
Sweesss...
Hawa dingin memenuhi udara dalam mobil yang ditumpangi Casandra, padahal, ayah dan ibunya sangat akrab dengan Aji. Tapi untuk para gadis itu, Aji lebih seram dari Dosen yang paling galak dikampus.
Bagi Sara dan Nanda, sudah banyak sekali mendengar kisah Keluarga Darma Galuh, Mahesa dan Mangsur dari kedua orang tuanya. Satunya hancur lebur karena penghianatan, Perjuangan cinta, satunya lagi tewas mengenaskan karena pembalasan, ya, karena keserakahan juga intinya.
Ada kagum, ada juga kengerian. Sam dikenal dermawan sekaligus Presdir nomor satu di kota Y sekarang, ia ramah, terbuka tapi penuh waspada. Mungkin bagi yang baru kenal, pasti tidak akan sangka kalau dulunya ia adalah kepala Teratai Hitam yang terkenal berdarah dingin. Bisa jadi sampai sekarang merekapun masih, meskipun tidak diketahui keberadaannya.
Sampai sekarangpun, jika ada orang yang menghianati Sam. Maka hanya dalam selang satu hari, penghianat itu akan hilang bagai ditelan bumi. Mengingat tragedi kakek darma yang dihianati orang kepercayaannya selama puluhan tahun, membuat Sam lebih waspada dan sangat benci pada penghianat.
Sara dan Nanda sangat menyayangi Casandra, teman baiknya. Tapi mereka juga terbatas untuk bepergian bersama, ya mau gimana lagi. Casandra adalah putri satu-satunya tuan Sam, sudah pasti akan banyak batasan dan aturan demi melindungi dirinya, ia memaklumi meskipun kadang kecewa dan menahan diri untuk tidak bepergian bersama keluar kampus.
"Om Aji. Kapan kau pensiun?" tanya Casandra kesal sambil menendang bangku kemudi. Sedangkan Nanda dan Sara hanya bisa terpekik melihat kelakuan Casandra yang mencoba memancing harimau galak.
"Nati kalau sudah ada orang yang bisa menggantikan posisiku, nona." jawab Aji santuy. Iyaa santuy gaesπ π π .
"Semoga penggatimu nanti lebih tampan ya. Biar mataku tidak sakit, terus orangnya ngga galak, bisa diajak kompromi juga dan... "
"Mana mungkin! Bodyguard seperti itu pasti akan langsung dikubur oleh ayahmu!" gumam Aji dalam hati.
"Dan pokoknya ga tua dan galak!" ucap Casandra menatap tajam bangku kemudi di hadapannya.
"Nona. Lebih baik kau simpan karakter bodyguard tampan khayalanmu itu"
"Loh. Kenapa?"
"Tuan Sam pasti akan langsung menggantungnya kalau sampai bisa dikompromi. Tuan Sam akan menganggapnya tidak tau aturan dan juga penghianat. Kau tau kan nona, apa hukuman untuk seorang penghianat?"
"A... Apa hukumannya om?" sahut Nanda terbata.
"Lehernya akan digantung dengan kawat berduri"
Nanda dan Sara menelan ludah sambil memegangi lehernya,
__ADS_1
"Tapi sebelum itu dia akan dihancurkan dulu kaki dan tangannya!" Aji menoleh kebelakang menatap wajah satu persatu para gadis yang terlihat pias mematung. "Baiklah nona-nana. Kita sudah sampai" Aji turun dari mobil lalu membukakan pintu.
"Lihat kan! Serem. Kamu sih, pake nyinyirin om Aji segala!" ucap Sara gemas memlototi Casandra.
"Udah diem! Ayo turun!" ucap Casandra. Ia mencoba biasa-biasa saja meskipun dihatinya juga ngeri mendengar ucapan Aji tadi.
"Selamat bersenang-senang Nona" ucap Aji ramah membungkukkan badannya.
"Loh. Om Aji ga ikut masuk?" tanya Casandra.
"Saya menunggumu disini sampai kalian selesai berbelanja" jawab Aji.
"Waah. Om Aji memang sangat pengertian. Ya udah, kami tinggal dulu ya Om. Baik-baik yaaa" ucap Casandra riang sambil menepuk nepuk bahu Aji.
Sedangkan Aji menjawab dengan anggukan sopan dan senyum di wajahnya. Tapi entah kenapa, kalau tau Aji banyak senyum, Casandra jadi semakin curiga.
"Beneran nih om. Kita boleh masuk belanja bertiga?" Casandra memastikan.
"Om Aji ga ikut?" Casandra menatap mata Aji dengan cermat.
"Saya akan menunggu nona di sini" jawab Aji tenang.
"Hihihi. Okay" Casandra langsung merangkul kedua temannya dan berjalan masuk kedalam mall. Akhirnya, mereka bisa bergerak bebas tanpa dikuntit seperti tahanan. Syukurlah om Aji berubah pikiran dan membiarkannya bebas, mungkin karena ucapannya tadi, begitulah pikir Casandra.
Setelah memasuki mall, mereka akan menuju ketempat butik teen yang memang terkenal di mall itu. Dari gaun, tas, aksesoris, sepatu, disana tersedia dan memang banyak digemari anak muda, selalu ada stok keluaran terbaru.
"Eh, lihat. Ada topi model baru!" ucap Casandra dengan mata berbinar.
"Casandra, kita kesini mau cari gaun. Bukan topi!" jawab Sara, sebenarnya ia sudah tidak sabar mau mencoba gaun yang dilihat di ponselnya tadi.
"Sebentar aja, please." ucap Casandra.
"Ya deh, yuk" ucap Nanda, sedangkan Sara mengangguk setuju.
__ADS_1
"Yeey" Casandra tepuk tangan kecil. Bagi dia hari ini adalah kesempatan untuk bersenang-senang, ya meskipun cuma punya waktu dua jam, mereka akan melakukan kesenangan di waktu yang terbatas itu.
"Casandra. Ada apa?" Tanya Nanda heran. Tadi dia semangat sekali, tapi sekarang malah diam mematung tidak meneruskan langkahnya.
Casandra diam mengamati seorang pria memakai setelan jas persis dengan orang-orang yang bekerja sebagai anak buah ayahnya. Badan tegap, tinggi, dan ada earphone di telinganya. Ngga mungkin kan kalau anak buah Ayah? gumamnya dalam hati.
"Casandra! Jadi ga kita ke toko itu" Sara tidak sabar.
"Ga jadi, ayo kita ke toko yang lain aja" ucap Casandra langsung menarik tangan kedua sahabatnya menjauh dari toko topi.
"Eh, eh. Ada apa si?" Sara tidak paham dengan tingkah Casandra.
"Ada anak buah ayahku di sana"
"Apa?" kata Nanda dan Sara serentak.
Dari lantai satu mereka ke lantai dua menggunakan eskalator, sesekali Casandra menoleh kebelakang memastikan kalau anak buah ayahnya tidak mengikutinya. Sebenarnya butik yang mereka tuju ada dilantai 5, tapi sebelum kesana mereka berniat jalan-jalan terlebih dulu.
Baru saja memijakkan kakinya dilantai dua, Casandra kembali melihat orang yang berbeda tapi masih dengan setelan jas yang sama, orang itu tersenyum ke arah Casandra, mengangguk hormat kemudian matanya kembali mengawasi sekitar.
"Casandra. Aku ga salah liat kan? di lantai ini juga ada anak buah Om Sam" bisik Nanda cemas.
Firasat Casandra tidak enak, dia yakin kalau ga cuma dua orang yang mengawasinya. Pantes aja Aji membiarkannya pergi dengan tenang, ternyata dia memang sudah punya rencana. Casandra menyisir seluruh arah lantai dua mall dengan pandangannnya, dan benar, di samping eskalator, setiap toko, bahkan di depan toilet umum, ia melihatnya.
Ayah. Kau bercanda kan! gumam Casandra dalam hati. Mereka memutuskan untuk langsung kelantai lima, bergegas masuk kedalam lift.
"Hahaha. Kita bebas sekarang!." ucap Casandra tertawa puas, tapi tidak dengan Nanda dan Sara. Ia mematung menatap pada seseorang yang ada di belakang Casandra. Sara menepuk pundak Casandra sambil menunjuk kearah belakang.
"Apa si!" ucap Casandra tidak mengerti. Kemudian iapun berbalik dan menatap orang yang sedang tersenyum padanya.
"Mau pergi kelantai berapa nona?" ucap Doni ramah.
"Aayaaaahhhhhhhhh" teriakkan Casandra memenuhi ruang lift yang sedang bergerak ke atas.
__ADS_1