Melupakanmu

Melupakanmu
Dara Menceritakan Masa Lalu


__ADS_3

Dara membawa Ariani keluar meninggalkan Bella yang tersenyum puas menyakitinya. Dara berjalan di samping Ariani merangkul dan menuntunnya berjalan. Beberapa pasang mata yang berada diluar menatap mereka dengan tatapan penuh tanya, namun mereka hanya bisa melihat tanpa ingin mengorek lebih jelas kejadian yang terjadi di dalam toilet. Dara membawa Ariani menuju ruang kerjanya, pertanyaan demi pertanyaan dari pegawai sekaligus teman kerja Ariani menghampiri disepanjang jalan, mereka terkejut sekaligus bersimpati melihat keadaan Ariani yang nampak kacau dengan rambut yang berantakan serta ada luka disertai darah di pelipisnya. Apa yang sudah terjadi dengan Ariani? Namun tidak ada satupun pertanyaan dari mereka yang dijawab, Dara meminta karyawannya untuk diam dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


"Duduklah, aku akan mengambilkan kotak obat untuk mengobati lukamu." Dengan segera Dara menuju lemari mengambil sebuah kotak kecil berwarna putih, dari kejauhan ia melihat Ariani duduk terdiam menunduk, tubuhnya gemetar. Sepertinya Ariani syok mendapat perlakuan Bella yang terbilang kejam, Dara mengambil segelas air putih.


"Ini minumlah, tenangkan dirimu. Kau akan baik-baik saja." Dara mengusap punggung Ariani, ia berusaha menenangkan Ariani yang terguncang, tapi malah membuat Ariani menjadi semakin tak kuasa menahan tangisnya. Ia sudah tidak bisa menahan sakit, Ariani merasa tidak memiliki masalah dengan Bella, kenal pun tidak. Tapi mengapa ia harus mendapat perlakuan yang menyakitkan seperti ini?


"Apa salah saya? Hiks.. hiks.." Tangis Ariani pun pecah, lagi-lagi ia harus mendapat perlakuan tidak mengenakkan di tempat kerjanya. Dara memeluk Ariani, ia merasa bersalah karena ia juga terlibat dengan masalah yang terjadi diantara hubungan Dirga, Ariani dan Bella. Seandainya saat itu Dara tidak meminta Ariani yang mengantarkan makanan ke rumah Dirga, mungkin akan lain ceritanya.


"Maafkan aku, Ariani." Wajah Dara memerah, matanya pun berkaca-kaca. Ikut merasakan sakit yang dirasakan Ariani.


Maafkan aku yang sudah ceroboh, membawamu kedalam masalah hubungan Bella dan Dirga.


Bella, aku tak menyangka kau bisa berbuat seperti ini, sungguh keterlaluan !


Sesaat setelah minum, Ariani sudah bisa meredam tangisnya, perlahan ia mulai tenang kembali, Dara mulai mengobati luka di pelipisnya, ia menutup lukanya dengan plester. Setelah itu Dara menatap Ariani, mungkin ia harus menceritakan keadaan yang sebenarnya. Hubungan antara Bella dan Dirga dimasa lalu yang tak pernah berujung.


"Ariani, maafkan aku karena kau harus menerima perbuatan yang tidak menyenangkan ini. Ini semua terjadi karena Bella, Bella sepertinya sudah mengetahui kedekatan Dirga denganmu." Ariani menengok ke arah Dara, menatap dengan pandangan penuh tanya. Ada apa lagi ini?


"Bella tidak suka kau dekat dengan Dirga, dia tahu kau datang ke rumah Dirga dan merawatnya yang sedang sakit. Bella tidak suka, maka dari itu ia melampiaskan amarahnya padamu." Sedikit akar masalah dimengerti oleh Ariani, Ariani masih diam mendengar apa yang akan diungkapkan Dara selanjutnya.


"Sedari dulu Bella menyukai Dirga, dia jatuh cinta pada pandangan pertama saat Dirga menyelamatkannya dari sebuah insiden saat awal masuk SMA." Dara mulai menceritakan awal mula Bella menyukai Dirga.

__ADS_1


"Saat itu aku dan Bella sedang melihat teman yang sedang bermain basket di lapangan sekolah, tanpa sengaja ada salah satu anak yang melempar bola terlalu kuat hingga bola melesat ke arah kami dan akan mengenai wajah Bella, Bella ketakutan ia langsung menutup wajahnya dengan tangan tapi entah darimana datangnya ada sebuah tangan menahan bola itu dan wajah Bella selamat tidak sampai terhantam bola. Dan orang yang menyelamatkan Bella adalah Dirga." Dara menceritakan awal mula perjumpaan Bella dengan Dirga, Bella jatuh cinta pada Dirga karena aksi heroiknya menyelamatkan Bella dari bola basket yang akan menghantam wajahnya.


"Dan sejak kejadian itu Bella mulai menyukai Dirga, ia selalu memberikan perhatiannya hanya pada Dirga. Mengejar cinta Dirga sampai sekarang." Ariani merasa kisah Bella ini sama dengan dirinya yang menyukai Ryan sejak pada pandangan pertama.


"Aku salut padanya, meskipun Dirga tak kunjung membalas perasaannya tetapi Bella tak pantang menyerah. Ia tetap memperjuangkan perasaannya agar Dirga mau menerimanya." Ariani mengurai semua yang diceritakan Dara.


Sepertinya Bella sangat mencintai Dirga.


Ariani menunduk tersenyum samar ternyata ada wanita yang lebih tangguh darinya, selama ini mungkin hanya dia yang bisa bertahan dengan menyukai satu lelaki dalam diam tapi ternyata ada yang lebih tangguh darinya yaitu Bella yang mencintai Dirga dan dengan beraninya Bella menunjukkan perasaannya pada Dirga meskipun tak berbalas dan itu masih dilakukannya hingga kini. Sangat berbanding terbalik dengan sikap yang diambil Ariani yang lebih memendam perasaan didalam hati, Bella lebih terbuka dalam menunjukkan perasaanya.


"Apa Dirga menyukai Bella?" Ariani mencoba mencari tahu kelanjutan kisah antara Dirga dan Bella, Dara menggelengkan kepala.


"Ariani, mulai sekarang kau harus hati-hati dengan Bella. Dia cukup arogan, ia akan menyingkirkan siapapun yang dekat dengan Dirga. Bella itu sangat terobsesi dengan Dirga." Ucapan Dara membuat Ariani merinding, di samping itu Ariani merasa kasihan pada Bella. Ariani sadar, merasa dirinya kini menjadi batu sandungan Bella dalam upayanya mendapatkan Dirga. Mungkin karena mereka sama-sama pejuang cinta, Ariani dapat memahami perasaan Bella.


"Baik, Bu Dara. Terimakasih sudah mau menceritakannya, akan ku pastikan selanjutnya tidak akan terjadi hal seperti ini lagi." Dara mencerna ucapan Ariani, apa artinya Ariani akan menjauhi Dirga?


"Bolehkah aku meminta satu permintaan pada anda?" Ariani sepertinya sudah memutuskan sesuatu.


"Iya, apa itu Ariani?" Dara berdebar, apakah tindakannya ini benar? Ia menerka apa yang akan dilakukan Ariani setelah ini.


"Tolong jangan ceritakan kejadian ini pada Dirga." Ariani tidak ingin Dirga mengetahui kejadian ini. Ia takut Dirga akan membenci Bella.

__ADS_1


"Tetapi ini sangat fatal, Bella sudah menyerang mu Ariani." Dara tidak habis pikir dengan pinta Ariani.


Selembut itukah hatimu.


"Kumohon jangan beritahu dia." Pinta Ariani dengan sorot mata memohon, membuat Dara luluh.


"Baiklah, tapi tolong jawab pertanyaan ku dengan jujur. Apa kau dan Dirga sudah resmi berpacaran?" Dara tahu sebenarnya Dirga menyukai Ariani karena ia melihat tatapan dan sikap Dirga yang berbeda pada gadis itu.


"Tidak, kita hanya berteman. Tidak lebih." Suara Ariani sedikit bergetar, sebenarnya ia menunggu ungkapan hati Dirga padanya.


Dirga apa benar hatimu sedingin itu, kau membiarkan gadis yang kau sukai didepan mata tanpa kejelasan. Pria macam apa kau?


Dara tidak menyangka dengan sikap Dirga yang terkesan menutup diri, padahal jelas-jelas ia menyukai Ariani. Tetapi mengapa Dirga mengulur waktu untuk mengungkapkan perasaannya.


"Lalu bagaimana perasaanmu padanya? Apa kau menyukainya?" Dara mencoba mencari tahu isi hati Ariani, apakah ada perasaannya untuk Dirga?


Aku menunggunya.


"Maaf Bu Dara, aku tidak bisa menjawabnya. Terimakasih dengan semua kebaikan anda. Saya permisi ingin melanjutkan pekerjaan." Ariani mengelak, ia terlalu malu untuk berterus terang pada Dara. Kemudian ia pamit keluar ruangan Dara.


"Sepertinya dia malu untuk berkata jujur padaku. Rumit sekali cinta segitiga ini." Dara menjatuhkan tubuhnya di sofa, kepalanya pening ikut memikirkan masalah yang bukan masalahnya.

__ADS_1


__ADS_2