Melupakanmu

Melupakanmu
Inilah Balasan Perbuatanmu !


__ADS_3

Malam telah berganti pagi, matahari menyinari bumi dengan indahnya memberikan semangat penduduk bumi mengawali harinya. Ariani yang sudah berada di kontrakan tengah memasak sarapan untuk dirinya dan Indah, ditengah aktifitas memasaknya Ariani melihat Indah yang tengah berdiri didepan cermin dengan pakaian rapi.


"Apa kau akan berangkat lebih awal?" Ariani duduk di kasur busa melihat Indah yang tengah berdandan.


"Aku ada janji dengan teman menjenguk bos yang sedang dirawat di rumah sakit, setelah itu langsung ke toko." Ariani mengangguk mengerti ternyata Indah ingin menjenguk bosnya yang sedang sakit.


"Oya, hari ini kau ada interview kan? Aku sarankan kau jangan sampai telat datang." Indah dan Ariani tengah memakan sarapan mereka.


"Iya, aku akan berangkat lebih awal."


"Baiklah, aku berangkat dulu. Semoga kau diterima kerja, semangat!" Mendapatkan support dari Indah, Ariani mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum.


"Kau juga hati-hati."


Di rumah sakit Bian terlihat sedang membantu Dirga membersihkan diri.


"Ayo bersiap, hari ini anak-anak akan datang menjengukmu." Bian memberitahu Dirga bahwa para pegawainya akan datang menengoknya.


"Harusnya kau tidak mengizinkan mereka datang." Dirga merasa tidak nyaman karena karyawannya akan menemuinya, ia tidak ingin di kasihani dengan keadaannya sekarang.


Mungkin saja mereka tertawa bahagia melihat keadaan ku.


Pikiran buruk muncul di kepalanya, Dirga sadar diri karena selama ini ia bersikap arogan pada pegawainya. Mungkin dari mereka ada yang tidak terima bahkan ada yang menyimpan dendam padanya.


"Ck.. Sudahlah kau jangan membantah, aku sudah terlanjur mengizinkan mereka datang." Dirga yang tak berdaya itu hanya diam. Terserah kau saja.


Tak berselang lama jam besuk pasien pun dibuka, Indah dan dua orang temannya sudah terlihat berada di kamar Dirga, suasana terasa dingin sedingin AC yang menyala di ruangan itu karena Dirga tidak banyak bicara. Sedangkan anak buahnya tidak tahu apa yang ingin mereka bicarakan dengan bosnya dan ini membuat suasana semakin canggung,


Ayo katakan sesuatu.


Indah berbisik ke salah satu temannya, merasa tidak enak dengan situasi seperti ini karena sebenarnya ia juga merasa tegang apalagi melihat wajah tegas Dirga dengan sorot mata tajamnya.


Selang beberapa saat Bian datang bersama Reno yang baru pulang dari tugas luar kota.


"Wah, kalian sudah disini rupanya." Semua orang yang ada di sana bernafas lega.


Fiuhhh... untung pak Bian datang tepat waktu. Suara hati mereka bersamaan.

__ADS_1


Reno yang berada di belakang Bian melihat Indah yang berada di sana, ia melirik Indah sekilas namun Indah tidak memperhatikannya. Dan akhirnya suasana kaku itu menjadi cair setelah kedatangan Bian dan Reno, disana Bian banyak berbicara menanggapi obrolan dengan para pegawainya, sedangkan Dirga hanya bicara seperlunya. Setelah dirasa cukup, Indah dan teman-temannya pamit menuju tempat kerja mereka.


"Semoga lekas sembuh pak." Mereka terlihat tulus memberikan semangat kepada Dirga, lalu di balas dengan anggukan kepala dan senyum tipis dari bibir Dirga.


Ternyata mereka perhatian padaku.


Dirga merasa tersentuh dengan perhatian pegawainya.


Indah akan langsung pergi menuju toko untuk bekerja, dua orang temannya pergi terlebih dulu meninggalkan Indah dengan berboncengan motor, sedangkan Indah akan naik bis.


"Kita duluan ya." Temannya melambaikan tangan sambil berlalu, Indah duduk di halte dekat rumah sakit menunggu bis, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapannya. Pria yang ada di mobil itu membuka kaca mobilnya, Indah memperhatikan wajah pemilik mobil itu.


"Kau mau ke tempat kerja kan? Ayo, aku antar." Reno tidak sengaja melihat indah duduk di halte menawarkan diri untuk mengantarnya, Indah menengok kanan-kiri berharap ada bis yang datang, tapi ia belum melihat ada bis yang lewat.


Apa aku harus menerima ajakan teman pak Bian?Aku sudah cukup lama menunggu bis tapi belum ada yang lewat.


Indah melihat Reno mengangkat satu alisnya menunggu jawaban, karena tidak ingin terlambat akhirnya Indah menerima tawaran Reno. Ia duduk di kursi depan bersebelahan dengan Reno.


"Terimakasih sudah mau mengantar ku."


"Tidak apa-apa, kebetulan tempat kerjaku searah jadi tidak ada salahnya kita pergi bersama." Reno cari-cari alasan padahal ia sedang libur kerja, Indah hanya tersenyum menanggapinya.


"Saya Indah." Indah balas menyalami tangan Reno mereka berkenalan dan sesekali Reno mengobrol ringan dengan Indah meskipun Indah nampak menjaga jarak dengannya.


Ariani sendiri sedang mempersiapkan diri melakukan wawancara bersama pemilik sebuah toko roti dan kue ternama di kota itu, wawancara itu akan di mulai setelah jam makan siang tetapi Ariani berangkat lebih awal agar tidak terlambat karena ini adalah sebuah kesempatannya bekerja lagi di kota. Ariani sudah sampai ditempat yang ia tuju, ia memastikan kembali apakah benar alamatnya sesuai dengan yang Indah tulis.


Ariani berjalan sambil melihat-lihat keindahan ruko-ruko yang berjejer panjang, namun tanpa sengaja pandangan Ariani berhenti pada sosok wanita yang ia kenal. Ariani melihat Bella yang baru keluar dari toko roti dan kue yang akan ia tuju.


Bella.


Ariani segera bersembunyi sebelum Bella melihatnya, Ariani mengintip Bella dari balik mobil yang sedang terparkir. Ia melihat Bella masuk kedalam mobilnya lalu pergi. Ariani masih mengingat perbuatan Bella padanya, hatinya berdenyut sakit membayangkan penghinaan Bella padanya.


"Bagaimana? Apa kau bahagia? Semua yang kau inginkan telah kau dapatkan." Ariani masih menyimpan rasa sakit, Dirga sudah menjadikan Bella kekasihnya. Apa kau puas?


"Dirga." Mata indahnya masih tertuju pada mobil Bella yang sudah terlihat jauh meninggalkan ruko. Ada rasa rindu dalam diri Ariani ketika mengingat Dirga.


Kau sudah bahagia bersama Bella, aku bisa apa?

__ADS_1


Sejenak Ariani mengesampingkan perasaannya kemudian Ariani masuk ke dalam toko itu berharap ia akan diterima bekerja.


Dirga mulai menunjukkan perbaikan sikap setelah mendapat dukungan dari orang-orang terdekat yang menyayanginya, tadi pagi para karyawannya datang menjenguknya dan baru saja orang tua Tama datang menemuinya.


"Kau harus semangat agar kau cepat pulih." Pesan bibi.


"Selama pemulihan baiknya kau tinggal di rumah kami saja." Saran paman yang menurutnya berat untuk di terima, Dirga sudah terbiasa hidup tenang menyendiri, rasanya dia tidak akan betah.


"Aku tidak mau." Dirga mengadu pada Tama setelah paman dan bibinya pergi, Tama yang mendengar hanya bisa menghela nafas. Ia yang mengerti sifat Dirga memberikan syarat padanya asalkan ia bisa menahan sifat temperamental nya.


"Kau boleh tinggal di rumahmu, asalkan ada yang mau mengurusmu." Sindiran halus Tama untuknya, karena banyak perawat yang mengeluh karena sifat keras Dirga yang membuat kapok.


Saat Dirga ingin beristirahat setelah makan dan minum obat, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu lalu menampakkan wajahnya, Dirga sedikit terkejut akan kehadiran seorang wanita yang tak lain adalah Bella. Kekasihnya yang belum pernah sekalipun datang menjenguknya.


Mau apa dia kemari?


Dirga menatap Bella dengan pandangan dingin, yang ditatap menampilkan senyum manisnya. Bella masuk lalu menaruh kue dan buah untuk Dirga di atas meja.


"Hai, sayang. Maaf aku baru sempat menemui mu. Aku sibuk." Bella berjalan dengan anggun lalu berdiri tepat di ujung ranjang, ia melihat salah satu kaki Dirga yang dibungkus perban. Ia terkekeh, Dirga diam membiarkan Bella menertawainya.


"Apa ini sakit?" Bella meraba kaki yang dibalut perban itu dengan sedikit menekannya, membuat Dirga meringis menahan sakit.


"Ini tidak seberapa dengan sakit yang aku rasakan." Bella tersenyum miring.


"Kau tahu seberapa sakitnya aku yang menunggumu bertahun-tahun, tapi kau hancurkan rasa cintaku. Kau menyukai wanita lain."


"Kau bahkan tega mempermainkan perasaanku Dirga!" Bella meninggikan suaranya mulai meluapkan emosinya.


"Lihatlah, inilah balasan perbuatan mu padaku!" Deg! Seketika hati Dirga berdenyut, apakah benar ini karma yang harus ia terima dari perbuatannya?


"Sekarang, apa kau mengharapkan ku untuk kembali bersamamu?" Bella tergelak lagi, Dirga merasa sangat direndahkan saat ini.


"Hahaha... Asal kau tahu, aku memang begitu mencintaimu. Tapi sekarang kenyataannya sudah berbeda, aku tidak lagi mencintaimu. Kau cacat Dirga, aku tidak ingin membuang waktuku terus menunggumu, merawatmu yang entah sampai kapan akan kembali seperti dulu." Dirga mengepalkan tangannya, ingin sekali ia bangkit lalu mencekik leher kekasihnya.


"Aku tidak cacat! Aku akan sembuh! Jika kau kemari hanya untuk menghinaku lebih baik kau pergi. Dan satu hal, aku tidak pernah menginginkan mu."


"Dengan kondisimu yang seperti ini kau masih bisa bersikap sombong. Lihatlah dirimu! Seandainya wanita kampung itu tahu keadaanmu sekarang, mungkin dia akan melakukan hal yang sama denganku."

__ADS_1


"Dia bukan kau." Dengan mantap ia mengucapkannya, meskipun dalam hati sebenarnya ia ragu.


"Cih...Buka matamu! Kau tidak akan pernah menemukan wanita yang tulus mencintaimu, yang ada hanya rasa kasihan melihat keadaan mu. Begitu juga aku, mulai sekarang aku mundur. Jangan lagi datang menemui ku. Kita putus!"


__ADS_2