Melupakanmu

Melupakanmu
Kau Harus Dihukum!


__ADS_3

Ariani sudah menyajikan makanan di meja dorong untuk Dirga, ada bubur serta potongan buah dan susu. Setelah ia menunggu, Dirga masih belum menyentuh makanannya.


Mengapa dia diam saja, tadi katanya mau makan.


Ariani masih menunggu Dirga menyantap bubur yang ia masak namun tetap tidak ada pergerakan, yang ada Dirga terus menatapnya tajam entah sorot matanya seperti sedang berbicara dan tentu tidak akan membuat Ariani mengerti.


"Aku mau makan." Dirga menunjuk makanan dengan matanya, tangannya ia lipat didepan dadanya.


Itu makanan ada di depanmu.


Ariani tak mengerti maunya apa.


"Suapi aku." Masih melipat tangan Dirga bicara dengan membuang muka, sedangkan Ariani tercengang dengan permintaan Dirga.


Apa?


"Kenapa? Tidak mau? Jangan kau pikir aku sudah memaafkan mu. Kau tahu apa kesalahan mu?" Dirga mengungkit masa lalu yang ia juga tidak ingin mengingatnya, namun ia juga harus memberi pelajaran pada Ariani.


"Iya, maaf kalau aku salah." Ariani mencoba sabar dan mengakui kesalahannya.


"Lupakan, sekarang turuti perintah ku."


"Baik." Akhirnya Ariani menuruti kemauan Dirga, dengan telaten ia menyuapinya, matanya sesekali melirik lelaki itu. Dirga nampak menikmati masakan buatannya, seakan terhipnotis mata Ariani terus memandang Dirga yang belum mandi dengan rambut yang sedikit berantakan dan mulai panjang menutupi mata tajamnya menambah kesan tegas diwajahnya namun masih terlihat tampan.


"Jangan memandangiku." Suara Dirga menyadarkan Ariani yang tertegun, tangannya terulur menutupi wajah Ariani agar berhenti memandanginya, sontak Ariani merasa malu karena ketahuan memandanginya.


"Rambutmu sudah mulai panjang ya." Ariani mengomentari rambut hitam lebat Dirga yang mulai panjang tak terurus, Dirga berhenti mengunyah lalu ia melirik Ariani dengan sudut matanya.


"Apa peduli mu memerhatikan penampilanku?!" Seketika Ariani diam tak berkata lagi.


Terserah mu.


Ariani tersenyum kecut lalu menunduk, sebenarnya ia hanya ingin mencari bahan obrolan tetapi Dirga masih bersikap ketus. Ariani melihat ke arah jam dinding, ia tidak bisa berlama-lama karena ia harus berangkat kerja, apalagi ini hari pertamanya bekerja. Tapi sebelum pergi ia ingin menyelesaikan masalah terlebih dahulu agar ia bisa tenang menjalani aktivitasnya, pikirnya.


"Maaf." Satu kata penyesalan yang tulus keluar dari mulut Ariani, ia tahu Dirga pasti kecewa dengan perbuatannya hari itu walaupun saat itu ia datang ke rumahnya ingin meminta maaf namun ia terlambat karena Dirga sudah keburu pergi. Dirga menengok kearahnya yang tengah menunduk.


"Untuk apa, bukankah semua ini sudah berjalan sesuai keinginanmu? Aku sudah mengikuti apa yang kau mau." Dirga bicara dengan nada dingin serta tatapan yang mengintimidasi, ia masih ingat saat Ariani memintanya untuk menjauhinya layaknya orang asing.


Kau tidak pernah tahu betapa tersiksanya aku saat kau pergi meninggalkanku.


Dalam hati Dirga merasa geram dengan keegoisan Ariani yang tidak pernah memikirkan perasaannya, untung sayang. Kalau tidak, Dirga tidak akan mungkin mencarinya sampai ke desa.


"Apa kau bahagia? Kau meninggalkanku dan memilih pergi bersama lelaki itu." Dirga berpikir saat itu Ariani sudah memutuskan memilih dan menjalin hubungan dengan Ryan.


"Tidak, itu semua tidak terjadi. Memang malam itu aku memilih pergi dengannya, tapi itu bukan maksud dan tujuanku untuk bersama kak Ryan."


"Jangan menyebut namanya di depanku!" Dirga tidak ingin Ariani menyebut nama Ryan, mendengarnya saja telinganya panas, sebenarnya ia cemburu.


"Aku ingin menyelesaikan suatu hal dengannya dan setelah peristiwa itu aku pergi, maaf aku tidak sempat mengabarimu." Ariani melanjutkan kepergiannya kembali ke desa karena Kirani meninggal dunia dan ia memilih tinggal disana untuk menenangkan diri.


"Jadi benar kau meninggalkan kota ini demi menghindariku?" Terlihat dari sorot matanya Dirga meminta Ariani untuk menjelaskan semuanya..


"Tidak, aku di sana bekerja untuk menyambung hidup. Begitu banyak kejutan sejak peristiwa malam itu sehingga aku memilih kembali ke desa."

__ADS_1


"Memang apa yang terjadi padamu?"


"Adikku meninggal karena sakit. Aku harus pulang dan setelah itu aku memutuskan untuk tinggal menemani ibuku."


"Harusnya kau mengabari ku, mengapa kau sulit dihubungi?" Saat itu Ariani memang membuatnya tidak bisa tidur karena memikirkannya.


"Maaf."


"Mana ponselmu?"


Ponsel? Jadi Bian belum memberikannya.


"Itu..."


"Kau jangan mencoba membohongi ku Ariani." Dirga menatap penuh selidik menunggu Ariani yang membeku tidak menjawab pertanyaannya.


"Jawab!!" Suara Dirga membentak hingga Ariani terlonjak kaget.


"Maaf." Sudah kesekian kalinya Ariani meminta maaf.


Bodohnya aku, harusnya aku tidak mudah percaya oleh Bian.


Ariani menunduk pasrah karena kecerobohannya.


"Dari tadi kau hanya bilang maaf, maaf. Aku tidak memaafkanmu. Aku membencimu!" Dirga mendengus kesal.


"Tolong maafkan aku, aku akan melakukan apapun asal kamu mau memaafkan ku." Ariani meraih tangan Dirga memohon, Bulir air mata mulai mengambang di matanya. Dirga tersenyum licik saat Ariani menunduk tidak berani menatapnya, sesekali Ariani menghapus air matanya.


"Baik, kalau itu bisa menebus kesalahan ku." Ariani mencoba tegar menerima hukuman yang Dirga berikan.


"Mulai sekarang kau turuti semua perintah ku. Kau tidak boleh menolaknya tanpa terkecuali."


"Baiklah."


"Untuk saat ini kita jalani hubungan kita sesuai dengan apa yang keluargaku sangkakan." Dirga mengatakan hukuman yang ia berikan untuk Ariani, ia melihat Ariani mengerutkan keningnya.


"Maksudmu, kita..." Ariani tercengang tak percaya dengan hukuman yang menurutnya tidak masuk akal.


"Iya, kita lakukan sandiwara ini. Anggap saja kita sebagai sepasang kekasih." Dengan entengnya Dirga menyatakan ide gilanya.


"Apa ini tidak keterlaluan, kita akan membohongi semua orang. Lagipula ini hanya salah paham, bukan aku yang mengatakannya. Kau tahu aku juga terkejut saat mereka menyangka kalau kita ini pacaran."


"Banyak sekali bicaramu. Asal kau tahu aku juga terpaksa melakukannya, apa kau tidak melihat mereka menyambut mu dengan baik. Aku tidak ingin mereka kecewa."


"Tapi bagaimana dengan Bella, bukankah kalian masih pacaran. Mengapa kau tidak jujur saja pada keluargamu kalau kau sudah punya wanita lain, bukan aku kekasihmu." Dirga menghela nafas kasar seakan tidak ingin Ariani menyinggung nama Bella lagi.


"Ikuti saja apa yang aku katakan, ayahku sakit jantung, kau ingin membuatnya meninggal karena serangan jantung? Yang ia tahu sekarang aku menjalani hubungan denganmu."


"Tapi... " Ariani menimbang, ia masih ragu.


"Kau sudah berjanji kan akan melakukan apapun."


Orang ini pemaksa.

__ADS_1


"Baik." Setelah diam lama berpikir Ariani terpaksa mengikuti kemauan Dirga, sebenarnya ingin sekali ia menolaknya.


Dirga mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Kau dimana?"


"Cepat kemari." Dirga menghubungi Bian yang belum juga datang, Ariani mengira kalau Dirga sedang menelpon Bella.


Mungkin dia sedang menelpon Bella.


Dirga melihat Ariani yang memperhatikannya mengobrol lewat telepon, ia tersenyum miring ingin mencoba memanas memanasinya.


"Ya sudah, hati-hati ya." Dirga berbicara lembut penuh perhatian, diseberang sana Bian merasa aneh dengan sikap Dirga yang tiba-tiba sok perhatian. Benar saja Ariani nampak menekuk wajahnya dan tersenyum kecut.


"Dirga, aku harus pergi." Ariani berpikir Dirga menelpon Bella karena menginginkan kehadiran Bella jadi ia memutuskan untuk pergi.


"Memang kau mau kemana?"


"Kerja." Ariani merapikan bekas makanan Dirga.


"Aku pergi ya. Jaga dirimu." Ariani berdiri di dekat tempat tidur lalu berpamitan.


"Tunggu." Dirga meraih tangan Ariani.


"Apa kau akan kembali?" Dirga menatap mata Ariani, dalam diam ia berharap Ariani tidak pergi. Ariani membalas tatapan lelaki yang menghukumnya dengan bersandiwara menjadi kekasihnya padahal Dirga sendiri sudah memilki kekasih.


"Apa kau mengharapkan kehadiran ku?" Ariani menatapnya lama, hatinya bertanya apakah Dirga benar-benar mengharapkan kehadirannya.


"Terserah." Dirga mengalihkan pandangannya sambil melepaskan tangannya. Apakah sesulit itu mengatakan jangan pergi?


....


Ariani tersenyum getir saat mengingat lelaki yang disayanginya tidak memberikan maaf, Dirga menghukumnya dengan menjadi kekasih palsu demi menjaga perasaan keluarganya. Kini Ariani tengah berada di tempat kerjanya, disela aktivitasnya ia memikirkan ide konyol Dirga.


Hehe, lucu. Kamu lucu, aku rela melakukan apapun yang kamu minta. Bodohnya aku.


Ariani menertawai kesepakatan Dirga dan dirinya, ia sadar telah berbuat bodoh karena mau-maunya dia melakukan apa yang Dirga inginkan, sebenarnya ia ingin menolak akan tetapi hatinya enggan untuk berkata tidak.


Mengapa aku selalu mengalah tiap berdebat denganmu? Aku merasa tidak mampu menolak keinginanmu. Aneh, bukankah aku termasuk wanita kuat tapi mengapa saat di hadapanmu aku tak berdaya. Pria menyebalkan.


Begitu kuat aura yang terpancar dalam diri Dirga hingga selalu berhasil membuat Ariani luluh. Ariani melamunkan pria menyebalkan itu hingga ia tak sadar ada pembeli yang datang.


"Ariani. Kaukah itu?" Seorang wanita datang menghampiri Ariani.


"Bu Dara." Ariani terkejut, ia merasa dunia ini sempit karena bertemu dengan orang-orang di masa lalunya.


"Aaa...ternyata benar ini kau Ariani. Kau bekerja disini?" Dara tersenyum lebar bahagia bertemu dengan orang yang di cari-cari.


"Ayo ikut aku, kita mengobrol sebentar." Dara membawa Ariani pergi bersamanya setelah meminta izin pemilik toko roti dan kue, bos Ariani yang tenyata merupakan teman Dara.


....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2