Melupakanmu

Melupakanmu
Malam Yang Dingin


__ADS_3

Ariani seperti tidak semangat untuk melanjutkan pekerjaan nya karena insiden itu, ia merasa sudah tidak bergairah lagi rasanya ingin pulang saja padahal pagi itu ia sudah memotivasi dirinya untuk semangat dalam bekerja.Teman-teman sesama pegawai cafe pun sebenarnya sudah memberikan dukungan dan mencoba menghiburnya karena di dalam pekerjaan pasti akan menghadapi berbagai masalah, kita harus menghadapinya dan tidak terlalu memikirkan kembali masalah itu dengan mencoba untuk menjadi lebih baik lagi.


Jam menunjukkan waktu sudah malam, cafe milik Dara pun sudah tutup, beberapa pegawainya masih berada di dalam. Mereka duduk bercengkrama bersama dan memakan cemilan pemberian Dara sebelum pulang.


"Ariani, kau baik - baik saja? Jangan terlalu memikirkan masalah yang sudah terjadi, di dalam pekerjaan itu wajar jika kita mendapatkan masalah. Kau harus kuat menghadapinya, kuatkanlah mental mu seperti baja." Sinta menasehati dan berusaha menghiburnya, ia melihat raut wajah Ariani yang masih terlihat murung berbeda dari biasanya.


" Iya, aku pun pernah berada di posisimu, lebih parahnya wajahku sampai disiram dengan air." Salah satu temannya berbicara tentang pengalamannya yang tidak menyenangkan, Ariani lalu menengok kearahnya.


"Benarkah?" Temannya menganggukkan kepala, entah itu cerita benar atau hanya sekedar karangan saja untuk menghibur Ariani yang terpukul dengan apa yang sudah dialaminya. Mereka pun tidak lama meninggalkan tempat kerjanya, satu persatu pulang dengan kendaraan nya dan ada juga yang sudah menunggu diluar menjemputnya. Sinta pamit pulang lebih dulu pada Ariani karena pacarnya sudah menjemput nya.


Kini tinggallah Ariani sendiri, ia berjalan kaki menuju halte untuk pulang naik bis, Malam itu sangat dingin, semilir angin menyapu wajah dan menembus kulit Ariani yang memakai kardigan rajut panjang. Ariani berjalan dengan memeluk tubuh nya yang kedinginan, ia pun sampai di halte dan duduk menunggu bis datang. Suasana hening membuat dirinya terbawa suasana dengan duduk melamun sendiri di halte itu, banyak sekali yang dipikirkannya.


Di sela lamunannya Ariani dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang datang padanya. Dirga yang sebenarnya sudah menunggunya pulang datang menghampiri Ariani.


"Kau sedang apa?" Dirga yang tahu tentang kejadian siang hari itu bertanya seperti tidak tahu apa - apa.

__ADS_1


"Aku ingin pulang." Ariani menjawab dengan suara yang lemah. Tanpa basa basi Dirga menarik tangan Ariani berjalan meninggalkan halte. Ia membawa Ariani menuju mobilnya, Ariani hanya mengikutinya ia tidak menolak karena tangannya yang dipegang kuat oleh pria itu. Dirga membukakan pintu untuk Ariani dan ia pun masuk setelah Ariani berada didalam, lalu menyalakan mesin dan melajukan mobilnya.


Dirga yang yang sudah tahu jalan pulang Ariani akan mengantarkan nya pulang, ditengah perjalanan Ariani diam tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, pandangan nya kosong menatap jalanan yang lengang dari jendela mobil. Dirga yang sedang mengemudi sesekali meliriknya memperhatikan kediamannya.


"Turunkan aku di taman." Ariani meminta Dirga menghentikan mobilnya ketika akan melewati taman, Dirga pun menuruti apa yang diinginkan Ariani dan menghentikan mobilnya di taman kota. Setelah sampai Ariani turun dan pergi meninggalkan Dirga yang melongo melihat kepergiannya, Dirga yang biasanya mengomel kini mengunci mulutnya mengikuti Ariani dari belakang. Ia membiarkan Ariani untuk melakukan apa yang diinginkan nya.


Ariani duduk di bangku taman dibawah pohon yang menghadap danau tempat ia bertemu dengan Ryan, suasana taman itu sudah mulai sepi tetapi masih ada beberapa pengunjung yang kebanyakan muda mudi yang memadu kasih. Dirga duduk di sampingnya, Ariani memandang danau buatan itu melihat pantulan cahaya lampu taman yang bergoyang-goyang didalam air, tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya, dadanya terasa sesak menahan sakit hatinya, ingin menangis namun ia tahan karena ada Dirga disampingnya. Dirga membiarkan Ariani melepaskan kesedihannya melihat beberapa kali Ariani menghela nafas.


"Kau ingin makan sesuatu?" Dirga berdiri hendak membeli makanan untuk Ariani, namun Ariani meraih tangannya dan menggelengkan kepala.


"Aku tidak lapar." Ariani yang tidak merasa lapar karena ia sibuk dengan memikirkan masalahnya sampai - sampai tidak berselera untuk makan.


"Aku baik - baik saja, hanya tadi aku mendapatkan masalah ditempat kerja. Itu wajar kan? semua orang pasti mendapatkan masalah ketika bekerja. Kita harus kuat menghadapinya." Ariani menceritakan ulang nasehat temannya, ia berusaha tersenyum walau ia paksakan.


Tiba-tiba cuaca yang dingin itu berubah menjadi turun gerimis kemudian disusul hujan, Ariani dan Dirga mencari tempat untuk berteduh, mereka berdua berteduh di sebuah gazebo yang ada di taman itu. Hujan semakin deras dangan angin yang bertiup membasahi kota itu. Dirga melihat baju Ariani yang basah karena kehujanan dan Ariani menggigil kedinginan, ia membuka jaket yang ia pakai kemudian mengenakannya ke tubuh Ariani, Ariani terkejut seketika menatap wajah Dirga, Dirga yang ditatap pun membalas tatapannya, mereka saling tatap di gazebo itu.

__ADS_1


"Pakailah, kau pasti kedinginan." Dirga menyelimuti punggung Ariani dengan jaketnya, Ariani hanya terdiam tidak menolak perlakuan Dirga. Dirga yang sudah tidak memakai jaketnya melipat tangan di dadanya, ia pun kedinginan karena hanya memakai kaos putih lengan pendek. Pikiran nakal terlintas di otaknya, ia ingin memeluk Ariani yang juga sedang kedinginan dan mereka berpelukan agar saling menghangatkan.


Ah, mengapa tiba - tiba aku berpikir mesum seperti itu?


Namun ia urungkan dan tidak melakukannya, karena Ariani nanti akan menilainya yang tidak tidak. Setelah hujan itu reda, mereka pun pergi meninggalkan taman menuju mobil untuk pulang, Dirga yang berjalan dibelakang Ariani memperhatikan Ariani yang jalan melambat dan memegang kepalanya, Ariani merasa pusing kepalanya terasa berputar ia melihat kunang-kunang di sekelilingnya dan kemudian ia ambruk ditangkap oleh Dirga yang berada dibelakang nya.


"Ariani... Ariani... bangun." Dirga menepuk pipi Ariani, namun ia tidak juga bangun.


.


.


.


Hai... readers, mohon support nya untuk author, klik vote dan like 👍 ya... Author sangat berterima kasih dengan kebaikan readers sudah mau membaca karya pertamaku.

__ADS_1


Silahkan kirim komentar yang membangun untuk author agar bisa lebih baik lagi dalam menulis dan berkarya.


Terimakasih 💜


__ADS_2