Melupakanmu

Melupakanmu
Saling Memikirkan


__ADS_3

Indah berjalan menyusuri gang menuju kontrakannya, senyum manis menghiasi bibirnya karena tadi Reno mengantarnya pulang.


"Sepertinya dia orang baik." Indah membayangkan kembali kedatangan Reno yang tiba-tiba muncul saat ia akan pulang dari bekerja.


Flashback On


"Kau sedang apa?" Reno menghentikan mobilnya lalu membuka jendela. Indah menyipitkan mata menajamkan penglihatannya karena saat malam hari penglihatannya agak terganggu.


"Saya mau pulang."


"Ayo aku antar."


"Tapi saya sudah memesan ojek online, tidak enak kalau dibatalkan." Indah yang sudah terlanjur memesan ojol tidak enak membatalkannya karena abang ojol sedang menuju tempat, Reno kemudian keluar lalu duduk di samping Indah.


Dia mau ngapain?


Indah melirik lelaki yang baru dikenalnya tadi pagi itu dengan ujung matanya. Setelah beberapa saat tukang ojek pesanan Indah pun sampai.


"Dengan mba Indah." Abang ojek memanggil Indah tetapi Reno yang menghampiri, Indah tercengang melihat tingkah Reno. Indah memperhatikan Reno terlihat mengobrol dengan abang ojek, ia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Reno dan selanjutnya Reno memberikan uang pada abang ojek lalu abang ojek itu pergi.


"Loh? kok abang ojeknya pergi?" Indah terkejut karena ojeknya pergi tanpa memberitahunya, Reno hanya tersenyum.


"Ayo aku antar." Reno masih mencoba usahanya ingin mengantar Indah pulang.


"Tapi abang ojeknya gimana?"


"Tadi dia bilang kebelet jadi dia pergi. Kamu mau pulang bareng aku tidak?" Reno memberikan alasan yang membuat Indah melongo, apakah benar yang dikatakannya.


Ha? Yang benar saja tadi saya lihat barusan abang ojeknya terlihat ga ada masalah.


Akhirnya Indah menerima tawaran Reno untuk mengantarnya pulang karena tidak ada pilihan lain dan hari sudah malam. Di dalam mobil tampak hening.


"Sudah berapa lama kau bekerja?" Reno mencoba memecah keheningan.

__ADS_1


"Satu tahun." Reno meliriknya mendengar Indah yang hanya menjawab singkat.


"Benarkah? Kok aku baru tahu kau bekerja di sana?" Indah menengok ke arahnya dan Reno balik menengok menatap Indah, mata mereka bertemu.


"Saya juga baru tahu kalau anda teman pak William dan pak Bian." Mendengar nada suara Indah yang agak jutek Reno tersenyum, terdengar ia menahan tawanya dengan suara nafas yang berhembus dari hidungnya.


"Bagaimana ya aku menjelaskannya, itu karena pekerjaan yang mengharuskan ku pergi keluar kota jadi aku jarang berkumpul dengan Dirga dan yang lain." Indah mengangguk mengerti mengenai pekerjaan Reno yang ternyata cukup sibuk. Setelah sampai Reno melihat tangan Indah yang tidak memakai jam tangan, ia teringat sesuatu lalu membuka laci mobil.


"Ini, bukalah." Reno memberikan sebuah kotak lalu Indah membukanya.


"Ini untuk saya?" Indah melebarkan matanya, mulutnya tersenyum lebar karena bahagia. Reno memberikan jam tangan yang dulu pernah ingin ia beli tapi tidak jadi dan saat itu Reno yang membelinya. Reno hanya mengangguk sedang asyik memperhatikan ekspresi Indah.


"Terimakasih, tapi apa ini tidak berlebihan?" Indah tahu harga jam itu mahal dan cukup menguras kantongnya, tapi itu tidak seberapa bagi Reno kan.


"Tadinya aku ingin membelikannya untuk hadiah adikku yang berulang tahun, tapi dia menginginkan hadiah yang lain." Reno memberikan alasan yang ia karang sendiri, yang penting Indah percaya.


Flashback Off


Indah memandangi jam tangan yang melingkar ditangannya, ini jam yang ia incar namun ia tidak sempat membelinya karena uangnya terpakai untuk biaya sekolah adiknya. Tapi seperti sudah rezeki, ia tak menyangka ada yang memberikan jam itu padanya.


Indah masuk kedalam kontrakan dan melihat lampu masih menyala terang, ia lalu menuju ruangan kedua yang dijadikan kamar dan melihat Ariani tengah duduk memeluk guling sambil melamun.


"Ariani." Indah menepuk pundak Ariani karena Ariani tak menyadari kedatangannya.


"Indah kau sudah pulang." Ariani terkesiap Indah mengejutkannya.


"Kau belum tidur, kau sedang memikirkan apa? Kau diterima kerja kan?" Indah melihat kediaman Ariani seperti ada yang dipikirkan.


"Iya aku diterima, besok sudah mulai bekerja." Ariani mengubah posisi duduknya dengan memeluk lutut lalu menopang dagu di atas lututnya, Ariani kembali diam. Indah merasa aneh dengan sikap Ariani tidak seperti biasanya.


"Ariani kau kenapa?" Indah memang peka dengan melihat perubahan Ariani mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan temannya ini. Ariani menghela nafas sebentar.


"Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan ibu." Ariani tersenyum tipis menutupi isi hati sesungguhnya.

__ADS_1


"Oh, aku kira apa. Ya sudah nanti jangan lupa menelpon ibumu mungkin beliau juga merindukanmu." Indah tidak tahu apa yang sedang Ariani pikirkan, Ariani bukan memikirkan ibunya tetapi Dirga. Ariani masih mengingat pertemuannya dengan Dirga yang tidak disengaja, tetapi sikap Dirga yang berbeda membuatnya tidak bisa tidur.


Dirga, mengapa kau berubah? melihatku saja kau seperti tidak sudi.


Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Dirga yang juga sedang memikirkan Ariani, ia tidak bisa tidur karena memikirkan gadis itu.


"Kenapa kau kembali?" Dirga masih terjaga di kamar rawat inap sendirian, ia sudah mencoba memejamkan matanya tapi bayang-bayang Ariani selalu muncul di kepalanya.


"Debaran ini masih sama, tidak ada yang berubah saat aku melihatmu." Dirga memegang dadanya yang sebelah kiri yang berdetak cepat saat berjumpa Ariani.


"Tapi sikapmu saat kita berjumpa membuatku ragu, apa kau tidak suka dengan perjumpaan kita?" Begitulah yang ada dipikiran Dirga, Dirga melihat ekspresi Ariani yang mundur seperti ingin menjauhinya saat berjumpa dan itu membuat Dirga memilih menghindarinya.


Dua hati yang menyimpan rasa tak bisa menepis segala kegundahan hati masing-masing, seolah sudah terikat hati mereka saling memikirkan meskipun di tempat berbeda.


....


Ariani bangun pagi sebelum matahari terbit ia memasak untuk sarapan, tapi hari ini Ariani membuat dengan porsi yang agak banyak. hari ini adalah hari pertama ia bekerja, tapi sebelum berangkat bekerja ia berkunjung ke rumah sakit terlebih dahulu. Ariani ingin menemui Dirga.


Dengan hati yang berdebar Ariani masuk kedalam rumah sakit menuju lantai kamar Dirga.


"Kira-kira Dirga akan mengusir ku lagi tidak ya?" Ariani sudah keringat dingin seperti akan melakukan uji nyali ingin masuk kamar Dirga. Ariani sudah berada di depan kamar Dirga, dilihatnya lantai VIP rumah sakit itu masih terlihat sepi.


"Masuk tidak ya?" Ariani sudah memegang handle pintu, jantungnya berdetak semakin cepat.


"Huft... Rasanya seperti berada di ruang sidang dan aku akan menerima hukuman." Ariani membayangkan wajah galak Dirga bagaikan serigala yang siap mengeluarkan kata-kata pedas dan memekakkan telinganya.


"Aduh, gimana ini? Aku takut sekali, seseorang tolong temani aku." Ariani menyandarkan punggungnya di tembok, akhirnya Ariani mengurungkan masuk ke kamar Dirga. Dari kejauhan Tama beserta keluarganya yang baru datang melihat Ariani yang berdiri di depan kamar Dirga. Ayah Dirga serta bu Maya juga ikut serta.


"Siapa gadis itu?" Ibunya Tama melihat Ariani yang berdiri mematung didepan pintu kamar mengundang perhatian mereka.


"Dia kekasihnya." Celetuk Tama hingga menghentikan langkah kaki para orangtua, mereka kompak melihat kearahnya. Tama hanya tersenyum jenaka.


"Kekasih? jadi Dirga sudah punya calon menantu untukku. Mengapa anak itu membiarkan pacarnya di luar?" Pak Galih nampak gembira mendengar berita itu, ternyata Dirga sudah punya pacar.

__ADS_1


"Mungkin mereka sedang ada masalah dan Dirga melarang kekasihnya untuk masuk." Bisa-bisanya Tama mengarang cerita, apa ia tidak memikirkan imbas dari ucapannya?


__ADS_2