Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Di Serang Saat Dinner


__ADS_3

Pagi harinya... sebelum beraktivitas di kantor, keluarga Mahesa berkumpul untuk menikmati teh di taman depan rumah... Cuaca pagi itu benar-benar cerah, sayang jika harus di lewatkan.


Kopi, biskuit, berbagai macam minuman seperti teh, susu dan kopi telah tersedia berjejer di atas meja.


"Noval, bagaimana keadaanmu?" Tanya Nita, ia merasa bersalah tidak bisa merawat Noval karena benar-benar sibuk di kantornya.


"Aku sudah lebih baik ma, Riyu telah merawatku dengan baik" Jawab Noval melempar senyum lembut ke arah Riyu, sengaja supaya Sam terbakar cemburu.


Sedangkan Sam, berusaha bersikap santai dan mengacuhkan kelakuan Noval yang memuakkan. Ia menyibukkan diri untuk membuat teh.


"Sam... Jangan terlalu banyak creamer, kau bisa mual nanti" ucap Riyu yang dari tadi mengamati Sam meracik minumannya.


"Sini biar aku bantu" Riyu mengambil cangkir Sam, dengan terampil Riyu meracik teh creamer, setelah mengaduknya Riyu menyerahkan cangkirnya.


"Terimakasih... Kakak ipar" Ucap Sam menyambut teh buatan Riyu.


Suasana sepertinya mulai panas, bukan karena cahaya mentari.. Tapi karena adu perang cemburu di meja itu.


"Oh iya pa, Kau bilang harus ada perwakilan dari putramu untuk menghadiri pertemuan di Inggris? Bagaimana jika Sam yang ke sana... Mama yakin Sam bisa di andalkan" ucap Nita melirik Sam.


Mahesa terdiam mempertimbangkan usulan Nita...


"Apa putramu tidak bisa di andalkan sehingga kau menyuruhku untuk pergi ke pertemuan itu?" Tanya Sam tersenyum sinis, membuat Nita melotot karena tidak di sangka Sam bisa berbicara seperti itu.


"Bagaimana jika pertemuan kali ini biar Noval yang ada di barisan depan, lagian... Selama ini papa belum pernah melihat prestasinya bukan?" Ucap Sam lalu mengunyah kue kering kesukaannya.


"Ya... Kau benar juga. Bagaimana Noval apa kau bersedia?" Tanya Mahesa menatap penuh harap menunggu jawaban dari Noval.


Sedangkan Noval terdiam menghimpit rasa kesalnya, tapi dia juga bimbang... Jika menolak maka dia akan merasa bodoh karena tidak becus memegang pekerjaan, jika dia mengiyakan maka Sam pasti akan senang kalau dirinya jauh dari Riyu.


"Okey... Tapi aku akan membawa Riyu" Ucap Noval tak kehilangan akal.


"Tapi Noval, aku baru saja mendapatkan tender proyek baru. Ga mungkin aku menunda dan meninggalkan proyek itu" Sahut Riyu dengan wajah menyesal.


Sam menyembunyikan senyum puasnya di balik cangkir teh membuat Noval semakin kesal dan ingin langsung baku hantam dengannya. Sedangkan Nita, duduk gugup karena rencananya supaya Sam menjauh, malah berbalik pada putranya sendiri. Senjata makan tuan.


"Kapan berangkatnya?" Tanya Noval tak berdaya.


"Sabtu pagi" Jawab Mahesa senang.


"Okey" Ucap Noval mengangkat kedua bahunya. "Aku duluan!" Ucap Noval beranjak dari tempat duduknya.


"Permisi, aku mau mengantar Noval ke mobilnya" Ucap Riyu berpamitan lalu menyusul Noval.


Langkah kaki Noval begitu cepat, sehingga membuat Riyu berlari kecil untuk menyusulnya.


"Noval"


Langkah kakinya berhenti tanpa menoleh ke arah Riyu,


"Kenapa kau begitu kesal? Bukannya bagus kalau kau pergi? Itu akan membuat papa semakin percaya dengan kemampuanmu" ucap Riyu sambil membetulkan dasi Noval yang sedikit mengendur.


"Terserahlah, aku berangkat dulu" ucap Noval musam.


"Kau tidak mau mengecup keningku?"


"Hah?" Ekspresi Noval berubah saat mendengar ucapan Riyu.


"Mengecup kening... Hal biasa yang di lakukan suami istri sebelum berangkat kerja bukan?" Riyu menahan tawanya melihat Noval yang merona.


Noval pun terdiam, ia membayangkan dirinya mengecup kening Riyu... Tapi baru beberapa langkah ia mendekati Riyu dan menatap matanya, lagi-lagi gugup itu datang, membuat Noval bergidik karena mrinding.


"Sudahlah, aku sudah terlambat!" Ucap Noval buru-buru masuk ke mobil menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.


Riyu tertawa geli melihat tingkah Noval yang terkadang begitu konyol saat ia goda, Riyu kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Noval pergi.


Jam menunjukkan pukul 7, sudah waktunya untuk Riyu berangkat ke kantor. Ia mengambil tas laptop dan tas Selempangnya lalu bergegas menuju pintu.


"Mau aku antar nona?" Tanya Sam melongokkan kepalnya dari jendela mobil.


"Tidak! Terimakasih Tuan" Jawab Riyu tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.


Sam memandangi mobil Riyu yang semakin jauh dari pandangannya, "Riyu... Rasanya ingin sekali mengetuk kepalamu supaya kau ingat dengaku" gumam Sam mengelus dagunya.


*****


Perusahaan Galuh


"Haahh... Akhirnya selesai juga"


Riyu menghela nafas panjang lalu menyandarkan diri ke kursinya yang nyaman, seharian dia memeriksa laporan bulan lalu sampai punggung dan jarinya terasa pegal.


Tlulit... Tlulit... Telepon di meja berdering, baru saja dia merasa rileks sudah ada panggilan masuk lagi.


"Hallo... Jika itu urusan pekerjaan, kau bisa menyerahkannya besok!" Jawab Riyu dengan nada enggan.


"Ini aku!"


"Noval? Sorry, aku kira asisten ku" Riyu menegakkan posisi duduknya. "Ada apa Noval?, Tumben kau tidak menelpon lewat ponsel"


Noval terdiam... "Apa ada masalah?" Tanya Riyu.

__ADS_1


"Tidak... Aku..."


Riyu mendengar Noval membuang nafas panjang.


"Riyu, malam ini aku ingin mengajakmu makan malam di luar... E... Anggap saja sebagai rasa terimakasih karena kau telah merawatku kemarin"


"Senerves itukah kau bicara hanya untuk memgajakku makan malam!" Riyu tertawa.


"Bisakah kau berhenti mengejekku!"


"Iya... Iya, aku minta maaf. Baiklah aku akan bergegas pulang" jawab Riyu.


"Oke" ucap Noval singkat lalu menutup teleponnya.


****


Malam ini Riyu terlihat sangat sangat anggun, gaun berwarna merah maroon yang dia kenakan terlihat benar-benar cocok di tubuhnya. Riyu menghampiri Noval yang sudah menunggunya sambil membaca majalah di ruang tamu.


"Ehm... Maaf jika kau menunggu lama" ucap Riyu tersenyum.


Mata Noval langsung beralih menatap Riyu dari atas hingga bawah, malam ini Riyu terlihat cantik hingga enggan rasanya untuk berpaling ke pandangan lain.


"Apa... Aku terlihat aneh?" Tanya Riyu, ia merasa tidak percaya diri saat Noval menatapnya tanpa berkedip.


"Ehm... Tidak. Kau terlihat cantik" ucap Noval canggung.


"Kita pergi sekarang?"


"Oke" jawab Noval menyodorkan lengannya. Riyu langsung menggandeng Noval dan merekapun masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, Noval merasa resah karena tidak tau harus ngobrol apa. Dia mencoba untuk meredakan jantungnya yang berdebar kuat.


"Sial! Apa aku perlu periksa ke dokter jantung?! Akhir-akhir ini aku merasa kalau jantungku ada yang tidak beres!" Bisik Noval dalam hati.


Melihat gelagat Noval yang aneh... "Ada apa Val? Kau terlihat cemas" Tanya Riyu mengerutkan alisnya.


"Ee... Enggak, aku hanya... Aku hanya pengen cepet-cepet ke toilet" jawab Noval sekenanya.


"Baiklah setelah sampai kau bisa langsung pergi ke toilet" ucap Riyu tertawa geli melihat ekspresi Noval yang lucu.


Kling.... Lonceng berbunyi saat pelayanan membuka pintu restoran untuk menyambut kedatangan Riyu dan Noval.


"Silahkan, meja Tuan ada di sebelah sana" ucap pelayan dengan sangat ramah.


Saat berjalan menuju meja, Riyu menggandeng tangan Noval. Perasaannya semakin tidak karuan...


"Noval, tanganmu dingin sekali" ucap Riyu mengamati wajah Noval yang gugup. "Kau juga berkeringat, apa kau masih sakit?" Riyu cemas membelai pipi dan kening Noval dengan penuh perhatian.


"Aku... Aku... Baik-baik saja. Aku mau ke toilet!" Ucap Noval gugup langsung bergegas pergi menghindari Riyu.


"Aih... Kenapa sih dia!" Ucap Riyu bingung.


Sepuluh menit kemudian, Noval kembali menghampiri Riyu yang menunggunya di meja makan. Dinner lumayan berjalan lancar, Riyu sangat menikmatinya. Meskipun Noval bersikap galak dan kaku padanya selama ini, tapi seleranya memilih tempat romantis lumayan juga.


"Em... Riyu, sebenarnya aku..."


"Iya? Ada apa?" Riyu menatap seksama.


"Ada yang... Ingin aku sampaikan padamu" ucap Noval mencoba mengendalikan dirinya.


"Aku akan mendengarkannya" Riyu tersenyum menopang dagu.


"Sebenarnya aku... Riyu, aku..."


Doorrr!!!! Plaangg.... Suara tembakan beserta peluru yang menembus tepian jendela tepat di samping Noval duduk, Riyu dan Noval terkejut menutup kepalanya.


"Apa yang terjadi!" Ucap Noval. Saat ia menoleh, sudah ada orang yang bersimbah darah tewas terduduk tidak jauh dari meja makan mereka.


Riyu berteriak karena syok,


Plaangg!!!.... Lagi-lagi ada peluru meleset. Noval langsung mendekati Riyu dan merunduk.


"Bos! Cepat pergi dari tempat ini!" Teriak anak buah Noval yang datang sambil adu tembak dengan sekelompok orang yang tiba-tiba menyerang dengan pistol.


"Ayo Riyu!" Ucap Noval menggandeng tangan Riyu lalu mengajaknya keluar dari restoran itu.


"Noval apa yang terjadi! Kenapa mereka seperti berusaha menembakmu!" Tanya Riyu setelah sampai di mobil.


Tapi Noval tidak menjawab, ia memilih untuk fokus membawa mobilnya. "Noval! Apa kau bergabung dengan geng hitam?!" tanya Riyu menatap tajam.


"Ini pasti ulah Sam, dia mencoba untuk mengacaukan makan malamku dengan Riyu" bisik Noval dalam hati.


"Aku tidak tau kenapa mereka tiba-tiba menyerangku, tapi aku akan menyelidikinya" ucap Noval. "Kamu ga papa?" Tanya Noval.


"Ya, aku ga papa" jawab Riyu masih gemetar.


Noval melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak sabar menemui Sam dan ingin menghajarnya.


30 menit kemudian merekapun sampai di kediaman Mahesa, "Riyu kau masuk kamar, aku masih ada urusan!" Ucap Noval geram berjalan menuju arah kamar Sam.


Saat itu Sam sedang duduk termenung sambil memetikkan jari dengan asal pada gitarnya, dan...

__ADS_1


Braaakkk!! Pintu terbuka keras karena tendangan Noval. Sam terkejut lalu menoleh ke arah pintu.


"Sini kau keparat!" ucap Noval geram menghampiri Sam lalu mencengkram bajunya.


Sam hanya diam, diapun tidak mengerti kenapa Noval tiba-tiba melabraknya dan membawanya ke halaman belakang rumah.


"Beraninya kau menyuruh kelompok hitam untuk menyerangku!" Baakk...


Hantaman keras mendarat di wajah Sam, iapun tersungkur di atas tanah, bibirnya seketika itu juga mengeluarkan darah. Sam benar-benar tidak mengerti apa maksud Noval.


"Apa maksudmu?!" Ucap Sam bangkit menatap dingin pada Noval.


"Masih pura-pura tidak tahu ha!" Bentak Noval, ia hendak menyerang Sam untuk kedua kalinya. Tapi sayang sekali, kepalan Noval bisa di tahan oleh Sam.


"Jawab! Kau menyuruh orang untuk menembakku kan!" Bentak Noval lagi. Sam hanya diam mengambil ancang-ancang untuk membalas memukul Noval...


"Hentikan!" Teriak Riyu.


Tangan Sam berhenti berayun sebelum memukul Noval, Riyu bergegas menghampiri keduanya.


"Apa yang kalian lakukan? Noval kau tidak boleh menuduh sembarangan tanpa bukti!" ucap Riyu marah.


"Riyu lebih baik kau tidak perlu ikut campur! Aku yakin dia yang telah menyuruh orang untuk menyerangku! Jawab Noval...


"Ahh...." Rintih Sam yang tiba-tiba terjatuh kesakitan sambil memegangi ulu hatinya.


Noval memandang tingkah Sam dengan heran, "Sam... Sam apa kau tidak apa-apa?" Riyu memapah Sam cemas.


"Hey! Aku hanya memukul wajahmu tadi! Hentikan dramamu!" ucap Noval kesal.


"Cukup Noval! Kau benar-benar keterlaluan! Ayo Sam... Biar aku obati lukamu" Riyu memapah Sam dan membawanya masuk.


"Hey Riyu! Dia hanya berpura-pura!" Teriak Noval, tapi Riyu terus memapah Sam masuk ke rumah.


Kegaduhan keduanya membuat Mahesa dan Nita keluar dari kamar dan menghampiri mereka,


"Ada apa ini?!" Tanya Mahesa cemas saat melihat Riyu memapah Sam yang terluka.


"Ini semua gara-gara Noval! Dia salah paham dan langsung menyerang Sam" Jelas Riyu.


"Apa benar itu Noval!" Ucap Nita.


"Ma... Aku cuma..."


"Cukup!" ucap Mahesa memotong penjelasan Noval. "Apapun alasannya kau salah jika langsung menuduh tanpa bukti Noval.


"Tapi pa!"


"Hentikan sikap kekanak-kanakan ini, atau kau akan aku kirim ke Kalimantan 3 tahun!" Mahesa berbalik meninggalkan Noval.


"Argh!" Teriak Noval kesal.


****


Sampai di kamar Sam, Riyu membantunya duduk di sofa pelan-pelan. Ia semakin tidak tega saat melihat darah yang masih keluar dari bibir Sam yang pecah.


"Kau tunggu sebentar, aku ambil kotak obat dulu" ucap Riyu.


Tak lama kemudian, Riyu kembali dengan membawa kotak obat beserta air hangat untuk menyeka luka di wajah Sam.


"Sepertinya Noval memukulmu cukup keras" ucap Riyu khawatir, pelan-pelan ia menyeka darah Sam dengan penuh hati-hati.


Sam bisa melihat Riyu dengan cukup dekat saat itu, rasanya sayang jika dia mengedipkan matanya.


"Auch...." Sam tersentak waktu Riyu mengolesi lukanya dengan alkohol.


"Aduh... Maaf Sam, perih ya?" Ucap Riyu merasa bersalah.


Sebenarnya seberapapun perihnya Sam bisa menahannya, cuma dia hanya ingin mengambil kesempatan untuk bisa menggenggam tangan Riyu.


"Sam... Maafkan Noval ya, dia memiliki temperamen yang buruk. Dia sudah salah paham dan menuduhmu"


Sam terdiam memandang Riyu, ada rasa sedikit khawatir di hatinya. Apakah Riyu sudah mulai menerima Noval? Bahkan Riyu meminta maaf untuknya.


Tangan Sam beralih mencengkram lembut leher Riyu bagian belakang, tanpa aba-aba apapun Sam langsung mendorong wajah Riyu lalu menciumnya.


Nafas menderu saling bertukar... Dalam benak Riyu apa yang terjadi saat itu adalah sesuatu yang salah, tapi kelembutan yang Sam ungkapan melalui ciumannya... Riyu terpejam... Tiba-tiba siluet bayangan hitam putih muncul kembali...


Sam memeluk Riyu tanpa melepaskan ciumannya, sedangkan rasa berontak Riyu terhalang oleh ingatan yang muncul...


"Kau janji?... Ya aku janji..."


Suara ini muncul, menggema di telinga Riyu, suara yang tidak asing lagi, suara yang sering dia dengar... Namun... Bayangan wajah masih belum bisa terlihat jelas.


"Cukup..." Ucap Riyu lirih dan bergetar.


Riyu tidak sadar kalau dirinya telah berada di pangkuan Sam. Mereka saling menatap sesaat, setelah itu Riyu berlari keluar dari kamar Sam.


Riyu berhenti di dapur, tangannya memegangi dada yang terasa begitu sesak, beberapa kali dia membasuh wajahnya, menghilangkan air mata yang mulai keluar...


"Kenapa... Kenapa suara Sam yang muncul" rintih Riyu yang perlahan tersimpuh di lantai.....

__ADS_1


__ADS_2