
Sam menyuruh Riyu untuk menghadiri acara pertemuan nanti malam, selama ini Riyu tidak pernah datang ke pesta apalagi di sana akan banyak tamu penting yang hadir. Riyu sadar dengan latar belakangnya, ia takut akan menjadi masalah karena dia tau Noval pasti akan merasa sangat keberatan.
Riyu berjalan menuju lemari bajunya, di sana hanya ada baju pergi biasa, baju santai, dan gaun sederhana.
"Apa yang harus aku gunakan? gaun ini sangat jadul, nanti bisa-bisa aku malah mempermalukan diri sendiri" gumam Riyu.
Tlung... Ada pesan masuk di ponsel Riyu.
"Gadis bodoh kau dimana? Turunlah, aku menunggumu di depan" isi pesan dari Sam.
"Apalagi maunya pemuda ini!" Riyu menggerutu, ia segera menutup lemarinya lalu berjalan menemui Sam.
"Ada apa?" tanya Riyu setelah bertemu dengan Sam.
"Ikut aku"
"Tidak" jawab Riyu membalikkan badannya. "Dia pasti akan mempermainkan aku lagi!" gumam Riyu dalam hati.
"Hey apa kau akan pergi ke acara pertemuan menggunakan jeans dan kaos!" ucap Sam dengan nada datar.
"Maksudmu?" Riyu mengerutkan keningnya.
"Aku akan mengantarmu membeli gaun, cepat naiklah. Jika tidak, terpaksa aku akan menggendongmu!"
Riyu menatap Sam kesal, "Tapi benar juga, aku tidak memiliki gaun"
"Baiklah aku ikut denganmu" jawab Riyu lirih.
Riyu melangkah menuju mobil Sam, tapi tiba-tiba Lila datang langsung memeluk Sam dari belakang.
"Sam... Ternyata feeling ku benar kau ada di rumah" ucap Lila kegirangan.
Ekspresi Sam berubah drastis, Sam melepaskan tangan Lila yang memeluk tubuhnya.
"Tapi sayang sekali nona Lila, aku harus pergi" ucap Sam datar.
Lila melirik Riyu, "Apa kau mau pergi dengan kakak iparmu?"
"Em... Sam akan mengantarku membeli sebuah gaun untuk nanti malam" ucap Riyu sedikit tidak enak.
"Oh baiklah, kebetulan aku juga sedang mencari gaun baru untuk nanti malam. Boleh aku ikut Sam? Please..." ucap Lila manja.
"Mungkin jika Lila ikut, aku tidak akan merasa canggung pada Sam..." gumam Riyu dalam hati.
"Sam ga papa, Lila biar ikut"
"Wah Riyu kamu baik sekali" ucap Lila, Lila langsung berjalan masuk ke jok depan mobil. Saat Riyu akan masuk ke jok belakang, Sam berputar dan membuka pintu depan tempat dimana Lila duduk.
"Ada apa Sam?" tanya Lila tersenyum heran.
"Turun! Kau duduklah di belakang" ucap Sam dingin.
"Tapi Sam..."
"Turun!" bentak Sam pada Lila. Dengan berat hati Lila turun.
"Tidak apa-apa Sam, biar aku yang..."
Tanpa berkata apapun Sam menarik Riyu duduk di jok depan, meskipun Riyu tidak enak pada Lila di sisi lain juga Riyu tidak bisa membantah Sam yang keras kepala.
Sepanjang perjalanan Lila terus saja mencoba mengajak Sam berbicara, Riyu hanya diam memandang ke luar jendela. Sam berhenti di sebuah butik ternama di kota Y.
"Sam, nanti tolong bantu aku memilih gaun yang cocok ya" ucap Lila yang langsung menggandeng lengan Sam saat masuk kedalam bukit.
Riyu berjalan di belakang mereka berdua, sesekali matanya melirik ke lengan Sam yang di peluk Lila dengan erat.
"Mereka jadi bermesraan di depanku, Lila caper banget sih sama Sam. Kalau tau begini tadi aku g usah ijinin dia buat ikut, eh... Tapi kok aku jadi kesel, ah sudahlah!" gumam Riyu dalam hati.
Meskipun Lila berusaha mendekati Sam dengan cara apapun tetapi perhatian Sam terus terpaku kepada Riyu.
"Sial, bukankah mereka hanya kakak dan adik ipar! Tapi perlakuan Sam sangat perhatian pada Riyu. Ini ga bisa di biarin!" gumam Lila.
Riyu sedang mencoba sebuah gaun di kamar ganti, dia terlihat cantik dengan gaun ungu muda yang di pilih oleh Sam. Namun pada saat Riyu berjalan keluar dari kamar ganti, Lila yang berdiri tidak jauh darinya, sengaja menjulurkan kakinya.
Riyu yang sedang menggunakan gaun panjang tersandung kaki Lila,
"Aaahhh...." teriak Riyu.
Riyu kehilangan keseimbangan, dia tersungkur. Riyu terhempas menyenggol beberapa Mannequins yang ada di sana hingga ambruk mengenai etalase aksesoris hingga pecah dan berantakan.
Semua pelayan toko terkejut melihat kejadian itu.
"Ya ampun, kenapa bisa seperti ini" ucap Lila pura-pura terkejut lalu mendekati Riyu dan memapahnya.
__ADS_1
"Maaf, Riyu memang berasal dari kampung dan baru pertama kalinya memakai gaun mewah dan high heels, dia tidak sengaja melakukannya mohon di maklumi" ucap Lila.
"Makannya mbak ga usah maksa jadi orang cantik, kampung ya tetep aja kampung! Sekarang lihat, kau menghancurkan tokoku! Bahkan orang kampung sepertimu tidak bisa ganti rugi meskipun jual diri!" pelayan toko memaki Riyu.
Plaakkkk... Sam menampar kencang wajah manager toko itu.
"Tarik kembali kata-kata mu" Sam menatap marah. Lila dan semua orang di sana terkejut.
"Jangankan ganti rugi! Bahkan membeli seluruh isi butik di kota Y gadis ini mampu! dia tidak sengaja terjatuh! Sepertinya selain bodoh kau juga buta ya" ucap Sam lagi.
"Ma... Maafkan kami Tuan" manager toko itu membungkuk pada Sam.
"Apa tidak salah kau meminta maaf padaku!" ucap Sam geram.
"Maaf... Maafkan aku nona" manager toko membungkuk pada Riyu.
Sam membantu Riyu berdiri, "Apa kau terluka?" tanya Sam halus.
"Lututku sakit Sam..." ucap Riyu lirih dan gemetar.
"Sebentar lagi anak buahku akan datang, mereka akan mengganti rugi kerusakan di toko ini. Kerusakan yang sengaja dibuat untuk mempermalukan wanitaku!" Sam langsung melirik tajam ke arah Lila.
Lila terlihat gugup, keningnya berkeringat. "Apa Sam melihat aku mencelakai Riyu tadi..." Gumam Lila dalam hati.
Sam menggendong Riyu keluar dari butik, "Maafkan aku, aku sudah mempermalukan mu Sam..." ucap Riyu lirih.
"Tidak, ini bukan salah mu. Tidak perlu di pikirkan"
Sam melajukan mobilnya, namun Riyu sadar bahwa jalur yang dia lihat adalah jalur yang bukan menuju rumah.
"Sam kita..."
"Kita ke villa"
Riyu tertunduk pasrah, jantungnya berdegup kencang. Villa itu adalah dimana saat Sam dan Riyu bersama, Riyu termenung mengingat kejadian malam itu.
"Riyu kau takut? Tenang saja... Aku janji tidak akan melakukan apapun padamu"
Riyu hanya diam menatap Sam, entah kenapa hatinya merasa sangat lega dan mempercayai Sam begitu saja.
Tidak lama kemudian mereka sampai, Sam kembali menggendong Riyu menuju kamar utama.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil kotak obat" ucap Sam berlalu.
Riyu melihat ke sekeliling kamar itu... "Kenapa aku jadi merasa nyaman di sini, berbeda rasanya dengan rumah Mahesa yang menakutkan" gumam Riyu.
"Tahan sedikit ini akan terasa perih" ucap Sam yang sedang berlutut di depan Riyu.
"Sejak awal... Laki-laki inilah yang selalu ada di sampingku, kita melakukan banyak hal. Meskipun sikapnya yang terkadang menyebalkan, tapi dia memberikan sesuatu yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya yaitu... Kenyamanan." bisik Riyu dalam hati sambil menatap Sam dalam.
"Sam..." sapa Riyu lirih.
"Emm?" Jawab Sam yang sedang fokus mengobati luka Riyu.
"Apa aku begitu menjijikkan? Apa aku pembawa sial?" tanya Riyu, sesekali air matanya menetes.
"Hemh dasar bodoh, kenapa kau bisa berfikiran seperti itu?"
"Buktinya ayah dan ibuku mereka meninggal gara-gara aku, seandainya waktu itu aku tidak merayakan ulang tahunku mungkin mereka tidak akan celaka. Lalu pakde Parso... Dia juga meninggal gara-gara aku. Bibi membenciku, bahkan dia tidak mau memandangku. Lalu Noval suamiku... Aku menjijikkan untuknya."
Sam mendengarkan Riyu dengan tatapan lembut,
"Riyu... Berhentilah menyalahkan dirimu, oke. Tidak ada yang salah denganmu, justru orang-orang itulah yang bermasalah" ucap Sam masih mengobati.
"Selesai" ucap Sam tersenyum, dia telah menutup luka di lutut Riyu.
Sam mengembalikan kotak obat, sedangkan Riyu berjalan pincang menuju balkon. Kamar utama di villa Sam sangat luas dan mewah, bahkan di balkon terdapat kolam renang dengan pemandangan yang sangat indah.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" bisik Sam pada Riyu yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Ti... Tidak ada..." Riyu gugup.
Riyu dan Sam menikmati pemandangan dari atas balkon, angin yang berhembus sepoi-sepoi, suasana yang sejuk dan sunyi menambah rasa kedamaian yang tiada Tara.
"Tuhan... Maafkan aku, mungkin yang aku lakukan ini adalah sebuah kesalahan yang besar. Tapi aku tidak ingin rasa nyaman ini berlalu begitu saja, untuk yang pertama kali aku merasa terlindungi. Sam... Kenapa bukan kau saja...Tapi... Noval juga telah mengkhianati pernikahan ini dengan wanita lain, dan mungkin aku..." bisik Riyu dalam hati.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Sam membuyarkan lamunannya.
"Tidak Sam, aku hanya sedang menikmati suasana ini" jawab Riyu mendongak menatap Sam.
Riyu merasakan nafas Sam yang membelai wajahnya, mereka saling bertatapan satu sama lain. Perlahan Sam mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan Riyu memejamkan mata.
Sam mencium Riyu dengan sangat lembut, jantung mereka saling berpadu menjadi saksi perasaan satu sama lain.
Riyu kembali membuka mata, untuk pertama kalinya Riyu merasakan ciuman yang begitu hangat.
__ADS_1
"Jangan bergerak Riyu, aku tidak ingin ini berakhir begitu saja. Ijinkan aku memelukmu" ucap Sam dengan lembut. Riyu terdiam dan Sam masih memeluknya dari belakang.
"Perasaan apa ini... Riyu... Kenapa kau jadi terhanyut sejauh ini" bisik Riyu dalam hati.
Mata Riyu terpejam merasakan nafas hangat menderu di lehernya, bayangan hitam putih kembali muncul di pelupuk matanya. Ingatan masa lalu yang selama ini coba Riyu lupakan kembali mencuat.
**Flash back___
Pada 6 tahun yang lalu saat Riyu berusia 13 tahun di usir oleh Siti, Riyu berjalan tanpa arah sampai dia tidak sadar kalau kakinya telah membawanya dalam masalah.
"Bude Siti benci sekali padaku, ibu.. ayah... Oh iya... Mungkin aku bisa ke rumah Om Mangsur, dia kan baik banget sama aku... Siapa tau dia mau menampungku di rumahnya.
Setelah berjalan seharian akhirnya Riyu sampai di rumah Mangsur, Riyu berjalan mengelilingi rumah besar itu hingga sampai akhirnya Riyu melihat Mangsur yang sedang duduk di taman samping rumah. Dari celah-celah pagar Riyu menerobos tanaman lalu melongok kan kepalanya untuk memanggil Mangsur, tapi sebelum dia berteriak Riyu mendengar suatu percakapan.
"Bagaimana? Apa kamu sudah memiliki informasi tentang keberadaan putri Galuh?" ucap Mangsur kepada anak seseorang.
"Belum tuan, kami sudah mencari ke seluruh penjuru kota bahkan desa terdekat tapi kami tidak menemukannya" jawab pria berwajah sangar itu.
"Aku bersusah payah untuk membuat kecelakaan itu terjadi, Galuh dan istrinya sudah tewas dan aku telah melenyapkan benalu terbesar itu tapi sekarang... Aku kehilangan mangsa kecilku! Sepertinya keberuntungan belum berpihak kepadaku" ucap Mangsur lalu menyeruput cangkirnya.
Riyu yang mendengar percakapan itu shok seketika, dia tidak menyangka orang yang telah membuat ayah dan ibunya meninggal adalah orang yang telah dia anggap sebagai keluarganya sendiri.
"Hey! Sedang apa kamu di sini!"
Tiba-tiba penjaga di sana meneriaki Riyu lalu berlari ke arahnya.
Riyu berusaha mengeluarkan kepalanya yang tersangkut di celah pagar itu, Mangsur mengamati Riyu sesaat.
"Tangkap! Tangkap anak itu, dia yang kita cari-cari selama ini. Cepat!" teriak Mangsur kepada anak buahnya.
Riyu berhasil mengeluarkan kepalanya meskipun telinganya terluka, setelah itu Riyu lari sekencang-kencangnya.
"Ternyata mereka adalah pembunuh! Mangsur telah membuat aku menjadi anak yatim piatu!" jerit Riyu dalam hati.
"Hey! Berhenti kau!" ucap salah satu pria yang mengejarnya.
Riyu berlari dan terus berlari untuk lolos dari kejaran mereka...
"Tolong... Siapapun tolong aku...." Teriak Riyu menangis ketakutan.
Sampai pada akhirnya Riyu berlari ke sebuah gang yang sepi, Riyu tidak memperhatikan arah, saat itu tiba-tiba seseorang menariknya ke sela-sela tembok yang gelap.
"Hssssttt.... Diamlah jika kau tidak ingin tertangkap!" bisik pria itu di telinga Riyu.
Pria itu memeluk Riyu dari belakang, "Jangan bergerak, mereka datang" bisiknya lagi.
Tidak lama kemudian anak buah Mangsur memergoki mereka.
"Hey! Sedang apa kamu!" bentak salah satu dari mereka.
"Aku sedang buang air kecil" jawabnya, Riyu yang berada di pelukannya gemetar. Riyu menutupi mulutnya dengan tangan.
Anak buah Mangsur mengamati anak muda dengan tatapan curiga. "Jangan bohong kamu bocah kecil!" bentaknya lagi.
"Apa perlu aku berbalik? Atau kau memang memiliki kelainan suka melihat pria buang air kecil!" Pria yang memeluk Riyu hendak membalikkan badannya.
"Tunggu, ga perlu berbalik itu menjijikkan! Apa kau melihat gadis kecil lewat sini?" tanya anak buah Mangsur.
"Tidak, aku baru sampai mencari gang sempit untuk buang air kecil lalu kalian datang menggangguku!"
"Ba... Baiklah sorry. Ayo kita pergi!"
Riyu masih tidak bergeming, tubuh pria yang memeluknya cukup tinggi sehingga tubuh Riyu yang kecil tidak terlihat jika dia bersembunyi di baliknya.
"Kau ketakutan... Bodoh, gadis kecil sepertimu berani membuat masalah dengan para gangster? Apa kau mencuri dompetnya?" bisiknya di telinga Riyu.
"Me... Mereka membunuh ayah dan ibuku" jawab Riyu lirih lalu terisak.
Mereka terdiam lama sampai Riyu puas menangis dan merasa tenang, dalam posisi seperti itu Riyu merasakan nafas yang menderu di lehernya.
Riyu kembali terbangun dari bayangan masa lalu itu dan...
"Gadis bodoh..." ucapan yang menggema antara masa lalu dan sekarang terdengar lagi di telinga Riyu dengan posisi yang sama.
Riyu membuka matanya, dia berbalik menatap Sam seksama dengan mata yang berair. Nafas Riyu tak menentu, saat menatap mata Sam.
"Kamu... Kamu..."
"Apa kau ingat sesuatu?" ucap Sam tersenyum.
Riyu memeluk Sam dengan erat, "Sejak kapan kau..."
"Sejak aku bertemu denganmu di pinggir jalan" jawab Sam.
Riyu merasa bahagia, karena di pertemukan kembali dengan seseorang yang pernah menyelamatkannya. Tapi di sisi lain...
__ADS_1
"Kenapa aku baru tau setelah aku menikah... Jadi Sam adalah orang yang aku cari selama ini" bisik Riyu dalam hati.Perlahan pelukan Riyu memudar.
Sam menatap Riyu dalam, dia tau apa yang sedang menjadi penghalang mereka adalah status kakak dan adik ipar...