Melupakanmu

Melupakanmu
Drama Kancing Baju


__ADS_3

Ariani bergelut dengan hatinya apakah ia harus melakukan hal memalukan ini? Ya, menurutnya ini memalukan, Ariani terlalu malu jika harus berpakaian kelewat seksi memamerkan lekuk tubuhnya di hadapan Dirga meskipun kini Dirga sudah menjadi suaminya.


"Ini ide buruk, aku malu jika harus berpakaian seperti ini di hadapannya. Bagaimana jika nanti Dirga mengira aku wanita penggoda?" Ariani masih di depan cermin membayangkan reaksi Dirga seandainya melihatnya dengan penampilan seperti itu, Ariani takut Dirga akan berpikiran kalau ia sedang menggodanya.


"Tapi memang kenyataannya aku sedang berusaha merebut hatinya kan. Ayolah Ariani, kau harus sedikit berani." Ariani bicara dengan dirinya.


"Bagaimana kalau nanti dia menendang ku?" Pikiran buruk terlintas dalam pikirannya. Cukup lama Ariani berdiam dikamar mandi membayangkan hal-hal yang ia takutkan yang belum tentu terjadi.


"Ariani!" Dirga memanggilnya dari luar. "Sedang apa kau di dalam? Apa kau tertidur?!" Suaranya menggema sampai didalam kamar mandi.


"Tunggu sebentar." Ariani menggigit kukunya masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


"Sudahlah, sepertinya tidak akan berhasil." Dan akhirnya Ariani mengganti lingerie dengan daster lengan pendek selutut yang biasa ia pakai untuk tidur. Saat membuka pintu tubuh Ariani sedikit terlonjak karena Dirga sudah berdiri didepan pintu kamar mandi, Ariani keluar melewati Dirga sembari menampilkan senyum manisnya tetapi tidak ditanggapi oleh Dirga, ia hanya melirik Ariani sekilas kemudian masuk ke kamar mandi.


"Senyummu mahal sekali." Ariani menggerutu sambil berjalan dengan menghentakkan kakinya kesal dengan ekspresi Dirga yang datar, untung saja Dirga tidak mendengar.


Dirga keluar kamar mandi dan bersiap untuk tidur, ia melirik Ariani duduk di sofa sedang bermain hape. Dirga berjalan perlahan menuju tempat tidur namun ia tidak langsung berbaring, Dirga mengambil buku lalu membacanya sambil duduk menyandar pada bantal.


"Apa kau ingin makan sesuatu?" Ariani yang tadinya sudah ingin berbaring di sofa tidak jadi saat melihat Dirga masih duduk dan baca buku. Ia mendekat ke tempat tidur berinisiatif menawarkan cemilan.


"Aku tidak lapar, ambilkan aku minum saja." Dirga menjawab dengan pandangan mata masih ke arah buku.


"Kamu mau minum apa? Air putih atau susu?" Sebenarnya Dirga ingin Ariani mengambilkan air putih saja tetapi mengapa Ariani harus bertanya. Dirga beralih menatap Ariani tetapi tak disangka ada sesuatu yang menarik perhatiannya saat melihat Ariani. Pandangan mata Dirga tertuju pada dada Ariani, ternyata kancing baju Ariani terbuka. Ia lupa menutupnya dan Dirga melihat belahan dada Ariani mengintip di balik kain daster dan nampak indah dihiasi renda br*.


"Susu." Dirga menjawab seraya mengalihkan pandangannya.


Astaga, apa yang aku katakan. Ia pun terkejut mengapa kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Baik, akan ku buatkan. Tunggu sebentar." Ariani segera pergi membuatkan susu permintaan Dirga dengan sukacita, masih tidak menyadari dan belum mengecek pakaiannya.


"Ini." Ariani menaruh gelas di meja nakas, Ariani masih diam berdiri di tempat karena Dirga belum juga menyentuh gelas dan masih fokus dengan bukunya.


"Kenapa masih disini?" Dirga menatap heran mengapa Ariani belum pergi. Dan lagi-lagi ia melihat bagian depan pakaian Ariani masih terbuka.


Apa dia lupa mengancing bajunya?


pandangan mata Dirga menatap wajah dan baju Ariani secara bergantian.

__ADS_1


"Ayo diminum dulu selagi hangat." Ariani yang dari tadi menunggu Dirga meminum susu buatannya dengan polosnya mendekat menyodorkan gelas kepada Dirga.


"Kau ingin melihat aku menghabiskannya?" Dengan pasti Ariani menganggukkan kepala, Dirga meminum susu buatan Ariani dengan pandangan mata menatap pemandangan indah didepannya. Jiwa lelaki nakal Dirga muncul, seperti tidak ingin melewatkan kesempatan Dirga bukannya memberitahu Ariani, ia sampai tak berkedip fokus melihat kearah depan. Ariani dengan lugunya tersenyum tanpa rasa curiga mengapa tiba-tiba Dirga bisa menjadi penurut.


"Wah, kamu menghabiskannya dengan cepat, besok aku buatkan lagi supaya kamu lekas pulih. Susu mengandung kalsium bagus untuk tulang..." Ariani terus mengoceh sana sini, Dirga hanya diam mendengarkan.


"Sudah pergi sana." Dirga sudah mulai merasa gerah dan menjadi tidak fokus meneruskan membaca bukunya, sedangkan Ariani menurut saja keluar menaruh gelas ke dapur.


"Dia sangat ceroboh." Dirga menggelengkan kepala, ia terkekeh melihat kecerobohan Ariani.


Waktu sudah semakin malam dan mereka sudah bersiap untuk tidur. Ariani mematikan lampu kini di kamar itu hanya ada lampu tidur yang menyala. Saat Ariani hendak membaringkan tubuhnya ia baru menyadari kalau kancing bajunya terbuka.


Astaga, aku lupa menutup kancing bajuku.


Ariani terlihat panik dan segera menutup kancing bajunya.


Jadi dari tadi pakaian ku terbuka.


Ariani menepuk jidatnya kemudian ia menengok ke arah tempat tidur.


Apa Dirga melihatnya?


Mengapa Dirga tidak memberitahuku?


Ariani menjambak rambutnya terus menendang-nendang selimut mengingat kejadian sebelumnya, ia menyesal sudah memberikan pemandangan indah secara cuma-cuma untuk Dirga. Di balik selimut Dirga tersenyum, ia sebenarnya tahu Ariani pasti sedang kesal karena sudah mengetahui kecerobohannya.


Hahaha... Dia terlihat lucu saat sedang kesal.


Dirga tertawa dalam hati karena ia sudah menang banyak.


....


"Menyebalkan, ini semua karena pakaian kurang bahan itu." Ariani merutuki kejadian semalam, karena terburu-buru mengganti baju ia sampai lupa mengancing bajunya.


"Pantas saja sikap Dirga berbeda, saat aku mendekatinya ia tidak mengusirku dan dia menuruti apa perkataan ku. Ternyata diam-diam kau menikmati pemandangan indah dihadapan mu ya." Ariani memukul pelan meja, kesal pada dirinya yang sudah kecolongan mengumbar bagian tubuhnya pada Dirga, memang bukan salahnya, hanya saja ia menyayangkan kecerobohannya hingga itu menjadi sebuah keuntungan buat Dirga.


"Lupakan, anggap saja semalam Dirga tidak melihatnya." Ariani menyeruput teh manis hangat, ia sedang ada di dapur. Sebuah kebiasaannya meminum teh manis sebelum memulai aktifitas pagi hari.

__ADS_1


"Ya ampun, stok bahan makanan di kulkas sudah habis." Ariani membuka kulkas dan ternyata stok sayuran dan bahan makanan menipis. Ariani lupa belanja keperluan dapur, pagi ini ia terpaksa membuat sarapan dengan bahan seadanya.


"Kenapa dia belum juga keluar." Ariani melihat jam biasanya Dirga selalu keluar tepat saat jam makan tetapi Dirga belum juga muncul.


"Dirga." Ariani mengetuk pintu namun tidak ada jawaban, ia pikir Dirga masih tidur lalu Ariani membuka pintu akan tetapi saat masuk kamar ternyata Dirga juga baru keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada hanya memakai celana pendek selutut.


Astaga, kok dia belum pakai baju.


Ariani menutup wajahnya dengan tangan, ia mengintip tubuh sempurna Dirga di sela-sela jarinya.


"Ada apa?" Dirga duduk di ujung tempat tidur, Ariani menurunkan tangannya kemudian berjalan pelan menghadap Dirga.


"Baru selesai mandi ya?" Ariani berbasa-basi namun Dirga diam tidak menjawab, sebenarnya Dirga telat bangun karena ia tidak bisa tidur gara-gara kejadian semalam.


Ariani menarik nafas mencoba sabar karena Dirga kembali ke setelan awal, cuek bebek.


"Minta uang." Ariani mengulurkan tangannya seperti anak kecil sedang meminta uang jajan.


"Untuk apa?" Dirga dengan santainya mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, rambutnya terlihat acak-acakan, Ariani menahan debaran melihat Dirga yang bertambah tampan dan segar menurutnya saat habis mandi.


"Stok sayur dan bahan makanan sudah habis, aku tidak punya uang lagi untuk belanja." Dirga terdiam dengan handuk yang mengalung dilehernya, ia baru ingat ternyata ia lupa memberi Ariani uang belanja. Jadi Ariani menggunakan uang pribadinya untuk membeli keperluan dapur.


"Tolong ambilkan baju." Bukannya memberi uang, Dirga meminta Ariani mengambilkan bajunya di lemari. Sebagai istri Ariani patuh menurutinya.


Ariani dengan sabar diam berdiri menunggu Dirga sampai selesai memakai baju, ia memperhatikan kaki Dirga yang masih dibalut dengan perban elastis di bagian pergelangan kaki.


"Apa itu akan lama pulih?" Tiba-tiba Ariani bertanya membuat Dirga seketika melihat kearahnya. Ariani menunduk tak berani membalas tatapan Dirga yang dingin.


"Aku do'akan semoga kamu cepat sembuh bisa berjalan seperti dulu lagi, kamu bisa melakukan aktivitas seperti dulu bekerja dan berkumpul bersama teman-temanmu."


"Dan kau?" Dirga yang sedari tadi tidak melepaskan tatapannya semakin membuat Ariani gugup dengan ucapannya.


"Aku?" Ariani tak mengerti maksud ucapan Dirga.


Dan setelah itu kau akan pergi dan kembali bersama Ryan.


Cih! Membayangkannya saja Dirga sudah kesal, Dirga pergi tak berkata lagi meninggalkan Ariani yang menunggu penjelasannya.

__ADS_1


Kau benar-benar sulit ditebak, aku tidak bisa menggapai mu kalau kau terus seperti ini.


__ADS_2