirga dan Ariani.
"Apa kau sudah selesai? Aku harap kau bisa mengerti dengan apa yang aku katakan. Aku pergi." Ariani berkata dengan datar, ia memalingkan wajahnya saat mengatakan itu. Hari ini untuk pertama kalinya Ariani berubah menjadi wanita jahat yang menyakiti hati seorang lelaki.
Maafkan aku, mulai saat ini kau boleh membenciku, bahkan aku rela kau tidak mengenaliku lagi saat kita bertemu nanti.
Seakan tak percaya, Dirga tidak menyangka Ariani bisa sejahat itu padanya, inikah Ariani yang ia kenal? Ariani baru selangkah menuju mobil Ryan, lagi-lagi Dirga memegang tangan Ariani menahannya untuk tidak pergi.
__ADS_1
Tolong, jangan pergi.
Bibir Dirga tak bergerak, hanya sorot matanya yang berbicara. Memohon pada Ariani untuk tidak pergi bersama Ryan.
"Maafkan aku Dirga, aku hanya ingin melanjutkan hidup dengan tenang." Suara Ariani bergetar, menahan tangis yang terasa sakit mengganjal di tenggorokannya.
Dirga melepaskan genggamannya dengan menghentakkan tangan Ariani melepaskannya dengan kasar hingga tangan Ariani terayun. Ia pun berjalan pergi meninggalkan Ariani tanpa menoleh melihat Ariani yang berdiri mematung melihat kepergiannya dengan wajah yang memerah serta air mata yang mengumpul di matanya. Mungkin bila tidak ada Ryan disana Ariani sudah menangis sejadi-jadinya. Ryan menatap kepergian Dirga dengan senyum kemenangan.
Dirga, kau sudah lihat sendiri kan? Ariani ternyata lebih memilih aku. Kau sudah kalah Dirga.
Ryan masih ingat saat terakhir pertandingan basket itu Dirga dengan bangganya menegaskan padanya bahwa Ariani sedang dekat dengannya, itu membuat Ryan kesal.
Tama melihat Dirga berjalan menuju mobil, tadinya ia akan mencecar Dirga dengan beberapa pertanyaan tapi tidak jadi ia lakukan, ia tak ingin berkata kata setelah melihat raut wajah Dirga yang menampakkan wajah seperti serigala yang sedang marah. Dirga membanting pintu mobil dan masuk di kursi bagian belakang supir.
Hei, kau pikir aku supir mu? Duduk didepan sialan !
"Kau sudah selesai dengan urusanmu?" Dengan ramah Tama menyembunyikan kekesalannya, Dirga hanya diam, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, Dirga menutup mata dengan lengannya.
"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan perjalanan." Masih hening, Dirga masih diam mengabaikannya. Tama bisa mengerti perasaan Dirga saat ini, sepertinya moodnya sedang tidak bagus jadi ia membiarkan Dirga menyendiri melepaskan kegundahan di hatinya. Tama kemudian menyalakan mesin dan kemudian mereka pergi meninggalkan Ariani yang masih berada di sana bersama Ryan.
Ariani menatap nanar kepergian Dirga, menggaruk jemarinya menghilangkan sesak di dadanya. Rasa menyesal menyakiti orang yang mulai dicintainya.
Bodoh, kau bodoh Ariani.
__ADS_1
Ya, memang Ariani menyadari dirinya yang terlalu naif sehingga mengorbankan perasaannya sendiri demi orang lain, Ariani menggeleng tak percaya ia bisa melukai hati Dirga dengan jahatnya. Matanya berair namun ia segera mencoba tegar. Huftt, tinggal satu masalah lagi yang harus ia tuntaskan. Ariani menghela nafasnya, sekarang waktunya ia memberi keputusan perihal masa depan hubungannya dengan Ryan.
Ditatapnya Ryan yang duduk disebelahnya yang sedang menyetir mobil, lelaki yang menunggu jawaban darinya yang mengajak Ariani untuk memulai hubungan dengannya.
Mengapa kau tiba-tiba datang, di saat aku sudah mulai bisa melupakanmu ?
Ariani masih memandang Ryan, sungguh hidup ini penuh dengan kejutan, ia tidak menyangka akan menjalani kisah cinta serumit ini. Saat dirinya tergila-gila dengan Ryan, tidak pernah sedikitpun Ryan menengok padanya bahkan tidak memperdulikan keberadaannya, namun disaat Ariani sudah mulai menemukan kebahagiaan yang lain dengan sendirinya Ryan datang menawarkan cinta padanya.
"Kita ke taman saja." Ariani memecah keheningan didalam mobil.
"Baiklah, apapun akan ku lakukan untukmu." Ryan yang berwajah teduh dan ramah itu nampak sumringah.
"Ariani, coba kau ambil sesuatu di kursi belakang." Ariani pun menengok dan melihat sesuatu yang tergeletak di kursi, sekuntum bunga mawar merah.
"Ambillah, itu untukmu. Maaf aku tidak bisa memberinya langsung padamu, aku sedang menyetir." Ryan menengok kearah Ariani sebentar memberikan senyumnya yang mempesona, sesuatu yang membuat Ariani jatuh cinta padanya untuk pertama kali. Ariani pun mengambil bunga mawar yang diberikan Ryan untuknya.
"Terimakasih kak." Ini pertama kalinya Ryan memberikan sesuatu untuknya.
"Kau suka?" Ryan mengusap pucuk kepala Ariani.
"Iya." Ryan memindahkan tangannya berpindah ke jari-jemari Ariani, memegang tangan Ariani. Ariani sedikit kaget dengan perlakuan Ryan, namun ia hanya melihat dan membiarkan tangan Ryan menggenggamnya, ia bergelut dengan hatinya yang berbicara.
Tuhan, aku tahu hanya Kaulah yang bisa membolak-balikan hati. Aku tahu perasaan apa yang aku rasakan padanya sekarang. Berikan aku kekuatan agar aku sanggup menjalani hidupku setelah ini.
__ADS_1
Setetes air mata keluar dari sudut matanya, Ryan tidak tahu apa yang dirasakan hati Ariani saat ini.
Ryan dan Ariani terus melaju jauh menuju taman tidak menyadari ada sebuah mobil mengikutinya, Tomi yang selalu ingin tahu tentang hubungan Ryan dan Ariani mengikuti Ryan sejak dari awal Ryan menjemput Ariani.